Kamis, 28 Agustus 2025

KATA UNTA

NAMA-NAMA UNTA DALAM AL-QUR'ANUL KARIM
Al-Quran menyebutkan beberapa nama unta, di antaranya:
1-البعير/Ba'iir, yang digunakan untuk menyebut unta jantang yang khusus dipakai sebagai angkutan barang.
2-الْبُدْنَ/Budna, Unta yang gemuk yang diberi kalung,QS Al-Hajj ayat ke-36.
3-الجَمَل/Jamal, Unta jantan yang kuat. QS. Al-A’raf ayat 40
4-الناقة/ Nuuq/Naaqoh, Unta betina yang kuat QS. Al-A’rof ayat 73,77, QS. Huud ayat 64, QS Al-Isro ayat 59, QS Asy-Syu’aro ayat 155, QS Al-Qamar ayat 27, QS Asy-Syams ayat 13
5-الإبل/Ibil, QS. Al-Ghasyiyah ayat 17, QS. Surat Al-An'am 144
6-عشار/'Isyar, Unta yang bunting QS At-Taqwir 4
7-ضامر/Dlomir, Unta yang kurus QS Al-Hajj 27
8-هِيم/Him, Unta haus QS Al-Waqi'ah 55
9-وَبَر/Wabar, Bulu unta QS An-Nahl 80
1-البعير/Ba'iir, 
yang digunakan untuk menyebut unta jantang yang khusus dipakai sebagai angkutan barang.
Al-Qur'anul Karim Surat Yusuf (12) Ayat 65

وَلَمَّا فَتَحُوْا مَتَاعَهُمْ وَجَدُوْا بِضَاعَتَهُمْ رُدَّتْ اِلَيْهِمْۗ قَالُوْا يٰٓاَبَانَا مَا نَبْغِيْۗ هٰذِهٖ بِضَاعَتُنَا رُدَّتْ اِلَيْنَا وَنَمِيْرُ اَهْلَنَا وَنَحْفَظُ اَخَانَا وَنَزْدَادُ كَيْلَ بَعِيْرٍۗ ذٰلِكَ كَيْلٌ يَّسِيْرٌ
Dan ketika mereka membuka barang-barangnya, mereka menemukan barang-barang (penukar) mereka dikembalikan kepada mereka. Mereka berkata, “Wahai ayah kami! Apalagi yang kita inginkan. Ini barang-barang kita dikembalikan kepada kita, dan kita akan dapat memberi makan keluarga kita, dan kami akan memelihara saudara kami, dan kita akan mendapat tambahan jatah (gandum) seberat beban seekor unta. Itu suatu hal yang mudah (bagi raja Mesir).”
Al-Qur'anul Karim Surat Yusuf (12) Ayat 72
قَالُوْا نَفْقِدُ صُوَاعَ الْمَلِكِ وَلِمَنْ جَاۤءَ بِهٖ حِمْلُ بَعِيْرٍ وَّاَنَا۠ بِهٖ زَعِيْمٌ
Mereka menjawab, “Kami kehilangan piala raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh (bahan makanan seberat) beban unta, dan aku jamin itu.”
Hadits Riwayat Bukhari Nomor 1504
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ وَيَحْيَى بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَا حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللّٰهِ بْنِ عَبْدِ اللّٰهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّٰهِ عَنْهُمَا قَالَ طَافَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ عَلَى بَعِيرٍ يَسْتَلِمُ الرُّكْنَ بِمِحْجَنٍ تَابَعَهُ الدَّرَاوَرْدِيُّ عَنْ ابْنِ أَخِي الزُّهْرِيِّ عَنْ عَمِّهِ
Telah menceritakan kepada kami (Ahmad bin Shalih) dan (Yahya bin Sulaiman) keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami (Ibnu Wahb] berkata, telah mengabarkan kepada saya [Yunus] dari [Ibnu Syihab] dari ['Ubaidullah bin 'Abdullah) dari (Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma) berkata: "Nabi Shallallahu'alaihiwasallam melaksanakan thawaf ketika hajji wada' (perpisahan) diatas untanya dan Beliau menyentuh Ar-Rukun (Al Hajar Al Aswad) menggunakan tongkat". Hadits ini juga diikuti oleh (Ad-Darawardiy) dari anak saudara laki-laki (Az Zuhriy) dari pamannya.
2-Budnah, Unta yang gemuk yang diberi kalung.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Hajj (22) Ayat 17
وَالْبُدْنَ جَعَلْنٰهَا لَكُمْ مِّنْ شَعَاۤىِٕرِ اللّٰهِ لَكُمْ فِيْهَا خَيْرٌۖ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلَيْهَا صَوَاۤفَّۚ فَاِذَا وَجَبَتْ جُنُوْبُهَا فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّۗ كَذٰلِكَ سَخَّرْنٰهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Dan unta-unta itu Kami jadikan untuk-mu bagian dari syiar agama Allah, kamu banyak memperoleh kebaikan padanya. Maka sebutlah nama Allah (ketika kamu akan menyembelihnya) dalam keadaan berdiri (dan kaki-kaki telah terikat). Kemudian apabila telah rebah (mati), maka makanlah sebagiannya dan berilah makanlah orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami tundukkan (unta-unta itu) untukmu, agar kamu bersyukur.
3-الجَمَل/Jamal, Unta jantan yang kuat.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-A’raf (7) Ayat 40
اِنَّ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا وَاسْتَكْبَرُوْا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ اَبْوَابُ السَّمَاۤءِ وَلَا يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ حَتّٰى يَلِجَ الْجَمَلُ فِيْ سَمِّ الْخِيَاطِ ۗ وَكَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُجْرِمِيْنَ
Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka, dan mereka tidak akan masuk surga, sebelum unta masuk ke dalam lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat.
4-الناقة/ Nuuq/Naaqoh, Unta betina yang kuat.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-A’raf (7) Ayat 73
وَاِلٰى ثَمُوْدَ اَخَاهُمْ صٰلِحًاۘ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْۗ هٰذِهٖ نَاقَةُ اللّٰهِ لَكُمْ اٰيَةً فَذَرُوْهَا تَأْكُلْ فِيْٓ اَرْضِ اللّٰهِ وَلَا تَمَسُّوْهَا بِسُوْۤءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ
Dan kepada kaum Samud (Kami utus) saudara mereka Saleh. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Ini (seekor) unta betina dari Allah sebagai tanda untukmu. Biarkanlah ia makan di bumi Allah, janganlah disakiti, nanti akibatnya kamu akan mendapatkan siksaan yang pedih.”
Al-Qur'anul Karim Surat Huud (11) Ayat 64
وَيٰقَوْمِ هٰذِهٖ نَاقَةُ اللّٰهِ لَكُمْ اٰيَةً فَذَرُوْهَا تَأْكُلْ فِيْٓ اَرْضِ اللّٰهِ وَلَا تَمَسُّوْهَا بِسُوْۤءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ قَرِيْبٌ
Dan wahai kaumku! Inilah unta betina dari Allah, sebagai mukjizat untukmu, sebab itu biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun yang akan menyebabkan kamu segera ditimpa (azab).”
5-الْاِبِلِ/Ibil
Al-Qur'anul Karim Surat Al-An'am (6) Ayat 144
وَمِنَ الْاِبِلِ اثْنَيْنِ وَمِنَ الْبَقَرِ اثْنَيْنِۗ قُلْ ءٰۤالذَّكَرَيْنِ حَرَّمَ اَمِ الْاُنْثَيَيْنِ اَمَّا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ اَرْحَامُ الْاُنْثَيَيْنِۗ اَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاۤءَ اِذْ وَصّٰىكُمُ اللّٰهُ بِهٰذَاۚ فَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا لِّيُضِلَّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ
Dan dari unta sepasang dan dari sapi sepasang. Katakanlah, “Apakah yang diharamkan dua yang jantan atau dua yang betina, atau yang ada dalam kandungan kedua betinanya? Apakah kamu menjadi saksi ketika Allah menetapkan ini bagimu? Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah untuk menyesatkan orang-orang tanpa pengetahuan?” Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Ghasyiyah (88) Ayat 17
اَفَلَا يَنْظُرُوْنَ اِلَى الْاِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْۗ
Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana diciptakan?
6-عشار/'Isyar, Unta yang bunting
Al-Qur'anul Karim Surat At-Taqwir (81) Ayat 4
وَاِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْۖ
dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak terurus),
7-ضامر/Dlomir, Unta yang kurus
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Hajj (22) Ayat 27
وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ ۙ
Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.
8-هِيم/Him, Unta haus
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Waqi'ah (56) Ayat 55
فَشَارِبُوْنَ شُرْبَ الْهِيْمِۗ
Maka kamu minum seperti unta (yang sangat haus) minum.
Hiim artinya unta yang gak lagi dapet minuman buat nyembuhin sakit huyam/alhiimi-nya ➝ suatu penyakit yang walau udah minum air.
Rosulullah Muhammad SAW juga memiliki dua ekor unta kesayangan, ‘Adba dan Qoshwa.
Unta, sala satu hewanyang di jadikan sebagai mukjizat Allah untuk menguatkan dan mendukung Nabi Sholeh AS dalam menghadapi kaum Tsamud.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-A’raf (56) Ayat 73
وَاِلٰى ثَمُوْدَ اَخَاهُمْ صٰلِحًاۘ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْۗ هٰذِهٖ نَاقَةُ اللّٰهِ لَكُمْ اٰيَةً فَذَرُوْهَا تَأْكُلْ فِيْٓ اَرْضِ اللّٰهِ وَلَا تَمَسُّوْهَا بِسُوْۤءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ
Dan kepada kaum Samud (Kami utus) saudara mereka Sholeh. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Ini (seekor) unta betina dari Allah sebagai tanda untukmu. Biarkanlah ia makan di bumi Allah, janganlah disakiti, nanti akibatnya kamu akan mendapatkan siksaan yang pedih.”
Unta dalam bahasa Arab juga mempunyai ratusan bahkan ada yang mengatakan hampir seribu kosa kata yang mengungkapkannya, dan berikut ini sekedar contoh “beberapa” kosa kata yang bermakna unta dengan detail yang berbeda-beda, dan tentu saja, masih banyak lagi yang belum disebut:
1- الإبل – البعير : Kata yang secara umum dipakai untuk unta
2- الجَمَل : Unta jantan.
3- الناقة: Unta betina
4- الطِّبز : Unta berpunuk dua
5- ضائل : Unta pejantan yang kuat
6- حَفَض : Unta pengangkut barang
7- الغَبّ : Unta yang minumnya dua hari sekali
8- الرِّبْع: Unta yang minumnya tiga hari sekali
9- الظاهرة: Unta yang minumnya sehari sekali
10- الرفة: Unta yang minum sewaktu waktu
11- القصريد: Unta yang minum sedikit air
12- العرجاء: Unta yang minum pagi sekali, sore sekali
13- التندية: Unta yang kembali lagi ke telaga untuk minum
14- السُّلوف: Unta yang menggiring unta lain menuju telaga air
15- الدفون: Unta yang berada di tengah-tangah kawanan unta
16- الهافة – الملواح: Unta yang cepat haus
17- عَيُوف: Unta yang menciumi bau air tapi seringkali tidak meminumnya
18- مقامح: Unta yang tidak minum agar mengalahkan rasa sakitnya
19- رَقوب: Unta yang tidak mau minum bareng-bareng dari telaga, tapi menunggu sampai sepi
20- ميْراد: Unta yang terburu-buru mendatangi telaga air
21- الهيام : Unta yang kehausan
22- الهياج: Unta pejantan yang siap kawin
23- الهامل: Unta yang dibiarkan liar tanpa pemilik
24- الحايل : Unta betina yang tidak hamil
25- المسيّر – المجسّر : Unta betina yang siap kawin
26- المعشّر : Unta betina di awal usia kehamilan
27- اللَّقْحَة: Unta betina dalam usia 4 bulan kehamilannya
28- الخَلِفَة : Unta yang melahirkan dalam waktu kurang dari 6 bulan usia kehamilannya
29- العشرا : Unta betina yang melahirkan dalam waktu lebih dari 6 bulan usia kehamilannya
30- الخلوج : Unta betina yang anaknya mati dan merintih sepanjang waktu
31- الخفوت : Unta betina yang anaknya mati, tapi langsung melupakannya
32- المضيّرة : Unta betina yang menyusui anak unta yang bukan anaknya
33- المسوح : Unta yang bisa diperas susunya ketika anaknya tidak ada
34- النحوس : Unta betina yang tidak mau diperas susunya
35- الجضور : Unta yang menghasilkan banyak mentega ketika diperas susunya
36- الجَفول : Unta yang takut dengan apapun
37- الشَرود: Unta yang sering kabur dan sulit ditangkap
38- الأكله: Unta yang menelan apapun yang mendekatinya
39- الرابخ: Unta yang kegemukan karena banyak makan rerumputan dan tanaman
40- الثاوي: Unta lemah yang tidak bisa berdiri
41- القوداء: Unta yang selalu menjadi penuntun unta yang lain
42- المعطاء: Unta berleher panjang sedikit bulunya
43- الهارب: Unta yang berjalan jauh di depan unta yang lainnya
44- الفاهية : Unta yang mengungguli unta lainnya dalam segala hal
45- العليا: Unta jantan yang paling tinggi
46- الوَجْناء: Unta yang dijinakkan untuk ditunggangi
47- العوصاء: Unta khusus untuk ditunggangi dan kuat
48 – الذود : Kawanan 3 sampai 10 unta
49- الزيمة: Kawanan 2 sampai 15 unta
50- الرَسَل: Kawanan 15 sampai 25 unta
51- الصِّرْمَة: Kawanan 10 sampai 30 unta
52- الصدعة : Kawanan 60 an unta
53- العكرة: Kawanan 50 sampai 100 unta
54- الجول: Kawanan 30 sampai 40 unta
55- هند وهنيدة: seratusan ekor unta
56- القرج: seratus lima puluhan ekor unta
57- ليلى : Kawanan 300 an unta
58- الحوم: Kawanan lebih dari 1000 ekor unta
Ibnu Sinan Al-Khofaji pernah berkata dalam kitab Sirrul Fashohah
وَمَنْ بَحَثَ فِي مُخْتَلِفِ اللُّغَاتِ لَمْ يَجِدْ - عَلَى حَدِّ عِلْمِي - لُغَةٌ تُنَافِسُ اللُّغَةَ اْلعَرَبِيَّةَ فِي عَدَدِ اْلأَسْمَاءِ لِشَيْءٍ وَاحِدٍ... عَدَا عَنِ اتِسَاعِ اْلمُفْرَدَاتِ وَكَثْرَتِهَا، فَإِنَّ اللُّغَةَ اْلعَرَبِيَّةَ هِيَ أَيْضًا اللُّغَةُ اْلأَكْثَرُ إِيْجَازًا. فِي نَقْلِ اْلمَعْنَى، وَلَيْسَ هُنَاكَ لُغَةً أُخْرَى تَقُوْلُ ذٰلِكَ مُتَرْجَمَةٌ إِلَى اللُّغَةِ اْلعَرَبِيَّةِ، إِلَّا أَنَّ النَّسْخَةَ اْلعَرَبِيَّةَ هِيَ أَوْجَزٌ مِنَ اللُّغَةِ اْلأُوْلٰى...
“Siapapun yang meneliti berbagai bahasa, ia tidak menemukan -sebatas yang saya dengar- bahasa yang menandingi bahasa Arab dalam banyaknya nama untuk satu benda… disamping keluasan dan banyaknya kosakata, bahasa Arab juga bahasa yang paling ringkas dalam menyampaikan makna, dan tidak ada ucapan bahasa yang dialih bahasakan ke bahasa Arab, kecuali versi bahasa Arabnya lebih ringkas dibanding bahasa pertama…”
Sebelum masuk jauh ke inti persoalan, perlu disinggung di awal bahwa para ulama membagi dua kategori najis. Pertama, benda yang disepakati ulama status najisnya, yaitu daging babi, darah, air kencing manusia, muntah dan kotoran manusia, khamar, nanah, madzi, dan lain sebagainya. Kedua, benda yang diperdebatkan ulama perihal status najisnya, yaitu anjing, kulit bangkai, air kencing anak kecil yang belum makan apapun selain ASI, mani, cairan pada nanah, dan lain sebagainya. Air kencing unta termasuk kategori kedua ini. Hal ini disebutkan secara rinci oleh Syekh Wahbah Az-Zuhayli sebagai berikut: 
ثانياً ـ النجاسات المختلف فيها: اختلف الفقهاء في حكم نجاسة بعض الأشياء… بول الحيوان المأكول اللحم وفضلاته ورجيعه: هناك اتجاهان فقهيان: أحدهما القول بالطهارة، والآخر القول بالنجاسة، الأول للمالكية والحنابلة، والثاني للحنفية والشافعية.
Artinya, “Jenis kedua adalah najis yang masih menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ahli fikih berbeda pendapat perihal status najis sejumlah benda ini... Salah satunya adalah air kencing, kotoran, dan zat sisa tubuh hewan yang boleh dimakan. Di sini pandangan ulama fikih terbelah menjadi dua. Satu pandangan menyatakan suci. Sementara pandangan lainya menyatakan najis. Pandangan pertama dianut oleh madzhab Maliki dan Hanbali. Sedangkan pandangan kedua diwakili oleh madzhab Hanafi dan madzhab Syafi‘i,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, Beirut, Darul Fikr, cetakan kedua, 1985 M/1405, juz I, halaman 160). Bagi Madzhab Maliki dan Hanbali, status air kencing dan kotoran hewan yang halal dimakan yaitu unta, sapi, kambing, ayam, burung dara, dan aneka unggas tidak najis. Tetapi bagi Madzhab Maliki, air kencing hewan yang memakan atau meminum benda najis juga berstatus najis sehingga air kencing dan kotorannya menjadi najis. Berlaku juga bila hewan-hewan ini makruh dimakan, maka air kencing dan kotorannya juga makruh. Jadi status kencing hewan itu mengikuti status kenajisan daging hewan itu sendiri sehingga status air kencing hewan yang haram dimakan adalah najis. Sedangkan status air kencing hewan yang halal dimakan adalah suci. Kedua madzhab ini mendasarkan pandangannya pada izin Rasulullah SAW yang mengizinkan masyarakat Urani meminum air kencing dan susu unta. Bagi kedua madzhab ini, kebolehan shalat di kandang kambing menunjukkan kesucian kotoran dan air kencing hewan tersebut. Adapun Madzhab Hanafi dan Madzhab Syafi’i memandang status kotoran dan air kencing unta adalah najis sehingga keduanya memasukkan kotoran dan air kencing unta ke dalam kategori benda yang haram dikonsumsi. Mereka mendasarkan pandangannya pada hadits Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa kotoran hewan itu najis. Sedangkan kedua madzhab ini memahami hadits perihal masyarakat Uraiyin sebagai izin darurat Rasulullah untuk kepentingan pengobatan.
وقال الشافعية والحنفية: البول والقيء والروث من الحيوان أو الإنسان مطلقاً نجس، لأمره صلّى الله عليه وسلم بصب الماء على بول الأعرابي في المسجد، ولقوله صلّى الله عليه وسلم في حديث القبرين: «أما أحدهما فكان لا يستنزه من البول»، ولقوله صلّى الله عليه وسلم السابق: «استنزهوا من البول» وللحديث السابق: «أنه صلّى الله عليه وسلم لما جيء له بحجرين وروثة ليستنجي بها، أخذ الحجرين ورد الروثة، وقال: هذا ركس، والركس: النجس». والقيء وإن لم يتغير وهو الخارج من المعدة: نجس؛ لأنه من الفضلات المستحيلة كالبول. ومثله البلغم الصاعد من المعدة، نجس أيضاً، بخلاف النازل من الرأس أو من أقصى الحلق والصدر، فإنه طاهر. وأما حديث العرنيين وأمره عليه السلام لهم بشرب أبوال الإبل، فكان للتداوي، والتداوي بالنجس جائز عند فقد الطاهر الذي يقوم مقامه
Artinya, “Madzhab Syafi’i dan Hanafi berpendapat bahwa air kencing, muntah, dan kotoran baik hewan maupun manusia mutlak najis sesuai perintah Rasulullah SAW untuk membasuh air kencing Arab badui di masjid, sabda Rasulullah SAW perihal ahli kubur, ‘salah satunya tidak bersuci dari air kencing,’ sabda Rasulullah SAW sebelumnya, ‘Bersucilah dari air kencing,’ dan hadits sebelumnya bahwa Rasulullah SAW–ketika dua buah batu dan sepotong kotoran binatang yang mengering dihadirkan di hadapannya untuk digunakan istinja–mengambil kedua batu, dan menolak kotoran. ‘Ini adalah najis,’ kata Rasulullah SAW. Sementara muntah–sekalipun tidak berubah bentuk adalah sesuatu yang keluar dari dalam perut–adalah najis karena ia termasuk sisa tubuh yang ‘berubah’ seperti air kencing. Hal ini sama najisnya dengan lender yang keluar dari dalam perut. Lain soal dengan lendir yang turun dari kepala, pangkal tenggorokan atau dada. Lendir ini suci. Sedangkan terkait perintah Rasulullah kepada warga Uraniyin untuk meminum air kencing unta, maka ini berlaku untuk pengobatan. Pengobatan dengan menggunakan benda najis boleh ketika obat dari benda suci tidak ditemukan dan benda najis dapat menggantikannya,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, Beirut, Darul Fikr, cetakan kedua, 1985 M/1405, juz I, halaman 160). Kalau mau diperjelas, kita dapat mencari tahu alasan empat madzhab ini ke dalam dua pandangan yang berbeda. Ibnu Rusyd mencoba memetakan persoalan yang melahirkan dua pandangan berbeda. Ia mengidentifikasi dua sebab yang memicu perbedaan tajam di kalangan ulama perihal status najis kotoran dan air kencing unta sebagai berikut:

وسبب اختلافهم شيئان: أحدهما اختلافهم في مفهوم الإباحة الواردة في الصلاة في مرابض الغنم وإباحته عليه الصلاة والسلام للعرنيين شرب أبوال الإبل وألبانها وفي مفهوم النهي عن الصلاة في أعطان الإبل. والسبب الثاني اختلافهم في قياس سائر الحيوان في ذلك على الإنسان فمن قاس سائر الحيوان على الإنسان ورأى أنه من باب قياس الأولى والأحرى ولم يفهم من إباحة الصلاة في مرابض الغنم طهارة أرواثها وأبوالها جعل ذلك عبادة، ومن فهم من للعرنيين أبوال الإبل لمكان المداواة على أصله في إجازة ذلك قال: كل رجيع وبول فهو نجس ومن فهم من حديث إباحة الصلاة في مرابض الغنم طهارة أرواثها وأبوالها وكذلك من حديث العرنيين وجعل النهي عن الصلاة في أعطان الإبل عبادة أو لمعنى غير معنى النجاسة، وكان الفرق عنده بين الإنسان وبهيمة الأنعام أن فضلتي الإنسان مستقذرة بالطبع وفضلتي بهيمة الأنعام ليست كذلك جعل الفضلات تابعة للحوم والله أعلم.
Artinya, “Sebab perbedaan pandangan mereka terdiri atas dua hal. Pertama, perbedaan mereka dalam memahami status mubah shalat Rasulullah SAW di kandang kambing, izin Rasulullah SAW kepada Uraniyin untuk meminum susu dan air kencing unta, dan larangan Rasul untuk shalat di kandang unta. Kedua, perbedaan mereka dalam menganalogi semua jenis hewan dalam konteks air kencing dengan jenis manusia. Ulama yang menganalogi semua jenis hewan dalam konteks air kencing dengan jenis manusia dan memandangnya dari qiyas aulawi atau lebih-lebih lagi utama–, dan tidak memahami dari status mubah shalat di kandang kambing sebagai kesucian kotoran dan kencingnya di mana itu menjadi ibadah–, dan orang yang memahami izin meminum air kencing unta sebagai kepentingan pengobatan, akan berpendapat bahwa semua kotoran dan kencing makhluk hidup dari jenis apapun adalah najis. Sedangkan ulama yang memahami kesucian kotoran dan kencing kambing dari hadits yang membolehkan shalat di kandang kambing, dari hadits masyarakat Uraniyin, atau larangan shalat di kandang unta sebagai makna lain selain najis, di mana baginya jelas perbedaan antara jenis manusia dan jenis hewan di mana kotoran sisa dari manusia dianggap kotor secara alamiah, tidak berlaku pada kotoran sisa dari jenis hewan, memandang status kotoran sisa jenis makhluk apapun sesuai dengan kategori daging tersebut (halal atau haram di makan). Wallahu a‘lam,” (Lihat Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Darul Kutub Al-Ilmiyah, cetakan kelima, 2013 M/1434 H, halaman 79-80).

0 komentar:

Posting Komentar