Senin, 29 September 2025

DALIL ISTIDROJ

PENJELASAN TENTANG ISTIDROJ SECARA LUAS
Kata "ISTIDROJ=ٌإِسْتِدْرَاج" secara explisit tidak di sebutkan dalam Al-Qur'anul Karim. Di mana kata "ISTIDROJ=ٌإَسْتِدْرَاج" ini berasal dari bahasa 'arob yang di ambil dari mashdar (Kata dasar) إِسْتِدْرَاجًا dengan fi'illnya َإِسْتَدْرَج. Dalam ilmu nahwu dan shorrof, masdar (ُاْلمَصْدَر) adalah isim (kata benda) yang menunjukkan suatu kejadian atau peristiwa tanpa terikat pada waktu, tempat, atau subjek tertentu, namun mengandung huruf-huruf dari kata kerja (fi'il) asalnya. Dalam kajian ilmu nahwu shorrof, salah satu kaidah keilmuan yang harus di miliki bagi seorang mufassir (orang yang mentafsirkan Al-qur'anul Karim) bab mashdar ini di antaranya di jelaskan dalam bait syair alfiyyah ibnu malik karya ulama besar kita Syaikh Al-'Alim Al-'Allamah Muhammad Jamaluddin ibnu 'Abdillah Ibnu Malik Al-Thoy. Mungkin nanti kapan-kapan kita akan membahas tentang Beliau sebagai seorang ulama yang sangat luar biasa itu.
Di dalam nadhomnya yaitu al-fiyyah ibnu malik di terangkan dalam bab maf'ul muthlaq:

المفعول المطلق

BAB MAF’UL MUTHLAQ

اَلْمَصْدَرُ اسْمُ مَا سِوَى الزَّمَانِ مِنْ ¤ مَدْلُولَيِ الْفِعْلِ كَأَمْنٍ مِنْ أَمِنْ

MASHDAR adalah isim yang selain menunjukkan zaman dari dua penunjukan Fi’il (yakni yang menunjukkan pada huduts = kejadian). Seperti lafazh AMNI masdar dari Fi’il lafazh AMINA

بِمِثْلِهِ أَوْ فِعْلٍ أوْ وَصْفٍ نُصِبْ ¤ وَكَوْنُهُ أَصْلاً لِهذَيْنِ انْتُخِبْ

MASDAR dinashobkan oleh serupanya atau oleh FI’IL atau oleh SHIFAT. Keberadaan MASDAR  dipilih sebagai bentuk asal bagi keduanya ini.

 Sedangkan pengamalan mashdar itu sendiri di jelaskan dalam bab i'malul mashdar:

إعْمَالُ الْمَصْدَرِ

PENGAMALAN MASHDAR

بِفِعْلِهِ الْمَصْدَرَ أَلْحِقْ فِي الْعَمَلْ ¤ مُضَافاً أوْ مُجَرَّداً أوْ مَعَ اَل

Ikutkanlah Mashdar kepada Fi’ilnya di dalam pengamalan. Baik Mashdar tersebut Mudhof atau Mujarrod (tidak mudhof dan tanpa AL), atau bersamaan dengan AL 

إنْ كَانَ فِعْلٌ مَعَ أنْ أوْ مَا يحِلّ ¤ مَحَلَّهُ وَلِاسْمِ مَصْدَرٍ عَمِلْ

Demikian apabila Fi’il bersamaan dengan IN atau MA'A dapat menempati tempat Mashdar yg mengamalinya. Pengamalan ini juga berlaku untuk Isim Mashdar

Jadi lafal "ISTIDROJ=ٌإِسْتِدْرَاج" ini adalah isim mashdar yang fi'il madlinya adalah  َإِسْتَدْرَج mengikuti wazan َاِسْتَفْعَل yang di sebut dengan fi'il tsulatsi mazid sudasy
بِزِيَادَةِهَمْزَةِاْلوَصْلِ وَالسِّيْنِ وَالتَّاءِ فِي اَوَّلِهِ
yaitu dengan tambahan hamzah washol, sin dan ta di bagian awalnya:
اِسْتَدْرَجَ,يَسْتَدْرِجُ,اِسْتِدْرَاجًا’وَمَسْتَدْرَجًا,فَهُوَ مُسْتَدْرِجٌ,وَذَاكَ مُسْتَدْرَجٌ,اِسْتَدْرِجْ,لَاتَسْتَدْرِجْ,مِسْتَدْرَجٌ,مِسْتَدْرَجٌ
Wazannya
اِسْتَفْعَلَ,يَسْتَفْعِلُ,اِسْتِفْعَالًا,وَمَسْتَفْعَلًا,فَهُوَ مُسْتَفْعِلٌ,وَذَاكَ مُسْتَفْعَلٌ,اِسْتَفْعِلْ,لَاتَسْتَفْعِلْ,مِسْتَفْعَلٌ,مِسْتَفْعَلٌ
Jadi fi'il tsulatsi mazid itukan di bagi 3:

وَأَماَّ الثُّلاَثِيُّ الْمَزِيْدُ فِيْهِ.. فَهُوَ عَلَى ثَلاَثَةِ أَقْسَامٍ :

Adapun Tsulatsi Mazid Fih.. ia terbagi atas tiga bagian:

الأَوَّلُ : مَا كَانَ مَاضِيْهِ عَلَى أَرْبَعَةِ أَحْرُفٍ, كَأَفْعَلَ ؛ نَحْوُ أَكْرَمَ يُكْرِمُ إِكْرَامًا. وَفَعَّلَ ؛ نَحْوُ: فَرَّحَ يُفَرِّحُ تَفْرِيْحًا. وَفَاعَلَ ؛ نَحْوُ: قَاتَلَ يُقَاتِلُ مُقَاتَلَةً وَقِتَالاً وَقِيْتَالاَ.

YANG PERTAMA : kalimah yang fi’il madhinya ada empat huruf, seperti wazan أَفْعَلَ AF’ALA ; contoh أَكْرَمَ يُكْرِمُ AKROMA YUKRIMU. Dan wazan فَعَّلَ FA’’ALA ; contoh : فَرَّحَ يُفَرِّحُ تَفْرِيْحًا FARROHA YUFARRIHU TAFRIIHAN. Dan wazan فَاعَلَ FAA’ALA; contoh قَاتَلَ يُقَاتِلُ مُقَاتَلَةً وَقِتَالاً وَقِيْتَالاَ QAATALA YUQAATILU MUQAATALATAN wa QITAALAN wa QIITAALAN.

وَالثَّانِيْ : مَا كَانَ مَاضِيْهِ عَلَى خَمْسَةِ أَحْرُفٍ : إِمَّا فِيْ أَوَّلِهِ التَّاءُ , مِثْلُ : تَفَعَّلَ ؛ نَحْوُ: تَكَسَّرَ يَتَكَسَّرُ تَكَسُّرًا. وَتَفَاعَلَ ؛ نَحْوُ : تَبَاعَدَ يَتَبَاعَدُ تَبَاعُدًا. وَإِمَّا فِيْ أَوَّلِهِ الْهَمْزَةُ , مِثْلُ : اِنْفَعَلَ ؛ نَحْوُ : اِنْقَطَعَ يَنْقَطِعُ اِنْقِطَاعًا. وَافْتَعَلَ ؛ نَحْوُ : اِجْتَمَعَ يَجْتَمِعُ اِجْتِمَاعًا. وَافْعَلَّ ؛ نَحْوُ اِحْمَرَّ يَحْمَرُّ اِحْمِرَارًا.

YANG KEDUA : kalimah yang fi’il madhinya ada lima huruf : baik di awalnya ada huruf Ta, seperti wazan تَفَعَّلَ (TAFA’’ALA) ; contoh : تَكَسَّرَ يَتَكَسَّرُ تَكَسُّرًا (TAKASSARA – YATAKASSARU – TAKASSURAN). Dan wazan تَفَاعَلَ (TAFAA’ALA) ; contoh : تَبَاعَدَ يَتَبَاعَدُ تَبَاعُدًا (TABAA’ADA – YATABAA’ADU – TABAA’UDAN). Atau di awalnya ada huruf hamzah, seperti wazan اِنْفَعَلَ (INFA’ALA) ; contoh : اِنْقَطَعَ يَنْقَطِعُ اِنْقِطَاعًا (INQATHA’A – YANQATHI’U – INQITHAA’AN). Dan wazan افْتَعَلَ (IFTA’ALA) ; contoh : اِجْتَمَعَ يَجْتَمِعُ اِجْتِمَاعًا (IJTAMA’A – YAJTAMI’U – IJTIMAA’AN). Dan wazan افْعَلَّ (IF’ALLA) ; contoh : اِحْمَرَّ يَحْمَرُّ اِحْمِرَارًا (IHMAARA – YAHMARRU – IHMIRAARAN).

وَالثَّالِثُ : مَا كَانَ مَاضِيْهِ عَلَىْ سِتَّةِ أَحْرُفٍ , مِثْلُ : اسْتَفْعَلَ ؛ نَحْوُ : اسْتَخْرَجَ يَسْتَخْرِجُ اسْتِخْرَاجًا. وَافْعَالَّ ؛ نَحْوُ : احْمَارَّ يَحْمَارُّ احْمِيْرَارًا. وَافْعَوْعَلَ ؛ نَحْوُ : اعْشَوْشَبَ يَعْشَوْشَبُ اعْشِيْشَابًا. وَافْعَنْلَلَ ؛ نَحْوُ : اقْعَنْسَسَ يَقْعَنْسِسُ اقْعِنْسَاسًا. وَافْعَنْلَى ؛ نَحْوُ : اسْلَنْقَى يَسْلَنْقِيْ اِسْلِنْقَاءً. وَافْعَوَّلَ ؛ نَحْوُ : اِجْلَوَّذَ يَجْلَوِّذُ اِجْلِوَّاذًا.

YANG KETIGA: kalimah yang Fi’il Madhinya ada enam huruf. Seperti wazan اسْتَفْعَلَ ISTAF’ALA ; contoh : اسْتَخْرَجَ يَسْتَخْرِجُ اسْتِخْرَاجًا ISTAKHRAJA – YASTAKHRIJU – ISTIKHRAAJAN. Dan wazan َافْعَالَّ IF’AALLA ; contoh : احْمَارَّ يَحْمَارُّ احْمِيْرَارًا IHMAARRA – YAHMAARRU – IHMIIRAARAN. Dan wazan افْعَوْعَلَ IF’AU’ALA ; contoh : اعْشَوْشَبَ يَعْشَوْشَبُ اعْشِيْشَابًا I’SYAUSYABA – YA’SYAUSYABU – I’SYIIBAABAN. Dan wazan َافْعَنْلَلَ IF’ANLALA ; contoh : اقْعَنْسَسَ يَقْعَنْسِسُ اقْعِنْسَاسًا IQ’ANSASA – YAQ’ANSISU – IQ’INSAASAN. Dan wazan افْعَنْلَى IF’ANLAA ; contoh : اسْلَنْقَى يَسْلَنْقِيْ اِسْلِنْقَاءً ISLANQAA – YASLANQII – ISLINQAA-AN. Dan wazan افْعَوَّلَ IF’AWWALA ; contoh : اِجْلَوَّذَ يَجْلَوِّذُ اِجْلِوَّاذًا IJLAWWADZA – IJLAWWADZU – IJLIWWAADZAN.
Dalam nadhom maqsud karya Syaikh Ahmad Bin Abdurrohim Ath-Thohthowi
ِفَصْلٌ فِي أَبْوَابِ الثُّلَاثِي الْمَزِيْد
ثُمَّ السُّدَاسِيْ استَفْعَلاَ وَ افْعَوْعَـلاَ (13) وَافْعَــوَّلَ افْعَـنْلَى يَـلِيهِ افْعَنْلَـلاَ
وَافْعَالَ مَا قَدْ صَاحَبَ الَّلاَمَينِ (14) زَيْـدُ الرُّبَاعِـيِّ عَلَـى نَوْعَــيْنِ
Itulah sedikit ulasan dari segi kaidah keilmuan nahwu shorrof yang sangat penting untuk di fahami sebagai bekal seorang mufassir Al-Qur'anul Karim.
Ok, kita kembali ke laptop. Jadi kata "ISTIDROJ=ٌإَسْتِدْرَاج" itu artinya pembiaran, kalau bahasa milenial sekarang sih bisa di katakan jebakan batman.
Syekh Ibnu Athoillah As-Sakandari dalam Al-Hikam:
خِفْ مِنْ وُجُوْدِ إِحْسَانِهِ إِلَيْكَ وَدَوَامِ إِسَاءَتِكَ مَعَهُ أَنْ يَكُوْنَ ذَلِكَ اسْتِدْرَاجاً سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ
“Takutlah pada perlakuan baik Allah kepadamu di tengah durhakamu yang terus-menerus terhadap-Nya. Karena, itu bisa jadi sebuah istidraj, seperti firman-Nya, ‘Kami meng-istidraj-kan mereka dari jalan yang mereka tak ketahui’.”
Sedangkan kalau kita ambil dari asal akar kata  mujarrodnya adalah "Daroja=درج" secara lughoh atau bahasa berarti tangga, meningkat, sedikit demi sedikit, tahap demi tahap, ataupun perlahan-lahan. Sedangkan secara istilah istidroj berarti kenikmatan materi yang diberikan kepada seseorang yang secara lahir semakin bertambah, tetapi kenikmatan yang bersifat batin semakin dikurangi atau dicabut, sementara ia tidak menyadarinya.
Seperti yang di awal kita katakan bahwa kata "ISTIDROJ=ٌإِسْتِدْرَاج" secara explisit tidak di sebutkan dalam Al-Qur'anul Karim tapi di ungkap secara ma'nawiyyah. Namun ada 2 ayat Al-Qur'anul Karim menyebutkan dalam bentuk kalimat fi'il mudlori' dengan dlomir mutakallim بصيغةالجمع للتعظيم yaitu dalam
Yang pertama:
Al-Qur'anul Karim Surat Al-A'rof (7) Ayat 182-183 (Makkiyyah=206A)
وَالَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُوْنَ
Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.
وَاُمْلِيْ لَهُمْ ۗاِنَّ كَيْدِيْ مَتِيْنٌ
Dan Aku akan memberikan tenggang waktu kepada mereka. Sungguh, rencana-Ku sangat teguh.
Seseorang yang sedang diuji dengan istidroj akan mengira bahwa berbagai kenikmatan yang dimiliki adalah kemuliaan dari Allah, padahal Allah sedang menghinakan perlahan-lahan dan bahkan membinasakan.
Al-Qur'anul Karim Surat Ali 'Imran (3) Ayat 178 (Madaniyyah=200A)
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنَّمَا نُمْلِيْ لَهُمْ خَيْرٌ لِّاَنْفُسِهِمْ ۗ اِنَّمَا نُمْلِيْ لَهُمْ لِيَزْدَادُوْٓا اِثْمًا ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ
Dan jangan sekali-kali orang-orang kafir itu mengira bahwa tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka lebih baik baginya. Sesungguhnya tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka hanyalah agar dosa mereka semakin bertambah; dan mereka akan mendapat azab yang menghinakan.
Di dalam kitab Shohihain disebutkan sebuah hadis, bahwa Rosulullah Saw. pernah bersabda:
إِنَّ اللّهَ تَعَالَى لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ
Sesungguhnya Allah Swt. benar-benar memberi tangguh kepada orang yang zalim; hingga manakala Dia mengazabnya, maka ia tidak dapat luput dari siksa-Nya.
Dia selalu berbuat maksiat dan tidak beribadah namun Allah berikan kemewahan dunia. Allah memberikan harta yang berlimpah padahal dia tidak pernah bersedekah. Allah karuniakan rezeki berlipat-lipat padahal jarang sholat, tidak senang pada nasihat ulama, dan terus berbuat maksiat.
Ali Bin Abi Tholib rodiyallahu'anhu berkata :
قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: يَا ابْنَ آدَمَ اُذْكُرْ وَاحْتَرِزْ إِذَا رَأَيْتُ رَبَّكَ يَدِيْمُ عَلَيْكَ نِعْمَتَهُ وَأَنْتَ تُدَاوِمُ عَلَى مَعْصِيَّتِهٖ
“Hai anak Adam ingat dan waspadalah bila kau lihat Tuhanmu terus menerus melimpahkan nikmat atas dirimu sementara engkau terus-menerus melakukan maksiat kepadaNya".
Hidupnya dikagumi, dihormati, padahal akhlaknya rusak, langkahnya diikuti, diteladani dan diidolakan, menjadi icon dan viral di gandrungi serta di elu-elukan oleh semua kalangan masyarakat entah itu di offline lebih-lebih netizen pecandu sosmed dari emak-emak sosialita hingga para bapak-bapak milenial, padahal dia bangga mengumbar dosa dan maksiat. Dia sangat jarang diuji dengan sakit padahal dosa-dosanya menggunung. Tidak pernah diberikan musibah padahal gaya hidupnya penuh jumawa, adigang adigung, adiguno, kerap kali meremehkan sesama, dan angkuh serta juga congkak.
Al-Qur'anul Karim Surat An-Naml (39) Ayat 4 (Makkiyyah=93A)
اِنَّ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِ زَيَّنَّا لَهُمْ اَعْمَالَهُمْ فَهُمْ يَعْمَهُوْنَ ۗ
Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, Kami jadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan mereka (yang buruk), sehingga mereka bergelimang dalam kesesatan.
Allah berikan keluarga yang sehat dan cerdas padahal dia memberi makan dari harta hasil yang haram. Apakah itu hasil korupsi, apakah itu hasil memanfaatkan jabatan dan wewenang
yang di amanatkan kepadanya,duduk di kursi yang di pertuan agung namun menjadikan hukum tumpul keatas tajam kebawah.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Mu'minun (39) Ayat 55-56 (Makkiyyah=118A)
اَيَحْسَبُوْنَ اَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهٖ مِنْ مَّالٍ وَّبَنِيْنَ ۙ
Apakah mereka mengira bahwa Kami memberikan harta dan anak-anak kepada mereka itu (berarti bahwa),
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Mu'minun (39) Ayat 56 (Makkiyyah=118A)
نُسَارِعُ لَهُمْ فِى الْخَيْرٰتِۗ بَلْ لَّا يَشْعُرُوْنَ
Kami segera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? (Tidak), tetapi mereka tidak menyadarinya.
Hidup bahagia penuh canda tawa padahal banyak orang yang dia dholimi. Kariernya terus menanjak padahal banyak hak orang yang diinjak-injak. Semakin tua semakin makmur padahal berkubang dosa sepanjang umur. Itulah yang di namakan "Istidroj", pembiaran (jebakan batman).
Hal itu sudah di gambarkan oleh Allah SWT di dalam firmaNYA
Al-Qur'anul Karim Surat Al-An'am (6) Ayat 44 (Makkiyyah=165A)
فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ اَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍۗ حَتّٰٓى اِذَا فَرِحُوْا بِمَآ اُوْتُوْٓا اَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَاِذَا هُمْ مُّبْلِسُوْنَ
Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin ghoilan dia berkata, telah menceritakan kepada kami Risydin yakni,Iibnu Sa’ad Abul Hajjaj Al-Mahari dari Harmalah bin 'Imron At-Tujibi dari Uqbah bin Muslim dari Uqbah bin Amir dari Nabi Saw. Beliau bersabda;’Jika kalian melihat Allah memberikan dunia kepada seorang hamba pelaku maksiat dengan sesuatu yang ia sukai, maka sesungguhnya itu hanyalah istidroj.’ Kemudian Rosulullah saw. Membacakan ayat ; ‘(Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa)’.
Rosulullah pernah bersabda yang diriwayatkan 'Uqbah bin Amir RA
Hadits Riwayat Ahmad
إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ
Apabila engkau melihat Allah memberi karunia dunia kepada seorang hamba sesuai dengan yang ia inginkan, sementara ia tenggelam dalam kemaksiatan, maka ketahuilah itu hanya istidroj dari-Nya."
Yang kedua:
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Qalam (68) Ayat 44 (Makkiyyah=52A)
فَذَرْنِيْ وَمَنْ يُّكَذِّبُ بِهٰذَا الْحَدِيْثِۗ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُوْنَۙ
Maka serahkanlah kepada-Ku (urusannya) dan orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al-Qur'an). Kelak akan Kami hukum mereka berangsur-angsur dari arah yang tidak mereka ketahui,
“Muhammad bin Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah ,Telah menceritakan kepada kami Buraid bin Abu Burdah, dari Bapaknya, dari AbuMusa, dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda" :Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta 'ala akan menangguhkan siksaan bagiorang yang berbuat zhalim. Apabila Allah telah menghukumnya, maka Dia tidakakan pernah melepaskannya ".Kemudian Rasulullah membaca ayat yangberbunyi: 'Begitulah adzab Tuhanmu, apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat dzalim. Sesungguhnya adzab-Nya itu sangat pedih dan keras.” (QS. Hud:102).33
Terdapat sebuah riwayat dari Umar ra, bahwasanya beliau berkata, ketika kekayaan Kisra diangkut oleh seseorang kehadapan beliau, maka beliau berdo’a:
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu, jangan sampai aku menjadi orang yang dibinasakan secara berangsur-angsur. Karena sesungguhnya aku telah mendengar Engkau berfirman: “Kami akan menghukum mereka secara berangsur-angsur dengan cara yang tidak mereka ketahui”.
Al-Qur'anul Karim Surat As-Saba (34) Ayat 35 (Makkiyyah=54A)
وَقَالُوْا نَحْنُ اَكْثَرُ اَمْوَالًا وَّاَوْلَادًاۙ وَّمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِيْنَ
Dan mereka berkata, “Kami memiliki lebih banyak harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami tidak akan diazab.”
Al-Qur'anul Karim Surat At-Taubah (9) Ayat 55 (Madaniyyah=129A)
فَلَا تُعْجِبْكَ اَمْوَالُهُمْ وَلَآ اَوْلَادُهُمْ ۗاِنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ اَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كٰفِرُوْنَ
Maka janganlah harta dan anak-anak mereka membuatmu kagum. Sesungguhnya maksud Allah dengan itu adalah untuk menyiksa mereka dalam kehidupan dunia dan kelak akan mati dalam keadaan kafir.
Seperti yang disebutkan dalam sya’ir:
“Kalau engkau hendak membanggakan kekayaan, tidaklah ada # kekayaan yang melebihi amal yang sholih.”
Al-Qur'anul Karim Surat An-Nahl (16) Ayat 55 (Makkiyyah=128A)
لِيَكْفُرُوْا بِمَآ اٰتَيْنٰهُمْۗ فَتَمَتَّعُوْاۗ فَسَوْفَ تَعْلَمُوْنَ
Biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; bersenang-senanglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya).
Al-Qur'anul Karim Surat Az-Zumar (39) Ayat 49-50 (Makkiyyah=75A)
فَاِذَا مَسَّ الْاِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَانَاۖ ثُمَّ اِذَا خَوَّلْنٰهُ نِعْمَةً مِّنَّاۙ قَالَ اِنَّمَآ اُوْتِيْتُهٗ عَلٰى عِلْمٍ ۗبَلْ هِيَ فِتْنَةٌ وَّلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ
Maka apabila manusia ditimpa bencana dia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan nikmat Kami kepadanya dia berkata, “Sesungguhnya aku diberi nikmat ini hanyalah karena kepintaranku.” Sebenarnya, itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
قَدْ قَالَهَا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَمَآ اَغْنٰى عَنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
Sungguh, orang-orang yang sebelum mereka pun telah mengatakan hal itu, maka tidak berguna lagi bagi mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Humazah (104) Ayat 1-3 (Makkiyyah=9A)
وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍۙ, ۨالَّذِيْ جَمَعَ مَالًا وَّعَدَّدَهٗۙ, يَحْسَبُ اَنَّ مَالَهٗٓ اَخْلَدَهٗۚ
Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.
كَلَّا لَيُنْۢبَذَنَّ فِى الْحُطَمَةِۖ, وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الْحُطَمَةُ ۗ, نَارُ اللّٰهِ الْمُوْقَدَةُۙ
Sekali-kali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam (neraka) Hutamah. Dan tahukah kamu apakah (neraka) Hutamah itu? (Yaitu) api (azab) Allah yang dinyalakan,
الَّتِيْ تَطَّلِعُ عَلَى الْاَفْـِٕدَةِۗ, اِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُّؤْصَدَةٌۙ, فِيْ عَمَدٍ مُّمَدَّدَةٍ
yang (membakar) sampai ke hati. Sungguh, api itu ditutup rapat atas (diri) mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.
Ciri-ciri istidraj dari Allah SWT:
1. Keimanan dan ibadah kita kepada Allah SWT sedang menurun. Namun kesenangan dan kenikmatan duniawi terasa semakin melimpah dan mudah didapat. Apabila kamu menyaksikan pemberian Allah SWT dari materi dunia atas perbuatan dosa menurut kehendak-Nya, maka sesungguhnya itu adalah uluran waktu dan penangguhan tempo belaka berupa istidroj.
2. Terus melakukan kemaksiatan tetapi kesenangan dan kesuksesan justru semakin melimpah.
3. Semakin kikir justru harta semakin melimpah. Celakalah bagi setiap pengumpat lagi pencela yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung (harta) lalu dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Ia mengira harta yang ditumpuknya itu akan mengukuhkan posisi dan kekuasaannya di muka bumi. Maka Allah SWT akan menjadikan hal itu sebagai istidroj dengan sengaja membuatnya makin kikir dan makin bertambah harta kekayaannya.
4. Merasa hidupnya begitu tenang dan tenteram meskipun tidak pernah menjalankan ibadah dan sering melakukan maksiat.
5. Merasa segala kenikmatan yang didapatkan di dunia semata karena usaha sendiri tanpa campur tangan Allah SWT.
6. Jarang terkena penyakit walaupun sering melakukan perbuatan maksiat dan lalai beribadah.
7. Jarang ditimpa musibah meskipun tidak pernah mengingat Allah SWT.
Rosulullah SAW bersabda
Hadits Riwayat Tirmidzi
مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَاتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَاتُهُ فَهُوَ الْمُؤْمِنُ
"Barangsiapa yang merasa bergembira karena amal kebaikannya dan sedih karena amal keburukannya, maka ia adalah seorang yang beriman".

0 komentar:

Posting Komentar