Rabu, 26 November 2025

KONSEP KESEIMBANGAN ANTARA DUNIA DAN AKHIRAT

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللهِ وَبَرَكَاتُهُ
KONSEP KESEIMBANGAN ANTARA DUNIA DAN AKHIRAT👌
Keseimbangan mempunyai makna yang sangat beragam, tergantung pada konteks dan pada pemberian makna itu sendiri. Keseimbangan berasal dari kata “imbang” sebagaimana terdapat dalam KBBI artinya sama berat, sama kuat, sama banyak, sebanding dan sepadan.
Sedangkan Keseimbangan dalam konteks Islam artinya keseimbangan yang landasan-nya adalah berdasarkan Al-Quran dan Hadis. Ayat-ayat al-Quran apabila diteliti secara seksama terbukti bahwa isinya penuh muatan konsep-konsep keseimbangan. Bahkan konsep keseimbangan dunia akhirat ini menjadi ciri khas yang membedakan agama Islam dengan agama lain. Umat Islam memegang prinsip keseimbangan sebagai karakteristik utama bagi agama mereka. Keseimbangan harus dijalani di dalam hidup karena itu adalah perintah Al-Quran. Keseimbangan dalam konteks ini adalah keseimbangan yang menyeluruh pada semua aspek kehidupan, seperti keseimbangan antara aspek idiologi dan praktis, keseimbangan antara roh dan materi antara akal dan hati, antara dunia dan akhirat, antara hak dan kewajiban, antara individu dan masyarakat dan sebagainya.
Islam mengajarkan bahwa kehidupan dunia adalah ujian bagi manusia. Materialisme tidak boleh menguasai hati manusia sehingga mengabaikan kewajiban spiritual. Namun, Islam tidak mengajarkan untuk meninggalkan dunia sepenuhnya, melainkan untuk memanfaatkan sumber daya dunia demi kebaikan di akhirat. Seperti yang sudah tercantum dalam:
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Qoshosh (28) Ayat 77 (Makkiyyah=286A)
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.
Ayat ini juga menjelaskan bahwa segala sesuatu yang telah diciptakan oleh Allah swt adalah bentuk dari pemenuhan kebutuhan hidup manusia, namun dengan apa yang telah Allah swt. sediakan maka manusia wajib untuk mengelola karunia tersebut sebagai bentuk tanggung jawabnya kepada Allah swt. yakni dengan tidak melakukan kerusakan dimuka bumi untuk pemenuhan kebutuhannya semata.
Maka karakteristik keseimbangan dunia dan akhirat dalam surat al-Qashash ayat 77 berdasarkan tafsir al-Munir mencakup 4 unsur utama yakni: 
1- Mencari kebahagiaan akhirat:
Manusia diperintahkan untuk taat kepada Allah dan rasul-Nya dengan menggunakan harta dan apa yang telah Allah anugerahkan di dunia sebagai bekal untuk meraih kebahagiaan di akhirat.
2- Tidak melupakan dunia:
Sambil mencari bekal akhirat, manusia tidak boleh melupakan bagian mereka dari kenikmatan duniawi.
3- Berbuat baik kepada sesama:
Ayat ini juga menekankan pentingnya berbuat baik kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadanya.
4- Menjaga kelestarian bumi:
Manusia dilarang untuk berbuat kerusakan di muka bumi, karena Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Jadi, mesti kita garis bawahi bahwa seseorang tidak boleh hanya beribadah murni (mahdloh) dan melarang memperhatikan dunia. Berusahalah sekuat tenaga dan pikiran untuk memperoleh harta, dan carilah pahala akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu di dunia, berupa kekayaan dan karunia lainnya, dengan menginfakkan dan menggunakannya di jalan Allah. Akan tetapi pada saat yang sama janganlah kamu lupakan bagianmu dari kenikmatan di dunia dengan tanpa berlebihan. Dan berbuat baiklah kepada semua orang dengan bersedekah sebagaimana atau disebabkan karena Allah telah berbuat baik kepadamu dengan mengaruniakan nikmat-Nya, dan janganlah kamu berbuat kerusakan dalam bentuk apa pun di bagian mana pun di bumi ini, dengan melampaui batas-batas yang telah ditetapkan oleh Allah. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan dan akan memberikan balasan atas kejahatan tersebut. Realisasi dari ajaran ihsan yakni berbuat baik kepada semua pihak disebabkan karena Allah telah berbuat baik kepada manusia dengan segala nikmat-Nya dan dilarang berbuat kerusakan dalam bentuk apapun.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-A'la (87) Ayat 14-19 (Makkiyyah=19A)
قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكّٰىۙ
Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman),
وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهٖ فَصَلّٰىۗ
dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat.
بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَاۖ
Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia,
وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ
padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.
اِنَّ هٰذَا لَفِى الصُّحُفِ الْاُوْلٰىۙ
Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu,
صُحُفِ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى
(yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa.
Ayat tersebut menguraikan keberuntungan dan cara perolehannya. Ayat-ayat di atas ditujukan untuk manusia secara umum dan orang-orang kafir secara khusus bagaikan menyatakan bahwa: Kamu sering kali tidak melakukan perbuatan yang membawa keberuntungan, bahkan kamu senantiasa mengutamakan kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, padahal akhirat lebih baik dengan aneka kenikmatannya yang tidak terlukiskan dan lebih kekal apalagi dibandingkan dengan kehidupan dunia ini. Arti pertama menggambarkan kehidupan dunia adalah kehidupan yang dekat serta dini dan dialami sekarang, sedangkan kehidupan akhirat adalah kehidupan jauh dan yang akan datang. Yang beranggapan bahwa kata dunya terambil dari kata yang berarti hina ingin menggambarkan betapa hina kehidupan dunia ini, khususnya bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Manusia yang hanya memilih kenikmatan adalah mereka yang tergiur oleh kenikmatan dan keindahan yang bersifat sementara.
Dunia, bahkan alam raya seluruhnya, dijadikan Allah swt. sebagai ayat ayat/tanda-tanda keesaan dan kekuasaan-Nya, dan karena Dia yang menciptakan antara lain untuk dijadikan sebagai bukti (ayat/tanda) maka tentunya Dia menjadikannya sangat indah. Allah tidak menginginkan manusia terpukau dan terpaku dalam menikmati keindahan itu. Dalam Al-Qur'an ada puluhan ayat yang memperingatkan tentang hakikat kehidupan duniawi dan sifatnya yang sementara agar keindahannya tidak menghambat perjalanan menuju Tuhan.
Al-Qur'an, ketika menguraikan sifat kesementaraan dunia dan kedekatannya, bukan bermaksud meremehkan kehidupan dunia atau menganjurkan untuk meninggalkan dan tidak memerhatikannya, tetapi mengingatkan manusia akan kesementaraan itu sehingga tidak hanya berusaha memeroleh kenikmatan dan gemerlap duniawi serta mengabaikan kehidupan yang kekal. Hal ini antara lain terbukti dengan anjuran Al-Qur`an menjadikan dunia sebagai sarana memperoleh kebahagiaan akhirat:
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Qoshosh (28) Ayat 77 (Makkiyyah=286A)
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.
Dunia adalah arena kebenaran bagi yang menyadari hakikatnya, ia adalah tempat dan jalan kebahagiaan bagi yang memahaminya. Dunia adalah arena kekayaan bagi yang menggunakannya untuk mengumpul bekal perjalanan menuju keabadian serta aneka pelajaran bagi yang merenung dan memerhatikan fenomena serta peristiwa-peristiwanya. la adalah tempat mengabdi para pecinta Allah, tempat berdoa para malaikat, tempat turunnya wahyu bagi para nabi, dan tempat curahan rahmat bagi yang taat. Jika demikian, ayat 16 ini tidak ditujukan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengambil pelajaran dari peringatan-peringatan Allah, ayat tersebut bukan juga kecaman terhadap mereka yang berusaha menghimpun kebahagiaan dunia dan akhirat, tetapi ditujukan kepada mereka yang mengabaikan kehidupan akhirat atau mementingkan dunia semata-mata.
Kenikmatan dunia mempunyai segi kebaikannya, namun kehidupan di akhirat kelak jauh lebih baik dan lebih kekal.
Pendapat terakhir dapat mengarah kepada pengabaian dunia sama sekali karena, dengan pemahaman seperti itu, seakan-akan kehidupan dunia tidak memiliki segi positif sedikit pun. Walaupun kedua pendapat tersebut dapat dibenarkan dari segi penggunaan bahasa, karena ditemukan dalam al-Qur'an perbandingan antara dunia dan akhirat, pemahaman perbandingan itulah yang lebih tepat untuk dianut.
Setelah ayat yang lalu menjelaskan tentang hakikat kehidupan, ayat selanjutnya menekankan bahwa hal tersebut bukanlah sesuatu yang baru karena sesungguhnya ini benar-benar terdapat juga dalam kitabkitab yang dahulu, yaitu Kitab-kitab Nabi Ibrahim dan Nabi Musa.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-A'la (87) Ayat 18-19 (Makkiyyah=19A)
اِنَّ هٰذَا لَفِى الصُّحُفِ الْاُوْلٰىۙ
Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu,
صُحُفِ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى
(yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa.
Sebagian para ulama menganggap ayat tersebut menunjuk kepada kandungan ayat 14 dan 15 yang berbicara tentang keberuntungan yang diperoleh mereka yang menyucikan dirinya.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-A'la (87) Ayat 14-15 (Makkiyyah=19A)
قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكّٰىۙ
Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman),
وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهٖ فَصَلّٰىۗ
dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat.
Ada juga yang menjadikan isyarat tersebut menunjuk kepada ayat 17 yang menjelaskan kenikmatan, kebaikan dan kekekalan kehidupan akhirat.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-A'la (87) Ayat 17 (Makkiyyah=19A)
وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ
padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.
Ayat ini bermaksud menegaskan bahwa apa yang dikemukakan oleh ayat ayat di atas, bukanlah sesuatu yang baru atau yang hanya khusus diajarkan oleh agama yang dibawa Nabi Muhammad saw., tetapi ia merupakan ajaran para nabi terdahulu, seperti Mûså dan Ibrahîm, bahkan hakikat tersebut tercantum dalam shuhuf kitab-kitab suci mereka. Nabi Muhammad saw. datang untuk mengingatkan dan menyempurnakan agama yang dibawa oleh para Nabi sebelum beliau. Agama Allah dan dalam prinsip pokoknya pada hakikatnya adalah sama, tidak berbeda, yang berbeda hanya pada perinciannya.
Surah al-A'la dimulai dengan perintah mengagungkan Allah dan diakhiri dengan penjelasan tentang kebahagiaan yang menanti mereka yang mengagungkan-Nya serta mengecam dan mengancam mereka yang mengabaikan peringatan-peringatan-Nya.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-A'la (87) Ayat 1-19 (Makkiyyah=19A)
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْاَعْلَىۙ
Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi,
الَّذِيْ خَلَقَ فَسَوّٰىۖ
Yang menciptakan, lalu menyempurnakan (ciptaan-Nya).
وَالَّذِيْ قَدَّرَ فَهَدٰىۖ
Yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk,
وَالَّذِيْٓ اَخْرَجَ الْمَرْعٰىۖ
dan Yang menumbuhkan rerumputan,
فَجَعَلَهٗ غُثَاۤءً اَحْوٰىۖ
lalu dijadikan-Nya (rumput-rumput) itu kering kehitam-hitaman.
سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسٰىٓ ۖ
Kami akan membacakan (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) sehingga engkau tidak akan lupa,
اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۗاِنَّهٗ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفٰىۗ
kecuali jika Allah menghendaki. Sungguh, Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.
وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرٰىۖ
Dan Kami akan memudahkan bagimu ke jalan kemudahan (mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat),
فَذَكِّرْ اِنْ نَّفَعَتِ الذِّكْرٰىۗ
oleh sebab itu berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat,
سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَّخْشٰىۙ
orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran,
وَيَتَجَنَّبُهَا الْاَشْقَىۙ
dan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya,
الَّذِيْ يَصْلَى النَّارَ الْكُبْرٰىۚ
(yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka),
ثُمَّ لَا يَمُوْتُ فِيْهَا وَلَا يَحْيٰىۗ
selanjutnya dia di sana tidak mati dan tidak (pula) hidup.
قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكّٰىۙ
Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman),
وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهٖ فَصَلّٰىۗ
dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat.
بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَاۖ
Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia,
وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ
padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.
اِنَّ هٰذَا لَفِى الصُّحُفِ الْاُوْلٰىۙ
Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu,
صُحُفِ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى
(yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa.
Al-Qur'anul Karim Surat Ali 'imron (3) Ayat 148 (Madaniyyah=200A)
فَاٰتٰىهُمُ اللّٰهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْاٰخِرَةِ ۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ
Maka Allah memberi mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.
Ayat ini menggambarkan sambutan Allah atas permohonan mereka. Mereka sedemikian tulus berdoa dan taat kepada Allah dan rasul mereka, maka karena itu Allah menganugerahi mereka pahala di dunia (kecukupan dan ketenangan batin) dan pahala yang baik di akhirat, yaitu surga serta keridhaan Allah. Hal ini mengisyaratkan bahwa betapa pun baiknya anugerah duniawi, tidak akan sebaik anugerah ukhrawi. Tujuan mereka semata-mata karena Allah swt sehingga anugerah Allah di akhirat lebih sempurna dibanding dengan anugerah-Nya di dunia. Selanjutnya, al-Biqa'imenyimpulkan bahwa tujuan dari kandungan ayat di atas, yakni adanya anugerah ganjaran-duniawi dan ukhrawi adalah untuk menggaris bawahi bahwa hal yang terpenting dan yang harus dimulai pertama kali adalah upaya untuk menghiasi diri dengan kandungan ayatayat yang lalu dan tentu saja memuji umat umat terdahulu merupakan dorongan yang lebih besar kepada umat ini agar menjadi lebih hebat dari umat terdahulu,lebih kukuh, lebih tabah, lebih mendambakan apa yang berada di sisi Allah, dan lebih banyak berzikir karena umat ini adalah umat terbaik di antara umatumat yang diciptakan Allah. 
وَاللهُ اَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللهِ وَبَرَكَاتُهُ

0 komentar:

Posting Komentar