PERISTIWA ISRO MI'ROJ NABI MUHAMMAD SAW
AL-QUR'ANUL KARIM SURAT AL-ISRO (17) AYAT 1-2
( MAKKIYYAH, SERATUS SEBELAS AYAT )
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
وَاٰتَيْنَا مُوْسَى الْكِتٰبَ وَجَعَلْنٰهُ هُدًى لِّبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اَلَّا تَتَّخِذُوْا مِنْ دُوْنِيْ وَكِيْلًاۗ
Dan Kami berikan kepada Musa, Kitab (Taurat) dan Kami jadikannya petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman), “Janganlah kamu mengambil (pelindung) selain Aku.
ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوْحٍۗ اِنَّهٗ كَانَ عَبْدًا شَكُوْرًا
(Wahai) keturunan orang yang Kami bawa bersama Nuh. Sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.”
َ{ سُبْحَانَ } أَيْ تَنْزِيْهِ { الَّذِيْ أَسْرٰى بِعَبْدِهٖ } مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ { لَيْلًا } نُصِب
عَلَى الظّرْفِ وَاْلإِسْرَاءِ سِيْرُ اللَّيْلِ وَفَائِدٌ ذَكَرَهُ اْلإِشَارَةَ بِتَنْكِيْرِهِ إِلَى تَقْلِيْلِ مُدَّتِهٖ
(Maha Suci) artinya memahasucikan (Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya) yaitu Nabi Muhammad (pada suatu malam) lafal lailan dinashabkan karena menjadi dhorof. Arti lafal Al-isro ialah melakukan perjalanan di malam hari, disebutkan untuk memberikan pengertian bahwa perjalanan yang dilakukan itu dalam waktu yang sedikit, oleh karenanya diungkapkan dalam bentuk nakiroh untuk mengisyarotkan kepada pengertian itu
{ مِنَ اْلمَسْجِدِ اْلحَرَامِ } أَيْ مَكَّةَ { إِلَى اْلمَسْجِدِ اْلأَقْصٰى } بَيْتُ اْلمَقْدِسِ لِبُعْدِهٖ مِنْهُ
(dari Masjidilharom ke Masjidilaqso) yakni Baitulmaqdis, dinamakan Masjidilaqso mengingat tempatnya yang jauh dari Masjidilharom
{ الَّذِيْ بَارَكْنَا حَوْلَهٗ } بِالثَّمَارِ وَاْلأَنْهَارِ { لِنُرِيَهٗ مِنْ آيَاتِنَا } عَجَائِبُ قُدْرَتِنَا
(yang telah Kami berkahi sekelilingnya) dengan banyaknya buah-buahan dan sungai-sungai (agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda Kami) yaitu sebagian daripada keajaiban-keajaiban kekuasaan Kami.
َ{ إِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ اْلبَصِيْرُ } أَيْ اَلَعَالِمُ بِأَقَوَالِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَأَفْعَالِهٖ فَأَنْعَم عَلَيْهِ بِالْإِسْرَاءِ اْلمُشْتَمِلِ عَلَى اجْتِمْاعِهٖ بِاْلَأنْبِيَاءِ وُعُرُوْجِهٖ إِلَى السَّمَاءِ وَرُؤْيَةِ عَجَائِبِ اْلمَلَكُوْتِ وَمُنَاجَاتِهٖ لَهٗ تَعَالٰى فَإِنَّهٗ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ :
(Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) artinya yang mengetahui semua perkataan dan pekerjaan Nabi Maka Dia melimpahkan nikmat-Nya kepadanya dengan memperjalankannya di suatu malam, di dalam perjalanan itu antara lain ia sempat berkumpul dengan para nabi, naik ke langit, melihat keajaiban-keajaiban alam malakut dan bermunajat langsung dengan Allah Sehubungan dengan peristiwa ini Nabi menceritakannya melalui sabdanya,
[ أُتِيْتُ بِاْلبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضٌ فَوَقَ اَلحِمِارِ وَدُوْنَ اْلبِغْلِ يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهٖ فَرَكِبْتُهُ فَسَارَ بِيْ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ اْلمَقْدِسِ فَرَبَطْتُ الدَّاؔبَةِ بِاْلحَلَقَةِ الَّتِيْ تَرْبِطُ فِيْهَا اْلأَنْبِيَآءُ
"Aku diberi buroq, adalah seekor hewan yang berbulu putih, tingginya lebih dari keledai akan tetapi lebih pendek daripada bagol, bila ia terbang kaki depannya dapat mencapai batas pandangan matanya. Lalu aku menaikinya dan ia membawaku hingga sampai di Baitulmaqdis. Kemudian aku tambatkan ia pada tempat penambatan yang biasa dipakai oleh para nabi
ثُمّ دَخَلْتُ فَصَلَيْتُ فِيْهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجْتُ فَجَآئَنِي جِبْرِيْلُ بِإِنَآءٍ مِنْ خَمْرٍ وَإِنَآءٍ مِنْ لَبَنٍ فَاخْتَرْتُ اللَّبَنَ
Selanjutnya aku memasuki Masjidilaqso dan melakukan sholat dua rokaat di dalamnya. Setelah itu aku keluar dari Masjidilaqso datanglah kepadaku malaikat Jibril seraya membawa dua buah cawan; yang satu berisikan khamar sedangkan yang lain berisikan susu. Aku memilih cawan yang berisikan susu,
قَالَ جِبْرِيْلُ : أَصَبْتَ اْلفِطْرَةَ قَالَ : ثُمَّ عَرَجَ بِي إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيْلُ قِيْلَ : مَنْ أَنْتَ
lalu malaikat Jibril berkata, 'Engkau telah memilih fitrah (yakni agama Islam).' Nabi melanjutkan kisahnya, kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit dunia (langit pertama), lalu malaikat Jibril mengetuk pintu langit; ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah kamu?'
قَالَ : جِبْرِيْلُ قِيْلَ وَمَنْ مَعَكَ ؟ قَالَ : مُحَمَّدٌ قِيْلَ : أَوْ قَدْ أَرْسَلَ إِلَيْهِ ؟ قَالَ : قَدْ أَرَسَلَ إِلَيْهِ فَفَتَحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِآدَمَ فَرَحَبَ بِي وَدَعَا لِي بِاْلخَيْرِ ثُمَّ عَرَجَ إِلَى السَّمَاءِ الثَّانِيَّةِ
Malaikat Jibril menjawab, 'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?' Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Kemudian pintu langit pertama dibukakan bagi kami; tiba-tiba di situ aku bertemu dengan Nabi Adam. Nabi Adam menyambut kedatanganku, dan ia mendoakan kebaikan untukku. Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang kedua
فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيْلُ فَقِيْلَ : مَنْ أَنْتَ فَقَالَ : جِبْرِيْلُ قِيْلَ : وَمَنْ مَعَكَ قَالَ : مُحَمَّدٌ قِيْلَ أَوْ قَدْ بَعَثَ إِلَيْهِ قَالَ : قَدْ بَعَثَ إِلَيْهِ فَفَتَحَ لَنَا فَإِذَا بِابْنَيِ اْلخَالَةِ يَحْيَ وَعِيْسَى
malaikat Jibril mengetuk pintu langit yang kedua. Lalu ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?' Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Maka pintu langit yang kedua dibukakan bagi kami; tiba-tiba aku bertemu dengan dua orang anak bibiku, yaitu Nabi Yahya dan Nabi Isa.
فَرَحَبَا بِي وَدَعَوَا لِي بِاْلخَيْرِ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءَ الثَّالِثَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيْلَ فَقِيْلَ : مَنْ أَنْتَ ؟ قَالَ : جِبْرِيْلُ فَقِيْلَ : وَمَنْ مَعَكَ قَالَ : مُحَمَّدٌ فَقِيْلَ : أَوْ أَرْسَلَ إِلَيْهِ
Lalu keduanya menyambut kedatanganku, dan keduanya mendoakan kebaikan buatku. Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang ketiga, maka malaikat Jibril mengetuk pintu langit yang ketiga, lalu ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?'
قَالَ : قَدْ أَرْسَلَ إِلَيْهِ فَفَتَحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِيُوْسُفَ وَإِذَا هُوَ قَدْ أُعْطِيَ شَطْرَ اْلحَسَنِ فَرَحَبَ بِي وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الرَّابِعَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيْلُ فَقِيْلَ : مَنْ أَنْتَ قَالَ جِبْرِيْلُ
Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Maka dibukakanlah pintu langit ketiga bagi kami, tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Yusuf; dan ternyata ia telah dianugerahi separuh daripada semua keelokan. Nabi Yusuf menyambut kedatanganku, lalu ia mendoakan kebaikan bagiku. Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang keempat, maka malaikat Jibril mengetuk pintu langit. Lalu ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril menjawab.
فَقِيْلَ : وَمَنْ مَعَكَ قَالَ : مُحَمَّدٌ فَقِيْلَ : أَوْ قَدْ بَعَثَ إِلَيْهِ قَالَ : قَدْ بَعَثَ إِلَيْهِ فَفَتَحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِإِدْرِيْسَ فَرَحَبَ بِي وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ اْلخَامِسَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرْيْلُ :
'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?' Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Maka pintu langit yang keempat dibukakan bagi kami; tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Idris, ia menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan bagiku. Kemudian malaikat Jibril membawaku ke langit yang kelima, lalu malaikat Jibril mengetuk pintu langit yang kelima,
فَقِيْلَ مَنْ أَنْتَ قَالَ : جِبْرِيْلُ فَقِيْلَ : وَمَنْ مَعَكَ قَالَ : مُحَمَّدٌ فَقِيْلَ : أَوْ قَدْ بَعَثَ إِلَيْهِ قَالَ : قَدْ بَعَثَ إِلَيْهِ فَفَتَحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِهَارُوْنَ فَرَحَبَ بِي وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ
'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?' Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Maka pintu langit yang keempat dibukakan bagi kami; tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Idris, ia menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan bagiku.
ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ السَّادِسَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيْلُ فَقِيْلَ : مَنْ أَنْتَ فَقَالَ : جِبْرِيْلُ فَقِيْلَ : وَمَنْ مَعَكَ قَالَ : مُحَمَّدٌ فَقِيْلَ : أَوْ قَدْ بَعَثَ إِلَيْهِ قَالَ : قَدْ بَعَثَ إِليْهِ فَفَتَحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِمُوْسَى فَرَحَبَ بِي وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ
Selanjutnya malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang keenam, lalu ia mengetuk pintunva, ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?' Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Maka dibukakanlah pintu langit yang keenam buat kami, tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Musa, lalu Nabi Musa menyambut kedatanganku, dan ia mendoakan kebaikan bagiku.
ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيْلُ فَقِيْلَ : مَنْ أَنْتَ فَقَالَ : جِبْرِيْلُ قِيْلَ وَمَنْ مَعَكَ فَقَالَ : مُحَمَّدٌ قِيْلَ : أَوْ قَدْ بَعَثَ إِلَيْهِ قَالَ : قَدْ بَعَثَ إِلَيْهِ فَفَتَحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِإِبْرَاهِيْمَ فَإِذَا هُوَ مُسْتَنِدٌ إِلَى اْلبَيْتِ اْلمَعْمُوْرِ وَإِذَا هُوَ يُدْخَلُهُ كُلَّ يَوْمِ سَبْعُوْنَ أَلْفِ مَلَكٍ
Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang ketujuh, lalu ia mengetuk pintunya. Ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?' Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Maka dibukakanlah pintu langit yang ketujuh bagi kami; tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Ibrahim. Kedapatan ia bersandar pada Baitulmakmur. Ternyata Baitulmakmur itu setiap harinya dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat,
ثُمَّ لَا يَعُوْدُوْنَ إِلَيْهِ ثُمَّ ذَهَبَ بِي إِلَى سِدْرَةِ اْلمُنْتَهَى فَإِذَا أَوْرَاقُهَا كَآُذَانِ اْلفِيْلَةِ وَإِذَا ثَمَرُهَا كَاْلقَلَالِ فَلَمَّا غَشَيْهَا مِنْ أَمْرِ اللهِ مَا غَشَيْهَا تَغَيّرَتْ فَمَا أَحَدٌ مِنْ خَلْقِ اللهِ تَعَالَى يَسْتَطِيْعُ أَنْ يَصَفَّهَا مِنْ حُسْنِهَا
yang selanjutnya mereka tidak kembali lagi padanya. Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke Sidratul Muntaha, kedapatan daun-daunnya bagaikan telinga-telinga gajah dan buah-buahan bagaikan tempayan-tempayan yang besar. Ketika semuanya tertutup oleh nur Allah, semuanya menjadi berubah. Maka kala itu tidak ada seorang makhluk Allah pun yang dapat menggambarkan keindahannya.
قَالَ : فَأَوْحَى اللهُ إِلَي مَا أَوْحَى وَفَرَضَ عَلَيَّ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَمْسِيْنَ صَلَاةً فَنَزَلْتُ حَتَّى انْتَهَيْتُ إِلَى مُوْسَى فَقَالَ : مَا فَرَضَ رَبُّكَ عَلَى أُمَّتِكَ
Rasulullahmelanjutkan kisahnya, maka Allah mewahyukan kepadaku secara langsung, dan Dia telah (mewajibkan) kepadaku lima puluh kali salat untuk setiap hari. Setelah itu lalu aku turun hingga sampai ke tempat Nabi Musa (langit yang keenam). Maka Nabi Musa bertanya kepadaku, 'Apakah yang diwajibkan oleh Rabbmu atas umatmu?'
قُلْتُ : خَمْسِيْنَ صَلَاةً فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ قَالَ : اِرْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيْفِ
Aku menjawab, 'Lima puluh kali salat untuk setiap harinya.' Nabi Musa berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, lalu mintalah keringanan dari-Nya
فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا تَطِيْقُ ذَلِكَ وَإِنِّي قَدْ بَلَوْتُ بَنِي إِسْرَائِيْلَ وَخَبَرْتُهُمْ
karena sesungguhnya umatmu niscava tidak akan kuat melaksanakannya; aku telah mencoba Bani Israel dan telah menguji mereka.
قَالَ : فَرَجَعْتُ إِلَى رَبِّي فَقُلْتُ : أَيُ رَبٍّ خَفّفَ عَنْ أُمَّتِي فَحَطَّ عَنِّي خَمْسًا
Rosulullah saw. melanjutkan kisahnya, maka aku kembali kepada Rabbku, lalu aku memohon, 'Wahai Rabbku, ringankanlah buat umatku.' Maka Allah meringankan lima waktu kepadaku.
فَرَجَعْتُ إِلَى مُوْسَى قَالَ : مَا فَعَلْتُ فَقُلْتُ حَطَّ عَنِّي خَمْسًا قَالَ : إِنَّ أُمَّتَكَ لَا تَطِيْقُ ذَلِكَ
Maka Nabi Musa bertanya, 'Sesungguhnya umatmu niscaya tidak akan kuat melakukan hal tersebut,
فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيْفَ لُِأمَّتِكَ قَالَ : فَلَمْ أَزِلْ أَرْجِعُ بَيْنَ رَبِّي وَبَيْنَ مُوْسَى وَيَحِطُّ
عَنِّي خَمْسًا خَمْسًا
maka kembalilah lagi kepada Rabbmu dan mintalah keringanan buat umatmu kepada-Nya.' Rosulullah melanjutkan kisahnya, maka aku masih tetap mondar-mandir antara Rabbku dan Nabi Musa, dan Dia meringankan kepadaku lima waktu demi lima waktu.
حَتَّى قَالَ : يَا مُحَمَّدٌ هِيَ خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بِكُلِّ صَلَاةِ عِشْرٍ
Hingga akhirnya Allah berfirman, 'Hai Muhammad, salat lima waktu itu untuk tiap sehari semalam; pada setiap salat berpahala sepuluh salat,
ُفَتِلْكَ خَمْسُوْنَ صَلَاةً وَمَنْ هُمْ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةٌ
maka itulah lima puluh kali salat. Dan barang siapa yang berniat untuk melakukan kebaikan, kemudian ternyata ia tidak melakukannya dituliskan untuknya pahala satu kebaikan.
فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا وَمَنْ هُمْ بِسَيِّئَةٍ وَلَمْ يَعْمَلْهَا لَمْ تُكْتَبْ
Dan jika ternyata ia melakukannya, dituliskan baginva pahala sepuluh kali kebaikan. Dan barang siapa yang berniat melakukan keburukan, lalu ia tidak mengerjakannya maka tidak dituliskan dosanya.
فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ سَيِّئَةٌ وَاحِدَةٌ فَنَزَلْتُ حَتَّى انْتَهَيْتُ إِلَى مُوْسَى فَأَخْبَرْتُهُ
Dan jika ia mengerjakannya maka dituliskan baginva dosa satu keburukan.' Setelah itu aku turun hingga sampai ke tempat Nabi Musa, lalu aku ceritakan hal itu kepadanya.
فَقَالَ : اِرْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيْفَ لُِأمَّتِكَ فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا تَطِيْقُ ذَلِكَ
Maka ia berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, lalu mintalah kepada-Nya keringanan buat umatmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan kuat melaksanakannya.
ُفَقُلْتُ : قَدْ رَجَعْتُ إِلَى رَبِّي حَتَّى اسْتَحَيَيْتُ ] رَوَاهُ الشَيْخَانِ وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ وَرَوَى اْلحَاكِم فِي اْلمُسْتَدَرَكِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ [ رَأَيْتُ رَبِّي عَزَّ وَ جَلَّ ]
Maka aku menjawab, 'Aku telah mondar-mandir kepada Rabbku hingga aku malu terhadap-Nya.'" (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dan lafal hadits ini berdasarkan Imam Muslim). Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak meriwayatkan sebuah hadits melalui Ibnu Abbas rodliallahu ‘anhu yang menceritakan, bahwa Rosulullah telah bersabda, "Aku melihat Rabbku Azza Wajalla."
قَالَ تَعَالَى { وَآتَيْنَا مُوْسَى اْلكِتَابَ } اَلتَّوْرَاةَ { وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِّبَنِي إِسْرَائِيْلَ } لِ { أَ } نْ { لَّا تَتَّخِذُوْا مِنْ دُوْنِي وَكِيْلًا } يُفَوِّضُوْنَ إِلَيْهِ أَمْرَهُمْ وَفِي قِرَاءَةٍ تَتَّخِذُوْا بِاْلفَوْقَانِيَّةِ اِلْتِفَاتًا فَأَنْ زَائِدَةٌ وَاْلقَوْلُ مُضْمَرٌ
002. Allah berfirman: (Dan Kami berikan kepada Musa kitab) yakni kitab Taurat (dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israel) dengan firman: ("Janganlah kalian mengambil penolong selain Aku") di mana mereka menyerahkan semua perkara mereka kepada-Nya. Menurut suatu qiraat lafal tattakhidzuu dibaca yattakhidzuu dengan versi ungkapan iltifat; dan huruf an adalah zaidah, sedangkan makna al-qaul diperkirakan keberadaannya.
يَا { ذُرِّيَّةً مَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوْحٍ } فِي السَّفِيْنَةِ { إِنَّهٗ كَانَ عَبْدًا شَكُوْرًا } كَثِيْرُ الشُّكْرِ لَنَا حَامِدًا فِي جَمِيْعِ ٖأَحْوَالِهِ
003. (Yaitu anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh) di dalam bahtera. (Sesungguhnya dia adalah hamba Allah yang banyak bersyukur) kepada Kami dan selalu memuji dalam semua sepak terjangnya
Qiroo'aatاَلَّا تَتَّخِذُوْا Abu Amr membacanya اَلَّا يَتَّخِذُوْا
l'roob
سُبْحَانَ Dibaca nashob (manshuub) karena kata kerja yang tidak ditampakkan. Asalnya adalah
اُسَبِّحُ اللهُ سُبْحَانَ saya bertasbih kepada Allah, Mahasuci. Kemudian kata سُبْحَانَ menempati posisi kata kerja yang tidak ditampakkan tersebut.
لَيْلًا Manshuub sebagai dhorof.
اَلَّا تَتَّخِذُوْا Kami katakan kepada mereka, "Janganlah kamu mengambil..." Redaksi "Kami berkata," sengaja tidak disebut, adalah hal yang biasa dalam bahasa Arob. Berdasarkan hal itu, اَنْ hanyalah tambahan. Boleh juga اَنْ mempunyai makna اَيْ sehingga maknanya menjadi اَيْ لَا تَتَّخِذُوْا dengan demikian, lafal اَلَّا تَتَّخِذُوْا merupakan tafsir bagi kata هُدًى Makna lainnya bisa juga وَجَعَلْنٰهُ هُدًى لِّبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ باَلَّا تَتَّخِذُوْا
Dalam bacaan lain, lafal اَلَّا تَتَّخِذُوْا di baca اَلَّا يَتَّخِذُوْا dengan huruf ya'. Dengan bacaan ini maka maknanya adalah, "Dan Kami jadikan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi mereka, agar mereka tidak mengambil pelindung selain Aku."
ذُرِّّيَّةً di baca nashob bisa sebagai badal dari kata وَكِيْلًا , atau di-nashob-kan sebagai nida. Atau nashob sebagai maf 'uI awwal (objek pertama) dari kata kerja تَتَّخِذُوْا, dan lafal وَكِيْلًا adalah maf'ul fsani (objek kedua). Atau kata ذُرِّّيَّةً dibaca nashob karena sebelumnya diperkirakan ada lafal اَعْنِى "maksud saya", atau karena ikhitishosh.
Dalam bacaan yang membaca kat ذُرِّّيَّةٌ secara marfu' maka posisinya adalah badal dari huruf wawu yang ada di akhir lafal اَلَّا تَتَّخِذُوْا
Balaaghooh
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى Sebuah kalimat pembuka yang sangat bagus (baro'atul istihlaal). Karena isro' merupakan peristiwa yang luar biasa, maka surah ini dimulai dengan sesuatu yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah dan menyucikan-Nya dari sifat-sifat kekurangan.
بِعَبْدِهٖ Idhoofah untuk penghormatan dan pemuliaan.
لِنُرِيَهٗ Di sini terdapat iltifaat (perpindahan) dari kata ganti orang ketiga (huwa/ dia, Allah) menjadi kata ganti orang pertama (nahnu /kami), sebagai bentuk pengagungan keberkahan-keberkahan agama dan dunia, dan pengagungan tanda-tanda kekuasaan Allah.
وَاٰتَيْنَا مُوْسَى Di sini juga terdapar iltifaat (perpindahan fokus) dari kata ganti orang ketiga (huwa/dia, Allah) menjadi kata ganti orang pertama (nahnu /kami).
Mufrodaat Lughowiyyah
سُبْحٰنَ Isim 'alam seperti Utsmaan yang mempunyai arti at-tasbiih (mashdar), yaitu penyucian segala sifat lemah dan kurang yang tidak layak bagi keagungan dan kesempurnaan Allah. اَسْرٰى dan سَرٰى khusus untuk berjalan di malam hari. Peristiwa ini terjadi setahun sebelum Hijroh. Hikmah dari isro' ke Baitul Maqdis adalah karena masjid ini merupakan tempat berkumpulnya ruh para nabi dan tempat turunnya wahyu kepada para rasul dan nabi. Sehingga Rosulullah saw. diberi kehormatan dengan mengunjunginya dan menjadi imam sholat bagi para nabi yang lain. بِعَبْدِهٖ yaitu Muhammad saw..
Kata al-'abd (hamba) meliputi ruh dan jasad. Di sini Allah memberi sifat "hamba" kepada Muhammad saw. karena menghamba kepada Allah merupakan kedudukan yang paling mulia. Dalam posisi sebagai penerima wahyu, Allah juga menyebutnya dengan sifat yang sama yaitu sebagai hamba, Allah berfirman, dalam Al-Qur'anul karim Surat An-Najm (53) ayat 10
فَاَوْحٰىٓ اِلٰى عَبْدِهٖ مَآ اَوْحٰىۗ
Lalu disampaikannya wahyu kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah diwahyukan Allah.
Demikian ketika berposisi sebagai juru dakwah, Allah juga menyebut beliau sebagai hamba. AIlah berfirman, dalam Al-Qur'anul karim Surat Al-Jinn (72) ayat 19:
وَّاَنَّهٗ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللّٰهِ يَدْعُوْهُ كَادُوْا يَكُوْنُوْنَ عَلَيْهِ لِبَدًاۗ
Dan sesungguhnya ketika hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (melaksanakan salat), mereka (jin-jin) itu berdesakan mengerumuninya.لَيْلًا faedah penyebutan dengan bentuknya yang nakiroh, untuk mengisyaratkan betapa sebentarnya waktu yang ditempuh. مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ Yaitu Masjid. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa Nabi saw bersabda:
بَيْنَاانَافِى الْمَسْجِدِالْحَرَامِ فِى الْحِجْرِعِنْدالْبَيْتِ بَيْنَ النَّائِمِ وَالْيَقْظَانِ, اِذْاَتَانِى جِرِيْلُ بِالْبُرَاقِ
"Ketika aku berada dalam kondisi antara sadar dan tertidur di dalam Masjidil Harom di Hijr yang ada di sisi Ka'bah, tiba-tiba Jibril mendatangiku dengan membawa Buroq."
Atau yang dimaksud adalah seluruh Tanah Harom di Mekah seluruhnya, yang disebut juga Masjidil Harom. Itu karena seluruh Tanah Harom adalah masjid, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi saw. ketika itu tidur di rumah Ummu Hani setelah sholat Isya. Lalu beliau diisro'kan dan kembali lagi pada malam itu juga. Kemudian beliau menceritakan kejadian itu kepada Ummu Hani dan beliau bersabda, "Para nabi ditampakkan kepadaku lalu aku menjadi imam sholat bagi mereka."
الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا Baitul Maqdis. Masjid ini diberi sifat Al-Aqsho (yang terjauh) karena jaraknya yang jauh dari pandangan mata penduduk kawasan Hijaz.
الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ dengan keberkahan agama dan dunia. Karena ia merupakan tempat turunnya wahyu dan tempat ibadah para nabi dari zaman nabi Musa. Ia juga dikelilingi oleh sungai-sungai, pohon-pohon dan buah-buahan.
لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ untuk Kami Perlihatkan keajaiban-keajaiban kekuasaan Kami, seperti jarak yang seharusnya ditempuh satu bulan hanya ditempuh sebentar saja oleh Nabi saw. di malam hari. Juga kekuasaan-Nya yang membuat beliau dapat menyaksikan Baitul Maqdis, ditampakkannya para nabi kepada beliau, serta berdirinya beliau di posisi yang sederajat dengan mereka. السَّمِيْعُ Maha Mendengar semua sabda Nabi saw. الْبَصِيْرُ Maha Mengetahui segala perbuatan beliau. Lalu Dia memuliakan Nabi dan mendekatkan beliau kepada-Nya. Beliau kemudian berkumpul dengan para nabi, naik ke langit, melihat berbagai keajaiban alam langit, dan berbicara dengan Tuhannya.
Ibnu Athiyyah berkata,
ٌوَهَذَا تَهْدِيْدُ لِلْكُفّارِ لِكَذْبِهِمْ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ فِي حَادِثَةِ اْلإِسْرَاءِ. فَمَعْنَى اْلآيَةِ: "وَاللهُ سَمِيْعٌ لِمَا تَقُوْلُوْنَ وَاللهُ بَصِيْر ْبِجَمِيْعِ أَعْمَالِكُم".
"lni adalah ancaman bagi orang kafir atas pendustaan mereka terhadap Nabi Muhammad saw berkenaan dengan peristiwa isro'. Jadi maksud ayat tersebut adalah, 'Allah Maha Mendengar tentang apa yang kalian katakan dan Allah Maha Melihat segala perbuatan kalian."
وَاٰتَيْنَا مُوْسَى الْكِتٰبَ Taurat.
اَلَّا تَتَّخِذُوْا artinya:
لِئَلَاتَتَّخِذُوْا, اَوْبِاَلَّاتَتَّخِذُوْا, اَوْعَلَى اَلَّا تَتَّخِذُوْا agar kalian tidak mengambil. Adapun bacaan dengan dengan huruf ya', yaitu
اَلَّا تَتَّخِذُوْا maka artinya adalah agar mereka tidak menjadikan
وَكِيْلًا penolong. Maksudnya, Tuhan atau penolong selain Allah yang mereka jadikan sebagai tempat untuk menyerahkan segala urusan.
مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوْحٍۗ di dalam perahu.
اِنَّهٗ كَانَ عَبْدًا شَكُوْرًا banyak bersyukur dengan selalu memuji Allah SWT dalam segala kondisi.
Sebab Turunnya Ayat tentang! lsro'
Sebab turunnya ayat ini yaitu, Rosulullah saw menyampaikan kepada orang-orang Quroisy tentang peristiwa isro' yang beliau alami, namun mereka mendustakannya. Kemudian Allah menurunkan ayat ini sebagai pembenar bagi peristiwa isro' tersebut.
Lebih detail, setelah kembali dari isra'dan mi'roj, Nabi saw. pergi ke Masjidil Harom' Lalu beliau menyampaikan kepada orang-orang Quroisy tentang peristiwa isro' dan mi'roj yang beliau alami. Mereka pun sangat heran dengan apa yang beliau sampaikan karena menurut mereka hal itu tidak mungkin terjadi. Akibatnya ada sebagian orang yang sebelumnya beriman menjadi murtad. Beberapa orang pun mendatangi Abu Bakar untuk mendengarkan pendapatnya tentang cerita Rosulullah saw.. Abu Bakar berkata, "Jika dia (Nabi Muhammad saw.) yang mengatakannya, dia telah berkata benar." Orang-orang tersebut pun dengan heran berkata kepada Abu Bakar r.a., "Kamu memercayai apa yang dia sampaikan itu?" Abu Bakar menjawab, "Sesungguhnya aku telah memercayainya pada hal yang lebih jauh dari itu." Karena itulah Abu Bakar dijuluki Ash-Shiddiq, yang membenarkan.
Kemudian seiumlah orang yang pernah pergi ke Baitul Maqdis meminta kepada beliau untuk menyebutkan ciri-ciri masjid itu' Baitul Maqdis pun ditampakkan, dan beliau langsung menyebutkan ciri-cirinya kepada mereka. Mereka lalu berkata, "Ciri-ciri yang kamu sebutkan memang benar." Namun mereka kembali bertanya, "Beritahu kami tentang kafilah kami." Lalu Nabi saw. memberi tahu mereka jumlah unta yang ada dalam kafilah tersebut dan bagaimana kondisinya. Beliau bersabda, "Kafilah tersebut akan sampai di sini pada hari sekian berbarengan dengan terbitnya matahari dan di bagian depannya adalah unta auroq (Unta Auroq adalah unta yang warnanya putih kehitam-hitaman. Daging unta ini paling enak, namun di kalangan bangsa Arab unta ini kurang baik untuk digunakan kerja dan untuk melakukan perjalanan jauh) Mereka pun keluar ke jalan di perbukitan untuk menanti kedatangan kafilah dari Baitul Maqdis. Mereka mendapati rombongan kafilah yang datang sesuai dengan apa yang diberitakan oleh Rasulullah saw.. Namun, kemudian mereka tidak juga beriman dan berkata, "lni tidak lain adalah sihir yang nyata."
Pendapat Ulama tentang Peristiwa lsro' dan Mi'roj
Mayoritas ulama berpendapat bahwa Rosulullah saw. di-isro'-kan ke Baitul Maqdis dengan tubuhnya. Kemudian beliau dimi'roj-kan ke langit hingga Sidrotul Muntaha. Karenanya orang-orang Quroisy pun terheran-heran dan menganggapnya mustahil.
Abu Hayyan berkata, "Berdasarkan makna dhohir dari ayat di atas, Rosulullah saw. di-isro'- kan dengan tubuh beliau. Oleh karena itu orang-orang Quroisy mendustakan dan mencela beliau habis-habisan karena menganggap beliau telah berdusta. Ketika Rosulullah saw menceritakan peristiwa itu kepada Ummu Hani, Ummu Hani pun berkata, "Jangan Anda ceritakan peristiwa itu kepada orang-orang karena mereka akan mendustakan Anda." Seandainya isro' terjadi ketika beliau dalam kondisi tidur; tentu orang-orang tidak akan mengingkarinya. Ini adalah pendapat jumhur ulama dan inilah yang hendaknya diyakini."
Hadits tentang isra' diriwayatkan di dalam kitab-kitab musnad dari sejumlah sahabat di berbagai penjuru dunia Islam. Disebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh dua puluh sahabat.(Al-Bahrul-Muhiith,Vol.6,hlm.5).
Adapun hadits yang diriwayatkan dari Aisyah dan Mu'awiyah yang menyebutkan bahwa peristiwa isro' dan mi'roj berlangsung ketika beliau dalam kondisi tidul maka riwayat ini tidak benar. Seandainya riwayat itu benar maka perkataan keduanya tidak bisa menjadi hujjah karena keduanya tidak menyaksikan peristiwa tersebut. Hal ini mengingat Aisyah ketika itu masih kecil dan Mu'awiyah juga masih dalam keadaan kafir. Di samping itu keduanya juga tidak menyandarkan kisah tersebut kepada Rosulullah saw, juga tidak meriwayatkannya dari beliau.
Korelasi antara ayat, "Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurot)" dengan ayat sebelumnya adalah, setelah disebutkan tentang pemuliaan dan pengagungan terhadap Nabi saw dengan peristiwa isro' dan ditampakkan berbagai kekuasaan Allah kepada beliau, maka dalam ayat ini disebutkan pemuliaan dan pengagungan terhadap Nabi Musa dengan diberi Taurot sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw..
Tafsir dan Penjelasan
Aku sucikan Allah dari semua keburukan. Dia yang telah meng-isro'-kan hamba-Nya, Muhammad saw pada sebagian malam dari Masjidil Haram di Mekah Al-Mukarromah menuju Masjidil Aqsho di Baitul Maqdis, lalu kembali ke negerinya pada malam itu juga. Dan aku sucikan Allah dari semua sifat tidak mampu dan kekurangan, serta dari apa yang dikatakan oleh orang-orang musyrik tentang adanya sekutu atau anak bagi-Nya. Aku juga menegaskan bahwa Allah memiliki kekuasaan yang sempurna dan luar biasa. Karena Dia Mahakuasa untuk merealisasikan sesuatu yang lebih aneh dari apa yang dikhayalkan dan dipikirkan manusia. Sehingga tidak aneh jika Dia meng-isro'-kan hamba-Nya di jarak yang sangat jauh dalam waktu singkat di sebagian malam saja. Peristiwa isro' tersebut untuk memuliakan Nabi-Nya, mengangkat derajat beliau dan meninggikan kehormatan beliau, sebagai mukjizat abadi sepanjang masa bagi beliau.
Menurut ijma mufasir, yang dimaksud hamba dalam lafal بِعَبْدِهٖ adalah Nabi Muhammad saw.. Kata لَيْلًا berbentuk nakiroh, untuk mengisyaratkan sebentarnya waktu peristiwa isro' tersebut. Juga untuk menunjukkan bahwa peristiwa isro' itu berlangsung dalam sebagian malam karena bentuk nakiroh menunjukkan arti ba'dhy (sebagian). Padahal, jarak antara Mekah dengan Syam (yang mencakup Palestina) ditempuh selama empat puluh malam menggunakan alat transportasi zaman dahulu.
Peristiwa isro' terjadi setahun sebelum hijroh ke Madinah, sebagaimana dikatakan Muqotil. Al-Harbi mengatakan bahwa peristiwa isro' terjadi pada malam ke dua puluh tujuh dari bulan Rabi'ul Akhir satu tahun sebelum hijroh.
Ibnu Sa'd meriwayatkan di dalam kitab Thobaqot-nya bahwa isro' Rosulullah saw. terjadi delapan belas bulan sebelum beliau hijroh. Tempat bertolak beliau dalam peristiwa isro' adalah Masjidil Harom. Sebagaimana ditunjukkan oleh makna eksplisit dari lafal ayat. Juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Rosulullah saw., bahwa beliau bersabda,
بَيْنَاانَافِى الْمَسْجِدِالْحَرَامِ فِى الْحِجْرِعِنْدالْبَيْتِ بَيْنَ النَّائِمِ وَالْيَقْظَانِ, اِذْاَتَانِى جِرِيْلُ بِالْبُرَاقِ
"Ketika saya sedang berada di Hijir lsmail di dalam Masjidil Harom dan di sisi Baitullah (Ka'bah), dan ketika itu saya dalam kondisi antara sadar dan tidak, tiba-tiba Jibril datang membawa Buroq."
Mayoritas ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Masjidil Harom adalah Tanah Harom karena Tanah Harom iuga mencakup masjid, dan semua Tanah Harom adalah masjid. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas. Ketika isro', Rosulullah saw. diberangkatkan dari rumah Ummu Hani binti Abi Tholib, pada tahun 621M.
Masjidil Aqsho adalah Baitul Maqdis. Pendapat inilah yang disepakati oleh para ulama. Dinamakan al-Aqsho karena jaraknya yang jauh dari Masjidil Harom. Ketika itu, Masjidil Aqsho merupakan masjid yang diagungkan, menjadi tempat tujuan ziaroh terjauh bagi penduduk Mekah.
Mayoritas umat Islam sepakat bahwa Rosulullah saw di-isro'kan dengan jasad (tubuh) beliau. Dalam sebuah pendapat lemah dikatakan bahwa yang di-isro'kan adalah ruh beliau saja. Pendapat ini diriwayatkan dari Hudzaifah, Aisyah dan Mu'awiyah.
Pendapat yang lebih benar adalah pendapat pertama, yaitu bahwa Rosulullah saw. di-isro'kan dengan ruh dan jasad dari Mekah ke Baitul Maqdis. Dalilnya, kata hamba di dalam firman Allah بِعَبْدِهٖ adalah nama untuk jasad dan ruh. Di samping itu, hadits riwayat Anas bin Malik merupakan hadits masyhur yang diriwayatkan di dalam kitab-kitab shohih tentang mi'roj dan isro' menunjukkan kepergian Rosulullah dari Mekah ke Baitul Maqdis, kemudian dari Baitul Maqdis ke langit-langit yang tinggi (Sidrotul Muntaha).
Kesimpulannya, ayat dalam surah Al-lsro' ini secara tegas menunjukkan kebenaran peristiwa isro'. Adapun ayat dari surah An-Najm menunjukkan peristiwa mi'roj dan naik ke langit, sampai ke tingkat di mana terdengar suara pena-pena pencatat setelah beliau sampai di Baitul Maqdis.
Allah SWT menyebut Masjidil Aqsho sebagai masjid yang sekelilingnya diberkahi. Berkah di sini meliputi keberkahan agama dan duniawi. Adapun keberkahan agamanya adalah karena ia merupakan tempat turunnya para nabi. Adapun keberkahan dunianya karena ia meliputi kebaikan dunia, di dalamnya terdapat sungai-sungai, pepohonan dan buah-buahan yang menjadi sebab bagi terpenuhinya kebutuhan hidup dan bahan-bahan pokok.
Tujuan dari peristiwa isro' ini untuk memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan Allah dan bukti-bukti agung tentang wujud-Nya, keesaan-Nya dan kekuasaan-Nya. Sehingga faedah dari isro' adalah khusus untuk Allah SWT dan kembali kepada Allah saja.
Tidak ada keanehan dalam semua peristiwa tersebut karena Allah Maha mendengar terhadap semua perkataan dan Maha melihat semua jiwa. Dia meletakkan segala sesuatu pada tempatnya sesuai hikmah dan sesuai dengan kebenaran dan keadilan, Dia mendengar perkataan, komentar dan ejekan orang-orang musyrik terhadap peristiwa isro', serta cemoohan mereka ketika beliau di-isro'kan dari Mekah ke Al-Quds. Dia juga melihat apa yang dilakukan oleh orang-orang musyrik dan tipu daya mereka terhadap Nabi saw. dan risalahnya.
وَاٰتَيْنَا مُوْسَى الْكِتٰبَ setelah Allah SWT menyebutkan anugerah penghormatan bagi Nabi Muhammad saw.-keturunan Nabi Ibrahim a.s. -dengan isro'dan menjadi imam sholat para nabi di Masjid Al-Aqsho, di dalam ayat ini Allah menyebutkan anugerah-Nya kepada Musa yang diutus sebelum Muhammad saw. berupa kitab suci, yaitu Taurot. Kitab ini Allah jadikan petunjuk dan hidayah sebagai perantara keluarnya Bani Isro'il dari gelapnya kebodohan dan kekafiran, menuju cahaya ilmu dan agama yang benar. Allah berfirman, "Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku." Maksudnya, janganlah kalian jadikan siapa pun selain Allah sebagai tempat bersandar yang kepadanya kalian serahkan semua urusan. Firman Allah SWT وَكِيْلًا artinya adalah tuhan tempat kalian serahkan segala urusan.
Terdapat kesesuaian yang sangat jelas antara di-isra'-kannya Nabi Muhammad saw ke Baitul Maqdis dan pemberian Taurat kepada Musa dengan berjalan terlebih dahulu ke Bukit Tursina.
Kemudian Allah SWT menjelaskan tentang pemuliaan-Nya terhadap Bani Isra'il dan penyempurnaan nikmat-Nya kepada mereka agar mereka mengikuti ajaran para rasul. Allah berfirman, ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوْحٍۗ artinya, wahai keturunan orang-orang yang diselamatkan oleh Allah bersama Nabi Nuh a.s. dan diberi petunjuk kepada jalan tauhid, kebenaran dan kebaikan, ikutilah para nenek moyang kalian karena kalian adalah orang-orang yang lebih pantas untuk bertauhid dan mengikuti para nabi dan rosul, terutama mengikuti kakek kalian, Nuh a.s.. Ia adalah seorang hamba yang benar-benar bersyukur kepada nikmat Allah dan mengakui kekuasaan dan keagunganNya. Seseorang menjadi benar-benar bersyukur jika dia benar-benar mengesakan Allah dan tidak melihat anugerah yang dia dapatkan melainkan karena kemurahan Allah. Teladanilah Nuh a.s., ikutilah jalan dan sunnahnya, sebagaimana para nenek moyang kalian mengikuti dan meneladaninya.
Penyebutan Nabi Nuh a.s. sebagai 'abd (hamba) dan penyebutan Nabi kita, Muhammad saw, sebagai 'abd (hamba), merupakan dalil jelas tentang kedudukan para nabi. Yaitu kedudukan penghambaan yang murni kepada AIIah. Karena peristiwa isro' dan mi'roj tidak boleh dipaparkan dengan selain hakikatnya, juga tidak boleh menempatkan Nabi Muhammad saw. pada kedudukan yang melebihi kedudukan beliau yang sebenarnya, yaitu hamba Allah' Maksudnya hamba yang tunduk pada keagungan dan kekuasaan Allah. Berbeda dengan orang-orang Nasroni yang menempatkan Isa Al-Masih bukan pada tempatnya yang benar.
Penamaan Suroh
Suroh ini dinamakan suroh Al-lsro'karena ia dibuka dengan mukjizat isro' Nabi saw. pada malam hari dari Mekah ke Madinah. Suroh ini juga dinamakan surah Bani Isro'il karena suroh ini memaparkan kisah dua kali terasingnya mereka di muka bumi sebab kerusakan yang mereka timbulkan. Allah berfirman, dalam Al-Qur'anul karim Surat Al-Isro (17) ayat 4-8:
وَقَضَيْنَآ اِلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ فِى الْكِتٰبِ لَتُفْسِدُنَّ فِى الْاَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيْرًا
Dan Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu, “Kamu pasti akan berbuat kerusakan di bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.”4
فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ اُوْلٰىهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَّنَآ اُولِيْ بَأْسٍ شَدِيْدٍ فَجَاسُوْا خِلٰلَ الدِّيَارِۗ وَكَانَ وَعْدًا مَّفْعُوْلًا
Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang perkasa, lalu mereka merajalela di kampung-kampung. Dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana.5
ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَاَمْدَدْنٰكُمْ بِاَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَجَعَلْنٰكُمْ اَكْثَرَ نَفِيْرًا
Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka, Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.6
اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗوَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ الْاٰخِرَةِ لِيَسٗۤـُٔوْا وُجُوْهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوْهُ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّلِيُتَبِّرُوْا مَا عَلَوْا تَتْبِيْرًا
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. Apabila datang saat hukuman (kejahatan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu lalu mereka masuk ke dalam masjid (Masjidil Aqsa), sebagaimana ketika mereka memasukinya pertama kali dan mereka membinasakan apa saja yang mereka kuasai.7
عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يَّرْحَمَكُمْۚ وَاِنْ عُدْتُّمْ عُدْنَاۘ وَجَعَلْنَا جَهَنَّمَ لِلْكٰفِرِيْنَ حَصِيْرًا
Mudah-mudahan Tuhan kamu melimpahkan rahmat kepada kamu; tetapi jika kamu kembali (melakukan kejahatan), niscaya Kami kembali (mengazabmu). Dan Kami jadikan neraka Jahanam penjara bagi orang kafir.8
Keutamaan Suroh
Ahmad, At-Tirmidzi, Nasa'i, dan yang lainnya meriwayatkan dari Aisyah r.a., bahwa Nabi saw. pada setiap malam membaca surah Bani Isro'il dan Az-Zumar.
Al-Bukhori dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud r.a., bahwa dia berkata tentang surah Bani Isro'il surah ini, surah Al-Kahfi, Maryam, Thoohaa dan Al-Anbiyaa', "Surah-surah tersebut termasuk surah-surah yang pertama turun dan mempunyai keutamaan karena mengandung kisah-kisah."
Maksudnya surah-surah tersebut merupakan surah-surah yang pertama turun di Mekah dan mengandung kisah-kisah.
Persesuaian Suroh lni dengan Suroh Sebelumnya
Keterkaitan antara suroh Al-lsro' dengan suroh An-Nahl tampak dari beberapa aspek berikut.
1. Setelah di akhir-akhir suroh An-Nahl (16) ayat 124 Allah SWT berfirman,
اِنَّمَا جُعِلَ السَّبْتُ عَلَى الَّذِيْنَ اخْتَلَفُوْا فِيْهِۗ وَاِنَّ رَبَّكَ لَيَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فِيْمَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ
Sesungguhnya (menghormati) hari Sabtu hanya diwajibkan atas orang (Yahudi) yang memperselisihkannya. Dan sesungguhnya Tuhanmu pasti akan memberi keputusan di antara mereka pada hari Kiamat terhadap apa yang telah mereka perselisihkan itu.
Dalam surah Al-lsro' Allah menjelaskan tentang syari'at Ahlus Sabti (orangorang Yahudi) dan kondisi mereka. Allah juga memaparkan semua yang Dia syari'atkan kepada mereka di dalam Taurat.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., bahwa dia berkata, "Sesungguhnya seluruh kandungan Taurot tercakup dalam 15 ayat yang ada di dalam surah Al-Isro.
2. Di akhir suroh An-Nahl Allah SWT memerintahkan Nabi untuk bersabar menghadapi kejahatan orang-orang musyrik yang menuduh beliau berdusta, mempraktikkan sihir dan seorang penyair maka di dalam surah ini Allah menghibur beliau, menjelaskan kemuliaan dan ketinggian derajat di sisi Allah dengan diisro'-kan. Suroh ini pun dibuka dengan menyebut bahwa peristiwa isro' itu, sebuah pemuliaan terhadap beliau dan pengagungan terhadap masjid Al-Aqsho yang dilsyaratkan dengan kisah penghancurannya.
3. Di dalam suroh An-Nahl dan Al-lsro' dipaparkan nikmat Allah yang melimpah kepada manusia, hingga suroh An-Nahl disebut sebagai suroh An-Ni'am (bentuk plural dari kata ni'mat). Dan di surah Al-Isro' dijelaskan tentang berbagai macam nikmat, baik yang umum maupun khusus, sebagaimana terdapat di dalam ayat ke 9 hingga ayat12 dan ayat70.
4. Allah SWT menjelaskan dalam surah An-Nahl bahwa Al-Qur'an adalah dari sisiNya, bukan buatan manusia. Sementara surah Al-lsro' Allah menyebutkan tentang tujuan inti dari diturunkannya Al-Qur'an tersebut.
5. Dalam surah An-Nahl, Allah SWT menyebutkan kaidah-kaidah untuk mengambil manfaat dari makhluk-makhluk yang ada di bumi. Dan di dalam surah Al-Isro', Allah menyebutkan tentang kaidah-kaidah kehidupan sosial, seperti berbakti kepada kedua orang tua dan menunaikan hak-hak para kerabat, orang-orang miskin, ibnu sabil tanpa sikap kikir dan tanpa berlebihan. Iuga pengharaman membunuh, zina, dan memakan harta anak yatim secara batil. Juga tentang mengepaskan takaran dan timbangan, serta menolak taklid tanpa ilmu.
Kandungan Suroh
l. Suroh Al-lsro' berisi kisah tentang peristiwa agung dan mukjizat besar bagi penutup para nabi dan para rosul, yaitu mukjizat isro' dari Mekah ke Masjid Al-Aqsho dalam waktu separuh malam saja. Hal ini tentunya merupakan bukti luar biasa akan kekuasaan Allah SWT serta merupakan pemuliaan terhadap nabi penutup tersebut.
2. Surah ini juga menceritakan kisah Bani Isro'il ketika mereka dalam kondisi baik dan ketika mereka melakukan kerusakan di muka bumi. Mereka dimuliakan dengan banyaknya harta dan anak ketika istiqomah di dalam ajaran Allah. Mereka terlunta-lunta dua kali di muka bumi karena pembangkangan dan kerusakan yang mereka perbuat, termasuk perusakan tempat ibadah mereka. Kemudian juga karena kerusakan yang mereka kembali lakukan dengan mengganggu Nabi saw. dan keinginan mereka mengusir beliau dari Madinah, dalam Al-Qur'anul karim Surat Al-Isro (17) ayat 76:
وَاِنْ كَادُوْا لَيَسْتَفِزُّوْنَكَ مِنَ الْاَرْضِ لِيُخْرِجُوْكَ مِنْهَا وَاِذًا لَّا يَلْبَثُوْنَ خِلٰفَكَ اِلَّا قَلِيْلًا
Dan sungguh, mereka hampir membuatmu (Muhammad) gelisah di negeri (Mekah) karena engkau harus keluar dari negeri itu, dan kalau terjadi demikian, niscaya sepeninggalmu mereka tidak akan tinggal (di sana), melainkan sebentar saja.
3. Suroh ini juga menjelaskan bukti-bukti fenomena alam yang menunjukkan kekuasaan, keagungan, dan keesaan Allah, seperti ayat, dalam Al-Qur'anul karim Surat Al-Isro (17) ayat 12:
وَجَعَلْنَا الَّيْلَ وَالنَّهَارَ اٰيَتَيْنِ فَمَحَوْنَآ اٰيَةَ الَّيْلِ وَجَعَلْنَآ اٰيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِّتَبْتَغُوْا فَضْلًا مِّنْ رَّبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَۗ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنٰهُ تَفْصِيْلًا
Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami), kemudian Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang benderang, agar kamu (dapat) mencari karunia dari Tuhanmu, dan agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.
4. Suroh ini juga menetapkan pilar-pilar kehidupan sosial yang bertumpu pada akhlak mulia dan etika yang baik. Seperti dijelaskan dalam Al-Qur'anul karim Surat Al-Isro (17) ayat 23-39:
وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا
Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.23
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ
Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.”24
رَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِمَا فِيْ نُفُوْسِكُمْ ۗاِنْ تَكُوْنُوْا صٰلِحِيْنَ فَاِنَّهٗ كَانَ لِلْاَوَّابِيْنَ غَفُوْرًا
Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang yang baik, maka sungguh, Dia Maha Pengampun kepada orang yang bertobat.25
وَاٰتِ ذَا الْقُرْبٰى حَقَّهٗ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا
Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.26
اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِ ۗوَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا
Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.27
وَاِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ابْتِغَاۤءَ رَحْمَةٍ مِّنْ رَّبِّكَ تَرْجُوْهَا فَقُلْ لَّهُمْ قَوْلًا مَّيْسُوْرًا
Dan jika engkau berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang engkau harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang lemah lembut.28
وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُوْلَةً اِلٰى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُوْمًا مَّحْسُوْرًا
Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan (pula) engkau terlalu mengulurkannya (sangat pemurah) nanti kamu menjadi tercela dan menyesal.29
اِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيَقْدِرُ ۗاِنَّهٗ كَانَ بِعِبَادِهٖ خَبِيْرًاۢ بَصِيْرًا
Sungguh, Tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki); sungguh, Dia Maha Mengetahui, Maha Melihat hamba-hamba-Nya.30
وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ اِمْلَاقٍۗ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَاِيَّاكُمْۗ اِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْـًٔا كَبِيْرًا
Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu. Membunuh mereka itu sungguh suatu dosa yang besar.31
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا
Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.32
وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَقِّۗ وَمَنْ قُتِلَ مَظْلُوْمًا فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهٖ سُلْطٰنًا فَلَا يُسْرِفْ فِّى الْقَتْلِۗ اِنَّهٗ كَانَ مَنْصُوْرًا
Dan janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah (membunuhnya), kecuali dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barang siapa dibunuh secara zalim, maka sungguh, Kami telah memberi kekuasaan kepada walinya, tetapi janganlah walinya itu melampaui batas dalam pembunuhan. Sesungguhnya dia adalah orang yang mendapat pertolongan.33
وَلَا تَقْرَبُوْا مَالَ الْيَتِيْمِ اِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ حَتّٰى يَبْلُغَ اَشُدَّهٗۖ وَاَوْفُوْا بِالْعَهْدِۖ اِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْـُٔوْلًا
Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai dia dewasa, dan penuhilah janji, karena janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.34
وَاَوْفُوا الْكَيْلَ اِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوْا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيْمِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan timbangan yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.35
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.36
وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۚ اِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْاَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُوْلًا
Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.37
كُلُّ ذٰلِكَ كَانَ سَيِّئُهٗ عِنْدَ رَبِّكَ مَكْرُوْهًا
Semua itu kejahatannya sangat dibenci di sisi Tuhanmu.38
0 komentar:
Posting Komentar