Al-Qur’an diturunkan dalam tempo, menurut satu riwayat, 22 tahun 2 bulan 22 hari, yaitu mulai dari malam 17 Romadlon tahun 41 dari kelahiran Nabi, sampai 9 Dzulhijjah Haji Wada` tahun tahun 63 dari kelahiran Nabi atau tahun 10 H.Proses turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw melalui tiga tahapan, yaitu:
Pertama: Al-Qur’an turun secara sekaligus dari Allah ke lauhul-mahfuzh , yaitu suatu tempat yang merupakan catatan tentang segala ketentuan dan kepastian Allah. Proses pertama ini diisyaratkan dalam
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Buruj (85) Ayat 21-22 (Madaniyyah=22A)بَلْ هُوَ قُرْاٰنٌ مَّجِيْدٌۙ
Bahkan (yang didustakan itu) ialah Al-Qur'an yang mulia,21فِيْ لَوْحٍ مَّحْفُوْظٍ
yang (tersimpan) dalam (tempat) yang terjaga (Lauh Mahfudh).22Diisyaratkan pula oleh firman Allah
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Waqi`ah (56) Ayat 77-80 (Makkiyyah=96A)
اِنَّهٗ لَقُرْاٰنٌ كَرِيْمٌۙ
dan (ini) sesungguhnya Al-Qur'an yang sangat mulia,77فِيْ كِتٰبٍ مَّكْنُوْنٍۙ
dalam Kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh),78لَّا يَمَسُّهٗٓ اِلَّا الْمُطَهَّرُوْنَۙ
tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan.79تَنْزِيْلٌ مِّنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Diturunkan dari Tuhan seluruh alam.80Kedua: Al-Qur’an diturunkan dari lauhul mahfudh itu ke baitul 'izzah (tempat yang berada di langit dunia). Proses kedua ini diisyaratkan Allah
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Qodar (97) Ayat 1 (Makkiyyah=5A)
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam qadar.Juga diisyaratkan dalam
Al-Qur'anul Karim Surat Ad-Dukhon (44) Ayat 1-3 (Makkiyyah=59A)
حٰمۤ ۚ
Ha Mimوَالْكِتٰبِ الْمُبِيْنِۙ
Demi Kitab (Al-Qur'an) yang jelas,اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ
sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan.Ketiga: Al-Qur’an diturunkan dari baitul 'izzah ke dalam hati Nabi dengan jalan berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan. Adakalanya satu ayat, dua ayat dan bahkan kadang-kadang satu surat. Mengenai proses turun dalam tahap ketiga diisyaratkan dalam
Al-Qur'anul Karim Surat Asy-Syu`aro’ (26) Ayat 192-196 (Makkiyyah=227A)
وَاِنَّهٗ لَتَنْزِيْلُ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۗ
Dan sungguh, (Al-Qur'an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam,192نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْاَمِيْنُ ۙ
Yang dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril),193عَلٰى قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِيْنَ ۙ
ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan,194بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِيْنٍ ۗ
dengan bahasa Arab yang jelas.195وَاِنَّهٗ لَفِيْ زُبُرِ الْاَوَّلِيْنَ
Dan sungguh, (Al-Qur'an) itu (disebut) dalam kitab-kitab orang yang terdahulu.196Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad S.A.W melalui malaikat Jibril, tidak secara sekaligus melainkan turun sesuai dengan kebutuhan. Bahkan sering wahyu turun karena untuk menjawab pertanyaan para shohabat yang dilontarkan kepada Nabi S.A.W atau untuk membenarkan tindakan Nabi S.A.W. Di samping itu banyak pula ayat atau surat yang diturunkan tanpa melalui latar belakang pertanyaan atau kejadian tertentu.Dalam kenyataan tersebut terkandung hikmah dan faidah yang besar, sebagaimana dijelaskan dalam
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Furqon (25) Ayat 32 (Makkiyyah=77A)
وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْاٰنُ جُمْلَةً وَّاحِدَةً ۛ كَذٰلِكَ ۛ لِنُثَبِّتَ بِهٖ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنٰهُ تَرْتِيْلًا
Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa Al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar).Di samping hikmah yang telah diisyaratkan ayat di atas, masih banyak hikmah yang terkandung dalam hal diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur, antara lain adalah:
1. Memantapkan hati Nabi Ketika menyampaikan dakwah, Nabi S.A.W kerap kali berhadapan dengan para penentang. Maka, turunnya wahyu yang berangsur-angsur itu merupakan dorongan dakwah. Hal ini diisyaratkan oleh firman Allah
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Furqon (25) Ayat 32 (Makkiyyah=77A)
وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْاٰنُ جُمْلَةً وَّاحِدَةً ۛ كَذٰلِكَ ۛ لِنُثَبِّتَ بِهٖ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنٰهُ تَرْتِيْلًا
Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa Al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar).2. Menentang dan melemahkan para penentang Al-Qur’an Nabi S.A.W kerap kali berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan sulit yang dilontarkan orang-orang musyrik dengan tujuan melemahkan Nabi. Maka, turunnya wahyu yang berangsur-angsur itu tidak saja menjawab pertanyaan itu, bahkan menentang mereka untuk membuat sesuatu yang serupa dengan Al-Qur’an. Dan ketika mereka tidak mampu memenuhi tantangan itu, hal itu sekaligus merupakan salah satu mu`jizat Al-Qur’an.
3. Memudahkan untuk dihapal dan di fahami Nabi Muhammad S.A.W sangat merindukan turunnya wahyu. Saking rindunya, suatu ketika mengikuti bacaan wahyu yang disampaikan Jibril sebelum wahyu itu selesai dibacakannya. Karena itu, Allah berfirman,
Al-Qur'anul Karim Surat Thoha (20) Ayat 113-114 (Makkiyyah=135A)
وَكَذٰلِكَ اَنْزَلْنٰهُ قُرْاٰنًا عَرَبِيًّا وَّصَرَّفْنَا فِيْهِ مِنَ الْوَعِيْدِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ اَوْ يُحْدِثُ لَهُمْ ذِكْرًا
Dan demikianlah Kami menurunkan Al-Qur'an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menjelaskan berulang-ulang di dalamnya sebagian dari ancaman, agar mereka bertakwa, atau agar (Al-Qur'an) itu memberi pengajaran bagi mereka.113فَتَعٰلَى اللّٰهُ الْمَلِكُ الْحَقُّۚ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْاٰنِ مِنْ قَبْلِ اَنْ يُّقْضٰٓى اِلَيْكَ وَحْيُهٗ ۖوَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا
Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya. Dan janganlah engkau (Muhammad) tergesa-gesa (membaca) Al-Qur'an sebelum selesai diwahyukan kepadamu, dan katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku. ”114Al-Qur'anul Karim Surat Al-Qiyamah (75) Ayat 16-19 (Makkiyyah=40A)
لَا تُحَرِّكْ بِهٖ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهٖۗ
Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur'an) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.16اِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهٗ وَقُرْاٰنَهٗ ۚ
Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya.17فَاِذَا قَرَأْنٰهُ فَاتَّبِعْ قُرْاٰنَهٗ ۚ
Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.18ثُمَّ اِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهٗ ۗ
Kemudian sesungguhnya Kami yang akan menjelaskannya.19Di lain pihak, Al-Qur’an pertama kali turun di tengah-tengah masyarakat Arab yang ummi, yakni yang tidak memiliki pengetahuan tentang bacaan dan tulisan. Maka, turunnya wahyu secara berangsur-angsur memudahkan mereka untuk memahami dan menghapalkannya.
4. Mengikuti setiap kejadian (yang karenanya ayat-ayat Al-Qur’an turun) dan melakukan pentahapan dalam penetapan 'aqidah yang benar, hukum-hukum syari`at, dan akhlak mulia. Hikmah ini diisyaratkan oleh firman Allah,
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Isro (17) Ayat 105-106 (Makkiyyah=111A)
وَبِالْحَقِّ اَنْزَلْنٰهُ وَبِالْحَقِّ نَزَلَۗ وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا مُبَشِّرًا وَّنَذِيْرًاۘ
Dan Kami turunkan (Al-Qur'an) itu dengan sebenarnya dan (Al-Qur'an) itu turun dengan (membawa) kebenaran. Dan Kami mengutus engkau (Muhammad), hanya sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.105وَقُرْاٰنًا فَرَقْنٰهُ لِتَقْرَاَهٗ عَلَى النَّاسِ عَلٰى مُكْثٍ وَّنَزَّلْنٰهُ تَنْزِيْلًا
Dan Al-Qur'an (Kami turunkan) berangsur-angsur agar engkau (Muhammad) membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan Kami menurunkannya secara bertahap.1065. Membuktikan dengan pasti bahwa Al-Qur’an turun dari Allah Yang Maha Bijaksana.Walaupun Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur dalam tempo 22 tahun 2 bulan 22 hari, tetapi secara keseluruhan, terdapat keserasian di antara satu bagian dengan bagian Al-Qur’an lainnya. Hal ini tentunya hanya dapat dilakukan Allah yang Maha Bijaksana.
PENULIS WAHYU NABI MUHAMMAD S.A.WUrutan ayat-ayat dan surah-surah Al-Qur'anul Kariim (yang turun sesuai dengan peristiwa dan momentum, kadang turun satu surah lengkap atau kadang beberapa ayat atau sebagian dari satu ayat saja, sebagaimana telah kita ketahui) tidaklah seperti urutan yang kita lihat pada mushaf-mushaf sekarang maupun lampau (yang mana urutan ini bersifat tauqiifiy, ditetapkan oleh Rosulullah SAW. sendiri). Al-Qur'an mengalami pengumpulan/kompilasi sebanyak tiga kali.
Kompilasl Pertama di Masa Nabi SAW
Kompilasi pertama terjadi pada masa
Nabi SAW. dengan hafalan beliau yang kuat dan
mantap seperti pahatan di batu di dalam dada
beliau, sebagai bukti kebenaran janji Allah
Ta'ala,
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Qiyamah (75) Ayat 16-19 (Makkiyyah=40A)
لَا تُحَرِّكْ بِهٖ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهٖۗ
Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur'an) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.16اِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهٗ وَقُرْاٰنَهٗ ۚ
Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya.17فَاِذَا قَرَأْنٰهُ فَاتَّبِعْ قُرْاٰنَهٗ ۚ
Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.18ثُمَّ اِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهٗ ۗ
Kemudian sesungguhnya Kami yang akan menjelaskannya.19Nabi saw. membacakan hafalannya kepada fibril a.s. satu kali setiap bulan Ramadhan; dan beliau membacakan hafalannya
sebanyak dua kali di bulan Ramadhan
terakhir sebelum wafat. Selanjutnya Rasulullah saw. membacakannya kepada para
sahabat seperti pembacaan-pembacaan
yang beliau lakukan di depan fibril, lalu para
sahabat menulisnya seperti yang mereka
dengar dari beliau. Para penulis wahyu
berjumlah dua puluh lima orang. Menurut
penelitian, mereka sebetulnya berjumlah
sekitar enam puluh orang; yang paling
terkenal adalah keempat khalifah,
Pada periode Madinah kita memiliki cukup banyak informasi termasuk sejumlah nama, lebih kurang enam puluh lima sahabat yang ditugaskan oleh Nabi Muhammad S.A.W bertindak sebagai penulis wahyu. Mereka adalah : 1. Abu Bakar Ash-Shiddiq, 2. ‘Umar bin Khoththob, 3. ‘Utsman bin ‘Affan, 4. ‘Ali bin Abi Tholib, 5. Zaid bin Tsabit, 6. Kholid bin Walid, 7. Kholid bin Sa’id, 8. Ja`far bin Abi Tholib, 9. Tsabit bin Qois, 10. Sa’id bin Sa`id, 11. Sa’ad bin `Ubada, 12. Sa’ad bin Ar-Robi`, 13. Abban bin Sa’id, 14. Abu Umamah, 15. Abu Ayyub Al-Anshori, 16. Abu Hudzaifah, 17. Abu Sufyan, 18. Abu Salamah, 19. Abu ‘Abbas, 20.`Abbas, 21. Al-Arqom, 22. Aush, 23. Zubair bin Arqom, 24. `Abdullah bin Al-Arqom, 25.`Abdullah bin Abi Bakr, 26.`Abdullah bin Rowaha, 27.`Abdullah bin Zaid, 28. `Abdullah bin Sa’ad, 29. ‘Abdullah bin ‘Abdullah, 30. ‘Abdullah bin ‘Amr, 31. Muhammad bin Maslamah, 32. Mu’adh bin Jabal, 33. Mu’awiyyah, 34. Ma’an bin ‘Adi, 35. Mu’aqib bin Mughirah, 36. Mundzir, 37. Muhajir, 38. Ubayy bin Ka’ab, 39. Usaid bin Al-Hudair, 40. Uqbah, 41. Al-A'la bin ‘Uqbah, 42. ‘Amr bin Al-‘Ash, 43. `Amir bin Fuhairoh, 44. Az-Zubair bin Al-`Awwam, 45. Yazid bin Abi Sufyan. 46. Shurohbil bin Hasna, 47. Jahm bin Sa’ad, 48. Buroidah, 49. Bashir, 50. Suhaim, 51. Hatib, 52. Hudzaifah, 52. Husain, 53. Hanzala, 54. Huwaitib, 55. Thalhah, (Untuk lebih jelas harap dilihat M.M, A’zami, Kuttab an-Nabi)
Al-Qur'anul Karim Surat At-Taubah (9) Ayat 128 (Madaniyyah=129A)Al-Qur'anul Karim juga dihafal oleh beberapa
orang sahabat di luar kepala karena terdorong cinta mereka kepadanya dan berkat
kekuatan ingatan dan memori mereka yang
terkenal sebagai kelebihan mereka. Sampaisampai dalam perang memberantas kaum
murtad, telah gugur tujuh puluh orang penghafal Al-Qur'anul Karim. Abu 'Ubaid, dalam kitab AI-Qiroo'aat, menyebutkan sebagian dari para
penghafal Al-Qur'anul Karim. Di antara kaum muhajirin dia menyebut antara lain keempat
Khulafa'ur Rosyidin, Tholhah bin'Ubaidillah,
Sa'd bin Abi Waqqosh, Abdullah bin Mas'ud,
Hudzaifah bin Yaman, Salim bin Ma'qil (maula
Abu Hudzaifah), Abu Huroiroh, Abdullah bin
Sa'ib, keempat Abdullah (lbnu Umar, Ibnu
Abbas, Ibnu Amr, dan lbnu Zubair), Aisyah,
Hafshoh, dan Ummu Salamah.
Di antara kaum Anshor dia menyebut
antara lain 'Ubadah ibn Shomit, Mu'adz Abu
Halimah, Mujammi'bin fariyah, Fadholah bin
'Ubaid, dan Maslamah bin Mukhollad.
Para penghafal yang paling terkenal di
antaranya: 'Utsman bin 'Affan, Ali bin Abi Tholib, Ubaiy bin Ka'ab, Abu
Darda', Mu'adz bin fabal, Zaid bin Tsabit,lbnu
Mas'ud, dan Abu Musa Al-Asy'ari.
Kompilasl Kedua pada Masa Abu Bakar
Al-Qur'anul Karim belum dikumpulkan dalam satu mushaf pada masa Rosulullah SAW. sebab ada kemungkinan akan turun wahyu baru selama Nabi SAW. masih hidup. Akan tetapi waktu itu semua ayat Al-Qur'anul Karim ditulis di lembaran kertas, tulang hewan, batu, dan pelepah kurma. Kemudian, banyak penghafal Al-Qur'anul Karim yang gugur dalam Perang Yamamah yang terjadi pada masa pemerintahan Abu Bakar sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori dalam Fadho'ilul Qur'aan dalam juz keenam, sehingga Umar mengusulkan agar Al-Qur'anul Karim dikompilasikan/dikumpulkan, dan Abu Bakar menyetujuinya, serta beliau memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk melaksanakan tugas ini. Kata Abu Bakar kepada Zaid, "Engkau seorang pemuda cerdas yang tidak kami curigai. Dahulu engkau pun menuliskan wahyu untuk Rosulullah SAW.. Maka, carilah dan kumpulkan ayat-ayat Al-Qur'anul Karim (yang tersebar di mana-mana itu)." Zaid bin Tsabit kemudian melaksanakan perintah tersebut. Ia bercerita "Maka aku pun mulai mencari ayat-ayat Al-Qur'anul Karim, kukumpulkan dari pelepah kurma dan lempengan batu serta hafalan orang-orang. Dan aku menemukan akhir surah At-Taubah, yakni dalam bentuk tertulis pada Khuzaimah Al-Anshori, yang tidak kutemukan pada selain dia, yaitu ayatلَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.Dari sini jelas bahwa cara pengumpulan Al-Qur'anul Karim berpedoman pada dua hal:
(1) yang tertulis dalam lembaran kertas, tulang dan sejenisnya dan
(2) hafalan para sahabat yang hafal Al-Qur'an di luar kepala.
Pengumpulan pada masa Abu Bakar terbatas pada pengumpulan Al-Qur'anul Karim di dalam lembaran-lembaran khusus, setelah sebelumnya terpisah-pisah dalam berbagai lembaran. Zaid bin Tsabit tidak cukup hanya berpedoman kepada hafalannya sendiri, ia juga berpedoman kepada hafalan para sahabat yang lain, yang jumlahnya banyak dan memenuhi syarat mutawattir, yakni keyakinan yang diperoleh dari periwayatan jumlah yang banyak yang menurut kebiasaan tidak mungkin mereka bersekongkol untuk berdusta.
Kompilasl Ketiga pada Masa Utsman,
dengan Menulis Sejumlah Mushaf dengan
Khoth yang Sama
Adapun dalil tentang pengurutan surah-surah adalah bahwa sebagian sahabat yang hafal Al-Qur'anul Karim di luar kepala, misalnya Ibnu Mas'ud, hadir dalam mudaarasah (penyimakan) Al-Qur'anul Karim yang berlangsung antara Jibril a.s, dan Nabi SAW., dan mereka bersaksi bahwa mudaarosah tersebut sesuai dengan urutan yang dikenal dalam surah dan ayat sekarang ini.Peran Utsman bin Affan r.a. terbatas pada penulisan enam naskah mushaf yang memiliki satu harf (cara baca), yang kemudian ia sebarkan ke beberapa kota Islam. Tiga buah di antaranya ia kirimkan ke Kufah, Damaskus, dan Basroh. Yang dua lagi ia kirimkan ke Mekah dan Bahroin, atau ke Mesir dan faziroh, dan ia menyisakan satu mushaf untuk dirinya di Madinah. Ia menginstruksikan agar mushaf-mushaf lain yang berbeda, yang ada di Irak dan Syam, dibakar. Mushaf Syam dulu tersimpan di Masjid Raya Damaskus, Al-Jaami' Al-Umawiy, tepatnya di sudut sebelah timur maqshuuroh ( sebuah ruangan yang dibangun di dalam masjid dan dikhususkan untuk tempat sholatnya
kholifah serta tamu-tamunya) Ibnu Katsir pernah melihat mushaf ini (sebagaimana ia tuturkan dalam bukunya Fadhaa'ilul Qur'aan di bagian akhir tafsirnya), tetapi kemudian ia hangus dalam kebakaran besar yang menimpa Masjid Umawiy pada tahun 1310 H. Sebelum ia terbakar, para ulama besar Damaskus kontemporer pun telah melihatnya.
Sebab musabab pengumpulan ini terungkap dari riwayat yang disampaikan oleh Imam Bukhori kepada kita dalam Fadho'ilul Qur'aan, dalam juz keenam, dari Anas bin Malik r.a. bahwa Hudzaifah bin Yaman datang menghadap Utsman seraya menceritakan bahwa ketika ia sedang mengikuti peperangan bersama orang-orang Syam dan orang-orang Irak untuk menaklukkan Armenia dan Azerbaijan. Ia terkejut dengan perbedaan mereka dalam membaca Al-Qur'anul Karim. Hudzaifah berkata kepada Utsman, "Wahai Amirul Mukminin, selamatkanlah umat ini sebelum mereka berselisih mengenai Al-Qur'an seperti perselisihan kaum Yahudi dan Nasroni!" Maka Utsman mengirim pesan kepada Hafshoh, "Kirimkan lembaran-lembaran catatan Al-Qur'anul Karim kepada kami karena kami akan menyalinnya ke dalam mushaf. Nanti kami kembalikan lembaranlembaran itu kepadamu." Setelah Hafshoh mengirimkannya, Utsman memerintahkan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubain Sa'id bin Ash, dan Abdurrohman bin Harits bin Hisyam untuk menyalinnya ke dalam beberapa mushaf. Utsman berpesan kepada ketiga orang Quroisy dalam kelompok itu, "Kalau kalian berbeda pendapat dengan Zaid bin Tsabit mengenai suatu ayat, tulislah dengan dialek Quraisy karena Al-Qur'anul Karim turun dengan dialek mereka." Mereka lantas melaksanakannya. Setelah mereka menyalin isi lembaran-lembaran itu ke dalam sejumlah mushaf, Utsman mengembalikan lembaran tersebut kepada Hafshoh. Setelah itu, ia mengirimkan sebuah mushaf hasil salinan itu ke setiap penjuru, dan ia memerintahkan untuk membakare semua tulisan Al-Qur'anul Karim yang terdapat dalam shohifah atau mushaf selain mushaf yang ia salin.(Shohih Bukhori (6 / 315-3 16).
Maka jadilah Mushaf Utsmani sebagai pedoman dalam pencetakan dan penyebarluasan mushaf-mushaf yang ada sekarang di dunia. Setelah sebelumnya (hingga era Utsman) kaum Muslimin membaca Al-Qur'anul Karim dengan berbagai qiro'at yang berbeda-beda, Utsman menyatukan mereka kepada satu mushaf dan satu cara baca serta menjadikan mushaf tersebut sebagai imam. Oleh karena itulah, mushaf tersebut dinisbahkan kepadanya dan ia sendiri dijuluki sebagai Jaami'ul Qur'aan (pengumpul Al-Qur'an).
Kesimpulan: Pengumpulan Al-Qur'anul Karim pada masa Abu Bakar adalah pengumpulan dalam satu naskah yang terpercaya, sedangkan pengumpulan Al-Qur'anul Karim pada masa Utsman adalah penyalinan dari shohifah-shohifah yang dipegang Hafshoh ke dalam enam mushaf dengan satu cara baca. Cara baca ini sesuai dengan tujuh huruf (tujuh cara baca) yang Al-Qur'anul Karim turun dengannya.
Untuk membaca rasm (tulisan) mushaf ada dua cara: sesuai dengan rasm itu secara hakiki (nyata) dan sesuai dengannya secara taqdiiriy (kira-kira).
Tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama bahwa pengurutan ayat-ayat bersifat tauqifiy (berdasarkan petunjuk langsung dari Nabi SAW.), sebagaimana urutan surah-surah juga tauqifiy menurut pendapat yang kuat. Adapun dalil pengurutan ayat adalah ucapan Utsman bin Ash r.a., "Ketika aku sedang duduk bersama Rasulullah saw., tiba-tiba beliau mengangkat dan meluruskan pandangan matanya, selanjutnya beliau bersabda,
Sebab musabab pengumpulan ini terungkap dari riwayat yang disampaikan oleh Imam Bukhori kepada kita dalam Fadho'ilul Qur'aan, dalam juz keenam, dari Anas bin Malik r.a. bahwa Hudzaifah bin Yaman datang menghadap Utsman seraya menceritakan bahwa ketika ia sedang mengikuti peperangan bersama orang-orang Syam dan orang-orang Irak untuk menaklukkan Armenia dan Azerbaijan. Ia terkejut dengan perbedaan mereka dalam membaca Al-Qur'anul Karim. Hudzaifah berkata kepada Utsman, "Wahai Amirul Mukminin, selamatkanlah umat ini sebelum mereka berselisih mengenai Al-Qur'an seperti perselisihan kaum Yahudi dan Nasroni!" Maka Utsman mengirim pesan kepada Hafshoh, "Kirimkan lembaran-lembaran catatan Al-Qur'anul Karim kepada kami karena kami akan menyalinnya ke dalam mushaf. Nanti kami kembalikan lembaranlembaran itu kepadamu." Setelah Hafshoh mengirimkannya, Utsman memerintahkan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubain Sa'id bin Ash, dan Abdurrohman bin Harits bin Hisyam untuk menyalinnya ke dalam beberapa mushaf. Utsman berpesan kepada ketiga orang Quroisy dalam kelompok itu, "Kalau kalian berbeda pendapat dengan Zaid bin Tsabit mengenai suatu ayat, tulislah dengan dialek Quraisy karena Al-Qur'anul Karim turun dengan dialek mereka." Mereka lantas melaksanakannya. Setelah mereka menyalin isi lembaran-lembaran itu ke dalam sejumlah mushaf, Utsman mengembalikan lembaran tersebut kepada Hafshoh. Setelah itu, ia mengirimkan sebuah mushaf hasil salinan itu ke setiap penjuru, dan ia memerintahkan untuk membakare semua tulisan Al-Qur'anul Karim yang terdapat dalam shohifah atau mushaf selain mushaf yang ia salin.(Shohih Bukhori (6 / 315-3 16).
Maka jadilah Mushaf Utsmani sebagai pedoman dalam pencetakan dan penyebarluasan mushaf-mushaf yang ada sekarang di dunia. Setelah sebelumnya (hingga era Utsman) kaum Muslimin membaca Al-Qur'anul Karim dengan berbagai qiro'at yang berbeda-beda, Utsman menyatukan mereka kepada satu mushaf dan satu cara baca serta menjadikan mushaf tersebut sebagai imam. Oleh karena itulah, mushaf tersebut dinisbahkan kepadanya dan ia sendiri dijuluki sebagai Jaami'ul Qur'aan (pengumpul Al-Qur'an).
Kesimpulan: Pengumpulan Al-Qur'anul Karim pada masa Abu Bakar adalah pengumpulan dalam satu naskah yang terpercaya, sedangkan pengumpulan Al-Qur'anul Karim pada masa Utsman adalah penyalinan dari shohifah-shohifah yang dipegang Hafshoh ke dalam enam mushaf dengan satu cara baca. Cara baca ini sesuai dengan tujuh huruf (tujuh cara baca) yang Al-Qur'anul Karim turun dengannya.
Untuk membaca rasm (tulisan) mushaf ada dua cara: sesuai dengan rasm itu secara hakiki (nyata) dan sesuai dengannya secara taqdiiriy (kira-kira).
Tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama bahwa pengurutan ayat-ayat bersifat tauqifiy (berdasarkan petunjuk langsung dari Nabi SAW.), sebagaimana urutan surah-surah juga tauqifiy menurut pendapat yang kuat. Adapun dalil pengurutan ayat adalah ucapan Utsman bin Ash r.a., "Ketika aku sedang duduk bersama Rasulullah saw., tiba-tiba beliau mengangkat dan meluruskan pandangan matanya, selanjutnya beliau bersabda,
اَتَانِي جِبْرِيْلُ، فَاَمَرَنِي اَنْ اَضَعَ هَذِهِ اْلاَيَةَهَذَااْلمَوْضِعَ مِنْ هَذِهِ السُّوْرَةِ ( اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى)
'Jibril baru saja mendatangiku; ia memerintahkan aku meletakkan ayat ini di tempat ini dari surah ini: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat."Ada tiga syarat agar suatu ayat, kata, atau qiro'ah dapat disebut Al-Qur'an, yaitu:
(1) sesuai dengan rasm'utsmani walaupun hanya secara kira-kira,
(2) sesuai dengan kaidah-kaidah nahwu (gramatika) Arab walaupun hanya menurut satu segi, dan
(3) diriwayatkan secara mutawatir oleh sejumlah orang dari sejumlah orang dari Nabi SAW. (inilah yang dikenal dengan keshahihan sanad).
B. CARA PENULISAN AL-QUR'AN DAN
RASM UTSMANI
Rasm adalah cara menulis kata dengan
huruf-huruf ejaannya dengan memperhitungkan permulaan dan pemberhentian
padanya.(Yang dimaksud dengan "permulaan dan pemberhentian"
adalah memulai dan mengakhiri bacaan. Seialan dengan
definisi ini, huruf hamzah washl ditulis karena ia dibaca pada
saat permulaan, sedangkan bentuk tanwin dihapus karena ia
tidak dibaca pada saat berhenti di akhir kata).
Mushaf adalah mushaf Utsmani (Mushaf
Imam) yang diperintahkan penulisannya oleh
Utsman r.a. dan disepakati oleh para sahabat
r.a.(As-Sajastaaniy, al- M ashaahif, hal. 50).
Rasm Utsmani adalah cara penulisan
keenam mushaf pada zaman Utsman r.a..
Rasm inilah yang beredar dan berlaku setelah
dimulainya pencetakan Al-Qur'an di al-Bunduqiyyahl3 pada tahun 1530 M, dan cetakan
berikutnya yang merupakan cetakan Islam
tulen di St. Petersburg, Rusia, pada tahun
7787 M, kemudian di Astanah (lstanbul) pada
tahun lB77 M.
Ada dua pendapat di kalangan para
ulama tentang cara penulisan Al-Qur'an (atau
imlaa):ra
L. Pendapat mayoritas ulama, di antaranya
Imam Malik dan Imam Ahmad bahwa AlQur'an wajib ditulis seperti penulisan
rasm Utsmani dalam Mushaf Imam, haram
menulisnya dengan tulisan yang berbeda
dari khath (tulisan) Utsman dalam segala
bentuknya dalam penulisan mushaf, sebab
rasm ini menunjukkan kepada qiraa'at
yang beraneka ragam dalam satu kata.
2. Pendapat sebagian ulama, yaitu Abu Bakar
al-Baqillaniy, Izzuddin bin Abdussalam, dan lbnu Khaldun bahwa mushaf boleh
saia ditulis dengan cara penulisan (rasm
imlaa) yang dikenal khalayak sebab tidak ada nash yang menetapkan rasm tertentu, dan apa yang terdapat dalam rasm
(misalnya penambahan atau penghapusan) bukanlah tauqiif (petuniuk) yang
diwahyukan oleh Allah kepada rasul'Nya.
Seandainya demikian, tentu kami telah
mengimaninya dan berusaha mengikutinya. Namun, kalau mushaf ditulis dengan
metode imlaa' modern, ini memungkinkan
untuk dibaca dan dihafal dengan benar.
Komisi Fatwa di al-Azhar dan ulamaulama Mesir yang lainls memandang bahwa
lebih baik mengikuti cara penulisan mushaf
yang ma'tsur, demi kehati-hatian agar AlQur'an tetap seperti aslinya dalam bacaan
maupun penulisannya, dan demi memelihara
cara penulisannya dalam era-era Islam yang
lampau (yang mana tak ada riwayat dari
satu pun imam ahli iitihad bahwa mereka
ingin mengubah eiaan mushaf dari penulisan
rasmnya terdahulu), sefta untuk mengetahui
qiraa'at yang dapat diterima dan yang tidak.
Oleh karena itu, dalam masalah ini tidakdibuka
bab istihsaan yang mengakibatkan Al-Qur'an
mengalami pengubahan dan penggantian,
atau dipermainkan, atau diperlakukan ayatayatnya sesuka hati dalam hal penulisan. Akan
tetapi, tidak ada salahnya, menurut pendapat
mayoritas ulama, menulis Al-Qur'an dengan
cara imla'modern dalam proses belaiar mengaja4, atau ketika berdalil dengan satu ayat
atau lebih dalam sebagian buku karangan
modern, atau dalam buku-buku Departemen
Pendidikan, atau pada waktu menayangkannya di layar televisi.
TAFSIR DAN PENJELASAN AYAT
Pertama: Al-Qur’an turun secara sekaligus dari Allah ke lauhul-mahfuzh , yaitu suatu tempat yang merupakan catatan tentang segala ketentuan dan kepastian Allah. Proses pertama ini diisyaratkan dalam
KESEMPURNAAN KEKUASAAN ILAHI
UNTUK MENGUATKAN JANJI, ANCAMAN,
DAN MENGAMBIL PELAJARAN DARI
PENGHANCURAN UMAT-UMAT KAFIR
TERDAHULU
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Buruj (85) Ayat 12-22 (Madaniyyah=22A)
اِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيْدٌ ۗ
Sungguh, azab Tuhanmu sangat keras.Al-Qur'anul Karim Surat Al-Buruj (85) Ayat 13 (Madaniyyah=22A)
اِنَّهٗ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيْدُۚ
Sungguh, Dialah yang memulai pen-ciptaan (makhluk) dan yang menghidupkannya (kembali).Al-Qur'anul Karim Surat Al-Buruj (85) Ayat 14 (Madaniyyah=22A)
وَهُوَ الْغَفُوْرُ الْوَدُوْدُۙ
Dan Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Pengasih,Al-Qur'anul Karim Surat Al-Maidah (5) Ayat 54 (Madaniyyah=120A)
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗٓ ۙاَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لَاۤىِٕمٍ ۗذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.Al-Qur'anul Karim Surat Al-Buruj (85) Ayat 15 (Madaniyyah=22A)
ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيْدُۙ
yang memiliki ‘Arsy, lagi Mahamulia,Al-Qur'anul Karim Surat Al-Buruj (85) Ayat 16 (Madaniyyah=22A)
فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيْدُۗ
Mahakuasa berbuat apa yang Dia kehendaki.Al-Qur'anul Karim Surat Al-Buruj (85) Ayat 17 (Madaniyyah=22A)
هَلْ اَتٰىكَ حَدِيْثُ الْجُنُوْدِۙ
Sudahkah sampai kepadamu berita tentang bala tentara (penentang),Al-Qur'anul Karim Surat Al-Buruj (85) Ayat 18 (Madaniyyah=22A)
فِرْعَوْنَ وَثَمُوْدَۗ
(yaitu) Fir‘aun dan Samud?Al-Qur'anul Karim Surat Al-Buruj (85) Ayat 19 (Madaniyyah=22A)
بَلِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِيْ تَكْذِيْبٍۙ
Memang orang-orang kafir (selalu) mendustakan,Al-Qur'anul Karim Surat Al-Buruj (85) Ayat 20 (Madaniyyah=22A)
padahal Allah mengepung dari belakang mereka (sehingga tidak dapat lolos).وَّاللّٰهُ مِنْ وَّرَاۤىِٕهِمْ مُّحِيْطٌۚ
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Buruj (85) Ayat 21 (Madaniyyah=22A)
بَلْ هُوَ قُرْاٰنٌ مَّجِيْدٌۙ
Bahkan (yang didustakan itu) ialah Al-Qur'an yang mulia,Al-Qur'anul Karim Surat Al-Buruj (85) Ayat 22 (Madaniyyah=22A)
فِيْ لَوْحٍ مَّحْفُوْظٍ
yang (tersimpan) dalam (tempat) yang terjaga (Lauh Mahfudh).PEMBUKTIAN KENABIAN, KEBENARAN AL-QUR'AN, DAN KECAMAN TERHADAP ORANG-ORANG MUSYRIK ATAS IDEOLOGI DAN
KEYAKINAN MEREKA
Diisyaratkan pula oleh firman Allah
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Waqi`ah (56) Ayat 75-96 (Makkiyyah=96A)
فَلَآ اُقْسِمُ بِمَوٰقِعِ النُّجُوْمِ
Lalu Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang.Al-Qur'anul Karim Surat Al-Waqi`ah (56) Ayat 76 (Makkiyyah=96A)
وَاِنَّهٗ لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُوْنَ عَظِيْمٌۙ
Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui,Al-Qur'anul Karim Surat Al-Waqi`ah (56) Ayat 77 (Makkiyyah=96A)
اِنَّهٗ لَقُرْاٰنٌ كَرِيْمٌۙ
dan (ini) sesungguhnya Al-Qur'an yang sangat mulia,Al-Qur'anul Karim Surat Al-Waqi`ah (56) Ayat 78 (Makkiyyah=96A)
فِيْ كِتٰبٍ مَّكْنُوْنٍۙ
dalam Kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh),Al-Qur'anul Karim Surat Al-Waqi`ah (56) Ayat 79 (Makkiyyah=96A)
لَّا يَمَسُّهٗٓ اِلَّا الْمُطَهَّرُوْنَۙ
tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan.Al-Qur'anul Karim Surat Al-Waqi`ah (56) Ayat 80 (Makkiyyah=96A)
تَنْزِيْلٌ مِّنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Diturunkan dari Tuhan seluruh alam.Al-Qur'anul Karim Surat Al-Waqi`ah (56) Ayat 81 (Makkiyyah=96A)
اَفَبِهٰذَا الْحَدِيْثِ اَنْتُمْ مُّدْهِنُوْنَ
Apakah kamu menganggap remeh berita ini (Al-Qur'an),Al-Qur'anul Karim Surat Al-Waqi`ah (56) Ayat 82 (Makkiyyah=96A)
وَتَجْعَلُوْنَ رِزْقَكُمْ اَنَّكُمْ تُكَذِّبُوْنَ
dan kamu menjadikan rezeki yang kamu terima (dari Allah) justru untuk mendustakan(-Nya).Sebab Turunnya Ayat (75)
Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas r.a., ia berkata,
مُطِرَالنَّاسِ عَلَى عَهْدِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَالسَّلَامُ, فَقَالَ:صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَالسَّلَامُ اَصْبَحَ مِنَ النَّاسِ شَاكِرٌ, وَمِنْهُمْ كَافِرٌ، قَالُوْاهَذِهٖ رَحْمَةُاللهِ وَضَعَهَااللهُ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ: لَقَدْصَدَقَ نَوْئُ كَذَا، فَنَزَلَتْ هَذَهٖ اْلاَيَةُ: (فَلَآ اُقْسِمُ بِمَوٰقِعِ النُّجُوْمِ)حَتَّى بَلَغَ (وَتَجْعَلُوْنَ رِزْقَكُمْ اَنَّكُمْ تُكَذِّبُوْنَ)
Ada hujan turun pada masa Rosulullah saw., lalu beliau bersabda,'Di antara orang-orang, ada yang bersyukur dan ada ada yang kufur.' Mereka berkata, 'Ini adalah rohmat Allah SWT yang telah ditetapkannya." Dan ada sebagian orang yang berkata, "Sungguh benarlah nau' demikian dan demikian.' Lalu turunlah ayat-ayat ini, yaitu ayat 75 sampai 82."
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari
Abu Hazroh, ia berkata, "Ayat-ayat ini turun
menyangkut seorang laki-laki dari kaum
Anshor pada kejadian Perang Tabuk. Ketika
itu, mereka berhenti dan turun di Al-Hijr (Al-Hijr adalah perkampungan bangsa Tsamud, sebuah lembah yang terletak antara Madinah dan Syam). Lalu
Rosulullah saw. menginstruksikan kepada
mereka agar jangan mengambil sedikit pun air yang ada di Al-Hijr tersebut, Kemudian
beliau melanjutkan perjalanan dan berhenti
di sebuah tempat yang lain, sedang ketika itu
mereka sudah tidak lagi memiliki bekal air.
Lalu mereka pun mengadukan hal itu kepada
Rosulullah saw. Lalu beliau berdiri, lalu
melaksanakan sholat dua rakaat, kemudian
memanjatkan doa. Lalu Allah SWT pun mengirimkan awan mendung kepada mereka,
dan awan mendung itu pun menurunkan air
hujan kepada mereka hingga mereka bisa
mendapatkan air. Lalu ada seorang laki-laki
dari Anshar berkata, kepada seseorang yang
lain dari kaumnya yang dicurigai sebagai orang
munafik "Celaka kamu, tidakkah kamu lihat
Rosulullah saw. memanjatkan doa, lalu Allah
SWT pun menurunkan hujan kepada kita dari
langit." Lalu orang itu berkata, "Sesungguhnya
hujan yangturun kepada kita ini adalah karena
nau' demikian dan demikian."
Dalam sebuah riwayat lain milik imam
Muslim dari Abu Huroiroh r.a. disebutkan, ia
berkata, "Rosulullah saw bersabda,
اَلَمْ تَرَوْااِلَى مَارَبُّكُمْ عَزَّوَجَلَّ؟قَالَ: مَااَنْعَمْتُ عَلَى عِبَادِي مِنْ نِعْمَةٍاِلَااَصْبَحَ فَرِيْقُ بِهَاكَافِرِيْنَ، يَقُوْلُ: اْلكَوْكَبُ، وَبِاْلكَوْكَبِ
-Tidakkah kalian memerhatikan fir'man
Tuhan kalian? Dia berfirman, Aku tidak memberikan suatu nikmat kepada para hamba-Ku
kecuali ada segolongan dari mereka yang menjadi
kafir karenanya, ia berkata, 'Bintang dan karena
bintang."'
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Waqi`ah (56) Ayat 83 (Makkiyyah=96A)
فَلَوْلَآ اِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُوْمَۙ
Maka kalau begitu mengapa (tidak mencegah) ketika (nyawa) telah sampai di kerongkongan,Al-Qur'anul Karim Surat Al-Waqi`ah (56) Ayat 84 (Makkiyyah=96A)
وَاَنْتُمْ حِيْنَىِٕذٍ تَنْظُرُوْنَۙ
dan kamu ketika itu melihat,Al-Qur'anul Karim Surat Al-Waqi`ah (56) Ayat 85 (Makkiyyah=96A)
وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلٰكِنْ لَّا تُبْصِرُوْنَ
dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat,Al-Qur'anul Karim Surat Al-Waqi`ah (56) Ayat 86 (Makkiyyah=96A)
فَلَوْلَآ اِنْ كُنْتُمْ غَيْرَ مَدِيْنِيْنَۙ
maka mengapa jika kamu memang tidak dikuasai (oleh Allah),Al-Qur'anul Karim Surat Al-Waqi`ah (56) Ayat 87 (Makkiyyah=96A)
تَرْجِعُوْنَهَآ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
kamu tidak mengembalikannya (nyawa itu) jika kamu orang yang benar?Al-Qur'anul Karim Surat Al-Waqi`ah (56) Ayat 88 (Makkiyyah=96A)
فَاَمَّآ اِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِيْنَۙ
Jika dia (orang yang mati) itu termasuk yang didekatkan (kepada Allah),Al-Qur'anul Karim Surat Al-Waqi`ah (56) Ayat 89 (Makkiyyah=96A)
فَرَوْحٌ وَّرَيْحَانٌ ەۙ وَّجَنَّتُ نَعِيْمٍ
maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta surga (yang penuh) kenikmatan.Al-Qur'anul Karim Surat Al-Waqi`ah (56) Ayat 90 (Makkiyyah=96A)
وَاَمَّآ اِنْ كَانَ مِنْ اَصْحٰبِ الْيَمِيْنِۙ
Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan,Al-Qur'anul Karim Surat Al-Waqi`ah (56) Ayat 91 (Makkiyyah=96A)
فَسَلٰمٌ لَّكَ مِنْ اَصْحٰبِ الْيَمِيْنِۗ
maka, “Salam bagimu (wahai) dari golongan kanan!” (sambut malaikat).Al-Qur'anul Karim Surat Al-Waqi`ah (56) Ayat 92 (Makkiyyah=96A)
وَاَمَّآ اِنْ كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِيْنَ الضَّاۤلِّيْنَۙ
Dan adapun jika dia termasuk golongan orang yang mendustakan dan sesat,Al-Qur'anul Karim Surat Al-Waqi`ah (56) Ayat 93 (Makkiyyah=96A)
فَنُزُلٌ مِّنْ حَمِيْمٍۙ
maka dia disambut siraman air yang mendidih,Al-Qur'anul Karim Surat Al-Waqi`ah (56) Ayat 94 (Makkiyyah=96A)
وَّتَصْلِيَةُ جَحِيْمٍ
dan dibakar di dalam neraka.Al-Qur'anul Karim Surat Al-Waqi`ah (56) Ayat 95 (Makkiyyah=96A)
اِنَّ هٰذَا لَهُوَ حَقُّ الْيَقِيْنِۚ
Sungguh, inilah keyakinan yang benar.Al-Qur'anul Karim Surat Al-Waqi`ah (56) Ayat 96 (Makkiyyah=96A)
فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيْمِ
Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar.Tafslr dan Penjelasan
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Waqi`ah (56) Ayat 75-96 (Makkiyyah=96A)
فَلَآ اُقْسِمُ بِمَوٰقِعِ النُّجُوْمِ
Lalu Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang.لَاوَاللهِ مَامَسَّتْ يَدُرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَالسَّلَامُ يَدَامْرَاءَةٍقَطْ
"Tidak, demi Allah, tangan Rasulullah saw.
tidak pernah menyentuh tangan seorang Perempuan 1tun."
Al-Qur'anul Karim Surat Hud (11) Ayat 102 (Makkiyyah=123A)
وَكَذٰلِكَ اَخْذُ رَبِّكَ اِذَآ اَخَذَ الْقُرٰى وَهِيَ ظَالِمَةٌ ۗاِنَّ اَخْذَهٗٓ اَلِيْمٌ شَدِيْدٌ
Dan begitulah siksa Tuhanmu apabila Dia menyiksa (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, siksa-Nya sangat pedih, sangat berat.






0 komentar:
Posting Komentar