Jumat, 29 Agustus 2025

NABI MUHAMMAD SAW DI RACUN

HADITS TENTANG NABI MUHAMMAD DI RACUN DAN KEISTIMEWAAN BUAH KURMA

Sunan Abu Daud 3912: Hadits Shohih
سنن أبي داوود ٣٩١٢: حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ بَقِيَّةَ عَنْ خَالِدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ وَلَا يَأْكُلُ الصَّدَقَةَ
حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ بَقِيَّةَ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ عَنْ خَالِدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ وَلَمْ يَذْكُرْ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ وَلَا يَأْكُلُ الصَّدَقَةَ زَادَ فَأَهْدَتْ لَهُ يَهُودِيَّةٌ بِخَيْبَرَ شَاةً مَصْلِيَّةً سَمَّتْهَا فَأَكَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهَا وَأَكَلَ الْقَوْمُ فَقَالَ ارْفَعُوا أَيْدِيَكُمْ فَإِنَّهَا أَخْبَرَتْنِي أَنَّهَا مَسْمُومَةٌ فَمَاتَ بِشْرُ بْنُ الْبَرَاءِ بْنِ مَعْرُورٍ الْأَنْصَارِيُّ فَأَرْسَلَ إِلَى الْيَهُودِيَّةِ مَا حَمَلَكِ عَلَى الَّذِي صَنَعْتِ قَالَتْ إِنْ كُنْتَ نَبِيًّا لَمْ يَضُرَّكَ الَّذِي صَنَعْتُ وَإِنْ كُنْتَ مَلِكًا أَرَحْتُ النَّاسَ مِنْكَ فَأَمَرَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُتِلَتْ ثُمَّ قَالَ فِي وَجَعِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ مَازِلْتُ أَجِدُ مِنْ الْأَكْلَةِ الَّتِي أَكَلْتُ بِخَيْبَرَ فَهَذَا أَوَانُ قَطَعَتْ أَبْهَرِي
Telah menceritakan kepada kami Wahab bin Baqiyyah dari Khalid dari Muhammad bin Amru dari Abu Salamah dari Abu Hurairah ia berkata:
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menerima hadiah namun tidak makan zakat."
Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Baqiyyah -dalam riwayat lain- dari Khalid dari Muhammad bin Amru dari Abu Salamah -namun ia tidak menyebutkan Abu Hurairah-, ia berkata:
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menerima hadiah namun tidak makan zakat." Ia menambahkan: "Maka ada seorang wanita Yahudi Khaibar yang memberi hadiah daging guling yang telah dilumuri racun kepada beliau. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya lalu makan daging kambing tersebut. Namun kemudian, beliau bersabda: "Angkatlah tangan kalian (berhenti makan), karena sesungguhnya daging kambing ini telah memberiku kabar bahwa ia telah dibubuhi racun." Bisyr Ibnul Al Bara bin Ma'rur Al Anshari akhirnya meninggal dunia. Rasulullah kemudian mengutus utusan kepada wanita Yahudi tersebut. Beliau bertanya: "Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu?" Wanita itu menjawab: "Jika engkau seorang Nabi, maka apa yang aku lakukan tidak akan membahayakanmu. Namun jika engkau hanya seorang raja, maka dengan begitu aku telah mengistirahatkan manusia darimu." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lantas memerintahkan agar wanita itu dibunuh, maka ia pun dibunuh. Kemudian beliau berkata pada saat sakit yang membawanya kepada kematian: "Aku masih merasakan apa yang pernah aku makan di Khaibar, dan sekarang adalah waktu terputusnya punggungku (kematianku)."
Kisah tentang Nabi Muhammad SAW yang diracun oleh seorang perempuan Yahudi merupakan salah satu peristiwa penting dalam perjalanan hidup Rosulullah SAW. Peristiwa ini bukan hanya menunjukkan betapa berat ujian yang beliau hadapi dalam menyebarkan Islam, tetapi juga mengungkapkan sikap mulia Nabi SAW dalam menghadapi musuh dan pengkhianatan.
Langit Khoybar pagi itu cerah, seolah merestui kemenangan yang baru saja diraih pasukan Rosulullah SAW. Debu-debu yang beterbangan masih menyisakan jejak pertempuran—benteng-benteng Yahudi yang selama bertahun-tahun kukuh dalam perlawanan, satu per satu runtuh oleh taktik jitu kaum Muslimin.
Namun, kemenangan tak selalu berarti damai. Di antara reruntuhan kebesaran Khaybar, dendam tak mati. Ia bersembunyi di dada seorang perempuan—Zainab binti Al-Harits—yang suaminya, Salam bin Mishkam, tewas dalam peperangan. Dendamnya bukan sekadar kehilangan, tapi keyakinan bahwa ajaran Muhammad SAW adalah ancaman terakhir bagi keberadaan kaumnya.
Lalu 
Zainab binti Al-Harits menyiapkan “perjamuan”.
Seekor kambing muda disembelih. Dagingnya dipanggang dengan rempah-rempah terbaik. Tapi racun mematikan menjadi bumbu rahasia pada bagian yang paling disukai Rosulullah SAW: lengan kambing. Racun itu bukan racun biasa—ia diracik untuk membunuh secara perlahan namun pasti.
Sebuah percobaan yang bukan hanya ingin menghilangkan nyawa, tapi juga membuktikan bahwa Muhammad bukanlah Nabi, bukan pula utusan Tuhan—hanya seorang manusia biasa yang bisa mati oleh racun.
Hari itu, Rosulullah SAW menerima hidangan itu tanpa curiga. Wajah beliau bercahaya dalam senyum kemenangan, tapi tubuhnya lelah oleh perang yang belum lama usai. Di sekeliling beliau, para sahabat menyambut hidangan tersebut. Di antara mereka adalah sahabat mulia: Basyar bin Al-Barro’. Dengan penuh rasa syukur, mereka menikmati daging panggang itu.
Namun belum sempat ditelan, lengan kambing itu “berbicara”.
Bukan dengan suara, tapi dengan rasa getir dan isyarat Ilahiyah yang merambat di lidah Rosulullah SAW. Seketika beliau berhenti. Beliau meludahkan daging itu, lalu bersabda dengan keteguhan yang menggetarkan:
“Tulang ini mengabarkan kepadaku bahwa ia beracun.”
Terlambat bagi Basyar bin Al-Barro’. Racun telah menyusup ke dalam darahnya. Tubuhnya melemah hari demi hari, hingga akhirnya ia wafat sebagai syahid. Sedangkan Rosulullah SAW selamat—namun racun itu tidak pergi. Ia menetap di tubuh sang Nabi, menjadi saksi bisu yang perlahan menorehkan luka dalam, hingga beberapa tahun kemudian, di ranjang wafatnya, beliau berkata:
“Kini telah tiba saatnya nadiku terputus karena makanan beracun yang aku makan di Khoybar.”
Berita tentang racun itu menyebar cepat. Rosulullah SAW segera memerintahkan agar para pemuka Yahudi Khoybar dikumpulkan. Di hadapan mereka, beliau berdiri bukan sebagai korban, tapi sebagai hakim dan nabi yang dijaga Tuhannya.
Hadits Riwayat Shohih Bukhori
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ لَمَّا فُتِحَتْ خَيْبَرُ أُهْدِيَتْ لِرَسُولِ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَاةٌ فِيهَا سَمٌّ 
Dari Abu Huroirah RA berkata : Bahwa ketika Khoibar ditaklukkan, Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam diberi hadiah seekor kambing beracun.
فَقَالَ رَسُولُ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اجْمَعُوا لِي مَنْ كَانَ هَا هُنَا مِنْ الْيَهُودِ فَجُمِعُوا لَهُ
Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam langsung bersabda: ‘Tolong kumpulkanlah orang-orang Yahudi yang ada di sini.’ Maka mereka dikumpulkanlah di hadapan beliau.
 فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي سَائِلُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَهَلْ أَنْتُمْ صَادِقِيَّ عَنْه
Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Saya akan bertanya kepada kalian tentang sesuatu, apakah kalian akan menjawab dengan jujur? ‘,
فَقَالُوا نَعَمْ يَا أَبَا الْقَاسِمِ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَبُوكُمْ قَالُوا أَبُونَا فُلَانٌ
mereka menjawab; ‘Ya, wahai Abu Qosim (Nabi Muhammad Shollallahu’alaihi wasallam).’ Lalu Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bertanya: ‘Siapakah ayah kalian? ‘ Mereka menjawab; ‘Ayah kami si fulan.’
 فَقَالَ رَسُولُ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذَبْتُمْ بَلْ أَبُوكُمْ فُلَانٌ فَقَالُوا صَدَقْتَ وَبَرِرْتَ
Kemudian Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Kalian bohong!, tetapi ayah kalian adalah si fulan.’ Mereka menjawab; ‘Baginda benar.’
فَقَالَ هَلْ أَنْتُمْ صَادِقِيَّ عَنْ شَيْءٍ إِنْ سَأَلْتُكُمْ عَنْهُ فَقَالُوا نَعَمْ يَا أَبَا الْقَاسِمِ وَإِنْ كَذَبْنَاكَ عَرَفْتَ كَذِبَنَا كَمَا عَرَفْتَهُ فِي أَبِينَا
Lalu beliau bersabda kepada mereka: ‘Apakah kalian akan jujur jika saya tanya tentang sesuatu? ‘ Mereka menjawab; ‘Ya, dan jika kami berbohong niscaya baginda mengetahuinya, sebagaimana baginda mengetahui ayah-ayah kami.’
 قَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَهْلُ النَّارِ فَقَالُوا نَكُونُ فِيهَا يَسِيرًا ثُمَّ تَخْلُفُونَنَا فِيهَا
Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada mereka: ‘Siapakah penghuni neraka? ‘ Mereka menjawab; ‘Kami berada di dalamnya sebentar dan kemudian baginda menggantikan kami di dalamnya.’
 فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اخْسَئُوا فِيهَا وَاللّهِ لَا نَخْلُفُكُمْ فِيهَا أَبَدًا
Maka Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada mereka: Terhinalah kalian di dalamnya, demi Allah subhanahu wata’ala kami tidak akan menggantikan kalian di dalamnya selamanya.”
ثُمَّ قَالَ لَهُمْ فَهَلْ أَنْتُمْ صَادِقِيَّ عَنْ شَيْءٍ إِنْ سَأَلْتُكُمْ عَنْهُ قَالُوا نَعَمْ 
Lalu Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada mereka: “Apakah kalian akan berkata jujur terhadap pertanyaan yang akan kutanyakan kepada kalian?”, mereka menjawab; Ya.
فَقَالَ هَلْ جَعَلْتُمْ فِي هَذِهِ الشَّاةِ سَمًّا فَقَالُوا نَعَمْ فَقَالَ مَا حَمَلَكُمْ عَلَى ذَلِكَ 
Beliau bersabda: “Apakah kalian membubuhi racun pada (daging) kambing tersebut?” Mereka menjawab; “Ya, ” beliau bertanya: “Apa yang menyebabkan kalian berbuat demikian?”
فَقَالُوا أَرَدْنَا إِنْ كُنْتَ كَذَّابًا نَسْتَرِيحُ مِنْكَ وَإِنْ كُنْتَ نَبِيًّا لَمْ يَضُرَّكَ

Mereka menjawab; “Kami ingin terbebas jika baginda seorang pembohong dan jika baginda benar seorang Nabi maka (racun itu) tidak bakalan mencelakai baginda.”
Nabi SAW tidak marah. Tidak pula langsung menghukumnya. Ia memaafkan Zainab binti Al-Harits. Tidak karena lemah, tapi karena kasih yang meluap dari dada seorang Rosul yang hidupnya adalah rohmat bagi semesta alam. Namun setelah Basyar bin Al-Barro wafat, keadilan harus ditegakkan. Zainab binti Al-Harits dihukum qishosh oleh para sahabat atas dasar pembunuhan.
Peristiwa Khoybar bukan sekadar catatan tentang racun dan pengkhianatan. Ia adalah potret agung dari pribadi Rosulullah SAW, seseorang yang bisa memaafkan musuh bahkan setelah mencoba membunuhnya. Beliau bukan hanya nabi yang dijaga oleh wahyu, tapi juga manusia yang diuji, disakiti, dan akhirnya wafat dengan luka yang disebabkan oleh tangan seorang musuh.
Namun di sanalah letak keagungan beliau. Tak satu pun dari luka itu membuatnya membalas demi kepentingan pribadi. Tidak pula membatalkan rohmat yang ia bawa untuk semua manusia, termasuk mereka yang meracuninya.
Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah menulis dalam Zad Al-Ma’ad:
كَانَتْ حَادِثَةُ التَّسِمِيْمِ هَذِهِ عَلَامَةً عَلَى النُّبُوَّةِ. لَوْ لَمْ يَكُنْ مُحَمَّدٌ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) نَبِيًّا، لَمَاتَ آنذَاك. لَكِنَّ اللهَ أَخَّرَ مَوْتَهُ حَتَّى اكْتَمَلَتِ الرِّسَالَةِ وَنُزِّلَ اْلوَحْيُ اْلأَخِيْر
“Peristiwa racun ini adalah tanda kenabian. Jika Muhammad SAW bukan Nabi, ia pasti wafat saat itu. Tapi Allah menundanya hingga risalah disempurnakan dan wahyu terakhir diturunkan.”
Kini, lebih dari seribu empat ratus tahun telah berlalu sejak racun itu disuguhkan kepada sang Nabi. Tapi setiap kisah tentangnya hidup kembali dalam hati orang-orang beriman. Bahwa hidup bukan tentang bebas dari ujian, tapi tentang bagaimana menghadapi makar dengan rahmat. Tentang bagaimana membalas pengkhianatan dengan keadilan, dan membalas dendam dengan maaf.
Dan di atas semuanya, tentang bagaimana seorang manusia bisa mencintai Tuhan dengan begitu tulus, hingga racun yang paling mematikan pun tak bisa mencuri cahaya dari jiwanya.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Anbiya (21) Ayat 107
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Ada tantangan dari pendeta dengan mengutip hadits tentang keutamaan kurma ajwa bahwa akan terhindar dari racun dan sihir, tapi pada kenyataannya Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم wafat disebabkan oleh racun yang diberikan perempuan Yahudi.
Apakah kurma ajwah mempunyai khasiat (dari Allah) untuk menangkal racun dan sihir ? Jika iya, bagaimana cara memakannya agar khasiatnya sesuai dengan yang dijanjikan?
Jadi harus diketahui juga cara memakannya, sama seperti obat lain pada umumnya, walau pun berkhasiat, tentu juga harus mengetahui cara mengkonsumsinya sesuai aturan dan dosis bukan ?
Kita simak hadis tentang khasiat ajwah (dari Allah memalui lisan Rosul-Nya) dan cara mengkonsumsinya.
Hadits Riwayat Shohih Bukhori
عَن بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَصَبَّحَ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعَ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً لَمْ يَضُرَّهُ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ سُمٌّ وَلَا سِحْرٌ (رواه البخارى)
Dari Ibn Sa’ad dari bapaknya dia berkata : Rosulullah SAW bersabda : “Siapa yang setiap hari sarapan kurma ajwah 7 butir, maka di racun maupun sihir tidak akan memberikan pengaruh baginya di hari itu.
Hadis semisal banyak, tidak satu riwayat, tapi kami rasa satu hadits ini saja sudah cukup mewakili. Dari hadits di atas dapat difahami bahwa khasiat menagkal sihir dan racun dengan kurma ajwah jika :
- Dimakan pagi hari
- Harus 7 butir (tidak lebih dan juga tidak kurang)
- Harus setiap hari.
Lalu pertanyaannya, apakah Rosulullah SAW setiap hari makan kurma tersebut 7 butir setip pagi ? Wallahu a’lam. Kami tidak menemukan keterangan sampai sedetail itu. Bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Tapi kami menduga bahwa kemungkinan Rosulullah SAW tidak makan kurma ajwa setiap hari sebanyak tujuh butir setiap pagi. Analisanya bagaimana ? Kita ingat bahwa Rosulullah SAW sangat rajin berpuasa sunnah. Puasa Senin dan Kamis, Puasa di bulan-bulan Haram, puasa 3 hari di tengah bulan dan puasa-puasa lainnya. Dan bahkan Rosulullah berpuasa karena memang tidak ada makanan di rumah Beliau. Degana demikian, hadis khasiat kurma Ajwa tidak bertentangan dengan peristiwa Rosulullah SAW mempan diracun. Bisa saja saat terkena racun tersebut Rosulullah sedang tidak makan kurma di pagi hari.
Lalu apakah benar racun tersebut yang menyebabkan kematian Rasulullah ?
Jawabnnya tentu tidak. Kita harus mengetahui bahwa kejadian tersebut terjadi tidak lama setelah penaklukan khoibar, kira-kira 4 tahun sebelum beliau wafat. Saat itu sebagian pendeta Yahudi bersekongkol dengan seorang wanita Yahudi bernama Zainab Binti Al-Harits. Mereka memberikan daging kambing yang sudah diracuni. Saat itu Rasulullah dan sebagian sahabat memakan daging tersebut. Saat itu daging tersebut berkata kepada Rasulullah agar jangan dimaklan karena beracun. Namun sayangnya Beliau merasakan sedikit dan terkena racun. Ada seorang sahabat yang wafat karena terkena racun tersebut. Kisah tersebut terdapat dalam beberapa hadis hadis shahih yang cukup panjang. Motif mereka melakukan demikian adalah karena ingin membunuh Rasulullah karena dendam sekaligus juga ingin menguji, jika Muhammad benar-benar Nabi, maka racun itu tidak akan sampai membunuhnya, tapi jika ia bukan Nabi, maka racun itu tentu membunuhnya saat itu juga.
Jadi jelas terbukti, bahwa para pelaku mengakui bahwa Rasulullah adalah benar-benar Nabi karena tidak mempan diracun. Dari hadis ini saja sudah jelas bahwa wafatnya Rosulullah SAW bukan karena diracun.
Walau pun tidak sampai mematikan, efek dari racun tersebut masih dirasakan oleh Rosulullah sampai beliau wafat. Ingat ! ini hanya efek racun, bukan penyebab kematian Rosulullah. oSAW wafat kira-kira 4 tahun terhitung beliau diracun.
Hadits Riwayat Shohih Bukhori
قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللّهُ عَنْهَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ يَا عَائِشَةُ مَا أَزَالُ أَجِدُ أَلَمَ الطَّعَامِ الَّذِي أَكَلْتُ بِخَيْبَرَ فَهَذَا أَوَانُ وَجَدْتُ انْقِطَاعَ أَبْهَرِي مِنْ ذَلِكَ السُّمِّ
Aisyah RA berkata : Rosulullah SAW bersabda di saat beliau sakit menjelang wafat : “Wahai Aisyah, saya masih merasakan sakit dari racun yang ada di makanan pada saat di Khaibar. Dan saat ini saya merasakan dipotongnya urat tali nadiku oleh racun itu.
Sunan Nasa'i 696: Hadits Shohih
سنن النسائي ٦٩٦: أَخْبَرَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ قَالَ أَنْبَأَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ مَعْمَرٍ وَيُونُسَ قَالَا قَالَ الزُّهْرِيُّ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ عَائِشَةَ وَابْنَ عَبَّاسٍ قَالَا
لَمَّا نُزِلَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَطَفِقَ يَطْرَحُ خَمِيصَةً لَهُ عَلَى وَجْهِهِ فَإِذَا اغْتَمَّ كَشَفَهَا عَنْ وَجْهِهِ قَالَ وَهُوَ كَذَلِكَ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
Telah mengabarkan kepada kami Suwaid bin Nashr dia berkata: telah memberitakan kepada kami 'Abdullah bin Al-Mubarak dari Ma'mar dan Yunus mereka berdua berkata: Az-Zuhri berkata: telah mengabarkan kepadaku 'Ubaidullah bin 'Abdullah bahwasanya 'Aisyah dan Ibnu 'Abbas berkata: "Tatkala diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam penyakit yang mengakibatkan kematiannya maka beliau menutupkan kain di wajahnya. Ketika temperatur tubuhnya meningkat beliau membuka selimutnya dari wajahnya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.'"

0 komentar:

Posting Komentar