Jumat, 21 November 2025

DALIL MASA FATROH

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللهِ وَبَرَكَاتُهُ
DALIL DAN PENJELASAN MASA FATROH👌
KARUNIA ALLAH DI DUNIA DAN BUKTI-BUKTI KEKUASAANNYA👈H66
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Isro (17) Ayat 12-17 (Makkiyyah=111A)
وَجَعَلْنَا الَّيْلَ وَالنَّهَارَ اٰيَتَيْنِ فَمَحَوْنَآ اٰيَةَ الَّيْلِ وَجَعَلْنَآ اٰيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِّتَبْتَغُوْا فَضْلًا مِّنْ رَّبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَۗ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنٰهُ تَفْصِيْلًا
Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami), kemudian Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang benderang, agar kamu (dapat) mencari karunia dari Tuhanmu, dan agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.
وَكُلَّ اِنْسَانٍ اَلْزَمْنٰهُ طٰۤىِٕرَهٗ فِيْ عُنُقِهٖۗ وَنُخْرِجُ لَهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ كِتٰبًا يَّلْقٰىهُ مَنْشُوْرًا
Dan setiap manusia telah Kami kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya. Dan pada hari Kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab dalam keadaan terbuka.
اِقْرَأْ كِتَابَكَۗ كَفٰى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيْبًاۗ
Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu.”
مَنِ اهْتَدٰى فَاِنَّمَا يَهْتَدِيْ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ ضَلَّ فَاِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَاۗ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتّٰى نَبْعَثَ رَسُوْلًا
Barangsiapa berbuat sesuai dengan petunjuk (Allah), maka sesungguhnya itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa tersesat maka sesungguhnya (kerugian) itu bagi dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul.
وَاِذَآ اَرَدْنَآ اَنْ نُّهْلِكَ قَرْيَةً اَمَرْنَا مُتْرَفِيْهَا فَفَسَقُوْا فِيْهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنٰهَا تَدْمِيْرًا
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman Kami), kemudian Kami binasakan sama sekali (negeri itu).
وَكَمْ اَهْلَكْنَا مِنَ الْقُرُوْنِ مِنْۢ بَعْدِ نُوْحٍۗ وَكَفٰى بِرَبِّكَ بِذُنُوْبِ عِبَادِهٖ خَبِيْرًاۢ بَصِيْرًا
Dan berapa banyak kaum setelah Nuh, yang telah Kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Yang Maha Mengetahui, Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya.
Seperti yang kita tahu ada masa yang di sebut dengan masa kekosongan Nabi Dan Rosul atau di sebut juga masa fatroh
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Maidah (5) Ayat 19 (Madaniyyah=120A)👈H482
يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ قَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلٰى فَتْرَةٍ مِّنَ الرُّسُلِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا جَاۤءَنَا مِنْۢ بَشِيْرٍ وَّلَا نَذِيْرٍۗ فَقَدْ جَاۤءَكُمْ بَشِيْرٌ وَّنَذِيْرٌ ۗوَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Wahai Ahli Kitab! Sungguh, Rasul Kami telah datang kepadamu, menjelaskan (syariat Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan, “Tidak ada yang datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.” Sungguh, telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
Jadi masa fatroh itu tidak ada nabi maupun rosul yang di utus Allah SWT dan orang-orang yang hidup di masa fatroh ini tidak di kenai hukum oleh Allah SWT sesuai dengan pernyataan Allah SWT dalam firmannya
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Isro (17) Ayat 15 (Makkiyyah=111A)
مَنِ اهْتَدٰى فَاِنَّمَا يَهْتَدِيْ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ ضَلَّ فَاِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَاۗ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتّٰى نَبْعَثَ رَسُوْلًا
Barangsiapa berbuat sesuai dengan petunjuk (Allah), maka sesungguhnya itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa tersesat maka sesungguhnya (kerugian) itu bagi dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul.
Sebab Turunnya
Ayat Ayat 15 مَنِ اهْتَدٰى sejumlah ulama berpendapat bahwa orang yang mendapatkan petunjuk di sini adalah Abu Salamah bin Abdil Aswad. Sedangkan, orang yang sesat adalah Walid bin Mughiroh. Ada juga pendapat bahwa ayat ini turun pada Walid bin Mughiroh yang berkata, "Wahai penduduk Mekah, kafirlah kepada Muhammad dan sayalah yang akan menanggung dosa kalian."
Kemudian Allah SWT menegaskan makna potongan kedua dari ayat di atas dengan firman-Nya,
وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۗ
Artinya, seorang yang berdosa tidak akan menanggung dosa orang lain.
Alias setiap orang akan menanggung dosanya sendiri, bukan dosa orang lain. Atau seseorang tidak akan memikul dosa orang lain karena pelaku perbuatan dosa sesungguhnya berbuat dosa atas dirinya sendiri.
Ini merupakan bantahan Yang jelas terhadap mereka yang memprovokasi orang lain untuk melakukan kemungkaran dan menjadi kafir, lalu mengira bahwa para provokator itulah yang akan menanggung akibatnya.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa ayat ini turun pada Walid bin Mughiroh ketika ia berkata, "Kafirlah terhadap Muhammad dan aku yang akan menanggung dosa-dosa kalian."
Ini juga bantahan bagi orang-orang bodoh yang berkata, "Kami tidak akan disiksa karena apa pun. Seandainya ada hukuman, maka yang akan menanggungnya adalah nenek moyang kami karena kami hanya mengikuti mereka." Hal ini ditegaskan firman Allah SWT,
Al-Qur'anul Karim Surat As-Saba (34) Ayat 25 (Makkiyyah=54A)
قُلْ لَّا تُسْـَٔلُوْنَ عَمَّآ اَجْرَمْنَا وَلَا نُسْـَٔلُ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ
Katakanlah, “Kamu tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang kami kerjakan dan kami juga tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang kamu kerjakan.”
Penetapan prinsip tanggung jawab pribadi merupakan salah satu kebanggaan dalam Islam. Ini adalah salah satu prinsip dalam Islam yang merevisi konsep pemberlakukan sanksi di kalangan orang-orang Romawi, orang-orang Arob, dan lainnya yang menjatuhkan sanksi bukan pada pelaku.
Hukuman akan berlipat ganda bagi penyeru kesesatan karena perbuatan mereka itu mempengaruhi orang lain untuk melakukannya. Dan hukuman itu tidak menggugurkan dosa dan hukuman bagi orang-orang yang mengikuti mereka dalam kesesatan.
Hal ini berdasarkan firman Allah SWT,
Al-Qur'anul Karim Surat An-Nahl (16) Ayat 25 (Makkiyyah=128A)
لِيَحْمِلُوْٓا اَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَّوْمَ الْقِيٰمَةِ ۙوَمِنْ اَوْزَارِ الَّذِيْنَ يُضِلُّوْنَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ اَلَا سَاۤءَ مَا يَزِرُوْنَ
(ucapan mereka) menyebabkan mereka pada hari Kiamat memikul dosa-dosanya sendiri secara sempurna, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, alangkah buruknya (dosa) yang mereka pikul itu.
Dan firman-Nya,
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Ankabut (29) Ayat 13 (Makkiyyah=69A)
وَلَيَحْمِلُنَّ اَثْقَالَهُمْ وَاَثْقَالًا مَّعَ اَثْقَالِهِمْ وَلَيُسْـَٔلُنَّ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ عَمَّا كَانُوْا يَفْتَرُوْنَ
Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka dan beban-beban (dosa orang lain) di samping beban-beban mereka sendiri.
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتّٰى نَبْعَثَ رَسُوْلًا
artinya karena sifat adil, bijaksana, dan kasih sayang Kami, maka Kami tidak menyiksa seorang pun di dunia atau pun di akhirat akibat perbuatannya, kecuali setelah Kami sampaikan peringatan. Dan Kami tidak mengukum manusia kecuali setelah disampaikan alasan dan diutusnya para rasul kepada mereka untuk menegakkan hujjah dengan bukti-bukti yang jelas tentang hukum, halal-haram, pahala, dan hukuman.
Hal ini sebagaimana firman Allah SWT,
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Mulk (67) Ayat 8-9 (Makkiyyah=30A)
كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ قَالُوا بَلَى قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نزلَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلا فِي ضَلالٍ كَبِيرٍ
Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, "Apakah belum pernah datang kepada kalian (di dunia) seorang pemberi peringatan?” Mereka menjawab, "Benar ada. Sesung­guhnya lelah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakannya) dan kami katakan, 'Allah tidak menurunkan sesuatu pun, kalian tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar'.”
Allah Azza wa Jalla berfirman,
Al-Qur'anul Karim Surat Az-Zumar (39) Ayat 71 (Makkiyyah=75A)
وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا قَالُوا بَلَى وَلَكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ
Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan, sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya, dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, "Apakah belum pernah datang kepada kalian rasul-rasul di antara kalian yang membacakan ayat-ayat Tuhan kalian dan memperingatkan kepada kalian akan pertemuan dengan hari ini.” Mereka menjawab, "Benar, telah datang.” Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.
Ayat-ayat lainnya yang menunjukkan bahwa Allah SWT tidak akan memasukkan seseorang ke dalam neraka sebelum mengutus rasul yang menyeru pada kebaikan dan mengingatkan mereka dari keburukan.
Adapun proses turunnya adzab setelah para rasul diutus, dijelaskan Allah SWI,
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Isro (17) Ayat 16 (Makkiyyah=111A)
وَاِذَآ اَرَدْنَآ اَنْ نُّهْلِكَ قَرْيَةً اَمَرْنَا مُتْرَفِيْهَا فَفَسَقُوْا فِيْهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنٰهَا تَدْمِيْرًا
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman Kami), kemudian Kami binasakan sama sekali (negeri itu).
artinya, jika waktu kebinasaan suatu kaum hampir tiba, Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di negeri tersebut agar melakukan ketaatan dan kebaikan. Apabila mereka menyalahi perintah tersebut, berbuat fasik, tidak melakukan ketaatan dan membangkang, mereka pantas mendapatkan adzab karena kemaksiatan yang mereka lakukan. Benar-benar kami hancurkan mereka dan kami habisi mereka semua termasuk seluruh penduduk negeri tersebut.
Al-Mutrof artinya orang yang hidup mewah. Orang dalam kondisi ini tentunya lebih pantas dan lebih wajib untuk bersyukur daripada yang lainnya. Dammarna artinya kami binasakan dengan sehancur-hancurnya.
Adzab tersebut membinasakan seluruh penghuni negeri karena perintahnya umum bagi seluruh mukallaf di dalamnya, baik orang kaya atau fakir; orang-orang yang hidup mewah atau pun tidak. Perintah di dalam ayat di atas disebutkan khusus untuk orangorang yang hidup mewah karena merekalah pemimpinnya, sedangkan yang lain hanyalah pengikut. Dan karakter orang-orang awam dan pengikut adalah selalu meniru orang-orang besar dan para pemimpin.
Ibnu Abbas berkata tentang firman Allah SWT
اَمَرْنَا مُتْرَفِيْهَا فَفَسَقُوْا فِيْهَا
"Kami jadikan orang-orang jahat mereka berkuasa, lalu mereka berbuat maksiat di sana. Apabila mereka melakukan hal itu, maka Allah hancurkan mereka semua dengan adzab!'
Ini seperti firman Allah SWT,
Al-Qur'anul Karim Surat Al-An'am (6) Ayat 123 (Makkiyyah=165A)
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنَا فِيْ كُلِّ قَرْيَةٍ اَكٰبِرَ مُجْرِمِيْهَا لِيَمْكُرُوْا فِيْهَاۗ وَمَا يَمْكُرُوْنَ اِلَّا بِاَنْفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَ
Dan demikianlah pada setiap negeri Kami jadikan pembesar-pembesar yang jahat agar melakukan tipu daya di negeri itu. Tapi mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadarinya.
Allah SWT kemudian memperingatkan orang-orang kafir Quroisy dan orang-orang yang serupa dengan mereka dalam mendustakan Rosul-Nya, Muhammad saw., bahwa banyak kaum yang telah diadzab karena dosa-dosa mereka. Allah berfirman,
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Isro (17) Ayat 17 (Makkiyyah=111A)
وَكَمْ اَهْلَكْنَا مِنَ الْقُرُوْنِ مِنْۢ بَعْدِ نُوْحٍۗ وَكَفٰى بِرَبِّكَ بِذُنُوْبِ عِبَادِهٖ خَبِيْرًاۢ بَصِيْرًا
Dan berapa banyak kaum setelah Nuh, yang telah Kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Yang Maha Mengetahui, Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya.
banyak sekali umat yan! kami hancurkan sejak setelah Nuh hingga masa kalian ketika mereka berbuat dholim, maksiat, mengingkari tandatanda kekuasaan Allah dan mendustakan para rasul, seperti kalian saat ini. Kalian wahai para pendusta, tidaklah lebih mulia dari mereka di sisi Allah. Kalian telah mendustakan rasul yang paling mulia dan makhluk yang paling agung, sehingga hukuman untuk kalian lebih pantas dan lebih layak terjadi.
Ini merupakan peringatan dan ancaman bagi para pendusta Rosulullah saw. di setiap zaman. Yaitu mereka akan mendapatkan hukuman yang berat. Ayat ini iuga mengandung dalil bahwa para nabi dalam semua masa, sejak Nabi Adam hingga Nabi Nuh semuanya beragama Islam.
Ibnu Abbas berkata, 'Antara Nabi Adam dan Nabi Nuh berjarak sepuluh abad, semuanya beragama Islam."
وَكَفٰى بِرَبِّكَ بِذُنُوْبِ عِبَادِهٖ خَبِيْرًاۢ بَصِيْرًا
Cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui dosa-dosa para makhluk-Nya. Dia menghitung semua perbuatan dan kemaksiatan mereka. Tiada sesuatu pun dari perbuatan orang-orang musyrik dan lainnya yang tidak Dia ketahui.
Dia Maha Mengetahui seluruh perbuatan mereka, yang baik dan yang buruk. Tidak ada sesuatu pun yang samar di hadapan-Nya. Al-Khobiin Yang Maha Mengetahui tentang Mereka. Al-Bashiin Yang Melihat semua perbuatan mereka.
Pada ayat di atas, terdapat peringatan bahwa dosa-dosa merupakan penyebab kehancuran dan kebinasaan, bukan hal lain, dan Allah mengetahui dosa-dosa tersebut serta pasti menghukum para pelakunya.
Semua yang disebutkan ini merupakan dorongan bagi orang-orang berakal agar melakukan amal sholeh yang bemanfaat di dunia dan di akhirat, serta memotivasi mereka untuk bersungguh-sungguh dan tidak bermalas-malasan.
Lho, enak dong yang hidup di masa fatroh atau kekosongan Nabi dan Rosul itu, perbuatan apapun mereka tidak di hukum? Tentu tidak seperti itu. Sebab Allah SWT sudah mengatur segala sesuatunya termasuk ketetapan dan ketentuan hukumnya tak terkecuali kepada orang-orang yang hidup di masa fatroh atau masa kekosongan utusan Allah SWT. Kenapa begitu? Karena pada haqiqotnya seluruh umat manusia yang di lahirkan sejak jaman cucunya Nabi Adam AS hingga akhir alam raya ini di hancurkan Allah SWT yang di sebut hari kiamat itu sudah di ikat dengan perjanjian antara Kholiq dan makhluqnya, antara Robb dengan ciptaannya, antara Tuhan dengan manusia yaitu pada saat di tiupkanya ruh kejanin yang masih berada dalam bungkusan rahim seorang ibu saat kandungan berusia 4 bulan. Seperti yang di jelaskan dalam firmannya
Al-Qur'anul Karim Surat Al-A'rof (7) Ayat 172 (Makkiyyah=206A)
وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Isro (17) Ayat 15 (Makkiyyah=111A)
مَنِ اهْتَدٰى فَاِنَّمَا يَهْتَدِيْ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ ضَلَّ فَاِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَاۗ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتّٰى نَبْعَثَ رَسُوْلًا
Barangsiapa berbuat sesuai dengan petunjuk (Allah), maka sesungguhnya itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa tersesat maka sesungguhnya (kerugian) itu bagi dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul.
Makna ayat ini ditegaskan dengan hadits dari Al-Aswad bin Sari’ rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Hadits Riwayat Imam Ahmad 16301. Syuaib Al-Arnauth menilai: Hadis Hasan
أَرْبَعَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: رَجُلٌ أَصَمُّ لَا يَسْمَعُ شَيْئًا، وَرَجُلٌ أَحْمَقُ، وَرَجُلٌ هَرَمٌ، وَرَجُلٌ مَاتَ فِي فَتْرَةٍ،
Ada 4 jenis manusia (yang akan diuji) pada hari kiamat: orang budeg yang sama sekali tidak bisa mendengar apapun, orang ideot, orang pikun, dan orang yang hidup di zaman fatrah (belum mendengar dakwah islam).
فَأَمَّا الْأَصَمُّ فَيَقُولُ: رَبِّ، لَقَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَمَا أَسْمَعُ شَيْئًا،
Orang budeg beralasan: ‘Ya Allah, islam datang, namun aku sama sekali tidak bisa mendengar dakwah islam.’
وَأَمَّا الْأَحْمَقُ فَيَقُولُ: رَبِّ، لَقَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَالصِّبْيَانُ يَحْذِفُونِي بِالْبَعْرِ،
Orang ideot beralasan, ‘Ya Allah, islam datang, sementara anak-anak melempariku dengan kotoran (karena gila).’
وَأَمَّا الْهَرَمُ فَيَقُولُ: رَبِّ، لَقَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَمَا أَعْقِلُ شَيْئًا،
Orang pikun beralasan, ‘Ya Allah, islam datang dan aku tidak paham sama sekali.’
وَأَمَّا الَّذِي مَاتَ فِي الْفَتْرَةِ فَيَقُولُ: رَبِّ، مَا أَتَانِي لَكَ رَسُولٌ،
Dan orang yang hidup di zaman fatrah mengatakan, ‘Ya Allah, belum ada seorangpun utusan-Mu yang datang kepadaku.’
فَيَأْخُذُ مَوَاثِيقَهُمْ لَيُطِيعُنَّهُ، فَيُرْسِلُ إِلَيْهِمْ أَنْ ادْخُلُوا النَّارَ،
Kemudian Allah mengambil janji kepada mereka bahwa mereka wajib mentaati-Nya. Kemudian datang perintah kepada mereka, bahwa mereka semua harus masuk ke dalam neraka.
قَالَ: فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَوْ دَخَلُوهَا لَكَانَتْ عَلَيْهِمْ بَرْدًا وَسَلَامًا
Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan, “Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, andai mereka masuk ke dalam neraka itu, tentu mereka akan mendapatkan rasa dingin dan keselamatan.”
Dalam riwayat yang lain, dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, terdapat tambahan,
Hadits Riwayat Ahmad 16301 dan sanadnya hasan
فَمَنْ دَخَلَهَا كَانَتْ عَلَيْهِ بَرْدًا وَسَلَامًا، وَمَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا يُسْحَبُ إِلَيْهَا
“Siapa yang memasuki neraka itu, dia akan mendapatkan rasa dingin dan keselamatan. Dan siapa yang tidak memasukinya, dia akan dipanggang di neraka.”
Prinsip ini berdasarkan hadits dari Abu Sa'id Al-Khudri, bahwa Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Hadits Riwayat Imam Bukhori 4351, Imam Muslim 1064, dan lainnya
إِنِّي لَمْ أُومَرْ أَنْ أَنْقُبَ عَنْ قُلُوبِ النَّاسِ وَلاَ أَشُقَّ بُطُونَهُمْ
“Aku tidaklah diperintahkan untuk membuka isi hati manusia, dan tidak pula membedah isi perutnya.”
Bahkan para ulama menegaskan adanya kesepakatan terhadap prinsip ini. Sebagaimana yang dinyatakan Ibnu Abdil Bar dan Al-Qurthubi,
َّوَقَدْ أَجْمَعُوْا أَنَّ أَحْكَامَ الدُّنْيَا عَلَى الظَّاهِرِ وَأَنَّ السَّرَائِرَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَل
Mereka sepakat bahwa hukum di dunia sesuai dengan yang dzahir, sedangkan yang tersembunyi dikembalikan kepada Allah Ta’ala. (At-Tamhid, 10:157, dan Tafsir Qurthubi, 12:203).
TAFSIR IBNU KATSIR👈
Tafsir Al-Qur'anul Karim Surat Al-Isro (17) Ayat 15 (Makkiyyah=111A)
مَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا 
Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa yang sesat, maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.
Allah Swt. menyebutkan bahwa barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah Allah dan mengikuti kebenaran serta menelusuri jejak Nabi Saw. (yakni sunnahnya), maka sesungguhnya akibat yang baik dari perbuatannya yang terpuji itu hanyalah untuk dirinya sendiri.
وَمَنْ ضَلَّ
dan barang siapa yang sesat.
Yakni sesat dari kebenaran dan menyimpang dari jalan yang lurus. Maka dia hanyalah menganiaya dirinya sendiri, dan sesungguhnya akibat buruk dari perbuatannya itu akan menimpa dirinya sendiri.
Dalam firman selanjutnya disebutkan:
وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى
Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain.
Maksudnya, tiada seorang pun yang memikul dosa orang lain; dan bagi orang yang berdosa, tiada lain akibatnya akan menimpa dirinya sendiri. Ayat ini semisal dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya:
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Fathir (35) Ayat 18 (Makkiyyah=45A)
وَإِنْ تَدْعُ مُثْقَلَةٌ إِلَى حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ
Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosa itu, tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun.
Tidak ada pertentangan antara makna ayat ini dengan apa yang disebut­kan oleh firman-Nya:
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Ankabut (29) Ayat 13 (Makkiyyah=69A)
وَلَيَحْمِلُنَّ اَثْقَالَهُمْ وَاَثْقَالًا مَّعَ اَثْقَالِهِمْ وَلَيُسْـَٔلُنَّ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ عَمَّا كَانُوْا يَفْتَرُوْنَ
Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka dan beban-beban (dosa orang lain) di samping beban-beban mereka sendiri.
Al-Qur'anul Karim Surat An-Nahl (16) Ayat 25 (Makkiyyah=128A)
لِيَحْمِلُوْٓا اَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَّوْمَ الْقِيٰمَةِ ۙوَمِنْ اَوْزَارِ الَّذِيْنَ يُضِلُّوْنَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ اَلَا سَاۤءَ مَا يَزِرُوْنَ
(ucapan mereka) menyebabkan mereka pada hari Kiamat memikul dosa-dosanya sendiri secara sempurna, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, alangkah buruknya (dosa) yang mereka pikul itu.
Karena sesungguhnya orang-orang yang menyeru orang lain kepada kesesatan akan memperoleh dosanya sendiri dan juga dosa orang lain yang mereka sesatkan, tanpa mengurangi dosa mereka yang disesatkannya. Tetapi para penyeru itu bukanlah sebagai penanggung dosa mereka yang disesatkannya. Hal ini merupakan keadilan dan rahmat dari Allah kepada hamba-hamba-Nya. Pengertian ini terkandung pula di dalam firman selanjutnya, yaitu:
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Isro (17) Ayat 15 (Makkiyyah=111A)
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا
Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.
Makna ayat ini menggambarkan tentang keadilan Allah Swt., bahwa Dia tidak akan mengazab seorang pun melainkan setelah tegaknya hujah terhadap dirinya melalui rasul yang diutus oleh Allah kepadanya. Di dalam ayat yang lain disebutkan oleh firman-Nya:
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Mulk (67) Ayat 8-9 (Makkiyyah=30A)
كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ قَالُوا بَلَى قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نزلَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلا فِي ضَلالٍ كَبِيرٍ
Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, "Apakah belum pernah datang kepada kalian (di dunia) seorang pemberi peringatan?” Mereka menjawab, "Benar ada. Sesung­guhnya lelah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakannya) dan kami katakan, 'Allah tidak menurunkan sesuatu pun, kalian tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar'.”
Disebutkan pula dalam ayat lainnya melalui firman Allah Swt.:
Al-Qur'anul Karim Surat Az-Zumar (39) Ayat 71 (Makkiyyah=75A)
وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا قَالُوا بَلَى وَلَكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ
Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan, sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya, dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, "Apakah belum pernah datang kepada kalian rasul-rasul di antara kalian yang membacakan ayat-ayat Tuhan kalian dan memperingatkan kepada kalian akan pertemuan dengan hari ini.” Mereka menjawab, "Benar, telah datang.” Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Fathir (35) Ayat 37 (Makkiyyah=45A)
وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ
Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.” Dan apa­kah Kami tidak memanjangkan umur kalian dengan masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kalian pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun.
Masih banyak ayat lain yang menunjukkan bahwa Allah tidak memasuk­kan seorang manusia pun ke dalam neraka kecuali setelah Allah mengutus rasul-Nya kepada mereka. Berangkat dari pengertian ini ada sejumlah ulama yang membahas lafaz yang diutarakan secara mu'jamah dalam kitab Sahih Bukhari pada pembahasan tafsir firman-Nya:
Al-Qur'anul Karim Surat Al-A'rof (7) Ayat 56 (Makkiyyah=206A)
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ
Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَعْدٍ، حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ، حَدَّثَنَا أَبِي، عَنْ صَالِحِ بْنِ كَيْسَان، عَنِ الْأَعْرَجِ بِإِسْنَادِهِ إِلَى أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "اخْتَصَمَتِ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ" فَذَكَرَ الْحَدِيثَ إِلَى أَنْ قَالَ: "وَأَمَّا الْجَنَّةُ فَلَا يَظْلِمُ اللَّهُ مِنْ خَلْقِهِ أَحَدًا، وَأَنَّهُ يُنْشِئُ لِلنَّارِ خَلْقًا فَيُلْقَوْنَ فِيهَا، فَتَقُولُ: هَلْ مِنْ مَزِيدٍ؟ (2) ثَلَاثًا، وَذَكَرَ تَمَامَ الْحَدِيثِ
Telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Sa'd, telah menceritakan kepada kami Ya'qub, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Sholeh ibnu Kaisan, dari Al-A'roj dengan sanadnya sampai kepada Abu Huroiroh, bahwa Rosulullah Saw. pernah bersabda, "Surga dan neraka mengadukan perkaranya (kepada Allah)," yang antara lain di sebutkan dalam hadis ini: "Adapun surga, maka Allah tidak berlaku aniaya terhadap seseorang pun dari kalangan makhluk-Nya. Dan sesungguhnya Dia terus membuat makhluk untuk neraka, lalu makhluk itu dilemparkan ke dalam­nya, dan neraka berkata, "Masih adakah tambahannya," sebanyak tiga kali. Hingga akhir hadis.
Padahal sesungguhnya hal ini hanyalah terjadi pada surga, karena surga adalah tempat menetapnya karunia Allah. Adapun neraka adalah tempat dilaksanakannya keadilan Allah, tiada seorang pun yang memasu­kinya kecuali sesudah adanya alasan untuk memasukinya dan telah tegaknya hujah atas orang yang memasukinya.
Sejumlah ulama membicarakan bunyi teks hadis ini. Mereka me­ngatakan bahwa barangkali perawinya mengutarakannya terbalik, sebagai buktinya ialah adanya sebuah hadis yang diketengahkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim di dalam kitab shohihnya masing-masing, sedangkan teks hadis berikut menurut apa yang ada pada Imam Bukhori melalui hadis Abdur Rozzaq, dari Ma'mar, dari Harnmam, dari Abu Huroiroh yang menceritakan bahwa Nabi Saw. pernah bersabda:
"تَحَاجَّتِ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ" فَذَكَرَ الْحَدِيثَ إِلَى أَنْ قَالَ: "فَأَمَّا النَّارُ فَلَا تَمْتَلِئُ حَتَّى يَضَعَ فِيهَا قَدَمَهُ، فَتَقُولَ: قَطٍ، قَطٍ، فَهُنَالِكَ تَمْتَلِئُ وَيَزْوِي بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ، وَلَا يَظْلِمُ اللَّهُ مِنْ خَلْقِهِ أَحَدًا، وَأَمَّا الْجَنَّةُ فَيُنْشِئُ َ لَهَا خَلْقًا"
Surga dan neraka bersengketa. Yang di dalamnya antara lain disebutkan: Adapun neraka, maka ia tidak merasa kenyang dengan penghu­ninya sehingga Allah meletakan telapak kaki kekuasaan-Nya ke dalam neraka, maka barulah neraka berkata, "Cukup, cukup.” Saat itulah neraka penuh dan sebagian darinya memisahkan diri dari sebagian lainnya. Dan Allah tidak berbuat aniaya terhadap seorang pun dari makhluk-Nya. Adapun surga, sesungguhnya Allah membuatkan baginya makhluk (yang baru).
Masih ada suatu masalah yang diperselisihkan di kalangan para imam sejak masa dahulu hingga sekarang, yaitu mengenai dua orang anak yang meninggal dunia pada waktu masih kecil, sedangkan orang tua mereka kafir, maka bagaimanakah hukum mereka? Demikian pula halnya orang gila, orang tua yang pikun, orang tuli, serta orang yang meninggal dalam masa fatrah (kekosongan dari nabi) dan dakwah Islam masih belum sampai kepadanya. Perihal mereka disebutkan oleh hadis-hadis yang akan kami kemukakan dengan seijin Allah, taufik, dan pertolongan­Nya berikut ini. Kemudian kami sebutkan pula sebuah pasal ringkas tentang pendapat para imam mengenai masalah ini. Hanya kepada Allah­lah kami memohon pertolongan.
Hadis pertama, dari Al-Aswad ibnu Sari'.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، عَنْ قَتَادَةَ، عَنِ الْأَحْنَفِ بْنِ قَيْسٍ، عَنِ الْأَسْوَدِ بْنِ سَرِيعٍ [رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ] أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "أَرْبَعَةٌ يَحْتَجُّونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: رَجُلٌ أَصَمُّ لَا يَسْمَعُ شَيْئًا، وَرَجُلٌ أَحْمَقُ، وَرَجُلٌ هَرِمٌ، وَرَجُلٌ مَاتَ فِي فَتْرَةٍ، فَأَمَّا الْأَصَمُّ فَيَقُولُ: رَبِّ، قَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَمَا أَسْمَعُ شَيْئًا، وَأَمَّا الْأَحْمَقُ فَيَقُولُ: رَبِّ، قَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَالصِّبْيَانُ يَحْذِفُونِي بِالْبَعْرِ، وَأَمَّا الهَرَمُ فَيَقُولُ: رَبِّ، لَقَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَمَا أَعْقِلُ شَيْئًا، وَأَمَّا الَّذِي مَاتَ فِي الْفَتْرَةِ فَيَقُولُ: رَبِّ، مَا أَتَانِي لَكَ رَسُولٌ. فَيَأْخُذُ مَوَاثِيقَهُمْ ليُطِعنّه فَيُرْسِلُ إِلَيْهِمْ أَنِ ادْخُلُوا النَّارَ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ دَخَلُوهَا لَكَانَتْ عَلَيْهِمْ بَرْدًا وَسَلَامًا"
Imam Ahmad mengata­kan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abdullah, telah mencerita­kan kepada kami Mu'az ibnu Hisyam, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Qotadah, dari Al-Ahnaf ibnu Qois, dari Al-Aswad ibnu Sari', bahwa Rosulullah Saw. pernah bersabda: Empat orang akan mengajukan alasannya kelak dihari kiamat, yaitu seorang lelaki tuli yang tidak dapat mendengar suara apa pun, seorang lelaki dungu (idiot), seorang lelaki pikun, dan seorang lelaki yang mati di masa fatroh. Orang yang tuli mengajukan alasannya, "Wahai Tuhanku, Islam telah datang, tetapi saya tidak dapat mendengar apa pun.” Orang yang dungu beralasan, "Wahai Tuhanku, Islam telah datang, sedangkan anak-anak kecil melempariku dengan kotoran ternak (yang kering).” Orang yang pikun beralasan, "Wahai Tuhanku, sesungguhnya Islam telah datang, tetapi saya tidak ingat akan sesuatu pun.” Orang yang meninggal dalam masa fatroh beralasan, "Wahai Tuhanku, tiada seorang pun dari rasul-Mu yang datang kepadaku.” Maka Allah mengambil janji dari mereka, bahwa­sanya mereka harus benar-benar taat kepada-Nya. Setelah itu diperintahkan agar mereka dimasukkan ke dalam neraka. Maka demi Tuhan yang jiwa Muhammad ini berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, seandainya mereka memasukinya, tentulah ne­raka itu menjadi dingin dan menjadi keselamatan bagi mereka.
Menurut sanad yang sama dari Qotadah, dari Al-Hasan, dari Abu Rofi', dari Abu Huroiroh disebutkan hal yang semisal. Akan tetapi, dalam riwayat ini di akhirnya disebutkan hal berikut:
"مَنْ دَخَلَهَا كَانَتْ عَلَيْهِ بَرْدًا وَسَلَامًا، وَمَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا يُسْحَبُ إِلَيْهَا"
Barang siapa yang memasukinya, maka tentulah neraka itu menjadi dingin dan menjadi keselamatan baginya; dan barang siapa yang tidak mau memasukinya, maka ia diseret ke dalamnya.
Hai yang sama telah diriwayatkannya oleh Ishaq ibnu Rohawaih dari Mu'az ibnu Hisyam. Imam Baihaqi meriwayatkannya di dalam Kitabul I'tiqad melalui hadis Ahmad ibnu Ishaq, dari Ali ibnu Abdullah Al-Madini. Dengan sanad yang sama, lalu ia mengatakan bahwa sanad hadis ini shohih.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Hammad ibnu Salamah, dari Ali ibnu Zaid, dari Abu Rofi', dari Abu Huroiroh yang menceritakan bahwa Rosulullah Saw. telah bersabda, "Ada empat macam orang yang semuanya mengajukan alasannya kepada Allah," hingga akhir hadis dengan teks yang semisal.
Ibnu Jarir meriwayatkannya dari hadits Ma'mar, dari Hammam, dari Abu Huroiroh. lalu ia menyebutkannya secara marfu'. Kemudian Abu Huroiroh mengatakan, "Jika kalian suka, bacalah ayat berikut (yakni firman -Nya):
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Isro (17) Ayat 15 (Makkiyyah=111A)
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولً
'Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus se­orang rasul.'
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ma'mar, dari Abdullah ibnu Tawus, dari ayahnya, dari Abu Huroiroh secara mauquf.
Hadis kedua, diriwayatkan melalui Anas ibnu Malik.
قَالَ أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ: حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبَانٍ قَالَ: قُلْنَا لِأَنَسٍ: يَا أَبَا حَمْزَةَ، مَا تَقُولُ فِي أَطْفَالِ الْمُشْرِكِينَ؟ فَقَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "لَمْ يَكُنْ لَهُمْ سَيِّئَاتٌ فَيُعَذَّبُوا بِهَا فَيَكُونُوا مِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ حَسَنَاتٌ فَيُجَازُوا بِهَا فَيَكُونُوا مَنْ مُلُوكِ أَهْلِ الْجَنَّةِ هُمْ مَنْ خَدَمِ أَهْلِ الْجَنَّةِ"
Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ar-Robi', dari Yazid (yakni Ibnu Aban) yang menceritakan, kami pernah bertanya kepada Artas, "Wahai Abu Hamzah (julukan Anas), bagaimanakah pendapatmu tentang anak orang-orang musyrik?" maka Anas ibnu Malik menjawab bahwa Rosulullah Saw. pernah bersabda sehubungan dengan masalah mereka: Mereka tidak mempunyai dosa-dosa yang menyebabkan mereka diazab karenanya, lalu mereka menjadi ahli neraka. Dan mereka tidak mempunyai amal-amal baik yang menyebabkan mereka beroleh pahala karenanya, lalu mereka menjadi ahli surga.
Hadis ketiga, diriwayatkan melalui Anas pula.
قَالَ الْحَافِظُ أَبُو يَعْلَى: حَدَّثَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنْ لَيْث، عَنْ عَبْدِ الْوَارِثِ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: 
Al-Hafiz Abu Ya'la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Khoitsamah, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Lais, dari Abul Waris, dari Anas yang mengatakan
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يُؤْتَى بِأَرْبَعَةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: 
Rosulullah SAW. pernah bersabda, "Dihadapkan empat macam orang kelak di hari kiamat
بِالْمَوْلُودِ، وَالْمَعْتُوهِ، وَمَنْ مَاتَ فِي الفَتْرَة، وَالشَّيْخِ الْفَانِي الْهَرِمِ، 
Yaitu anak yang baru lahir (lalu mati), orang yang dungu, dan orang yang mati dalam masa fatrah serta orang yang pikun
كُلُّهُمْ يَتَكَلَّمُ بِحُجَّتِهِ، فَيَقُولُ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لِعُنُقٍ مِنَ النَّارِ: ابْرُزْ. 
Masing-masing dari mereka mengemukakan alasan membela dirinya. Lalu Allah berfirman kepada salah satu leher neraka, 'Keluarlah kamu
وَيَقُولُ لَهُمْ: إِنِّي كُنْتُ أَبْعَثُ إِلَى عِبَادِي رُسُلًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ، 
Dan Allah berfirman kepada mereka, 'Sesungguhnya dahulu Aku telah mengutus rasul-rasul-Ku kepada hamba-hamba-Ku dari kalangan mereka sendiri
وَإِنِّي رَسُولُ نَفْسِي إِلَيْكُمُ ادْخُلُوا هَذِهِ. 
dan sesungguhnya Aku sekarang adalah utusan diri-Ku sendiri kepada kalian. Masuklah kalian ke dalam neraka ini
قَالَ: فَيَقُولُ مَنْ كُتِبَ عَلَيْهِ الشَّقَاءُ: 
Rosul SAW. melanjutkan kisahnya, bahwa lalu berkatalah orang yang ditakdirkan celaka
يَا رَبِّ، أَنَّى نَدْخُلُهَا وَمِنْهَا كُنَّا نَفِرُّ؟ 
Wahai Tuhanku, bagaimanakah kami masuk ke dalam neraka, sedangkan kami menghindar darinya
قَالَ: وَمَنْ كُتِبَتْ عَلَيْهِ السَّعَادَةُ يَمْضِي فَيَقْتَحِمُ فِيهَا مُسْرِعًا، 
Sedangkan orang-orang yang telah ditakdirkan berbahagia berjalan terus memenuhi perintah-Nya dan masuk dengan cepat ke dalam neraka
قَالَ: فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: أَنْتُمْ لِرُسُلِي أَشَدُّ تَكْذِيبًا وَمَعْصِيَةً، فَيُدْخِلُ هؤلاء الجنة، وهؤلاء النار".
Lalu Allah Swt. berfirman, "Kalian lebih mendustakan dan lebih durhaka terhadap utusan-utusan-Ku." Maka mereka yang berbahagia masuk ke dalam surga, dan mereka yang celaka masuk neraka.
Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar telah meriwayatkan hal yang semisal dari Yusuf ibnu Musa, dari Jarir ibnu Abdul Hamid dengan sanad yang sama.
Hadis keempat, diriwayatkan melalui Al-Barra ibnu Azib r.a.
قَالَ الْحَافِظُ أَبُو يَعْلَى الْمَوْصِلِيُّ فِي مُسْنَدِهِ أَيْضًا: حَدَّثَنَا قَاسِمُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ.
-يَعْنِي ابْنَ دَاوُدَ-عَنْ عُمَرَ بْنِ ذَرٍّ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أُمَيَّةَ، عَنِ الْبَرَاءِ قَالَ: سُئل رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَطْفَالِ الْمُسْلِمِينَ قَالَ: "هُمْ مَعَ آبَائِهِمْ". وَسُئِلَ عَنْ أَوْلَادِ الْمُشْرِكِينَ فَقَالَ: "هُمْ مَعَ آبَائِهِمْ". فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا يَعْمَلُونَ؟ قَالَ: "اللَّهُ أَعْلَمُ بِهِمْ"
Abu Ya'la Al-Mausuli di dalam kitab Musnad-nya mengatakan, telah menceri­takan kepada kami Qosim ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Abdullah (yakni Ibnu Daud), dari Umar ibnu Zar, dari Yazid ibnu Umayyah, dari Al-Barro yang menceritakan bahwa Rosulullah SAW. pernah ditanya tentang anak-anak orang-orang muslim, maka beliau SAW. menjawab, "Mereka akan bersama-sama dengan ayah-ayahnya." Dan beliau ditanya tentang anak-anak kaum musyrik, maka beliau SAW. menja­wab, "Mereka akan bersama-sama dengan ayah-ayahnya." Ketika ditanyakan, "Wahai Rosulullah, anak-anak kaum musyrik itu masih belum beramal?" Rosulullah SAW. menjawab, "Allah lebih mengetahui tentang mereka."
Umar ibnu Zar telah meriwayatkannya dari Yazid ibnu Umayyah, dari seorang lelaki, dari Al-Barro, dari Aisyah, lalu ia menuturkan hadis ini.
Hadis kelima, diriwayatkan melalui Sauban.
قَالَ الْحَافِظُ أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرٍو بْنِ عَبْدِ الْخَالِقِ الْبَزَّارُ فِي مُسْنَدِهِ: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعِيدٍ الْجَوْهَرِيُّ، حَدَّثَنَا رَيْحَانُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ مَنْصُورٍ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ أَبِي قِلابة، عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ، عَنْ ثَوْبَانَ؛ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عظَّم شَأْنَ الْمَسْأَلَةِ، قَالَ: "إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ، جَاءَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ يَحْمِلُونَ أَوْثَانَهُمْ عَلَى ظُهُورِهِمْ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ، فَيَقُولُونَ: رَبَّنَا لَمْ تُرْسِلْ إِلَيْنَا رَسُولًا وَلَمْ يَأْتِنَا لَكَ أَمْرٌ، وَلَوْ أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا لَكُنَّا أَطْوَعَ عِبَادِكَ، فَيَقُولُ لَهُمْ رَبُّهُمْ: أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ تُطِيعُونِي؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، فَيَأْمُرُهُمْ أَنْ يَعْمِدُوا إِلَى جَهَنَّمَ فَيَدْخُلُوهَا، فَيَنْطَلِقُونَ حَتَّى إِذَا دَنَوْا مِنْهَا وَجَدُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا، فَرَجَعُوا إِلَى رَبِّهِمْ فَيَقُولُونَ: رَبَّنَا أَخْرِجْنَا -أَوْ: أَجِرْنَا-مِنْهَا، فَيَقُولُ لَهُمْ: أَلَمْ تَزْعُمُوا أَنِّي إِنْ أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ تُطِيعُونِي؟ فَيَأْخُذُ عَلَى ذَلِكَ مَوَاثِيقَهُمْ. فَيَقُولُ: اعْمَدُوا إِلَيْهَا، فَادْخُلُوهَا. فَيَنْطَلِقُونَ حَتَّى إِذَا رَأَوْهَا فَرِقوا وَرَجَعُوا، فَقَالُوا: رَبَّنَا فَرِقنا مِنْهَا، وَلَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَدْخُلَهَا فَيَقُولُ: ادْخُلُوهَا دَاخِرِينَ". فَقَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "لَوْ دَخَلُوهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ كَانَتْ عَلَيْهِمْ بَرْدًا وَسَلَامًا".
Al-Hafiz Abu Bakar Ahmad ibnu Amr ibnu Abdul Kholiq Al-Bazzar di dalam kitab Musnad-nya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrohim ibnu Sa'id Al-Jauhari, telah menceritakan kepada kami Roihan ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Abbad ibnu Mansur, dari Ayyub, dari Abu Qilabah, dari Abu Asma, dari Sauban, bahwa Nabi SAW. memberatkan masalah ini. Maka beliau SAW. bersabda: Apabila hari kiamat tiba, orang-orang Jahiliyah datang dengan membawa dosa-dosa mereka di punggungnya. Lalu Tuhan menanyai mereka, dan mereka menjawab, "Wahai Tuhan kami. Engkau tidak mengutus seorang rasul pun kepada kami, dan tidak pernah pula datang suatu perintah pun dari Engkau. Seandainya Engkau mengutus kepada kami seorang rasul, tentulah kami akan menjadi seorang yang paling taat di antara hamba-hamba-Mu.” Allah berfirman kepada mereka, "Bagaimanakah pendapat kalian jika Aku perintahkan kalian suatu perintah? Apakah kalian mau taat kepada-Ku?” Mereka menjawab, "Ya.” Maka Allah memerintahkan kepada mereka untuk berangkat menuju neraka Jahannam dan memasukinya. Tetapi ketika mereka telah berada di dekat neraka Jahannam. mereka menjumpainya sedang bergejolak dan bersuara gemuruh, akhirnya mereka kembali kepada Tuhannya. Dan mereka mengatakan, "Wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami," atau "Lindungi­lah kami dari neraka Jahannam.” Allah berfirman kepada mereka.”Bukankah tadi kalian mengatakan bahwa jika Aku perintahkan sesuatu kepada kalian, maka kalian akan taat kepada-Ku?" Maka Allah mengambil janji dari mereka untuk hal tersebut, lalu berfirman, "Pergilah kalian ke neraka dan masuklah ke dalamnya!" Maka mereka pun berangkat. Dan ketika mereka melihat neraka, rasa takut menimpa mereka, lalu mereka kembali dan berkata, "Wahai Tuhan kami, kami takut kepada neraka, dan kami tidak mampu memasukinya.” Lalu Allah berfirman, "Masuklah kalian ke dalam neraka dengan hina dina!' Nabi SAW. melanjutkan sabdanya: Seandainya mereka masuk ke dalam neraka pada yang pertama kali, tentulah neraka menjadi dingin dan menjadi keselamatan bagi mereka.
Kemudian Al-Bazzar mengatakan bahwa matan (teks) hadis ini tidak dikenal terkecuali melalui jalur ini. Mereka tidak meriwayatkannya dari Ayyub selain dari Abbad, tidak pula dari Abbad selain Roihan ibnu Sa'id.
Menurut kami, Ibnu Hibban telah menyebutnya di antara golongan orang-orang yang tsiqah dalam kitab tsiqah-nya. Yahya ibnu Mu'in dan Imam Nasai mengatakan bahwa dia (Raihan ibnu Sa'id) orangnya tidak tercela, tetapi Imam Abu Daud tidak suka kepadanya. Abu Hatim menga­takan, Roihan ibnu Sa'id adalah seorang syekh (guru) yang haditsnya boleh ditulis, tetapi tidak dapat dijadikan sebagai hujah.
Hadis keenam, diriwayatkan melalui Abu Sa'id alias Sa'd Ibnu Malik Ibnu Sinan Al-Khudri.
قَالَ الْإِمَامُ مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى الذُّهَلي: حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ فُضَيْلِ بْنِ مَرْزُوقٍ، عَنْ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "الْهَالِكُ فِي الْفَتْرَةِ وَالْمَعْتُوهُ والمولود: يقول الهالك فِي الْفَتْرَةِ: لَمْ يَأْتِنِي كِتَابٌ، وَيَقُولُ الْمَعْتُوهُ: رَبِّ، لَمْ تَجْعَلْ لِي عَقْلًا أَعْقِلُ بِهِ خَيْرًا وَلَا شَرًّا، وَيَقُولُ الْمَوْلُودُ: رَبِّ لَمْ أُدْرِكِ الْعَقْلَ فَتُرْفَعُ لَهُمْ نَارٌ فَيُقَالُ لَهُمْ: رِدُوهَا"، قَالَ: فَيَرِدُهَا مَنْ كَانَ فِي عِلْمِ اللَّهِ سَعِيدًا لَوْ أَدْرَكَ الْعَمَلَ، وَيُمْسِكُ عَنْهَا مَنْ كَانَ فِي عِلْمِ اللَّهِ شَقِيًّا لَوْ أَدْرَكَ الْعَمَلَ، فَيَقُولُ: إِيَّايَ عَصَيْتُمْ، فَكَيْفَ لَوْ أَنَّ رُسُلِي أَتَتْكُمْ؟ ".
Imam Muhammad ibnu Yahya Az-Zuhali mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Sulaiman, dari Fudail ibnu Marzuq, dari Atiyyah, dari Abu Sa'id yang mengatakan bahwa Rosulullah SAW, pernah bersabda: Orang yang mati di masa fatroh dan orang yang akalnya kurang (sangat idiot) serta anak yang baru lahir (mengadu). Orang yang mati di masa fatroh berkata, "Tiada suatu kitab pun yang didatangkan kepadaku.” Orang yang dungu berkata, "Wahai Tuhanku, Engkau tidak membekaliku dengan akal yang dengannya saya dapat membedakan hal yang baik dan hal yang buruk.” Anak yang baru lahir berkata, "Wahai Tuhanku, saya masih belum mencapai usia balig.” Lalu diangkatlah neraka dari mereka, kemudian dikatakan kepada mereka, "Masuklah kalian ke dalam neraka!" Maka dihindarkanlah dari neraka orang-orang yang tercatat di dalam ilmu Allah menjadi orang-orang yang berbahagia seandainya dia sempat beramal. Dan dibiarkan di neraka orang-orang yang menurut ilmu Allah menjadi orang yang celaka seandainya dia sempat beramal. Dan Allah berfirman (kepada yang masuk neraka), "Kalian durhaka kepada-Ku, maka bagaimanakah kalian (jadinya) bila utusan-utusan-Ku datang kepada kalian?"
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Bazzar dari Muhammad ibnu Umar ibnu Hayyaj Al-Kufi, dari Abdullah ibnu Musa, dari Fudail ibnu Marzuq dengan sanad yang sama. Kemudian ia mengatakan bahwa tidak dikenal riwayat ini melalui Abu Sa'id kecuali melalui jalur Fudail Ibnu Marzuq, dari Atiyyah, dari Abu Sa'id. Dan di akhir riwayat ini disebutkan:
"فَيَقُولُ اللَّهُ: إِيَّايَ عَصَيْتُمْ فَكَيْفَ بِرُسُلِي بِالْغَيْبِ؟ "
Maka Allah berfirman, "Kalian durhaka kepada-Ku, maka ba­gaimanakah iman kalian kepada utusan-utusan-Ku yang telah tiada.”
Hadis ketujuh, diriwayatkan melalui Mu'az ibnu Jabal r.a.
قَالَ هِشَامُ بْنُ عَمَّار وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُبَارَكِ الصُّورِيُّ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ وَاقِدٍ، عَنْ يُونُسَ بْنِ حَلْبَسٍ، عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيِّ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، عَنْ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "يُؤْتَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِالْمَمْسُوخِ عَقْلًا وَبِالْهَالِكِ فِي الْفَتْرَةِ، وَبِالْهَالِكِ صَغِيرًا. فَيَقُولُ الْمَمْسُوخُ: يَا رَبِّ، لَوْ آتَيْتَنِي عَقْلًا مَا كَانَ مَنْ آتَيْتُهُ عَقْلًا بِأَسْعَدَ مِنِّي -وَذَكَرَ فِي الْهَالِكِ فِي الْفَتْرَةِ وَالصَّغِيرِ نَحْوَ ذَلِكَ-فَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: إِنِّي آمُرُكُمْ بِأَمْرٍ فَتُطِيعُونِي؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، فَيَقُولُ: اذْهَبُوا فَادْخُلُوا النَّارَ -قَالَ: وَلَوْ دَخَلُوهَا مَا ضَرَّتْهُمْ-فَتَخْرُجُ عَلَيْهِمْ قَوَابِصُ، فَيَظُنُّونَ أَنَّهَا قَدْ أَهْلَكَتْ مَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ، فَيَرْجِعُونَ سِرَاعًا، ثُمَّ يَأْمُرُهُمُ الثَّانِيَةَ فَيَرْجِعُونَ كَذَلِكَ، فَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: قَبْلَ أَنْ أَخْلُقَكُمْ عَلِمْتُ مَا أَنْتُمْ عَامِلُونَ، وَعَلَى عِلْمِي خَلَقْتُكُمْ، وَإِلَى عِلْمِي تَصِيرُونَ، ضُمِّيهِمْ، فَتَأْخُذُهُمُ النَّارُ"
Hisyam ibnu Ammar dan Muhammad ibnul Mubarak As-Suri mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Waqid, dari Yunus ibnu Jalis, dari Abu Idris Al-Khoulani, dari Mu'az ibnu Jabal, dari Nabi SAW. yang telah bersabda: Kelak di hari kiamat dihadapkan seorang yang kurang akalnya, orang yang mati di masa fatroh, dan orang yang mati masih kecil. Maka berkatalah orang yang kurang akalnya, "Wahai Tuhanku, seandainya Engkau memberiku akal, tentulah orang yang Engkau beri akal tidaklah lebih bahagia keadaannya daripada aku.” Kemudian orang yang meninggal dunia di masa fatroh dan orang yang meninggal dunia pada waktu masih berusia kecil (belum baligh) mengata­kan hal yang sama: Maka Tuhan yang Mahaagung lagi Mahamulia berfirman, "Se­sungguhnya Aku- akan memerintahkan sesuatu kepada kalian, apakah kalian akan taat kepada-Ku?” Mereka menjawab, "Ya." Allah berfirman, "Pergilah dan masuklah kalian ke dalam neraka.” Nabi SAW. bersabda, "Seandainya mereka lang­sung masuk ke dalam neraka, tentulah neraka tidak akan membahayakan mereka.” Maka pijar-pijar api neraka keluar dari dalam neraka menyambut mereka, sehingga mereka menduga bahwa neraka akan membinasakan segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah. Karena itulah maka mereka kembali dengan cepat. Kemudian Allah memerintahkan hal itu kepada mereka untuk kedua kalinya, tetapi mereka kembali lagi sama dengan sebelumnya. Maka Tuhan berfirman, "Sebelumnya Aku menciptakan kalian, Aku mengetahui segala sesuatu yang akan kalian kerjakan. Penciptaan kalian telah berada di dalam pengetahuan-Ku dan tempat kembali kalian telah berada di dalam pengetahuan-Ku. Hai neraka, Ambillah mereka!" Maka neraka mengambil mereka.
Hadis kedelapan, diriwayatkan melalui Abu Hurairah.
Hadis ini telah disebutkan jauh sebelum ini, yang riwayatnya digabungkan menjadi satu dengan riwayat Al-Aswad ibnu Sari'. Di dalam kitab Sahihain disebutkan melalui sahabat Abu Huroiroh r.a., bahwa Rosulullah Saw. telah bersabda:
"كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدانه ويُنَصِّرَانه ويُمَجِّسانه، كَمَا تُنْتِجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ، هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟ "
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitroh, maka hanya kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, atau seorang Nasroni, atau seorang Majusi. Perihalnya sama dengan binatang ternak yang melahirkan anaknya, dalam keadaan utuh, maka sudah barang tentu kalian tidak akan menjumpai adanya cacat tubuh pada anaknya.
Di dalam riwayat lain disebutkan seperti berikut:
قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَفَرَأَيْتَ مَنْ يَمُوتُ صَغِيرًا؟ قَالَ: "اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ"
Para sahabat bertanya, "Wahai Rosulullah, bagaimanakah pendapatmu tentang anak kecil yang meninggal dunia?" Rosulullah SAW. menjawab, "Allah lebih mengetahui apa yang bakal mereka kerjakan (bila dewasa).”
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ دَاوُدَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ قُرَّة، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ ضَمْرَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -فِيمَا أَعْلَمُ، شَكَّ مُوسَى-قَالَ: "ذَرَارِيُّ الْمُسْلِمِينَ فِي الْجَنَّةِ، يَكْفُلُهُمْ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ "
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Daud, telah menceritakan kepada kami Abdur Rohman ibnu Sabit, dari Ata ibnu Qurroh, dari Abdullah ibnu Damroh, dari Abu Huroiroh r.a., dari Nabi SAW.—menurut sepengetahuanku—(dalam hal ini Musa, salah seorang perawinya merasa ragu), bahwa Nabi SAW. pernah bersabda: Anak-anak kaum muslim berada di dalam surga, mereka dipelihara oleh Nabi Ibrohim a.s.
Di dalam kitab Shohih Muslim disebutkan sebuah hadis melalui Iyad ibnu Hammad, dari Rosulullah SAW., bahwa Allah Swt. telah berfirman:
"إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ وَفِي رِوَايَةٍ لِغَيْرِهِ "مُسْلِمِينَ".
Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif. Menurut riwayat lainnya disebutkan: dalam keadaan muslim.
Hadis kesembilan, diriwayatkan melalui Samurah r.a.
Al-Hafiz Abu Bakar Al-Barqoni di dalam kitabnya Al-Mustakhroj 'Alal Bukhori telah meriwayatkan melalui hadis Auf Al-A'robi, dari Abu Roja Al-Utaridi, dari Samuroh r.a., dari Nabi SAW. yang telah bersabda:
"كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ" فَنَادَاهُ النَّاسُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَأَوْلَادُ الْمُشْرِكِينَ؟ قَالَ: "وَأَوْلَادُ الْمُشْرِكِينَ"
"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitroh.” Maka orang-orang mengajukan pertanyaannya, "Wahai Rosulullah, bagai­manakah dengan anak-anak kaum musyrik?" Nabi SAW. bersabda, "Begitu pula anak-anak kaum musyrik.”
قَالَ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ، حَدَّثَنَا عُقْبَةُ بْنُ مُكْرَمٍ الضَّبِّي، عَنْ عِيسَى بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ عَبَّادِ بْنِ مَنْصُورٍ، عَنْ أَبِي رَجَاء، عَنْ سَمُرَةَ قَالَ: سَأَلْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَطْفَالِ الْمُشْرِكِينَ فَقَالَ: "هُمْ خَدَمُ أَهْلِ الْجَنَّةِ"
Imam Thabroni mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Uqbah ibnu Makrom Ad-Dabbi, dari Isa ibnu Syu'aib, dari Abbad ibnu Mansur, dari Abu Roja, dari Samuroh yang menceritakan, "Kami pernah bertanya kepada Rosulullah SAW. tentang anak-anak kaum musyrik, maka beliau SAW. bersabda: 'Mereka (akan menjadi) pelayan penghuni surga'.”
Hadis kesepuluh, dari paman Khansa.
قَالَ [الْإِمَامُ] أَحْمَدُ: [حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ، يَعْنِي الْأَزْرَقَ] ، أَخْبَرَنَا رَوْح، حَدَّثَنَا عَوْفٌ، عَنْ حَسْنَاءَ بِنْتِ مُعَاوِيَةَ مَنْ بَنِي صَرِيمٍ قَالَتْ: حَدَّثَنِي عَمِّي قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ فِي الْجَنَّةِ؟ قَالَ: "النَّبِيُّ فِي الْجَنَّةِ، وَالشَّهِيدُ فِي الْجَنَّةِ، وَالْمَوْلُودُ فِي الْجَنَّةِ، وَالْوَئِيدُ فِي الْجَنَّةِ
Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Rouh, telah menceritakan kepada kami Auf, dari Khonsa binti Mu'awiyah, dari Bani Sarim. Khansa mengatakan, pamannya telah menceritakan kepadanya bahwa ia pernah bertanya kepada Rosulullah SAW., "Wahai Rosulullah, siapa sajakah orang yang masuk surga itu?" Nabi SAW. menjawab: Nabi masuk surga, orang mati syahid masuk surga, anak yang baru lahir masuk surga, dan anak yang dikubur hidup-hidup masuk surga.
Di antara ulama ada yang tidak mengemukakan tanggapannya tentang mereka, yakni perkaranya terserah kepada Allah, karena berdasarkan hadis kedelapan.
Ada pula ulama yang menetapkan bahwa mereka masuk surga karena berdasarkan hadits Samuroh ibnu Jundub di dalam kitab Shohih Bukhori yang menyebutkan tentang hadits mimpi Nabi SAW. Antara lain disebutkan di dalamnya bahwa ketika Nabi SAW. bersua dengan orang tua yang berada di bawah sebuah pohon, sedangkan di sekitarnya terdapat banyak anak-anak. Maka Malaikat Jibril berkata kepada Nabi SAW., "Ini adalah Ibrohim a.s., sedang mereka (anak-anak) itu adalah anak-anak kaum muslim dan anak-anak kaum musyrik." Mereka (para sahabat) bertanya, "Wahai Rosulullah, termasuk juga anak-anak kaum musyrik?" Rosulullah SAW. menjawab, "Ya, termasuk pula anak-anak kaum musyrik."
Di antara ulama ada yang memastikan bahwa anak-anak kaum musyrik dimasukkan ke dalam neraka, karena berdasarkan kepada sabda Nabi SAW. yang mengatakan: Mereka (anak-anak kaum musyrik) tinggal bersama orang tua-orang tuanya (yakni di dalam neraka).
Sebagian ulama berpendapat bahwa anak-anak kaum musyrik pada hari kiamat kelak diuji di tempat penantian. Barang siapa yang taat, masuk surga, lalu dibukakan ilmu Allah tentang mereka yang di dalamnya tercatat kebahagiaan bagi mereka. Dan barang siapa yang durhaka, masuk neraka, lalu dibukakan ilmu Allah tentang nasib mereka di masa mendatang yang di dalamnya tercatat bahwa mereka termasuk orang-orang yang celaka (masuk neraka).
Pandapat terakhir ini merupakan kesimpulan dari gabungan semua dalil mengenainya. Hal ini telah dijelaskan oleh hadis-hadis tadi yang sebagian darinya memperkuat sebagian yang lain dan sekaligus sebagai bukti yang menguatkannya. Pendapat inilah yang diceritakan oleh Syekh Abul Hasan Ali ibnu Ismail Al-Asy'ari, dari ulama ahli sunnah wal jama'ah. Dan pendapat ini pula yang didukung oleh Al-Hafiz, Abu Bakar Al-Baihaqi di dalam Kitabul 'Itiqad; begitu pula oleh yang lainnya dari kalangan ahli tahqiq, huffaz, dan para kritikus.
Tetapi Syekh Abu Umar ibnu Abdul Bar An-Namiri sesudah mengetengahkan hadits-hadits mengenai ujian tadi mengatakan bahwa hadits-hadits mengenai bab ini kurang kuat dan tidak dapat dijadikan sebagai hujah. Ahlul 'ilmi jelas menolak pendapat ini karena sesungguhnya kampung akhirat itu adalah kampung pembalasan, bukan kampung amal, bukan pula kampung ujian. Maka mana mungkin mereka dipaksa untuk masuk neraka, padahal hal ini di luar kemampuan semua makhluk; dan tidak sekali-kali Allah membebankan kepada seseorang melainkan menurut kemampuannya.
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa hadits-hadits menge­nai masalah ini sebagian di antaranya ada yang shohih, seperti yang dinas-kan oleh kebanyakan para imam dan ulama. Di antaranya ada yang berpredikat hasan, ada juga yang berpredikat dloif, tetapi menjadi kuat karena ada hadis sahih yang semakna dengannya atau hadits hasan.
Apabila hadits-hadits dalam satu bab berkaitan dan saling menguatkan satu sama lainnya sesuai dengan kriteria di atas; maka hadits-hadits tersebut dapat dijadikan sebagai hujah menurut orang-orang yang merenungkannya secara mendalam.
Adapun mengenai alasan yang mengatakan bahwa kampung akhirat adalah kampung pembalasan, tiada seorang pun yang meragukannya sebagai kampung pembalasan. Tetapi hal ini tidaklah bertentangan dengan adanya beban taklif di tempat penantian sebelum masuk surga atau masuk neraka, seperti yang diriwayatkan oleh Syekh Abul Hasan Al-Asy'ari dari kalangan madzhab ahli sunnah wal jama'ah yang mengatakan bahwa adanya ujian bagi anak-anak. Allah Swt. telah berfirman:
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Qolam (68) Ayat 42 (Makkiyyah=52A)
يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَّيُدْعَوْنَ اِلَى السُّجُوْدِ فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَۙ
(Ingatlah) pada hari ketika betis disingkapkan dan mereka diseru untuk bersujud; maka mereka tidak mampu,
Di dalam kitab-kitab shohih dan kitab-kitab lainnya disebutkan bahwa pada hari kiamat kelak orang-orang mukmin bersujud kepada Allah. Dan bahwa orang-orang munafik tidak mampu melakukannya, melainkan punggungnya kembali tegak menjadi seperti sebuah papan yang berdiri tegak. Setiap kali ia hendak melakukan sujud, maka punggungnya menolak dan kembali menjadi tegak, sejajar dengan tengkuknya.
Di dalam kitab Shohihain disebutkan tentang seorang lelaki penghuni neraka yang paling akhir dikeluarkan dari neraka; Allah mengambil janji sumpahnya, bahwa ia tidak boleh meminta selain dari apa yang diberikan kepadanya. Hal ini terjadi berkali-kali. Akhirnya Allah berfirman, "Hai anak Adam, betapa ingkar janjinya kamu." Lalu Allah mengizinkannya untuk masuk surga.
Adapun mengenai pendapat yang mengatakan bahwa mana mungkin Allah memerintahkan kepada mereka untuk masuk neraka, padahal hal itu di luar kemampuan mereka. Maka sesungguhnya hal ini tidaklah bertentangan dengan kesahihan hadis mengenainya, karena sesungguhnya pada hari kiamat nanti Allah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk melewati sirat. Sirat adalah sebuah jembatan yang terletak di atas neraka Jahannam, yang bentuknya lebih kecil daripada sebilah rambut dan lebih tajam daripada pedang.
Orang-orang mukmin melewatinya sesuai dengan amal perbuatan masing-masing, ada yang seperti kilat dan angin yang menyambar, ada yang cepatnya seperti kuda dan kendaraan yang sangat kencang, ada yang cepatnya seperti unta berjalan; dan di antara mereka ada yang berjalan kaki, ada pula yang berjalan biasa. Di antara mereka ada yang merangkak, ada pula yang merayap dengan tubuh yang penuh luka, lalu masuk ke dalam neraka.
Apa yang disebutkan di dalam hadits mengenai mereka yang diperin­tahkan untuk memasuki neraka bukanlah tidak lebih berat daripada apa yang disebutkan dalam hadits di atas. Bahkan apa yang disebutkan oleh hadits mengenai sirat jauh lebih mengerikan dan lebih berat.
Di dalam sunnah pun telah disebutkan bahwa kelak Dajjal membawa surga dan nerakanya sendiri. Pentasyri' memerintahkan kepada orang-orang yang beriman yang menjumpai masanya, agar seseorang dari mereka meminum dari tempat yang kelihatannya seperti neraka; karena sesungguhnya kelak neraka itu akan menjadi dingin dan menjadi keselamatan baginya. Apa yang disebutkan dalam hadis ini semisal dengan hadits tadi yang menyebutkan bahwa Allah memerintahkan kepada mereka untuk masuk neraka.
Allah juga pernah memerintahkan kepada kaum Bani Isroil untuk saling membunuh di antara sesama mereka. Lalu mereka saling membunuh, sebagian dari mereka membunuh sebagian yang lainnya hingga matilah semua orang yang diperintahkan untuk membunuh itu. Menurut suatu pendapat, dalam masa sehari telah terbunuh tujuh puluh ribu orang. Seorang lelaki membunuh ayahnya dan saudaranya karena mereka berada dalam cuaca gelap gulita akibat mendung yang dikirimkan oleh Allah kepada mereka. Demikian itu terjadi atas mereka sebagai hukuman terhadap mereka yang menyembah berhala anak sapi. Hal ini pun sangat berat dilakukannya, dan kenyataan ini tidaklah terbatas hanya pada hadis yang telah disebutkan di atas (mengenai perintah masuk neraka).
Sebuah pasal
Apabila hal ini telah jelas, sesungguhnya para ulama masih memperselisihkan tentang anak-anak kaum musyrik. Ada dua pendapat di kalangan mereka.
Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa mereka dimasukkan ke dalam surga. Orang-orang yang berpendapat demikian beralasan dengan hadits Samuroh yang mengatakan bahwa Nabi SAW. (dalam perjalanan Isro-nya) melihat anak-anak kaum muslim dan kaum musyrik ada bersama Nabi Ibrohim. Juga beralasan dengan hadits yang diriwayat­kan oleh Ahmad melalui Khonsa, dari pamannya yang mengatakan bahwa Rosulullah SAW. pernah bersabda: Anak yang baru lahir berada di dalam surga.
Dalil ini memang shohih, tetapi hadits-hadits yang menyebutkan adanya ujian di hari kiamat lebih khusus lagi daripada dalil ini. Anak yang menurut ilmu Allah kelak akan menjadi orang yang taat, rohnya di alam Barzakh bersama Nabi Ibrohim dan anak-anak kaum muslim yang mati dalam keadaan fitroh (yakni masih anak-anak dan belum berusia baligh). Dan anak yang menurut ilmu Allah kelak tidak taat, maka perkaranya diserah­kan kepada Allah Swt., dan kelak di hari kiamat ia akan di masukkan ke dalam neraka, seperti apa yang di tunjukkan oleh hadits-hadits imtihan (ujian) yang dinukil oleh Al-Asy'ari dari kalangan ulama ahli sunnah.
Kemudian mereka yang berpendapat bahwa anak-anak tersebut berada di dalam surga, di antara anak-anak tersebut ada yang di jadikan hidup bebas di dalam surga, dan di antara mereka ada yang dijadikan sebagai pelayan-pelayan ahli surga; seperti yang disebutkan di dalam hadits Ali ibnu Zaid, dari Anas yang ada pada Imam Abu Daud At-Tayalisi. Hadits ini dloif.
Kedua, yaitu yang mengatakan bahwa anak-anak kaum musyrik tinggal bersama ayah-ayah mereka, yakni di dalam neraka. Pendapat ini berdalilkan kepada apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad ibnu Hambal melalui Abul Mughiroh:
حَدَّثَنَا عُتْبَةُ بْنُ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ، حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبَى قَيْسٍ مَوْلَى غُطَيْف، أَنَّهُ أَتَى عَائِشَةَ فَسَأَلَهَا عَنْ ذَرَارِيِّ الْكُفَّارِ فَقَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "هُمْ تَبَعٌ لِآبَائِهِمْ". فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، بِلَا عَمَلٍ؟ فَقَالَ: "اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ"
telah menceritakan kepada kami Atabah ibnu Damroh ibnu Habib, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Abu Qois maula Ghotif, bahwa ia datang kepada Siti Aisyah, lalu bertanya kepadanya mengenai nasib anak-anak kaum Kuffar. Maka Siti Aisyah menjawabnya dengan hadis Rosul SAW. yang mengatakan: "Mereka mengikuti kepada ayah-ayah mereka.” Saya (Aisyah) bertanya, "Wahai Rosulullah, apakah demikian sekalipun mereka tidak beramal?” Rosulullah SAW. menjawab, "Allah lebih mengetahui tentang apa yang bakal mereka amalkan (bila terus hidup)."
Imam Abu Daud mengetengahkan hadits ini melalui riwayat Muhammad ibnu Harb, dari Muhammad ibnu Ziyad Al-Ilhani; ia pernah mendengar Abdullah ibnu Abu Qois mengatakan bahwa ia pernah mendengar Siti Aisyah menceritakan hadis berikut:
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَرَارِيِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَ: "هُمْ مِنْ آبَائِهِمْ". قُلْتُ: فَذَرَارِيُّ الْمُشْرِكِينَ؟ قَالَ: "هُمْ مَعَ آبَائِهِمْ" قُلْتُ: بِلَا عَمَلٍ؟ قَالَ: "اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ"
Saya pernah bertanya kepada Rosulullah SAW. tentang nasib anak-anak kaum mukmin. Maka beliau SAW. menjawab, "Mere­ka ada bersama ayah-ayah mereka (yakni di dalam surga).” Saya bertanya lagi, "Bagaimanakah dengan nasib anak-anak kaum musyrik?” Nabi SAW. menjawab, "Mereka tinggal bersama ayah-ayah mereka.” Saya bertanya, "Sekalipun tanpa amal?” Nabi Saw. menjawab, "Allah lebih mengetahui tentang apa yang bakal mereka kerjakan.”
Imam Ahmad telah meriwayatkan pula dari Waki', dari Abu Uqail Yahya ibnul Mutawakkil yang haditsnya berpredikat matruk (tidak dapat dipakai), dari tuan perempuannya (yaitu Bahiyyah), dari Siti Aisyah, bahwa ia pernah menceritakan perihal anak-anak kaum musyrik kepada Rosulullah SAW. Maka Rosulullah SAW. bersabda:
"إِنْ شِئْتِ أَسْمَعْتُكِ تَضَاغِيَهُمْ فِي النَّارِ"
Jika engkau suka, aku akan memperdengarkan suara tangisan mereka sedang berada di dalam neraka kepadamu.
قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْإِمَامِ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ فُضَيْلِ بْنِ غَزْوَانَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عُثْمَانَ، عَنْ زَاذَانَ عَنْ عَلِيٍّ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: سَأَلَتْ خَدِيجَةُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ وَلَدَيْنِ لَهَا مَاتَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ: "هُمَا فِي النَّارِ". قَالَ: فَلَمَّا رَأَى الْكَرَاهِيَةَ فِي وَجْهِهَا [قَالَ] لَوْ رَأَيْتِ مَكَانَهُمَا لَأَبْغَضْتِهِمَا". قَالَتْ: فَوَلَدِي مِنْكَ؟ قَالَ: [قَالَ: "فِي الْجَنَّةِ". قَالَ: ثُمَّ قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ]. "إِنَّ الْمُؤْمِنِينَ وَأَوْلَادَهُمْ فِي الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الْمُشْرِكِينَ وَأَوْلَادَهُمْ فِي النَّارِ" ثُمَّ قَرَأَ: {وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ [أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ]}
Abdullah ibnu Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Abu Syaibah, dari Muhammad ibnu Fudail ibnu Ghozwan, dari Muhammad ibnu Usman, dari Zazan, dari Ali r.a. yang menceritakan bahwa Siti Khodijah pernah bertanya kepada Rosulullah SAW. tentang anaknya yang mati di masa Jahiliah. Maka Nabi SAW. bersabda bahwa keduanya berada di dalam neraka. Ali r.a. melanjutkan kisahnya, bahwa setelah kelihatan muka Khodijah murung karena tidak suka, maka Rosulullah SAW. bersabda kepadanya, "Seandainya engkau aku perlihatkan kedudukan keduanya (bila telah besar), tentulah kamu akan membenci keduanya." Siti Khodijah kembali bertanya, "Maka bagaimanakah nasib anakku yang lahir dari kamu?" Nabi SAW. menjawab: Sesungguhnya orang-orang mukmin dan anak-anak mereka berada di dalam surga, dan sesungguhnya orang-orang musy­rik dan anak-anak mereka berada di dalam neraka. Kemudian Rosulullah SAW. membacakan firman-Nya:
Al-Qur'anul Karim Surat Ath-Thur (52) Ayat 21 (Makkiyyah=49A)
وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِاِيْمَانٍ اَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ اَلَتْنٰهُمْ مِّنْ عَمَلِهِمْ مِّنْ شَيْءٍۚ كُلُّ امْرِئٍ ۢبِمَا كَسَبَ رَهِيْنٌ
Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.
Hadits ini ghorib, karena sesungguhnya di dalam sanadnya terdapat Muhammad ibnu Usman, sedangkan dia orangnya tidak dikenal; dan gurunya (yaitu Zazan) sesungguhnya tidak menjumpai masa sahabat Ali r.a.
Abu Daud telah meriwayatkan melalui hadits Ibnu Abu Zaidah, dari ayahnya, dari Asy-Sya'bi yang mengatakan bahwa Rosulullah SAW. pernah bersabda:
"الْوَائِدَةُ وَالْمَوْءُودَةُ فِي النَّارِ".
Wanita yang menguburkan anak perempuannya hidup-hidup dan anaknya yang dikuburnya hidup-hidup, keduanya berada di dalam neraka.
Kemudian Asy-Sya'bi mengatakan, "Hadits ini telah diriwayatkan kepada­ku oleh Al-qomah, dari Abu Wa-il, dari Ibnu Mas'ud."
Hadits ini telah diriwayatkan pula oleh Jama'ah, dari Daud ibnu Abu Hindun, dari Asy-Sya'bi, dari Al-qomah, dari Salamah ibnu Qois Al-Asyja'i yang mengata­kan, "Aku dan saudaraku datang kepada Nabi SAW., lalu kami bertanya, ' Sesungguhnya ibu kami telah meninggal dunia dimasa Jahiliah, padahal dahulu dia adalah seorang yang suka menghormati tamu, suka bersilatu­rahmi, tetapi ia pernah mengubur hidup-hidup saudara perempuannya yang belum balig di masa Jahiliah.' Maka Rosulullah SAW. bersabda:
"الْوَائِدَةُ وَالْمَوْءُودَةُ فِي النَّارِ، إِلَّا أَنْ تُدْرِكَ الْوَائِدَةُ الْإِسْلَامَ، فَتُسْلِمَ"
'Wanita yang mengubur hidup-hidup anak perempuan dan anak perempuan yang dikuburnya hidup-hidup (keduanya) berada di dalam neraka, terkecuali bila si wanita yang mengubur hidup-hidup anak perempuannya itu menjumpai masa Islam, lalu masuk Islam'.”
Sanad hadits ini hasan.
Pendapat terakhir mengatakan bahwa segala sesuatunya diserahkan kepada Allah. Dengan kata lain, mereka bersikap abstain, dan mereka melandasi pendapatnya dengan hadis Nabi SAW. yang mengatakan: Allah lebih mengetahui apa yang bakal mereka kerjakan.
Hal ini di dalam kitab Shohihain disebutkan melalui hadits Ja'far ibnu Abu Iyas, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, bahwa Rosulullah SAW. pernah ditanya mengenai anak-anak kaum musyrik. Beliau SAW. menjawab:
"اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ"
Allah lebih mengetahui apa yang bakal mereka kerjakan.
Hal yang sama disebutkan pula dalam kitab Shohihain melalui hadits Az-Zuhri, dari Ata ibnu Yazid, dari Abu Salamah, dari Abu Huroiroh, dari Nabi SAW. Bahwa Nabi SAW. pernah ditanya mengenai anak-anak kaum musyrik, maka beliau SAW. menjawab: Allah lebih mengetahui apa yang bakal mereka kerjakan.
Akan tetapi, di antara ulama ada yang berpendapat bahwa mereka dijadikan oleh Allah untuk menghuni Al-A'rof (tembok-tembok yang tinggi yang membatasi antara surga dan neraka). Pendapat ini merujuk kepada pendapat yang mengatakan bahwa mereka termasuk ahli surga, karena sesungguhnya Al-A'rof bukanlah tempat untuk menetap; dan tempat kembali para penduduknya tiada lain adalah surga, seperti apa yang telah dijelaskan di dalam tafsir surat Al-A'rof.
Sebuah pasal
Perlu diketahui bahwa perbedaan pendapat ini menyangkut anak-anak kaum musyrik. Adapun anak-anak orang-orang mukmin, tidak ada perbe­daan pendapat di kalangan mereka mengenainya, seperti yang diceritakan oleh Abu Ya'la ibnul Farro Al-Hambali, dari Imam Ahmad yang mengata­kan bahwa tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang anak-anak kaum muslim, semua bersepakat bahwa mereka termasuk ahli surga. Pendapat inilah yang terkenal di kalangan orang-orang banyak, dan pendapat ini pulalah yang dapat kita buktikan kebenarannya.
Adapun mengenai apa yang disebutkan oleh Syekh Abu Umar ibnu Abdul Bar dari sebagian ulama, bahwa mereka bersikap abstain mengenai masalah ini dan menyerahkan nasib mereka kepada kehendak Allah Swt., Abu Umar mengatakan bahwa pendapat ini dikatakan oleh sejumlah ulama dari kalangan ahli fiqih dan ahli hadits, antara lain Hammad ibnu Zaid, Hammad ibnu Salamah, Ibnul Mubarok, Ishak ibnu Rohawaih, dan lain-lainnya. Mereka mengatakan bahwa pendapat ini mirip dengan apa yang digambarkan oleh Imam Malik di dalam kitab Muwatta '-nya dalam Abwabul Qodar, yakni hadis-hadis yang diketengahkannya dalam hal ini.
Pendapat ini pulalah yang dijadikan pegangan oleh murid-muridnya, padahal tiada suatu nas pun yang bersumber dari Imam Malik mengenai­nya. Akan tetapi, kalangan ulama terkemudian dari kalangan pengikutnya berpendapat bahwa anak-anak dari kaum muslim berada di dalam surga, sedangkan anak-anak kaum musyrik khususnya berada dalam kehendak Allah. Demikianlah menurut Abu Umar, dan pendapat ini dinilai ghorib sekali.
Abu Abdullah Al-Qurtubi mengatakan hal yang semisal dengan pendapat di atas dalam kitabnya At-Tazkiroh.
Dalam masalah ini mereka menyebutkan pula hadits Aisyah binti Tholhah, dari Aisyah Ummul Mu’minin yang menceritakan bahwa:
دُعِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى جِنَازَةِ صَبِيٍّ مِنَ الْأَنْصَارِ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، طُوبَى لَهُ عُصْفُورٌ مِنْ عَصَافِيرِ الْجَنَّةِ لَمْ يَعْمَلِ السُّوءَ وَلَمْ يُدْرِكْهُ، فَقَالَ: "أَوَ غَيْرَ ذَلِكَ يَا عَائِشَةُ، إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الْجَنَّةَ وَخَلَقَ لَهَا أَهْلًا وَهُمْ فِي أَصْلَابِ آبَائِهِمْ، وَخَلَقَ النَّارَ وَخَلَقَ لَهَا أَهْلًا وَهُمْ فِي أَصْلَابِ آبائهم"
Nabi SAW. diundang untuk mengurusi jenazah seorang anak dari kalangan Ansar. Maka saya (Aisyah) berkata, "Wahai Rosulullah, beruntunglah anak ini, dia menjadi seekor burung pipit surga, tidak pernah melakukan suatu dosa dan tidak pula menjumpainya." Maka Nabi SAW. bersabda: Hai Aisyah, tidaklah demikian keadaannya. Sesungguhnya Allah menciptakan surga dan menciptakan pula penduduknya, sedangkan mereka masih berada di dalam tulang sulbi bapak-bapak mereka. Dan Allah menciptakan neraka serta mencipta­kan pula penduduknya, sedangkan mereka masih berada di dalam tulang sulbi bapak-bapak mereka.
Hadits riwayat Muslim, Ahmad, Abu Daud, Nasai, dan Ibnu Majah.
Mengingat pembahasan dalam masalah ini memerlukan dalil-dalil yang sahih lagi baik — sedangkan orang-orang banyak yang meng­utarakan pendapatnya mengenai masalah ini, padahal mereka tidak mempunyai pengetahuan dari pentasyri' mengenainya—maka sejumlah ulama memakruhkan pembahasan masalah ini.
Hal ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Al-Qosim ibnu Muhammad ibnu Abu Bakar As-Siddiq, Muhammad ibnul Hanafiyah, dan yang lainnya.
Ibnu Hibban di dalam kitab sahihnya telah mengetengahkan sebuah hadits dari Jarir ibnu Hazim; ia pernah mendengar Abu Roja Al-Utaridi mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ibnu Abbas r.a. berkhotbah di atas mimbarnya seraya mengeluarkan hadits berikut, bahwa Rosulullah SAW. pernah bersabda:
"لَا يَزَالُ أَمْرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ مُوَاتِيًا -أَوْ مُقَارِبًا-مَا لَمْ يَتَكَلَّمُوا فِي الوِلْدان والقَدَر".
Perkara umat ini tetap dalam keadaan lancar atau mendekati (kebenaran) selama mereka tidak membicarakan masalah wildan dan takdir.
Ibnu Hibban mengatakan, yang dimaksud dengan wildan ialah anak-anak kaum musyrik. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abu Bakar Al-Bazzar melalui jalur Jarir ibnu Hazm dengan sanad yang sama, kemudian ia mengatakan bahwa hadits ini telah diriwayatkan pula oleh jama'ah melalui Abu Roja, dari Ibnu Abbas secara mauquf.
Nasib Anak-Anak yang Meninggal Sebelum Baligh: Apakah Semua Masuk Surga?
Setiap orang tua tentu berharap anaknya mendapatkan tempat terbaik di akhirat. Namun, bagaimana nasib anak-anak yang meninggal sebelum baligh, terutama yang lahir dari orang tua Muslim dan non-Muslim? Apakah mereka semua masuk surga? Para ulama memiliki berbagai pendapat tentang hal ini. Berikut adalah pembahasan lengkapnya berdasarkan dalil-dalil yang shahih.
Bahasan ini akan dibagi menjadi dua bahasan:Nasib anak-anak Muslim yang meninggal sebelum baligh.
Nasib anak-anak non-Muslim yang meninggal sebelum baligh.
1. Nasib Anak-Anak Muslim yang Meninggal Sebelum Baligh
Nasib anak-anak orang beriman adalah di surga, karena mereka mengikuti jejak orang tua mereka.
Allah Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚكُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur: 21)
HR. An-Nasai, no. 1875. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَمُوتُ بَيْنَهُمَا ثَلَاثَةُ أَوْلَادٍ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ إِلَّا أَدْخَلَهُمَا اللَّهُ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمُ الْجَنَّةَ. قَالَ: يُقَالُ لَهُمْ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ. فَيَقُولُونَ: حَتَّى يَدْخُلَ آبَاؤُنَا. فَيُقَالُ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ.
“Tiada dua orang muslim yang memiliki tiga anak yang meninggal sebelum mencapai usia baligh, kecuali Allah akan memasukkan kedua orang tua tersebut ke dalam surga berkat rahmat-Nya kepada anak-anak mereka. Lalu dikatakan kepada anak-anak itu: ‘Masuklah kalian ke dalam surga.’ Namun mereka berkata: ‘Tidak, hingga orang tua kami masuk terlebih dahulu.’ Maka dikatakan kepada mereka: ‘Masuklah kalian ke dalam surga bersama orang tua kalian.'”
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Adapun anak-anak kaum mukminin, maka tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama sebagaimana yang disebutkan oleh Qadhi Abu Ya’la bin Al-Farra’ Al-Hanbali dari Imam Ahmad, yang mengatakan:
لَا يَخْتَلِفُ فِيهِمْ أَنَّهُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ. وَهَذَا هُوَ الْمَشْهُورُ بَيْنَ النَّاسِ (أَيْ عَامَّةَ الْعُلَمَاءِ) وَهُوَ الَّذِي نَقْطَعُ بِهِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ.
‘Tidak ada perbedaan pendapat bahwa mereka termasuk ahli surga.’ Dan ini adalah pendapat yang masyhur di kalangan masyarakat (yakni mayoritas ulama), serta sesuatu yang kami yakini dengan kepastian, insyaAllah.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3:33)
Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Siapa yang meragukan bahwa anak-anak Muslim berada di surga?”
Beliau juga berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini.” (Hasyiyah Ibnu Qayyim atas Sunan Abi Dawud, 7:83)
Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,
أَجْمَعَ مَنْ يُعْتَدُّ بِهِ مِنْ عُلَمَاءِ الْمُسْلِمِينَ عَلَى أَنَّ مَنْ مَاتَ مِنْ أَطْفَالِ الْمُسْلِمِينَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ مُكَلَّفًا.
“Para ulama yang diakui pendapatnya telah sepakat bahwa anak-anak Muslim yang meninggal dunia adalah penghuni surga, karena mereka belum terbebani taklif (kewajiban syariat).” (Syarh Muslim, 16:207)
Imam Al-Qurthubi berkata bahwa mayoritas ulama berpendapat bahwa mereka di surga, bahkan sebagian ulama menolak adanya perbedaan pendapat dalam hal ini. (At-Tadzkirah, 2:328)
2. Nasib Anak-Anak Non-Muslim yang Meninggal Sebelum Baligh
Terkait nasib anak-anak orang kafir yang meninggal sebelum baligh, para ulama berbeda pendapat menjadi beberapa pandangan:
Pendapat Pertama: Mereka di Surga
Sebagian ulama berpendapat bahwa anak-anak non-Muslim yang meninggal sebelum baligh akan masuk surga. Sebagian lainnya mengatakan bahwa mereka berada di A’raf (tempat antara surga dan neraka), tetapi tetap memiliki akhir yang sama, yaitu masuk surga. Pendapat ini dipegang oleh mayoritas ulama sebagaimana dinukil oleh Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (18/96).
Dalil mereka:
Hadis dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan,
أنه عليه السلام رأى مع إبراهيم عليه السلام أولاد المسلمين وأولاد المشركين
Nabi melihat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama anak-anak Muslim dan anak-anak musyrik. (HR. Bukhari, 6640)
Hadis dari Hassna’ binti Mu’awiyah bahwa Nabi bersabda,
يا رسول الله من في الجنة قال النبي في الجنة والشهيد في الجنة والمولود في الجنة والوئيد في الجنة
“Nabi di surga, syahid di surga, anak-anak kecil di surga, dan anak-anak yang dibunuh secara zalim di surga.” (HR. Ahmad, 5/409). Hadis ini dinilai lemah oleh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami’ (5997).
Pendapat Kedua: Mereka Bersama Orang Tuanya di Neraka
Sebagian ulama berpendapat bahwa anak-anak non-Muslim akan bersama orang tua mereka di neraka. Pendapat ini dinisbatkan kepada Imam Ahmad oleh Qadhi Abu Ya’la, tetapi disalahkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan tegas. (Hasyiyah Ibnu Qayyim atas Sunan Abi Dawud, 7/87)
Dalil mereka:
Hadis dari Salamah bin Qais Al-Asyja’i bahwa ia bertanya kepada Nabi  tentang ibunya yang meninggal di zaman Jahiliyah, dan juga tentang saudara perempuannya yang dikubur hidup-hidup di masa itu. Nabi  menjawab: “Sang ibu yang mengubur dan anak yang dikubur hidup-hidup berada di neraka, kecuali jika sang ibu sempat masuk Islam.” Hadis ini dinilai hasan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya (3/33) dan juga oleh Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (18/120).
Namun, sebagian besar hadis yang menjadi dalil bagi pendapat ini lemah.
Pendapat Ketiga: Berhenti (Tidak Memastikan) Nasib Mereka
Pendapat ini dipegang oleh Hamad bin Zaid, Hamad bin Salamah, Ibnu Mubarak, dan Ishaq bin Rahuyah. Mereka berpendapat bahwa hanya Allah yang mengetahui nasib anak-anak non-Muslim.
Dalil mereka:
عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ، سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ أَوْلَادِ الْمُشْرِكِينَ، فَقَالَ: اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ.
Hadis dari Ibnu Abbas bahwa ketika Nabi  ditanya tentang anak-anak orang musyrik, beliau bersabda: “Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka lakukan seandainya mereka hidup.” (HR. Bukhari, 1383; Muslim, 2660)
Hadis serupa juga diriwayatkan dari Abu Hurairah. (HR. Bukhari, 1384; Muslim, 2659)
Pendapat Keempat: Mereka Menjadi Pelayan di Surga
Sebagian ulama mengatakan bahwa anak-anak non-Muslim akan menjadi pelayan bagi penghuni surga. Namun, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menolak pendapat ini dan mengatakan bahwa tidak ada dasarnya. (Majmu’ Al-Fatawa, 4/279)
Pendapat Kelima: Mereka Akan Diuji di Akhirat
Pendapat ini dipegang oleh mayoritas Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sebagaimana dinukil oleh Al-Asy’ari, Al-Baihaqi, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Pendapat ini juga dipilih oleh Ibnu Katsir.
Dalil mereka:
Hadis dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi  bersabda:
“يُؤْتَى بِأَرْبَعَةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: بِالْمَوْلُودِ، وَالْمَعْتُوهِ، وَمَنْ مَاتَ فِي الْفَتْرَةِ، وَالشَّيْخِ الْفَانِي، كُلُّهُمْ يَتَكَلَّمُ بِحُجَّتِهِ، فَيَقُولُ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لِعُنُقٍ مِنَ النَّارِ: أُبْرُزْ، وَيَقُولُ لَهُمْ: إِنِّي كُنْتُ أَبْعَثُ إِلَى عِبَادِي رُسُلًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ، وَإِنِّي رَسُولُ نَفْسِي إِلَيْكُمْ، اُدْخُلُوا هَذِهِ (أَيْ النَّارَ)، قَالَ: فَيَقُولُ مَنْ كُتِبَ عَلَيْهِ الشَّقَاءُ: يَا رَبِّ، أَنَّى نَدْخُلُهَا وَمِنْهَا كُنَّا نَفِرُّ؟ قَالَ: وَمَنْ كُتِبَ عَلَيْهِ السَّعَادَةُ يَمْضِي فَيَقْتَحِمُ فِيهَا مُسْرِعًا، قَالَ: فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: أَنْتُمْ لِرُسُلِي أَشَدُّ تَكْذِيبًا وَمَعْصِيَةً، فَيَدْخُلُ هَؤُلَاءِ الْجَنَّةَ، وَهَؤُلَاءِ النَّارَ”.
“Pada hari kiamat akan didatangkan empat golongan: anak kecil, orang gila, orang yang hidup di masa fatrah (zaman antara dua nabi), dan orang tua renta. Mereka semua akan mengajukan alasan mereka. Maka Allah akan mengutus seorang utusan yang berkata: ‘Masuklah kalian ke dalam neraka!’ Lalu siapa yang Allah ketahui akan taat, ia akan segera masuk, sedangkan yang Allah ketahui akan membangkang, ia tidak mau masuk. Maka Allah berfirman: ‘Aku lebih tahu siapa yang akan taat kepada-Ku dan siapa yang akan durhaka kepada-Ku.’ Lalu yang taat masuk surga dan yang durhaka masuk neraka.” (HR. Abu Ya’la, 4224. Ada berbagai hadits sebagai penguat disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya).
Dengan demikian, ada kemungkinan sebagian dari mereka masuk surga, sebagaimana dalam hadis Samurah, dan sebagian masuk neraka, sebagaimana dalam hadis Aisyah.
Kesimpulan
Hadis-hadis yang menyebutkan bahwa mereka di surga atau neraka sebenarnya tidak bertentangan dengan pendapat bahwa mereka akan diuji di akhirat. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa, “Bagi mereka yang Allah ketahui akan taat, maka ruh mereka berada di barzakh bersama Ibrahim dan anak-anak Muslim yang wafat dalam keadaan fitrah. Sedangkan bagi mereka yang Allah ketahui akan membangkang, maka urusannya terserah kepada Allah, dan pada hari kiamat mereka akan masuk neraka sebagaimana yang disebutkan dalam hadis ujian di akhirat.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3:33)
وَاللهُ اَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللهِ وَبَرَكَاتُهُ

0 komentar:

Posting Komentar