Rabu, 24 September 2025

AL-QUR'ANUL KARIM SURAT AL-HASYR (59) AYAT 11-17

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللهِ وَبَرَكَاتُهُ
PERSEKONGKOLAN ANTARA ORANG-ORANG MUNAFIK DAN YAHUDI SERTA BALASAN BAGI MEREKA👌
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Hasyr (59) Ayat 11-17 (Madaniyyah=24A)
اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ نَافَقُوْا يَقُوْلُوْنَ لِاِخْوَانِهِمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَىِٕنْ اُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلَا نُطِيْعُ فِيْكُمْ اَحَدًا اَبَدًاۙ وَّاِنْ قُوْتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَشْهَدُ اِنَّهُمْ لَكٰذِبُوْنَ
Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudaranya yang kafir di antara Ahli Kitab, “Sungguh, jika kamu diusir niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun demi kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantumu.” Dan Allah menyaksikan, bahwa mereka benar-benar pendusta.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Hasyr (59) Ayat 12 (Madaniyyah=24A)
لَىِٕنْ اُخْرِجُوْا لَا يَخْرُجُوْنَ مَعَهُمْۚ وَلَىِٕنْ قُوْتِلُوْا لَا يَنْصُرُوْنَهُمْۚ وَلَىِٕنْ نَّصَرُوْهُمْ لَيُوَلُّنَّ الْاَدْبَارَۙ ثُمَّ لَا يُنْصَرُوْنَ
Sungguh, jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tidak akan keluar bersama mereka, dan jika mereka di-perangi; mereka (juga) tidak akan menolongnya; dan kalau pun mereka menolongnya pastilah mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tidak akan mendapat pertolongan.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Hasyr (59) Ayat 13 (Madaniyyah=24A)
لَاَنْتُمْ اَشَدُّ رَهْبَةً فِيْ صُدُوْرِهِمْ مِّنَ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ
Sesungguhnya dalam hati mereka, kamu (Muslimin) lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu karena mereka orang-orang yang tidak mengerti.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Hasyr (59) Ayat 14 (Madaniyyah=24A)
لَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ جَمِيْعًا اِلَّا فِيْ قُرًى مُّحَصَّنَةٍ اَوْ مِنْ وَّرَاۤءِ جُدُرٍۗ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيْدٌ ۗ تَحْسَبُهُمْ جَمِيْعًا وَّقُلُوْبُهُمْ شَتّٰىۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْقِلُوْنَۚ
Mereka tidak akan memerangi kamu (secara) bersama-sama, kecuali di negeri-negeri yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu padahal hati mereka terpecah belah. Yang demikian itu karena mereka orang-orang yang tidak mengerti.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Hasyr (59) Ayat 15 (Madaniyyah=24A)
كَمَثَلِ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ قَرِيْبًا ذَاقُوْا وَبَالَ اَمْرِهِمْۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌۚ
(Mereka) seperti orang-orang yang sebelum mereka (Yahudi) belum lama berselang, telah merasakan akibat buruk (terusir) disebabkan perbuatan mereka sendiri. Dan mereka akan men-dapat azab yang pedih.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Hasyr (59) Ayat 16 (Madaniyyah=24A)
كَمَثَلِ الشَّيْطٰنِ اِذْ قَالَ لِلْاِنْسَانِ اكْفُرْۚ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّنْكَ اِنِّيْٓ اَخَافُ اللّٰهَ رَبَّ الْعٰلَمِيْنَ
(Bujukan orang-orang munafik itu) seperti (bujukan) setan ketika ia berkata kepada manusia, “Kafirlah kamu!” Kemudian ketika manusia itu menjadi kafir ia berkata, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.”
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Hasyr (59) Ayat 17 (Madaniyyah=24A)
فَكَانَ عَاقِبَتَهُمَآ اَنَّهُمَا فِى النَّارِ خَالِدَيْنِ فِيْهَاۗ وَذٰلِكَ جَزٰۤؤُا الظّٰلِمِيْنَ
Maka kesudahan bagi keduanya, bahwa keduanya masuk ke dalam neraka, kekal di dalamnya. Demikianlah balasan bagi orang-orang zalim.
TAFSIR AL-MUNIR
TAFSIR YANG LAINNYA
TAFSIR AL-QURTHUBI
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Hasyr (59) Ayat 16 (Madaniyyah=24A)
كَمَثَلِ الشَّيْطٰنِ اِذْ قَالَ لِلْاِنْسَانِ اكْفُرْۚ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّنْكَ اِنِّيْٓ اَخَافُ اللّٰهَ رَبَّ الْعٰلَمِيْنَ
(Bujukan orang-orang munafik itu) seperti (bujukan) setan ketika ia berkata kepada manusia, “Kafirlah kamu!” Kemudian ketika manusia itu menjadi kafir ia berkata, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.”
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Hasyr (59) Ayat 17 (Madaniyyah=24A)
فَكَانَ عَاقِبَتَهُمَآ اَنَّهُمَا فِى النَّارِ خَالِدَيْنِ فِيْهَاۗ وَذٰلِكَ جَزٰۤؤُا الظّٰلِمِيْنَ
Maka kesudahan bagi keduanya, bahwa keduanya masuk ke dalam neraka, kekal di dalamnya. Demikianlah balasan bagi orang-orang zalim.
Firman Allah كَمَثَلِ الشَّيْطٰنِ اِذْ قَالَ لِلْاِنْسَانِ اكْفُرْۚ" (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) syetan ketika dia berkata kepada manusia.: `Kafirlah kamu' ." Ini merupakan perumpamaan bagi orang-orang munafik dan Yahudi dalam hal tidak ada saling menolong di antara mereka. Allah membuang huruf athof,dimana Allah tidak berfirman: وَكَمَثَلِ الشَّيْطٰنِ "Dan (Bujukan orang-orang munafik itu adalah)syetan."Sebab pembuangan huruf athof itu sering terjadi, sebagaimana engkau berkata: "Anta 'Aqiluna" (engkau orang yang berakal), "Anta kariimun" (engkau orang yang mulia), "Anta 'alimun (Engkau orang yang berilmu).
Tidakkah kamu lihat dan perhatikan orang-orang munafik seperti Abdullah bin Ubay Ibnu Salul, Abdullah bin Nabtal, Rifa'ah bin Zaid, Wadi'ah bin Malik Suwaid, Da'is dan yang lainnya, ketika mereka menyampaikan kepada bangsa Yahudi Bani Nadhic "Tetap bertahanlah kalian dan lakukanlah perlawanan. Sesungguhnya kami tidak akan membiarkan kalian. Kami akan menolong, membantu, dan mendukung kalian. Jika kalian diperangi, maka kami akan berperang bersama kalian. fika kalian diusir; kami akan ikut pergi bersama kalian. Kami tidak akan mematuhi siapa pun menyangkut diri kalian, yang mencoba mencegah kami untuk pergi bersama kalian, seperti Muhammad dan para pengikutnya, meski sampai kapan pun. Jika kalian diperangi, niscaya kami akan menolong dan membela kalian terhadap musuh kalian." 
Diriwayatkan oleh Al-Qodli Isma'il dan Ali bin AI-Madini dari Shufyan bin Uyainah, dari Amru bin Dinar, dari Urwah bin Amir, dari Ubaid bin Rifa'ah Az-Zuroqi, dari Nabi SAW. bahwa Nabi SAW di suatu waktu Beliau bercerita tentang manusia yang di datangi syetan seraya berkata: "Kafirlah engkau," dan orang yang di datangi syetan tersebut adalah seorang pendeta Yahudi yang mendapatkan titipan berupa seorang wanita yang agak gila, di mana pendeta itu di tugaskan untuk mendoakan atau mengobati wanita yang agak gila tersebut.
Nah, tujuan dari Syetan tersebut adalah menjebak dengan cara menggoda sang pendeta, sehingga pendeta itu pun menyetubuhi wanita itu. Sampai wanita itu hamil. Selanjutnya sang pendeta membunuh wanita itu karena khawatir perbuatannya terbongkar. Namun syetan memberikan petunjuk kepada kaum wanita itu tentang dimanakah kuburan si wanita. Mereka kemudian datang dan meminta sang pendeta turun, supaya mereka dapat membunuhnya. Setelah itu, syetan datang kepada sang pendeta dan berjanji kepadanya bahwa, jika sang pendeta bersujud kepadanya, maka dia akan menyelamatkan sang pendeta dari mereka. Akhirnya sang pendeta pun sujud kepadanya. Setelah itu syetan membebaskan diri dari sang pendeta, dan dia pun menyerahkannya kepada kaum perempuan itu).
Kisah itu pun di tuturkan oleh lbnu 'Abbas dan Wahab bin Munabbih dengan redaksi yang panjang. Nanun redaksi yang mereka gunakan berbeda.
Ibnu 'Abbas menjelaskan firman Allah Ta'ala وَكَمَثَلِ الشَّيْطٰنِ "Dan (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) syetan."
Ibnu 'Abbas berkata,"Pada masa kekosongan rosul dulu atau di sebut juga dengan masa fatroh , ada seorang pendeta Yahudi yang bernama Barshisho. Dia ahli ibadah, bahkan di ceritakan pendeta yahudi yang bernama Barshisho beribadah di kuilnya selama 70 tahun. Selama itu dia tak pernah maksiat kepada Allah sedikit pun, sehingga iblis yang di tugaskan untuk menggodanya supaya terjebak dalam kemaksiatan merasa putus asa, kecapean dan juga keletihan.
Seperti yang kita tahu ada masa yang di sebut dengan masa kekosongan Nabi Dan Rosul atau di sebut juga masa fatroh
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Maidah (5) Ayat 19 (Madaniyyah=120A)
يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ قَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلٰى فَتْرَةٍ مِّنَ الرُّسُلِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا جَاۤءَنَا مِنْۢ بَشِيْرٍ وَّلَا نَذِيْرٍۗ فَقَدْ جَاۤءَكُمْ بَشِيْرٌ وَّنَذِيْرٌ ۗوَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Wahai Ahli Kitab! Sungguh, Rasul Kami telah datang kepadamu, menjelaskan (syariat Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan, “Tidak ada yang datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.” Sungguh, telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
Jadi masa fatroh itu tidak ada nabi maupun rosul yang di utus Allah SWT dan orang-orang yang hidup di masa fatroh ini tidak di kenai hukum oleh Allah SWT sesuai dengan pernyataan Allah SWT dalam firmannya
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Isro (17) Ayat 15 (Makkiyyah=111A)
مَنِ اهْتَدٰى فَاِنَّمَا يَهْتَدِيْ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ ضَلَّ فَاِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَاۗ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتّٰى نَبْعَثَ رَسُوْلًا
Barangsiapa berbuat sesuai dengan petunjuk (Allah), maka sesungguhnya itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa tersesat maka sesungguhnya (kerugian) itu bagi dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul.
Lho, enak dong yang hidup di masa fatroh atau kekosongan Nabi dan Rosul itu, perbuatan apapun mereka tidak di hukum? Tentu tidak seperti itu. Sebab Allah SWT sudah mengatur segala sesuatunya termasuk ketetapan dan ketentuan hukumnya tak terkecuali kepada orang-orang yang hidup di masa fatroh atau masa kekosongan utusan Allah SWT. Kenapa begitu? Karena pada haqiqotnya seluruh umat manusia yang di lahirkan sejak jaman cucunya Nabi Adam AS hingga akhir alam raya ini di hancurkan Allah SWT yang di sebut hari kiamat itu sudah di ikat dengan perjanjian antara Kholiq dan makhluqnya, antara Robb dengan ciptaannya, antara Tuhan dengan manusia yaitu pada saat di tiupkanya ruh kejanin yang masih berada dalam bungkusan rahim seorang ibu saat kandungan berusia 4 bulan. Seperti yang di jelaskan dalam firmannya
Al-Qur'anul Karim Surat Al-A'rof (7) Ayat 172 (Makkiyyah=206A)
وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Isro (17) Ayat 15 (Makkiyyah=111A)
مَنِ اهْتَدٰى فَاِنَّمَا يَهْتَدِيْ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ ضَلَّ فَاِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَاۗ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتّٰى نَبْعَثَ رَسُوْلًا
Barangsiapa berbuat sesuai dengan petunjuk (Allah), maka sesungguhnya itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa tersesat maka sesungguhnya (kerugian) itu bagi dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul.
Makna ayat ini ditegaskan dengan hadits dari Al-Aswad bin Sari’ rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Hadits Riwayat Imam Ahmad 16301. Syuaib Al-Arnauth menilai: Hadis Hasan
أَرْبَعَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: رَجُلٌ أَصَمُّ لَا يَسْمَعُ شَيْئًا، وَرَجُلٌ أَحْمَقُ، وَرَجُلٌ هَرَمٌ، وَرَجُلٌ مَاتَ فِي فَتْرَةٍ،
Ada 4 jenis manusia (yang akan diuji) pada hari kiamat: orang budeg yang sama sekali tidak bisa mendengar apapun, orang ideot, orang pikun, dan orang yang hidup di zaman fatrah (belum mendengar dakwah islam).
فَأَمَّا الْأَصَمُّ فَيَقُولُ: رَبِّ، لَقَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَمَا أَسْمَعُ شَيْئًا،
Orang budeg beralasan: ‘Ya Allah, islam datang, namun aku sama sekali tidak bisa mendengar dakwah islam.’
وَأَمَّا الْأَحْمَقُ فَيَقُولُ: رَبِّ، لَقَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَالصِّبْيَانُ يَحْذِفُونِي بِالْبَعْرِ،
Orang ideot beralasan, ‘Ya Allah, islam datang, sementara anak-anak melempariku dengan kotoran (karena gila).’
وَأَمَّا الْهَرَمُ فَيَقُولُ: رَبِّ، لَقَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَمَا أَعْقِلُ شَيْئًا،
Orang pikun beralasan, ‘Ya Allah, islam datang dan aku tidak paham sama sekali.’
وَأَمَّا الَّذِي مَاتَ فِي الْفَتْرَةِ فَيَقُولُ: رَبِّ، مَا أَتَانِي لَكَ رَسُولٌ،
Dan orang yang hidup di zaman fatrah mengatakan, ‘Ya Allah, belum ada seorangpun utusan-Mu yang datang kepadaku.’
فَيَأْخُذُ مَوَاثِيقَهُمْ لَيُطِيعُنَّهُ، فَيُرْسِلُ إِلَيْهِمْ أَنْ ادْخُلُوا النَّارَ،
Kemudian Allah mengambil janji kepada mereka bahwa mereka wajib mentaati-Nya. Kemudian datang perintah kepada mereka, bahwa mereka semua harus masuk ke dalam neraka.
قَالَ: فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَوْ دَخَلُوهَا لَكَانَتْ عَلَيْهِمْ بَرْدًا وَسَلَامًا
Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan, “Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, andai mereka masuk ke dalam neraka itu, tentu mereka akan mendapatkan rasa dingin dan keselamatan.”
Dalam riwayat yang lain, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, terdapat tambahan,
Hadits Riwayat Ahmad 16301 dan sanadnya hasan
فَمَنْ دَخَلَهَا كَانَتْ عَلَيْهِ بَرْدًا وَسَلَامًا، وَمَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا يُسْحَبُ إِلَيْهَا
“Siapa yang memasuki neraka itu, dia akan mendapatkan rasa dingin dan keselamatan. Dan siapa yang tidak memasukinya, dia akan dipanggang di neraka.”
Prinsip ini berdasarkan hadits dari Abu Sa'id Al-Khudri, bahwa Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Hadits Riwayat Imam Bukhori 4351, Imam Muslim 1064, dan lainnya
إِنِّي لَمْ أُومَرْ أَنْ أَنْقُبَ عَنْ قُلُوبِ النَّاسِ وَلاَ أَشُقَّ بُطُونَهُمْ
“Aku tidaklah diperintahkan untuk membuka isi hati manusia, dan tidak pula membedah isi perutnya.”
Bahkan para ulama menegaskan adanya kesepakatan terhadap prinsip ini. Sebagaimana yang dinyatakan Ibnu Abdil Bar dan Al-Qurthubi,
َّوَقَدْ أَجْمَعُوْا أَنَّ أَحْكَامَ الدُّنْيَا عَلَى الظَّاهِرِ وَأَنَّ السَّرَائِرَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَل
Mereka sepakat bahwa hukum di dunia sesuai dengan yang dzahir, sedangkan yang tersembunyi dikembalikan kepada Allah Ta’ala. (At-Tamhid, 10:157, dan Tafsir Qurthubi, 12:203).
Iblis kemudian mengumpulkan balatentara syetan dan berkata, `Apakah aku bisa mendapati seseorang dari kalian yang dapat memberikan kecukupan padaku terkait dengan persoalan Barshisho?' Syetan menjawab, `Siputih.' Siputih adalah bala tentara syetan yang bertugas menggoda para nabi. Dialah yang datang kepada Nabi SAW dalam wujud malaikat Jibril guna menyampaikan bisikan-bisikan kepada beliau dalam bentuk wahyu. Namun saat itu malaikat Jibril kemudian datang dan masuk di antara keduanya (siputih dan Nabi), lalu dia mendorongkan tangannya sehingga siputihpun jatuh di dataran India yang paling jauh. Itulahyang di maksud oleh firman Allah Ta'ala:
Al-Qur'anul Karim Surat At-Takwir (81) Ayat 20 (Makkiyyah=29A)
ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍۙ
yang memiliki kekuatan, memiliki kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki ‘Arsy,
SUMPAH UNTUK MENETAPKAN KEBENARAN WAHYU AL-QUR'AN DAN KENABIAN RASULULLAH SAW.
Al-Qur'anul Karim Surat At-Takwir (81) Ayat 15-29 (Makkiyyah=29A)
فَلَآ اُقْسِمُ بِالْخُنَّسِۙ
Aku bersumpah demi bintang-bintang,
Al-Qur'anul Karim Surat At-Takwir (81) Ayat 16 (Makkiyyah=29A)
الْجَوَارِ الْكُنَّسِۙ
yang beredar dan terbenam,
Al-Qur'anul Karim Surat At-Takwir (81) Ayat 17 (Makkiyyah=29A)
وَالَّيْلِ اِذَا عَسْعَسَۙ
demi malam apabila telah larut,
Al-Qur'anul Karim Surat At-Takwir (81) Ayat 18 (Makkiyyah=29A)
وَالصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَۙ
dan demi subuh apabila fajar telah menyingsing,
Al-Qur'anul Karim Surat At-Takwir (81) Ayat 19 (Makkiyyah=29A)
اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ
sesungguhnya (Al-Qur'an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril),
Al-Qur'anul Karim Surat At-Takwir (81) Ayat 20 (Makkiyyah=29A)
ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍۙ
yang memiliki kekuatan, memiliki kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki ‘Arsy,
Al-Qur'anul Karim Surat At-Takwir (81) Ayat 21 (Makkiyyah=29A)
مُّطَاعٍ ثَمَّ اَمِيْنٍۗ
yang di sana (di alam malaikat) ditaati dan dipercaya.
Al-Qur'anul Karim Surat At-Takwir (81) Ayat 22 (Makkiyyah=29A)
وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُوْنٍۚ
Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah orang gila.
Al-Qur'anul Karim Surat At-Takwir (81) Ayat 23 (Makkiyyah=29A)
وَلَقَدْ رَاٰهُ بِالْاُفُقِ الْمُبِيْنِۚ
Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (Jibril) di ufuk yang terang.
Al-Qur'anul Karim Surat At-Takwir (81) Ayat 24 (Makkiyyah=29A)
وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِيْنٍۚ
Dan dia (Muhammad) bukanlah seorang yang kikir (enggan) untuk menerangkan yang gaib.
Al-Qur'anul Karim Surat At-Takwir (81) Ayat 25 (Makkiyyah=29A)
وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطٰنٍ رَّجِيْمٍۚ
Dan (Al-Qur'an) itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk,
Al-Qur'anul Karim Surat At-Takwir (81) Ayat 26 (Makkiyyah=29A)
فَاَيْنَ تَذْهَبُوْنَۗ
maka ke manakah kamu akan pergi?
Al-Qur'anul Karim Surat At-Takwir (81) Ayat 27 (Makkiyyah=29A)
اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَۙ
(Al-Qur'an) itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam,
Al-Qur'anul Karim Surat At-Takwir (81) Ayat 28 (Makkiyyah=29A)
لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّسْتَقِيْمَۗ
(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus.
Al-Qur'anul Karim Surat At-Takwir (81) Ayat 29 (Makkiyyah=29A)
وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ
Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.
Si putih berkata (kepada Iblis),`Aku akan memberikan kecukupan kepadamu.' Setelah itu diapun pergi. Dia berpenampilan seperti penampilan pendeta Yahudi, dan diapun mencukur bagian tengah kepalanya. Akhirnya dia tiba dikuil Barshisho. Dia memanggil Barshisho, namun Barshisho tidak menjawabnya. Barshisho tidak pernah berhenti dari ibadahnya kecuali sehari dalam sepuluh hari. Barshisho tidak pernah berhenti puasa kecuali sehari dalam sepuluh hari. Terkadang dia melakukan puasa wishol (menyambung) selama sepuluh hari, dua puluh hari,dan bahkan lebih dari itu.
Ketika si putih melihat Barshisho tidak menjawabnya, maka diapun beribadah di bawah kuil Barshisho. Ketika Barshisho berhenti dari ibadahnya, dia melihat si putih berdiri sholat dengan penampilan yang baik, layaknya penampilan seorang pendeta. Maka Barshisho pun merasa menyesal karena tidak memberikan jawaban padanya.
Dia kemudian bertanya kepada si putih,`Apa keperluan Anda?' Si putih menjawab, `Aku ingin bersamamu agar dapat beretika dengan etikamu dan dapat meniru perbuatanmu, dan kita dapat berkumpul untuk beribadah. ' Barshisho berkata, `Aku tidak ada waktu untukmu. ' Setelah itu Barshisho meneruskan ibadahnya. Maka, si putih pun meneruskan ibadahnya.
Ketika Barshisho melihat kerigigihan dan ibadah si putih,dia bertanya kepadanya, `Apa keperluanmu?' Si putih menjawab, `Izinkanlah aku naik ketempatmu .'Barshisho kemudian memberinya izin untuk naik. Setelah itu si putih tinggal bersamanya selama satu tahun.Dia tidak pernah berbuka kecuali sehari dalam empat puluh hari.Dia tidak pernah berhenti dari ibadahnya kecuali sehari dalam empat puluh hari. Bahkan terkadang dia menyambung ibadahnya sampai delapan puluh hari. Ketika Barshisho melihat kegigihan si putih, maka dirinya merasa kekurangan. Si putih kemudian berkata, `Aku mempunyai doa-doa yang karenanya Allah akan menyembuhkan orang yang sakit, orang yang terkena musibah, dan orang yang gila. 'Si putih kemudian mengajarkan do'a-do'a itu kepada Barshisho. Selanjutnya si putih mendatangi lblis dan berkata,`Demi Allah, aku telah mencelakai orang itu. 'Dia kemudian menghadang seorang lelaki dan mencekiknya; Setelah itu dia berkata kepada keluarga lelaki itu, saat itu dia muncul dalam wujud manusia: `Sesungguhnya teman kalian itu gila. Bolehkah aku mengobatinya?' Mereka menjawab, `Ya.' Si putih kemudian berkata, `Aku tidak mampu menyembuhkan penyakit gilanya. Bawalah dia kepada Barshisho. Sesungguhnya dia memiliki nama AIlah yang agung, yang jika Dia di minta dengan nama itu maka Dia akan memberi, dan apabila Dia di seru dengan nama itu maka Dia akan mengabulkan.' Mereka kemudian membawa lelaki itu kepada Barshisho, lalu Barshisho pun mendoakannya dengan doa-doa itu,sehingga syetanpun pergi dari lelaki itu.
Setelah itu si putih melakuhan perbuatan seperti itu kepada manusia, dan dia menganjurkan agar mereka membawanya kepada Barshisho, agar dapat di sembuhkan.
Si putih kemudin mendatangi seorang gadis putri seorang penguasa, yang mempunyai tiga orang saudara. Ayah mereka adalah seorang raja yang sudah meninggal dunia, lalu dia di gantikan oleh adiknya. Paman gadis itu adalah raja kaum Bani lsro`il. Maka dia pun menyiksa dan mencekik gadis itu. Dia kemudian datang kepada keluarga si gadis dalan wujud seorang tabib untuk mengobatinya. Dia kemudian berkata, `Syetan yang ada padanya adalah seorang pembangkang. Dia tidak dapat dikalahkan. Bawalah dia kepada Barshisho, lalu tinggalkanlah dia di tempatnya. Apabila syetan datang padanya, Barshisho akan mendoakannya, sehingga diapun akan sembuh.' Mereka berkata, `(Bagaimana bila) Barshisho tidak mengabulkan pemintaan kami ini?.' Si putih bekata, `Bangunlah sebuah kuil di samping kuil Barshisho, lalu tempatkanlah gadis itu di dalannya.' Mereka kemudian berkata kepada Barshisho, `Gadis itu adalah amanah untukmu. Maka perhatikanlah dia.' Mereka mengajukan pemintaan itu kepada Barshisho, namun Barshisho menolaknya. Maka merekapun membangun sebuah kuil dan menempatkan gadis itu di dalamnya.
Ketika Barshisho berhenti dari ibadahnya, dia melihat gadis itu dengan jelas berikut kecantikanya, sehingga muncullah ketertarikan dalam dirinya. Syetan kemudian mendatangi gadis itu dan mencekiknya, sehingga Barshisho pun berhenti dari ibadahnya. Dia mendo'akan gadis itu sehingga syetan yang mengganggunya pun pergi. Setelah selesai dia meneruskan ibadahnya, namun syetan ini kembali mendatangi sang gadis dan mencekiknya Kali ini syetan menyingkap dan mempertontonkan bagian tubuhnya kepada Bashisho
Selanjutnya syetan datang kepada Barshisho dan berkata, `Rugilah engkau. Setubuhilah dia. Engkau tidak akan mendapatkan wanita yang seperti dia. Setelah itu engkau bisa bertobat.' Si putih terus-menerus menyampaikan bisikan itu kepada Barshisho, hingga Barshisho pun menyetubuhi wanita itu. Maka hamillah wanita itu dan kehamilannya nampak jelas. Syetan berkata kepada Barshisho, `Celakalah engkau. Engkau akan ketahuan. Bunuhlah gadis itu lalu bertobatlah engkau, agar engkau tidak akan ketahuan. Jika mereka datang padamu dan bertanya padamu tentangnya, katakanlah syetan mendatanginya, lalu membawanya pergi.'
Barshisho kemudian membunuh gadis itu dan menguburkannya pada malan hari. Saat itulah syetan menarik baju gadis itu, sehingga baju itu pun berada di luar kuburannya. Setelah selesai, Barshisho kemudian meneruskan ibadahnya.
Selanjutnya syetan mendatangi saudari-saudari gadis itu dalam mimpi. Dia berkata, `Sesungguhnya Barshisho telah melakukan anu dan anu„ terihadap saudari kalian. Dia telah membunuh dan menguburkannya di gunung anu dan anu,
Mereka menganggap besar hal itu dan merekapun bertanya kepada Barshisho: `Apa yang di lakukan saudari kami?.' Barsisho menjawab, `Dia di bawa pergi oleh syetan (yang mengganggu) nya.' Mereka percaya pada Barshisho dan merekapun pulang.
Setelah itu, syetan kembali mendatangi mereka dalam mimpi. Syetan berkata, `Sesungguhnya gadis itu telah di kubur di tempat anu dan anu«. Ujung selendangnya berada di luar kuburarnya.' Mereka kemudian pergi ketempat itu) dan mereka pun menemukan gadis itu. Maka mereka merobohkan kuil Barshisho, menemukannya, dan mencekiknya. Mereka membawa Barshisho kepada raja. Barshisho kemudian mengakui perbuatannya sehingga rajapun menitahkan untuk membunuhnya.
Ketika Barshisho disalib, syetan berkata kepadanya), ` Kenalkah engkau padaku?' Barshisho menjawab,` Tidak,demi Allah.' Syetan berkata, `Aku adalah temanmu yang mengajarkan doa-doa itu padamu. Tidakkah engkau takut kepada Allah. Tidakkah engkau merasa malu, sementara engkau adalah orang yang paling gemar beribadah di kalangan Bani lsro`il. Lalu, (mengapa) Penciptamu tidak melindungimu sehingga perbuatarmu pun terbongkar. Engkau bahkan telah mengakui perbuatanmu terhadap gadis itu, dan aibmu pun terbongkar di kalangan manusia. Jika engkau mati dalam keadaan seperti ini, maka tidak ada seorang pun dari orang-orang yang sepertimu, yang akan meraih keberuntungan sepeninggalmu?.'
Barshisho bertanya, `Lalu, apa yang dapat kulakukan?. ' Syetan berkata, `Taatilah aku dalam satu hal, niscaya aku akan menyelamatkanmu dari mereka, dan aku akan mengambil penglihatan mereka?. ' Barshisho bertanya, `Dalam hal apa itu?.' Syetan berkata, `Bersujudlah engkau padaku satu kali saja.' Barshisho berkata, `Akan kulakukan.' Dia kemudian bersujud kepada syetan, selain Allah. Syetan berkata, ` Wahai Barshisho, inilah yang kuinginkan darimu. Sebagai akibat dari perbuatanmu, maka sekarang engkau telah kafir terhadap Tuhanmu.Sesungguhnya aku membebaskan diri dari (perbuatan)mu.Sesungguhnya aku takut kepada Tuhan semesta Alam.
Wahab bin Munabbih berkata, ``Seorang ahli ibadah pernah ada di kalangan kaum Bani lsro`il. Dia adalah orang yang paling gemar beribadah pada masanya. Pada masa itu pun ada tiga orang bersaudara yang mempunyai seorang saudara perempuan yang masih perawan, dimana mereka tidak mempunyai saudara perempuan lain selain dia.
Selanjutnya, keluarlah penugasan kepada kedua orang itu, namun mereka tidak tahu di tempat siapakah mereka dapat menitipkan saudara perempuannya, siapakah yang dapat mereka percaya terkait dengan saudara perempuannya, dan di rumah siapakah mereka dapat menempatkan saudarinya.
Mereka kemudian sepakat untuk menitipkan saudara perempuannya itu kepada seorang ahli ibadah dari kaum Bani lsro`il yang menurut mereka dapat di percaya.
Selanjutnya, mereka mendatangi ahli ibadah itu dan memintanya agar menerima saudara perempuannya di tempatnya.. Dengan begitu, saudara perempuannya itu berada dalam perlindungan dan pemeliharaarmya, sampai mereka kembali dari peperangan Namun sang ahli ibadah menolak pemintaan mereka itu dan diapun berlindung kepada Allah dari mereka dan juga dari saudara perempuanya.
Tapi mereka terus mendesak sang ahli ibadah, hingga akhirnya sang ahli ibadah pun mau mengikuti keinginan mereka'. Dia berkata, `Tempalkanlah wanita itu dirumah yang berhadapan dengan kuilku.' Mereka kemudian menempatkannya di rumah itu. Selanjutnya, untuk beberapa waktu wanitapun tinggal dirumah yang berdampingan dengan kuil'ahli ibadah.
(Ketika hendak memberi makan kepada wanita itu), sang ahli ibadah menurunkan makanan dari atas kuilnya dan meletakanya di pintu kuil. Setelah itu dia langsung menutup pintunya dan naik ke atas kuilnya. Lalu dia memerintahkan wanita itu agar keluar dari dalam rumahnya dan mengambil makanan yang telah di letakkan untuknya.
Syetan kemudian membisiki sang ahli ibadah dan terus menerus mendorongnya untuk melakukan kebaikan. Syetan mempemasalahkan keluarnya wanita itu dari dalam rumahnya pada siang hari. Syetan membuat sang ahli ibadah khawatir bila keluarnya wanita itu akan terlihat oleh seseorang, kemudian orang itu memberikan komentar tentangnya.Untuk beberapa waktu sang ahli ibadah terus dalam kondisi seperti itu.
Setelah itu, iblis mendatanginya dan mendorongnya untuk melakukan kebaikan dan meraih pahala. Iblis berkata padanya, ` Seandainya engkau berjalan untuk membawakan makanannya dan menaruhnya di rumahnya, niscaya hal itu akan memperbesar pahalamu. 'Iblis terus membisiki sang ahli ibadah, hingga dia pun membawakan makanan untuk wanita itu dan meletakannya dirumahnya. Selama beberapa waktu sang ahli ibadah terus dalam kondisi seperti itu.
Setelah itu Iblis mendatanginya, kemudian mendorongnya dan menganjurkannya untuk meraih kebaikan. Iblis berkata, `Seandainya engkau mau berbicara dan bercakap-cakap denganya, maka dia akan merasa terhibur oleh pembicaraanmu itu sesungguhnya dia sangat merasa kesepian.' Iblis terus-menerus membisikan hal itu kepadanya, hingga dia pun berbicara dengan wanita itu selama beberapa saat, dengan cara memunculkan kapalanya dari atas kuilnya.
Setelah itu Iblis mendatanginya dan berkata, `Jika engkau mau turun untuknya, duduk di pintu kuilmu dan berbicara dengannya yang duduk di depan pintu rumalnya, maka hal itu lebih menghiburya.' Iblis terus-menerus membisikan hal itu kepadanya, hingga dia pun turun dan duduk di pintu kuilnya, lalu bercakap-cakap dengan wanita itu yang keluar dari ruangannya. Selama beberapa saat keduanya terlibat dalam percakapan.
Iblis kemudian mendatanginya dan mendorongnya untuk melakukan kebaikan dan hal-hal yang bisa mendapatkan balasan yang baik pada apa-apa yang di lakukannya terhadap wanita itu, Iblis berkata, `Jika engkau keluar dari pintu kuilmu dan duduk di dekat pintu rumahnya, maka hal itu akan lebih menghibumya. 'Iblis terus-menerus membisikan hal itu kepadanya, hingga dia pun melakukannya. Untuk beberapa waktu dia tetap dalam keadaan seperti itu.
Iblis kemudian mendatanginya dan mendorongnya untuk melakukan kebaikan dan hal-hal yang bisa mendatangkan balasan yang baik pada apa-apa yang di lakukannya terhadap wanita itu. Iblis berkata, `Jika engkau mendekati rumahnya dan berbicara dengannya, sementara dia tidak keluar dari rumahnya, maka hal itu akan lebih menghibumya.' Dia kemudian melakukan hal itu. Dia turun dari kuilnya, duduk di pintur rumah wanita itu, dan bercakap-cakap denganya. Untuk beberapa waktu, sang ahli ibadah tetap dalam kondisi seperti itu.
Iblis mendatanginya dan berkata kepadanya, `Jika engkau masuk ke dalam rumah itu bersama wanita itu berbicara dengannya, namun dia tidak memperlihatkan wajahnya kepada seorang pun, maka hal itu akan lebih baik bagimu. ' Iblis terus-menerus membisikan hal itu kepadanya, hingga dia pun masuk kedalan ruangan itu. Selanjutnya dia berbincang-bincang dengan wanita itu sepanjang hari. Jika sore hari tiba, dia naik keatas kuilnya.
Iblis kemudian mendatanginya dan terus-merierus membisikinya, hingga dia pun menyingkap paha wanita itu dan menciuminya. Iblis terus berusaha menampilkan wanita itu sebagai sosok yang cantik dimatanya dan berusaha menggodanya, hingga akhirnya dia pun menyetubuhi wanita itu dan menghamilinya. Setelah itu lahirlah seorang bayi laki-laki.
Iblis mendatanginya dan berkata kepadanya, `Bagaimana pendapatmu jika saudara perempuan wanita ini datang, sementara wanita itu sudah mempunyai anak darimu? Apa yang akan engkau lakukan?Tidak ada yang dapat menyelamatkanmu bila engkau menceritakan perbuatanmu atau mereka yang membongkarnya. Datangilah anaknya, lalu sembelihlah dan kuburkanlah dia. Wanita itu akan berusaha merahasiakan apa yang engkau lakukan terhadapnya kepada saudara-saudaranya, karena dia merasa takut terhadap mereka.' Dia kemudian melakukan hal itu.
Iblis kemudian berkata kepadanya, `Apakah menurutmu wanita itu akan merahasiakan apa yang telah engkau lakukan terhadapnya kepada saudan-saudaranya, sementara engkau telah membunuh anaknya. Ambillah dia, sembelihlah dia, lalu kuburkanlah dia bersama anaknya. ' Iblis terus menerus membisikan hal itu kepadanya, hingga dia pun menyembelih wanita itu dan memasukannya kedalam lubang bersama anaknya. Setelah itu, dia menutupinya dengan batu yang besar dan meratakan tanahnya.
Selanjutnya kemudian naik ke kuilnya dimana dia beribadah di sana. Dia terus berada di dalam kuil itu sampai waktu yang dikehendaki Allah untuk berada di sana.
Selanjutnya saudara-saudara wanita itu kembali dari medan tempur. Mereka kemudian menanyakan wanita itu, lalu sang ahli ibadah pun meratapinya, mengungkapkan perasaan kasihan terhadapnya, dan menangisinya untuk mereka. Dia berkata,`Wanita itu adalah hamba yang paling baik. Inilah makamnya. Lihatlah ini.' Saudara-saudara perempuan itu kemudian mendatangi kuburan itu dan mereka pun menangis di atas kubunya, mengungkapkan perasaan sayangnya, dan menetap dimakan itu selama beberapa hari. Setelah itu mereka pun kembali kepada keluarganya.
Ketika malam tiba gelap gulita dan mereka pun tertidur, syetan mendatangi mereka (dalan minpi) dalam wujud seorang musafir. Dia mulai dengan yang paling tua diantara mereka. Dia bertanya kepadanya tentang saudarinya. Saudara yang paling tua kemudian memberitahukan apa yang dikatakan oleh sang ahli ibadah, kematian saudarinya, ungkapan sayang sang ahli ibadah terhadap saudarinya, dan bagaimana dia memperlihatkan kuburan saudarinya kepada mereka.
Syetan kemudian menjelaskan bahwa itu adalah bohong. Dia berkata, `Dia tidak jujur kepada kalian pada masalah saudari kalian itu. Sesungguhnya dia telah menghamili saudari kalian, dan saudari kalian itu telah melahirkan seorang anak darinya. Dia telah menyembelih anak itu dan menyembelih saudari kalian, karena takut terhadap kalian. Dia kemudian mengubumya dalam sebuah lubang yang di galinya di belakang pintu yang ada disana, tepatnya di sebelah kanan orang yang akan memasuki rumah itu.
Pergilah kalian kesana, lalu masuklah kalian kedalam rumah yang ada di sana, tepatnya kearah kanan orang yang memasukinya. Sesungguhnya kalian akan menemukan mereka berdua berada disana, seperti yang aku beritahukan pada kalian'.
Setelah itu Iblis mendatangi saudara yang tengah-tengah dalam mimpinya. Dia pun mengatakan hal itu kapadanya. Selanjutnya dia mendatangi saudara yang paling kecil dan mengatakan hal itu kepadanya. Ketika mereka terjaga, mereka semua terjaga dalam keadaan heran atas apa yang masing-masing mereka mimpikan. Satu sama lain kemudian saling menatap. Salah seorang dari mereka berkata, `Aku memimpikan hal yang aneh. 'Selanjutnya saudarinya yang lain pun memberitahukan apa yang dimimpikannya kepada sebagian yang lain.
Yang paling tua di antara mereka berkata, `Ini hanya sekedar mimpi. Teruskanlah dan tinggalkanlah hal ini.' Yang paling kecil berkata, `Aku tidak akan meneruskan sampai aku mendatangi tempat itu dan melihat apa yang ada disana.'
Mereka kemudian pergi (ketempat itu), hingga merekapun masuk kedalam rumah dimana dulu saudari mereka pernah menetap disana. Mereka lantas membuka pintu dan mencari tempat yang di jelaskan oleh sang lblis dalam mimpi mereka. Mereka menemukan saudara perempuan mereka dan anaknya yang tersembelih di dalan sebuah lubang, sebagaimana yang dijelaskan lblis kepada mereka.
Mereka kemudian menanyakan hal itu kepada sang ahli ibadah, dan dia pun membenarkan apa yang dikatakan iblis tentang apa yang dilakukannya terhadap wanita itu dan juga anaknya.
Selanjutnya mereka pun meminta bantuan raja mereka untuk menangkap sang ahli ibadah. Maka sang ahli ibadahpun diturunkan dari kuilnya, lalu mereka pun membawanya untuk disalib. Ketika mereka mendirikannya diatas kayu (salib), syetan mendatanginya dan berkata padanya, `Sesungguhnya engkau tahu bahwa aku adalah temanmu yang telah mengujimu dengan wanita itu, hingga engkau pun menghamilinya dan membunuhnya bersama anaknya. Jika hari ini engkau taat padaku dan kafir terhadap Allah yang telah menciptakarmu, niscaya akan kubebaskan engkau dari apa yang engkau rasakan.'
Maka sang ahli ibadah itu pun kafir terhadap Allah. ketika dia telah kafir, syetan menyerahkannya kepada orang-orang yang menangkapnya, lalu merekapun menyalibnya. Dalam hal itulah turun ayat ini:
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Hasyr (59) Ayat 16 (Madaniyyah=24A)
كَمَثَلِ الشَّيْطٰنِ اِذْ قَالَ لِلْاِنْسَانِ اكْفُرْۚ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّنْكَ اِنِّيْٓ اَخَافُ اللّٰهَ رَبَّ الْعٰلَمِيْنَ
(Bujukan orang-orang munafik itu) seperti (bujukan) setan ketika ia berkata kepada manusia, “Kafirlah kamu!” Kemudian ketika manusia itu menjadi kafir ia berkata, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.”
Ibnu 'Abbas berkata, "Allah menjadikan (ayat) ini sebagai sebuah perumpamaan bagi orang orang munafik dengan orang-orang Yahudi. Hal itu bermula ketika Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk mengusir orang-rorang Yahudi Bani Nadhir dari kota Madinah, lalu orang-orang munafik memprovokasi mereka (dengan mengatakan):`Janganlah kalian keluar dari kampung halaman kalian. Jika mereka kaum muslimin) memerangi kalian, kami akan bersama kalian. Jika mereka mengusir kalian, kami akan bersana kalian'.
Orang-orang Yahudi Bani Nadhir itu kemudian memerangi Nabi SAW, namun orang-orang munafik tidak membantu mereka dan justru lepas tanggungjawab dari mereka, sebagaimana syetan lepas tanggungjawab dari Barshisho,sang ahli ibadah.
Setelah peristiwa itu para pendeta Yahudi tidak dapat berialan kecuali dengan menyembunyikan identitas diri.Di lain pihak, orang-orang yang fasik dan durhaka sangat ingin menghabisi para pendeta Yahudi, sehingga mereka pun menuduh para pendeta itu sebagai pendusta dan orang yang buruk, hingga terjadilah peristiwa Juraij sang ahli ibadah. Dalam kasus ini AIlah membebaskan Juraij, sehingga setelah itu terbebaslah para pendeta dan mereka pun dapat muncul kedepan orang  banyak."
Menurut satu pendapat makna fiman Allah itu adalah: perumpamaan orang-orang munafik dalam hal pengkhianatannya terhadap Yahudi Bani Nadhir adalah seperti lblis ketika berkata kepada orang-orang kafir Quraisy:
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Anfal (8) Ayat 48 (Madaniyyah=75A)
وَاِذْ زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطٰنُ اَعْمَالَهُمْ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ الْيَوْمَ مِنَ النَّاسِ وَاِنِّيْ جَارٌ لَّكُمْۚ فَلَمَّا تَرَاۤءَتِ الْفِئَتٰنِ نَكَصَ عَلٰى عَقِبَيْهِ وَقَالَ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّنْكُمْ اِنِّيْٓ اَرٰى مَا لَا تَرَوْنَ اِنِّيْٓ اَخَافُ اللّٰهَ ۗوَاللّٰهُ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
Dan (ingatlah) ketika setan menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan (dosa) mereka dan mengatakan, “Tidak ada (orang) yang dapat mengalahkan kamu pada hari ini, dan sungguh, aku adalah penolongmu.” Maka ketika kedua pasukan itu telah saling melihat (berhadapan), setan balik ke belakang seraya berkata, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu; aku dapat melihat apa yang kamu tidak dapat melihat; sesungguhnya aku takut kepada Allah.” Allah sangat keras siksa-Nya.
Mujahid berkata, "Yang di maksud dengan manusia disini adalah seluruh manusia, ketika sedang ditipu oleh syetan."
Adapun makna fiman Allah Ta'ala: اِذْ قَالَ لِلْاِنْسَانِ اكْفُرْۚ " Ketika dia berkata kepada manusia.. `Kafirlah kamu" `adalah syetan menyesatkannya, hingga dia berkata: "Sesungguhnya aku adalah seorang kafir.
Ucapan syetan: اِنِّيْٓ اَخَافُ اللّٰهَ رَبَّ الْعٰلَمِيْنَ "Karena sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam,." bukanlah sebuah hakikat, melainkan itu hanya menirukan ungkapan pembebasan diri yang di kemukakan manusia. Fiman Allah itu merupakan penguat bagi firman-Aya: اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّنْك,. ``Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu."
Nafi',Ibnu Katsir, dan Abu Amru memfathahkan huruf ya`pada firman Allah: اِنِّيْ °sedangkan yang lainnya menyukunkannya.
Firman Allah Ta 'ala: فَكَانَ عَاقِبَتَهُمَآ "Maka adalah kesudahan keduanya." Maksudnya, akibat yang diterima oleh syetan dan manusia tersebut, اَنَّهُمَا فِى النَّارِ خَالِدَيْنِ فِيْهَاۗ Bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) kedalam neraka, mereka kekal di dalamnya." Lafadh خَالِدَيْنِ dinashobkan karena menjadi haal. Bentuk tatsniyyah (اَنَّهُمَا) ini sangat jelas bagi orang-orang yang menetapkan bahwa ayat ini di khususkan untuk sang pendeta Yahudi dan syetan. Adapun orang-orang yang menetapkan tatsniyyah itu untuk jenis, maka makna fiman Allah itu adalah: dan akibat bagi kedua golongan atau kedua kelompok.
Lafazh عَاقِبَتَهُمَآ dinashobkan karena ia merupakan khobar bagi lafazh كَانَ ', dan isimnya adalah اَنَّهُمَا فِى النَّارِ bahwa sesungguhnya keduanya masuk kedalam neraka:"Namun AI-Hasan membaca firman Allah itu dengan فَكَانَ عَاقِبَتُهُمَآ yakni dengan rofa' lafadh عَاقِبَتُهُمَآ yang tentu saja berlawanan dengan qiro'ah sebelumnya.
AI-A'masy membaca firman Allah itu denganخَالِدَيْنِ فِيْهَاۗ yakni dengan rafa'.Qiro'ah ini berseberangan dengan redaksi yang sudah tertulis. Lafazh tersebut dirofa'kan sehingga dibaca خَالِدَيْنِ. karena menjadi khobar bagi lafazh اَنَّ, dan zhorof yang ada di sana tidak difungsikan.
TAFSIR ATH-THOBARI
كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلْإِنسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِّنكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ (16)

وقوله: ( كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلإنْسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ )
يقول تعالى ذكره: مثل هؤلاء المنافقين الذين وعدوا اليهود من النضير، النصرة إن قوتلوا، أو الخروج معهم إن أُخرجوا، ومثل النضير في غرورهم إياهم بإخلافهم الوعد، وإسلامهم إياهم عند شدّة حاجتهم إليهم، وإلى نُصرتهم إياهم، كمثل الشيطان الذي غرّ إنْسانًا، ووعده على اتباعه وكفره بالله، النصرة عند الحاجة إليه، فكفر بالله واتبعه وأطاعه، فلما احتاج إلى نُصرته أسلمه وتبرأ منه، وقال له: ( إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ ) في نُصرتك.
وقد اختلف أهل التأويل في الإنسان الذي قال الله جلّ ثناؤه ( إِذْ قَالَ لِلإنْسَانِ اكْفُرْ ) هو إنسان بعينه، أم أريد به المثل لمن فعل الشيطان ذلك به، فقال بعضهم: عُنِي بذلك إنسان بعينه.
* ذكر من قال ذلك:
حدثنا خلاد بن أسلم، قال: ثنا النضر بن شميل، قال: أخبرنا شعبة، عن أَبي إسحاق، قال: سمعت عبد الله بن نهيك، قال: سمعت عليًا رضي الله عنه يقول: إن راهبًا تعبَّد ستين سنة، وأن الشيطان أراده فأعياه، فعمد إلى امرأة فأجنها، ولها إخوة، فقال لإخوتها: عليكم بهذا القسّ فيداويها، فجاءوا بها، قال: فداواها، وكانت عنده؛ فبينما هو يوما عندها إذا أعجبته، فأتاها فحملت، فعمد إليها فقتلها، فجاء إخوتها، فقال الشيطان للراهب: أنا صاحبك، إن أعييتني، أنا صنعت بك هذا فأطعني أنجك مما صنعتُ بك، اسجد لي سجدة، فسجد له؛ فلما سجد له قال: إني بريء منك، ( إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ ) فذلك قوله: ( كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلإنْسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ ) .
حدثني يحيى بن إبراهيم المسعودي، قال: ثنا أَبي، عن أبيه، عن جده، عن الأعمش، عن عمارة، عن عبد الرحمن بن زيد، عن عبد الله بن مسعود في هذه الآية ( كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلإنْسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ ) قال: كانت امرأة ترعى الغنم، وكان لها أربعة إخوة، وكانت تأوي بالليل إلى صومعة راهب، قال: فنـزل الراهب ففجر بها، فحملت، فأتاه الشيطان، فقال له: اقتلها ثم ادفنها، فإنك رجل مصدّق يسمع كلامك، فقتلها ثم دفنها؛ قال: فأتى الشيطان إخوتها في المنام، فقال لهم: إن الراهب صاحب الصومعة فجر بأختكم؛ فلما أحبلها قتلها، ثم دفنها في مكان كذا وكذا؛ فلما أصبحوا قال رجل منهم: والله لقد رأيت البارحة رؤيا وما أدري أقصها عليكم أم أترك؟ قالوا: لا بل قُصَّها علينا؛ قال: فقصها، فقال الآخر: وأنا والله لقد رأيت ذلك؛ قالوا: فما هذا إلا لشيء، فانطلقوا فاستعدوْا مَلِكَهُم على ذلك الراهب، فأتَوه فأنـزلوه، ثم انطلقوا به، فلقيه الشيطان فقال: إني أنا الذي أوقعتك في هذا ولن ينجيك منه غيري فاسجد لي سجدة واحدة وأنا أنجيك مما أوقعتك فيه؛ قال: فسجد له؛ فلما أتَوا به ملكَهم تبرأ منه، وأُخِذ فقتل.
حدثني محمد بن سعد، قال: ثني أَبي، قال: ثني عمي، قال: ثني أَبي، عن أبيه، عن ابن عباس، قوله: ( كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلإنْسَانِ اكْفُرْ ) ... إلى وَذَلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ قال عبد الله بن عباس: كان راهب من بني إسرائيل يعبد الله فيحسن عبادته، وكان يُؤتى من كلّ أرض فيُسأل عن الفقه، وكان عالمًا، وإن ثلاثة إخوة كانت لهم أخت حسنة من أحسن الناس، وإنهم أرادوا أن يسافروا، فكبر عليهم أن يخلفوها ضائعة، فجعلوا يأتمرون ما يفعلون بها؛ فقال أحدهم: أدلكم على من تتركونها عنده؟ قالوا: من هو؟ قال: راهب بني إسرائيل، إن ماتت قام عليها، وإن عاشت حفظها حتى ترجعوا إليه؛ فعمدوا إليه فقالوا: إنا نريد السفر، ولا نجد أحدًا أوثق فى أنفسنا، ولا أحفظ لما وُلِّيً منك لما جعل عندك، فإن رأيت أن نجعل أختنا عندك فإنها ضائعة شديدة الوجع، فإن ماتت فقم عليها، وإن عاشت فأصلح إليها حتى نرجع، فقال: أفيكم إن شاء الله؛ فانطلقوا فقام عليها فداواها حتى بَرَأَت، وعاد إليها حسنها، فاطلع إليها فوجدها متصنعة، فلم يزل به الشيطان حتى يزين له أن يقع عليها حتى وقع عليها، فحملت، ثم ندمه الشيطان فزين له قتلها؛ قال: إن لم تقتلها افتضحت وعرف شبهك في الولد، فلم يكن لك معذرة، فلم يزل به حتى قتلها؛ فلما قدم إخوتها سألوه ما فعلت؟ قال: ماتت فدفنتها، قالوا: قد أحسنت، ثم جعلوا يرون في المنام، ويخبرون أن الراهب هو قتلها، وأنها تحت شجرة كذا وكذا، فعمدوا إلى الشجرة فوجدوها تحتها قد قتلت، فعمدوا إليه فأخذوه، فقال له الشيطان: أنا زيَّنت لك الزنا وقتلها بعد الزنا، فهل لك أن أنجيك؟ قال: نعم، قال: أفتطيعني؟ قال: نعم قال: فاسجد لي سجدة واحدة، فسجد له ثم قتل، فذلك قوله: ( كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلإنْسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ ) الآية
حدثنا ابن عبد الأعلى، قال: ثنا ابن ثور، عن معمر، عن ابن طاوس، عن أبيه قال: " كان رجل من بني إسرائيل عابدًا، وكان ربما داوى المجانين، فكانت امرأة جميلة، فأخذها الجنون، فجيء بها إليه، فتركت عنده، فأعجبته فوقع عليها فحملت، فجاءه الشيطان فقال: إن عُلم بهذا افتضحت، فاقتلها وادفنها في بيتك، فقتلها ودفنها، فجاء أهلها بعد ذلك بزمان يسألونه، فقال: ماتت، فلم يتهموه لصلاحه فيهم، فجاءهم الشيطان فقال: إنها لم تمت، ولكنه وقع عليها فقتلها ودفنها في بيته في مكان كذا وكذا، فجاء أهلها، فقالوا: ما نتهمك، فأخبرنا أين دفنتها، ومن كان معك، فوجدوها حيث دفنها، فأُخذ وسُجن، فجاءه الشيطان فقال: إن كنت تريد أن أخرجك مما أنت فيه فتخرج منه، فاكفر بالله، فأطاع الشيطان، وكفر بالله، فأُخذ وقُتل، فتبرأ الشيطان منه حينئذ. قال: فما أعلم هذه الآية إلا نـزلت فيه ( كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلإنْسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ ) .
وقال آخرون: بل عُنِي بذلك الناس كلهم، وقالوا: إنما هذا مثل ضُرِب للنضير فى غرور المنافقين إياهم.
* ذكر من قال ذلك:
حدثني محمد بن عمرو، قال: ثنا أَبو عاصم، قال: ثنا عيسى؛ وحدثني الحارث، قال: ثنا الحسن، قال: ثنا ورقاء، جميعًا عن ابن أَبي نجيح، عن مجاهد ( كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلإنْسَانِ اكْفُرْ ) عامة الناس.
وَاللهُ اَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللهِ وَبَرَكَاتُهُ

0 komentar:

Posting Komentar