Sabtu, 06 Desember 2025

KONSEP AKAL DAN FIKIRAN DALAM AL-QUR'ANUL KARIM

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللهِ وَبَرَكَاتُهُ
KONSEP AKAL DAN FIKIRAN DALAM AL-QUR'ANUL KARIM👌
Dalam Al-Qur'an Karim, akal dan pikiran adalah karunia agung yang membedakan manusia, menjadi landasan untuk memahami wahyu, merenungi alam semesta, mengambil pelajaran, dan menghindari kesesatan moral, dengan banyak istilah seperti tafakkur, tadabbur, dan ta'aqqul yang mendorong pemikiran kritis dan rasional untuk mencapai kebenaran dan kemajuan, bukan hanya pemikiran pasif. Al-Qur'anul Karim secara aktif mengajak manusia untuk berpikir (afala ta'qilun, tafakkaru) dan mencela mereka yang tidak menggunakan akalnya, mengaitkan pemikiran dengan keimanan dan takwa.
KONSEP AKAL DAN FIKIRAN DALAM AL-QUR'ANUL KARIM
Akal sebagai Organ Pengetahuan:
Akal (al-'aql) adalah organ spiritual vital yang memungkinkan manusia memahami makna, mengkonseptualisasikan, dan memperoleh pengetahuan untuk sukses di dunia, serta merenungkan kebesaran Allah.
Pikiran sebagai Aktivitas:
Al-Qur'anul Karim menggunakan berbagai kata kerja untuk mendorong aktivitas berpikir, seperti:
- Tafakkur: Berpikir mendalam/merenung.
- Tadabbur: Merenungkan dengan seksama.
- Ta'aqqul: Penerapan pikiran yang benar.
- Tadzakkur: Mengingat.
- I'tibar: Mengambil pelajaran.
Fungsi Akal:
Memahami Wahyu:
Dorongan untuk Berpikir
Ajakan Langsung:
Banyak ayat diakhiri dengan ajakan berpikir, seperti "La'allakum ta'qilun" (agar kamu berakal).
Kritik terhadap Tidak Berpikir:
Allah mencela kaum yang tidak menggunakan akalnya, menunjukkan bahwa berpikir adalah keharusan, bukan pilihan.
Proses Berpikir Komunal:
Penggunaan kata kerja jamak (ya'qilun) menunjukkan bahwa berpikir adalah anjuran kolektif bagi seluruh umat beriman.
Menjelaskan larangan-larangan moral dengan penutup "La'allakum ta'qilun".
Al-Qur'anul Karim Surat Al-An'am (6) Ayat 151 (Makkiyyah=165A)
قُلْ تَعَالَوْا اَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ اَلَّا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًاۚ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَوْلَادَكُمْ مِّنْ اِمْلَاقٍۗ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَاِيَّاهُمْ ۚوَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَۚ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَقِّۗ ذٰلِكُمْ وَصّٰىكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu. Jangan mempersekutukan-Nya dengan apa pun, berbuat baik kepada ibu bapak, janganlah membunuh anak-anakmu karena miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; janganlah kamu mendekati perbuatan yang keji, baik yang terlihat ataupun yang tersembunyi, janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu mengerti.
Menegaskan azab bagi mereka yang tidak berakal (ulul albab).
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Maidah (5) Ayat 10 (Madaniyyah=120A)
وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَكَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَآ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْجَحِيْمِ
Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka.
Menyatakan bahwa kisah-kisah dalam Al-Qur'an mengandung pengajaran bagi orang-orang berakal.
Al-Qur'anul Karim Surat Yusuf (12) Ayat 111 (Makkiyyah=111A)
لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur'an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
Tafakkur adalah istilah arab untuk berfikir. Menurut Al-fairuzabadi salah seorang lenguis muslim awal terkemuka, Al-Fikr (pikiran) adalah refleksi atas sesuatu; Al-fakr adalah bentuk jamaknya. Menurut pandangannya, fikr dan tafakkur adalah sinonim dan keduanya memiliki makna yang sama. Jadi tafakkur adalah suatu pemikiran manusia yang berbeda-beda dan berdasarkan kedalaman iman yang ada di dalam diri manusia.
Secara bahasa (morfologis), kata Tafakkur yang dasar kata فكر -berasal dari akar kata tafakkara, yatafakkaru, tafakkuran dengan kata dasar fakkara, seperti perkataan orang arab : فكر في الأمر
telah memikir ia akan suatu ,
yang mempunyai arti yang sama dengan perkataan :
تفكر في الأمر
Tafakkur juga dapat di artikan dengan ta’ammal artinya pertimbangan, memberi perhatian, memikir, mengkaji, dan tazakkara yang berarti mengingati. Dalam hal ini kemampuan tafakkur menjadi salah satu ciri paling penting, bukan hanya membedakan manusia dengan makhluk lain, tetapi juga membuatnya memenuhi syarat melaksanakan peran penting sebagai pembangunan peradaban dan pembawa misi. Makna tafakkur didekati dari sudut bahasa. Maksudnya, menganalisis makna tafakkur dalam Al-Quranul Karim dan implikasi sosial dari makna ini. Di sisi lain pemahaman mendalam atas pandangan Al-Quran Karim tentang tafakkur bukan hanya sebagai kemampuan manusia, melainkan juga sebagai agen berpikir kreatif dan perkembangan dinamik manusia. Dalam Al-Quran Karim kata tafakkur ini, dengan sejumlah kata tuntunannya terungkap sebanyak 17 kali, 17 ayat dalam 12 surat, 12 kali terungkap dalam ayat Makkiah, 5 kali dalam ayat Madaniah. Ayat menyuruh manusia bertafakkur memikirkan (tafakkarun) terhadap Al-Quran Karim dan alam semesta, serta menyuruh manusia mencari ilmu pengetahuan, Tidak sedikit ayat Al-Quran Karim yang menganjurkan manusia supaya berfikir, merenungkan penciptaan Allah yang maha kuasa dan bijaksana. Adapun ayat-ayat tafakkur tersebut di dalam Al-Quran Karim.
Lafaz tafakur (dan derivasinya seperti tafakkaruun, tafakkaru, dll.) tidak secara eksplisit disebut berkali-kali dalam jumlah pasti, namun perintah untuk merenung (tafakur) sangat sering diulang, mengajak umat untuk merenungi ciptaan Allah, nikmat-Nya, dan ayat-ayat-Nya,
Al-Qur'anul Karim Surat Ali 'imron (3) Ayat 190-191 (Madaniyyah=200A)
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.
1- Tafakkur: Berpikir mendalam/merenung.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Baqoroh (2) Ayat 219 (Madaniyyah=286A)
يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِۗ قُلْ فِيْهِمَآ اِثْمٌ كَبِيْرٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِۖ وَاِثْمُهُمَآ اَكْبَرُ مِنْ نَّفْعِهِمَاۗ وَيَسْـَٔلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَ ەۗ قُلِ الْعَفْوَۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَۙ
Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khomar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.” Dan mereka menanyakan kepadamu (tentang) apa yang (harus) mereka infakkan. Katakanlah, “Kelebihan (dari apa yang diperlukan).” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkan,
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Baqoroh (2) Ayat 266 (Madaniyyah=286A)
اَيَوَدُّ اَحَدُكُمْ اَنْ تَكُوْنَ لَهٗ جَنَّةٌ مِّنْ نَّخِيْلٍ وَّاَعْنَابٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۙ لَهٗ فِيْهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِۙ وَاَصَابَهُ الْكِبَرُ وَلَهٗ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَاۤءُۚ فَاَصَابَهَآ اِعْصَارٌ فِيْهِ نَارٌ فَاحْتَرَقَتْ ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَ
Adakah salah seorang di antara kamu yang ingin memiliki kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, di sana dia memiliki segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tuanya sedang dia memiliki keturunan yang masih kecil-kecil. Lalu kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, sehingga terbakar. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkannya.
Al-Qur'anul Karim Surat Ali 'imron (3) Ayat 190-191 (Madaniyyah=200A)
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,
Al-Qur'anul Karim Surat Ali 'imron (3) Ayat 191 (Madaniyyah=200A)
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-An'am (6) Ayat 50 (Makkiyyah=165A)
قُلْ لَّآ اَقُوْلُ لَكُمْ عِنْدِيْ خَزَاۤىِٕنُ اللّٰهِ وَلَآ اَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَآ اَقُوْلُ لَكُمْ اِنِّيْ مَلَكٌۚ اِنْ اَتَّبِعُ اِلَّا مَا يُوْحٰٓى اِلَيَّۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الْاَعْمٰى وَالْبَصِيْرُۗ اَفَلَا تَتَفَكَّرُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku.” Katakanlah, “Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat? Apakah kamu tidak memikirkan(nya)?”
Al-Qur'anul Karim Surat Al-A'rof (7) Ayat 176 (Makkiyyah=206A)
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنٰهُ بِهَا وَلٰكِنَّهٗٓ اَخْلَدَ اِلَى الْاَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوٰىهُۚ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ الْكَلْبِۚ اِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ اَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْۗ ذٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَاۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ
Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-A'rof (7) Ayat 184 (Makkiyyah=206A)
اَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوْا مَا بِصَاحِبِهِمْ مِّنْ جِنَّةٍۗ اِنْ هُوَ اِلَّا نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ
Dan apakah mereka tidak merenungkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak gila. Dia (Muhammad) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang jelas.
Al-Qur'anul Karim Surat Yunus (10) Ayat 24 (Makkiyyah=109A)(Madaniyyah=40, 94, 95)
اِنَّمَا مَثَلُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا كَمَاۤءٍ اَنْزَلْنٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ فَاخْتَلَطَ بِهٖ نَبَاتُ الْاَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالْاَنْعَامُ ۗحَتّٰٓى اِذَآ اَخَذَتِ الْاَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ اَهْلُهَآ اَنَّهُمْ قٰدِرُوْنَ عَلَيْهَآ اَتٰىهَآ اَمْرُنَا لَيْلًا اَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنٰهَا حَصِيْدًا كَاَنْ لَّمْ تَغْنَ بِالْاَمْسِۗ كَذٰلِكَ نُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, hanya seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman bumi dengan subur (karena air itu), di antaranya ada yang dimakan manusia dan hewan ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan berhias, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya), datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman)nya seperti tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang yang berpikir.
Al-Qur'anul Karim Surat Ar-Ro'du (13) Ayat 3 (Makkiyyah=43A)
وَهُوَ الَّذِيْ مَدَّ الْاَرْضَ وَجَعَلَ فِيْهَا رَوَاسِيَ وَاَنْهٰرًا ۗوَمِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ جَعَلَ فِيْهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
Dan Dia yang menghamparkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai di atasnya. Dan padanya Dia menjadikan semua buah-buahan berpasang-pasangan; Dia menutupkan malam kepada siang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.
Al-Qur'anul Karim Surat An-Nahl (16) Ayat 11 (Makkiyyah=128A)
يُنْۢبِتُ لَكُمْ بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُوْنَ وَالنَّخِيْلَ وَالْاَعْنَابَ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
Dengan (air hujan) itu Dia menumbuhkan untuk kamu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.
Al-Qur'anul Karim Surat An-Nahl (16) Ayat 44 (Makkiyyah=128A)
بِالْبَيِّنٰتِ وَالزُّبُرِۗ وَاَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ اِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ
(mereka Kami utus) dengan membawa keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan Ad-Dzikr (Al-Qur'an) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan,
Al-Qur'anul Karim Surat An-Nahl (16) Ayat 69 (Makkiyyah=128A)
ثُمَّ كُلِيْ مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسْلُكِيْ سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًاۗ يَخْرُجُ مِنْ بُطُوْنِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ ۖفِيْهِ شِفَاۤءٌ لِّلنَّاسِۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).” Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.
Al-Qur'anul Karim Surat Ar-Rum (30) Ayat 8 (Makkiyyah=60A)
اَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوْا فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ ۗ مَا خَلَقَ اللّٰهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَآ اِلَّا بِالْحَقِّ وَاَجَلٍ مُّسَمًّىۗ وَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ النَّاسِ بِلِقَاۤئِ رَبِّهِمْ لَكٰفِرُوْنَ
Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar mengingkari pertemuan dengan Tuhannya.
Al-Qur'anul Karim Surat Ar-Rum (30) Ayat 21 (Makkiyyah=60A)
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.
Al-Qur'anul Karim Surat As-Saba (34) Ayat 46 (Makkiyyah=54A)
قُلْ اِنَّمَآ اَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍۚ اَنْ تَقُوْمُوْا لِلّٰهِ مَثْنٰى وَفُرَادٰى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوْاۗ مَا بِصَاحِبِكُمْ مِّنْ جِنَّةٍۗ اِنْ هُوَ اِلَّا نَذِيْرٌ لَّكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيْدٍ
Katakanlah, “Aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja, yaitu agar kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian agar kamu pikirkan (tentang Muhammad). Kawanmu itu tidak gila sedikit pun. Dia tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras.”
Al-Qur'anul Karim Surat Az-Zumar (39) Ayat 42 (Makkiyyah=75A)
اَللّٰهُ يَتَوَفَّى الْاَنْفُسَ حِيْنَ مَوْتِهَا وَالَّتِيْ لَمْ تَمُتْ فِيْ مَنَامِهَا ۚ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضٰى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْاُخْرٰىٓ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّىۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Jatsiyah (45) Ayat 13 (Makkiyyah=37A)
وَسَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مِّنْهُ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Hasyr (59) Ayat 21 (Madaniyyah=120A)
لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ۗوَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ
Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Mudatsir (74) Ayat 18 (Madaniyyah=56A)
اِنَّهٗ فَكَّرَ وَقَدَّرَۙ
Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya),
Banyak ayat Al-Qur’an dan hadits yang menganjurkan dan menjelaskan keutamaan tafakur. Ali Imran ayat 190 menyebut keutamaan orang yang berzikir dan bertafakur dalam situasi apa pun, baik dalam duduk, berdiri, maupun berbaring.
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
“Mereka adalah orang yang berzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring. Mereka merenungkan penciptaan langit dan bumi,” (Ali Imran ayat 190).
Syekh M Nawawi Banten mengatakan bahwa para ulama mencoba memberikan penjelasan perihal jenis tafakur yang disinggung oleh ayat tersebut. Menurut para ulama, tafakur itu terdiri atas lima jenis.
قال جمهور العلماء التفكر على خمسة أوجه
“Mayoritas ulama menyebut lima jenis tafakur,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 6).
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memasukkan kata “tafakur” dengan makna renungan, perenungan, perihal merenung, memikirkan, menimbang dengan sungguh-sungguh, dan pengheningan cipta. Adapun lima jenis tafakur yang dikutip oleh Syekh M Nawawi Banten dari mayoritas ulama adalah sebagai berikut:
Pertama, tafakur dalam rangka merenungi ayat-ayat Allah. Dalam tafakur ini, seseorang harus bertawajuh dan meyakininya.
Kedua, tafakur dalam rangka merenungi nikmat-nikmat Allah. Tafakur ini dapat melahirkan mahabbah atau cinta pada diri seseorang kepada-Nya.
Ketiga, tafakur dalam rangka merenungi janji-janji Allah. Tafakur ini dapat menyalakan atau menambah semangat beramal saleh di hati seseorang.
Keempat, tafakur dalam rangka merenungi peringatan Allah. Tafakur ini dapat melahirkan rasa takut di hati seseorang kepada (siksa)-Nya.
Kelima, tafakur dalam rangka merenungi kelalaian diri dalam menjalankan perintah-Nya. Tafakur ini dapat menumbuhkan rasa malu di hati seseorang. Menanggapi poin kelima, Syekh M Nawawi Banten mengutip satu hikmah Syekh Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam-nya ketika seseorang tidak lagi merasa malu atas kelalaiannya dalam menjalankan perintah Allah.
من علامات موت القلب عدم الحزن على ما فاتك من الموافقات وترك الندم على ما فعلته من وجود الزلات
“Salah satu tanda kematian batin adalah ketiadaan rasa sedih pada dirimu atas perbuatan taat yang luput dan ketiadaan rasa sesal atas kesalahan yang kaulakukan.”
Selain hikmah ini, Syekh M Nawawi Banten juga mengutip hikmah lain dari Al-Hikam yang terjemahannya, “Rasa sedih atau rasa sesal atas luputnya perintah Allah di saat ini atau di masa lalu tanpa disertai semangat perbaikan diri di masa mendatang adalah satu ciri keterpedayaan.”
Hikmah yang dimaksud oleh Syekh M Nawawi Banten adalah sebagai berikut:
الحزن على فقدان الطاعة مع عدم النهوض إليها من علامات الاغترار
Semua uraian ini merupakan upaya ulama dalam memahami tafakur dengan berbagai jenisnya.

Istilah Terkait Tafakkur Di dalam Al Quran terdapat banyak istilah yang berkaitan dengan kegiatan berpikir (tafakkur). Istilah-istilah tersebut dapat dikategorikan menjadi dua kelompok: 1. Istilah yang berkaitan dengan alat yang digunakan untuk berpikir 1) Al-'aqlu (العقل :( Istilah yang secara jelas dan langsung menunjuk pada alat yang digunakan untuk tafakkur adalah al-'aql (pikiran). Kata al-'aql adalah bentuk masdar dari kata kerja 'aqala (عقل ,(yaitu, 'aqala - ya'qilu -'aqlan, yang berarti pikiran atau kecerdasan.10 Al-'aql juga menyampaikan makna al-hijr (الحجر (atau al-nuhā (النحي ,(yang menunjukkan kecerdasan.11 Kata kerja 'aqala berarti mengikat atau memikat, sehingga seseorang yang menggunakan kecerdasannya adalah seseorang yang memikat atau menahan keinginannya.12 Kata 'aql muncul 49 kali dalam Al-Qur'an, semuanya dalam bentuk kata kerja. Kata ini muncul sekali dalam Bahasa Indonesia: kala lampau, sedangkan contoh-contoh yang tersisa (48 kali) adalah kala sekarang, sering dikaitkan dengan penanda jamak wau, seperti dalam bentuk ta'qilūn atau ya'qilūn. Kata kerja ta'qilūn muncul 24 kali dan ya'qilūn 22 kali, sedangkan 'aqalū, na'qilu, dan ya'qilu masing-masing muncul sekali.13 2) Al-qalb (القلب :(Al-qalb berasal dari kata qalaba, yang berarti mengubah, menggeser, atau memutar. Bentuk jamaknya adalah qulūb, yang berarti hati.14 Menurut Imam Al-Ghazali, Al-qalb memiliki dua makna: secara fisik, sebagai segumpal daging di dada yang berisi darah yang menopang kehidupan, sering disebut sebagai hati; dan secara metaforis, sebagai hakikat seseorang yang mampu memahami dan berakal budi.15 3) Fu'ād: Selain al-'aql (intelek) dan Al-qalb (hati), istilah lain yang ditujukan kepada alat yang digunakan dalam tafakkur adalah fu'ād, yang bentuk jamaknya adalah af'idah. Secara linguistik, fu'ād juga berarti hati. Dalam Al-Qur'an, akal sebagai alat berpikir terkadang disebut fu'ād, baik dalam bentuk tunggal maupun jamak. Istilah ini merupakan bagian dari tiga serangkai instrumen utama untuk memperoleh pengetahuan, yaitu as-sam'u (pendengaran), al-basharu (penglihatan), dan fu'ād (hati), sebagaimana dirujuk dalam QS Al-Isra'/17:36. Contoh penggunaan kata af'idah dapat diamati dalam QS An-Nahl/16:78. Secara linguistik, fu'ād berasal dari kata fa'ada, yaf'adu, fa'dan, yang dalam kamus al-Munawwir berarti "menyerang hati" atau "mempengaruhi hati". 16 Pada dasarnya, al-fu'ād memiliki makna yang sama dengan Al-qalb, Namun, sebagaimana dicatat oleh al-Raghib al-Asfahani, fu'ād di sini berkonotasi sesuatu yang bersinar atau menerangi. Istilah ini terutama digunakan untuk menggambarkan wadah pengetahuan dan kesadaran yang stabil.17 Dalam Al-Qur'an, fu'ād disebutkan 16 kali dalam berbagai formulasi: tiga kali sebagai fu'ād, dua kali sebagai fu'ādaka, delapan kali sebagai af'idah, dan tiga kali sebagai af'idatahum.18 Penyebutan gabungan sam'u (pendengaran), abṣār (penglihatan), dan af'idah (hati) muncul dalam beberapa surah, yang jumlahnya tujuh kali. Dalam konteks tertentu, dalam Al-Qur'an, Al-qalb digunakan secara bergantian dengan fu'ād, seperti yang terlihat dalam QS Al-Baqarah/2:7. 4) Lubb: Dalam Al-Qur'an, istilah 'aql terkadang disebut dengan istilah lain, lubb. Istilah ini muncul dalam frasa ulū al-albāb, menunjukkan sinonim dengan al-'aql, Al-qalb,dan fu'ād. Kata lubb muncul 16 kali19 dalam 10 surah Al-Qur'an, dengan sembilan kali muncul dalam surah Makkah (makiyyah) dan tujuh kali dalam surah Madinah (madaniyyah). Di antara penyebutan di Madinah, empat kali dalam bentuk panggilan (nidā'), khususnya dalam QS al-Baqarah/2:179, 197; QS al-Mā'idah/5:100; dan QS aṭ-Ṭalāq/65:10-11. Istilah Albāb adalah bentuk jamak dari lubb, yang secara harfiah berarti akal dan hati. Lubb pada dasarnya menandakan hakikat atau inti, yang mencerminkan komponen-komponen penting dalam diri manusia. Bentuk kata kerjanya, labuba, berarti menjadi bijaksana atau cerdas.20 Lubb menunjukkan intelek yang murni atau bebas dari kotoran atau cacat.21 Dalam Tafsir al-Mishbah, M. Quraish Shihab22 menjelaskan bahwa al-Albāb mewakili hakikat sesuatu. Misalnya, kacang memiliki kulit yang membungkus isinya, yang disebut lub. Oleh karena itu, ulu al-Albāb merujuk pada mereka yang memiliki intelek murni, tidak terhalang oleh kulit apa pun, yaitu kabut gagasan yang dapat menimbulkan kebingungan dalam berpikir.

5) Al-Abṣār, an-nuhā, dan al-ḥijr: Selain istilah al-'aqlu, Al-qalbu, fu'ād, dan lubb, Al-Qur'an terkadang menggunakan ungkapan lain untuk menggambarkan 'aql, termasuk al-abṣār, an-nuhā, dan al-ḥijr. Al-Abṣār adalah bentuk jamak dari baṣar, yang berarti penglihatan, pemahaman, dan mata. Kata kerjanya baṣara-yabṣuru-baṣaran berarti mengetahui, memahami, melihat.23 Dalam Al-Qur'an, al-Abṣār merujuk kepada 'aql, yang digunakan dalam frasa ulū al-Abṣār, yang menunjukkan mereka yang berakal atau memiliki wawasan,24 disebutkan dalam berbagai bab termasuk Āli Imrān/3:13, an-Nūr/24:44, ṣad/38:45, dan alḤasyr/59:2. An-nuhā adalah bentuk jamak dari nuhyah, istilah lain untuk akal atau intelek, yang berasal dari kata kerja nahā-yanhā-nahyan, yang berarti melarang atau mencegah.25 Istilah ini dinamakan demikian karena akal mencegah seseorang melakukan tindakan yang tidak pantas dan juga dikenal sebagai "akal yang mengikat," yang menahan individu dari melakukan perbuatan yang tidak layak.26 Istilah ini disebutkan dalam Al-Qur'an dua kali, keduanya dalam surat Ṭāhā. Terakhir, al-ḥijr, yang berasal dari ḥajara - yaḥjuru - ḥajran, berarti mencegah atau melarang. Al-ḥijr juga disebut sebagai intelek, karena memungkinkan individu untuk menahan diri dari mengikuti keinginan dasar.27 Istilah ini muncul dalam surat al-Fajr, ayat 5. ر ْ ِحج ِِذي ْ ل ٌ م سَ َ ق َ ِلك ٰ ْي ذ ِ ف ْ ل َ ه “Apakah tidak ada dalam [semua] itu sumpah [yang cukup] bagi orang yang berakal?”2. Istilah-Istilah Terkait dengan Aktivitas Berpikir Ada beberapa istilah dalam Al-Qur'an yang dapat dikategorikan dalam tema ini, termasuk: 1) Al-Ra'yu (الرأي :(Istilah al-Ra'yu (الرأي (atau al-Rāyah (الراية (berasal dari ra'a (رأي ,(yang berarti melihat dan berpikir. Menurut kamus Munjid, ra'a (رأي ( menyiratkan melihat dengan mata disertai dengan pikiran. Di sisi lain, al-Rāyah (الراية (menunjukkan aktivitas mengetahui, baik melalui indera, imajinasi, pikiran, atau perasaan. Al-Ra'yu juga menyampaikan konsep mencapai kesimpulan tertentu antara dua hal.28 Dengan demikian, pengetahuan tentang sesuatu yang tidak terlihat tidak termasuk dalam kategori pendapat (al-Ra'yu). Istilah al-Ra'yu, yang mencakup keduanya persepsi indra dan hati, dicontohkan dalam QS alAn'am/6:76-77. 2) Adh-Dhikru ( الذكر :(Adh-Dhikru (الذكر (merupakan bentuk infinitif dari kata kerja dhakara (ذكر ,( artinya menyebutkan atau mengingat.29 Menyebut dilakukan dengan lidah, dan mengingat dengan hati. Ar-Raghib al-Asfahani membedakan dzikir menjadi dua jenis: dzikir bi Al-qalb (berpikir dengan hati) dan dzikir bi al-lisan (mengingat dengan lidah). Lebih lanjut beliau menekankan bahwa masing-masing mengandung arti proses mengingat apa yang telah dilupakan dan mengingat untuk memahami ilmu atau gagasan baru.30 Menurut Yusuf al-Qardhawi,31 tadhakkur mewakili fungsi tertinggi akal, sedangkan dhākirah (ingatan) adalah tempat penyimpanan ilmu dan informasi yang digunakan manusia sesuai kebutuhan. Seseorang yang kehilangan ingatan secara efektif telah kehilangan dirinya sendiri, karena mereka tidak dapat mengingat identitas dan riwayat hidup mereka.Perbedaan antara tafakkur dan tadhakkur adalah bahwa tafakkur dilakukan untuk menghasilkan pengetahuan baru, sedangkan tadhakkur dilakukan untuk meninjau kembali informasi dan pengetahuan yang diperoleh sebelumnya. 3) As-Sam'u (السمع :(Secara linguistik, as-sam'u berarti mendengar dengan telinga, namun dalam kajian Al-Qur'an, ia juga menandakan aktivitas mendengarkan dengan pemahaman dan ketaatan. Indra dasar pendengaran disebutkan dalam QS al-Maidah/5:42. Sementara itu, as-sam'u yang mencakup pemahaman dan ketaatan dicontohkan dalam QS al-Baqarah/2:285. 4) Al-Basharu (البصر :(Istilah al-basharu (البصر (berasal dari baṣara - yabṣuru - baṣaran, yang berarti mengetahui, memahami, dan melihat. Dari baṣara muncul baṣar, yang bentuk jamaknya, al-Abṣār, menunjukkan penglihatan, pemahaman, dan mata.32 Dalam Al-Qur'an, al-Abṣār menandakan 'aql, yang ditampilkan dalam ungkapan ulū al-Abṣār, menunjukkan orang-orang yang rasional atau memiliki pemahaman,33 ditemukan di tempat-tempat seperti QS Āli Imrān/3:13, QS al-Nūr/24:44, QS ṣad/38:45, dan QS al-Ḥasyr/59:2. 5) Ad-Dabbaru ( الدبر :(Ad-Dabbaru (الدبر (berasal dari kata dabbara (دبر ,(berarti bagian belakang. Kebalikan dari ad-dabbaru (الدبر adalah al-qubulu (القبل ,(berarti bagian depan. AdDabbaru berarti memeriksa bagian belakang suatu benda, sedangkan tadabbara al-amra (تدبراألمر (berarti mempertimbangkan dan merenungkan akibat atau hasil.34 Tadabbara menyiratkan berpikir dan mempertimbangkan implikasinya.35 Dalam Lisān al-'Arab, hal itu digambarkan sebagai “kamu merenungkan sesuatu dalam pikiranmu.” Arti yang sama ditunjukkan oleh bentuk kata kerja dabbara. 36 Dalam Al-Qur'an, frasa yang berasal dari akar kata da-ba-ra muncul dalam 44 ayat. Namun, hanya empat yang secara jelas berkaitan dengan konsep merenungkan atau merenungkan, dua menggunakan frasa yaddabbarū dan dua menggunakan yatadabbarūn, ditemukan dalam QS Al-Mu'minūn/23:68, QS Ṣād/38:29, QS AnNisā'/4:82, dan QS Muhammad/47:24. 6) An-Naẓru (النظر :(Istilah ini digunakan dalam Al-Qur'an dan Arab). Bahasa Indonesia: an-naẓru (النظر (adalah bentuk infinitif dari kata kerja naẓara (نظر ,(yang secara linguistik berarti melihat, terkadang dengan mata fisik dan terkadang dengan “mata hati,” yang menunjukkan aktivitas seperti penalaran, pertimbangan, refleksi, dan penyelidikan.37 Dalam Al-Qur'an, kata-kata yang berasal dari huruf na-ẓa-ra dalam berbagai bentuk muncul dalam 129 contoh di 115 ayat.38 AlRaghib menjelaskan bahwa an-naẓru (النظر (berarti mengarahkan pandangan atau pikiran seseorang untuk memahami atau mengamati sesuatu. Frasa an-naẓru ilā (النظرالي (berarti melihat dengan mata, sedangkan an-naẓru fi (في النظر (berarti berpikir.39 Namun, dalam konteks dari ayat-ayat yang menggunakan frasa an-naẓru ilā, umumnya menyiratkan pemikiran.Indra pendengaran yang mendasar disebutkan dalam QS. al-Maidah/5:42. Sementara itu, as-sam'u yang mencakup pemahaman dan ketaatan dicontohkan dalam QS. al-Baqarah/2:285. 4) Al-Basharu (البصر :(Istilah al-basharu (البصر (berasal dari baṣara - yabṣuru - baṣaran, yang berarti mengetahui, memahami, dan melihat. Dari baṣara muncul baṣar, yang bentuk jamaknya, al-Abṣār, menunjukkan penglihatan, pemahaman, dan mata.32 Dalam Al-Qur'an, al-Abṣār menandakan 'aql, yang ditampilkan dalam ungkapan ulū al-Abṣār, yang menunjukkan mereka yang rasional atau memiliki pemahaman,33 ditemukan di tempat-tempat seperti QS Āli Imrān/3:13, QS al-Nūr/24:44, QS ṣad/38:45, dan QS al-Ḥasyr/59:2. 5) Ad-Dabbaru ( الدبر :(Ad-Dabbaru (الدبر (berasal dari kata dabbara (دبر ,(artinya bagian belakang. Kebalikan dari ad-dabbaru (الدبر (adalah al-qubulu (القبل ,(artinya bagian depan. AdDabbaru berarti memeriksa bagian belakang sesuatu, sedangkan tadabbara al-amra (تدبراألمر (berarti mempertimbangkan dan merefleksikan konsekuensi atau hasil.34 Tadabbara berarti memikirkan dan mempertimbangkan implikasinya.35 Dalam Lisān al-'Arab, hal ini dijelaskan sebagai “kamu merenungkan sesuatu dalam pikiranmu.” Arti yang sama ditunjukkan oleh bentuk kata kerja dabbara.36 Dalam Al-Qur'an, frasa yang berasal dari kata dasar da-ba-ra muncul dalam 44 ayat. Namun, hanya empat yang secara jelas berkaitan dengan Bahasa Indonesia: konsep merenungkan atau memikirkan, dua menggunakan frasa yaddabbarū dan dua menggunakan yatadabbarūn, ditemukan dalam QS Al-Mu'minūn/23:68, QS Ṣād/38:29, QS AnNisā'/4:82, dan QS Muhammad/47:24. 6) An-Naẓru (النظر :(Istilah an-naẓru (النظر (adalah bentuk infinitif dari kata kerja naẓara (نظر ,(yang secara linguistik berarti melihat, terkadang dengan mata fisik dan terkadang dengan “mata hati,” yang menunjukkan aktivitas seperti penalaran, mempertimbangkan, merenungkan, dan menyelidiki.37 Dalam Al-Qur'an, kata-kata yang berasal dari huruf na-ẓa-ra dalam berbagai bentuk muncul dalam 129 contoh di 115 ayat.38 AlRaghib menjelaskan bahwa an-naẓru (النظر (berarti mengarahkan pandangan atau pikiran seseorang untuk memahami atau mengamati sesuatu. Frasa an-naẓru ilā (النظرالي (berarti melihat dengan mata), sedangkan an-naẓru fi (في النظر (berarti berpikir.39 Akan tetapi, dalam konteks ayat-ayat yang menggunakan frasa an-naẓru ilā, umumnya ayat-ayat tersebut menyiratkan berpikir.Indra pendengaran yang mendasar disebutkan dalam QS. al-Maidah/5:42. Sementara itu, as-sam'u yang mencakup pemahaman dan ketaatan dicontohkan dalam QS. al-Baqarah/2:285. 4) Al-Basharu (البصر :(Istilah al-basharu (البصر (berasal dari baṣara - yabṣuru - baṣaran, yang berarti mengetahui, memahami, dan melihat. Dari baṣara muncul baṣar, yang bentuk jamaknya, al-Abṣār, menunjukkan penglihatan, pemahaman, dan mata.32 Dalam Al-Qur'an, al-Abṣār menandakan 'aql, yang ditampilkan dalam ungkapan ulū al-Abṣār, yang menunjukkan mereka yang rasional atau memiliki pemahaman,33 ditemukan di tempat-tempat seperti QS Āli Imrān/3:13, QS al-Nūr/24:44, QS ṣad/38:45, dan QS al-Ḥasyr/59:2. 5) Ad-Dabbaru ( الدبر :(Ad-Dabbaru (الدبر (berasal dari kata dabbara (دبر ,(artinya bagian belakang. Kebalikan dari ad-dabbaru (الدبر (adalah al-qubulu (القبل ,(artinya bagian depan. AdDabbaru berarti memeriksa bagian belakang sesuatu, sedangkan tadabbara al-amra (تدبراألمر (berarti mempertimbangkan dan merefleksikan konsekuensi atau hasil.34 Tadabbara berarti memikirkan dan mempertimbangkan implikasinya.35 Dalam Lisān al-'Arab, hal ini dijelaskan sebagai “kamu merenungkan sesuatu dalam pikiranmu.” Arti yang sama ditunjukkan oleh bentuk kata kerja dabbara.36 Dalam Al-Qur'an, frasa yang berasal dari kata dasar da-ba-ra muncul dalam 44 ayat. Namun, hanya empat yang secara jelas berkaitan dengan Bahasa Indonesia: konsep merenungkan atau memikirkan, dua menggunakan frasa yaddabbarū dan dua menggunakan yatadabbarūn, ditemukan dalam QS Al-Mu'minūn/23:68, QS Ṣād/38:29, QS AnNisā'/4:82, dan QS Muhammad/47:24. 6) An-Naẓru (النظر :(Istilah an-naẓru (النظر (adalah bentuk infinitif dari kata kerja naẓara (نظر ,(yang secara linguistik berarti melihat, terkadang dengan mata fisik dan terkadang dengan “mata hati,” yang menunjukkan aktivitas seperti penalaran, mempertimbangkan, merenungkan, dan menyelidiki.37 Dalam Al-Qur'an, kata-kata yang berasal dari huruf na-ẓa-ra dalam berbagai bentuk muncul dalam 129 contoh di 115 ayat.38 AlRaghib menjelaskan bahwa an-naẓru (النظر (berarti mengarahkan pandangan atau pikiran seseorang untuk memahami atau mengamati sesuatu. Frasa an-naẓru ilā (النظرالي (berarti melihat dengan mata), sedangkan an-naẓru fi (في النظر (berarti berpikir.39 Akan tetapi, dalam konteks ayat-ayat yang menggunakan frasa an-naẓru ilā, umumnya ayat-ayat tersebut menyiratkan berpikir.Lawan kata ad-dabbaru (الدبر (adalah al-qubulu (القبل ,(yang berarti bagian depan. Ad-Dabbaru menandakan memeriksa aspek belakang sesuatu, sementara tadabbara al-amra (تدبراألمر (berarti mempertimbangkan dan merenungkan konsekuensi atau hasilnya.34 Tadabbara menyiratkan berpikir dan mempertimbangkan implikasinya.35 Dalam Lisān al-'Arab, hal itu digambarkan sebagai "Anda merenungkan sesuatu dalam pikiran Anda." Arti yang sama ditunjukkan oleh bentuk kata kerja dabbara. 36 Dalam Al-Qur'an, frasa yang berasal dari akar kata da-ba-ra muncul dalam 44 ayat. Namun, hanya empat yang secara jelas berkaitan dengan konsep merenungkan atau merenungkan, dua menggunakan frasa yaddabbarū dan dua menggunakan yatadabbarūn, yang ditemukan dalam QS Al-Mu'minūn/23:68, QS Ṣād/38:29, QS AnNisā'/4:82, dan QS Muhammad/47:24. 6) An-Naẓru (النظر :(Istilah an-naẓru (النظر (adalah bentuk infinitif dari kata kerja naẓara (نظر ,(yang secara linguistik berarti melihat, terkadang dengan mata fisik dan terkadang dengan “mata hati,” yang menunjukkan aktivitas seperti penalaran, pertimbangan, refleksi, dan penyelidikan.37 Dalam Al-Qur'an, kata-kata yang berasal dari huruf na-ẓa-ra dalam berbagai bentuk muncul dalam 129 contoh di 115 ayat.38 AlRaghib menjelaskan bahwa an-naẓru (النظر (berarti mengarahkan pandangan atau pikiran seseorang untuk memahami atau mengamati sesuatu. Frasa an-naẓru ilā (النظرالي (berarti melihat dengan mata), sedangkan an-naẓru fi (في النظر (berarti berpikir).39 Akan tetapi, dalam konteks ayat-ayat yang menggunakan frasa an-naẓru ilā, umumnya ayat-ayat tersebut menyiratkan berpikir.Lawan kata ad-dabbaru (الدبر (adalah al-qubulu (القبل ,(yang berarti bagian depan. Ad-Dabbaru menandakan memeriksa aspek belakang sesuatu, sementara tadabbara al-amra (تدبراألمر (berarti mempertimbangkan dan merenungkan konsekuensi atau hasilnya.34 Tadabbara menyiratkan berpikir dan mempertimbangkan implikasinya.35 Dalam Lisān al-'Arab, hal itu digambarkan sebagai "Anda merenungkan sesuatu dalam pikiran Anda." Arti yang sama ditunjukkan oleh bentuk kata kerja dabbara. 36 Dalam Al-Qur'an, frasa yang berasal dari akar kata da-ba-ra muncul dalam 44 ayat. Namun, hanya empat yang secara jelas berkaitan dengan konsep merenungkan atau merenungkan, dua menggunakan frasa yaddabbarū dan dua menggunakan yatadabbarūn, yang ditemukan dalam QS Al-Mu'minūn/23:68, QS Ṣād/38:29, QS AnNisā'/4:82, dan QS Muhammad/47:24. 6) An-Naẓru (النظر :(Istilah an-naẓru (النظر (adalah bentuk infinitif dari kata kerja naẓara (نظر ,(yang secara linguistik berarti melihat, terkadang dengan mata fisik dan terkadang dengan “mata hati,” yang menunjukkan aktivitas seperti penalaran, pertimbangan, refleksi, dan penyelidikan.37 Dalam Al-Qur'an, kata-kata yang berasal dari huruf na-ẓa-ra dalam berbagai bentuk muncul dalam 129 contoh di 115 ayat.38 AlRaghib menjelaskan bahwa an-naẓru (النظر (berarti mengarahkan pandangan atau pikiran seseorang untuk memahami atau mengamati sesuatu. Frasa an-naẓru ilā (النظرالي (berarti melihat dengan mata), sedangkan an-naẓru fi (في النظر (berarti berpikir).39 Akan tetapi, dalam konteks ayat-ayat yang menggunakan frasa an-naẓru ilā, umumnya ayat-ayat tersebut menyiratkan berpikir.
وَاللهُ اَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللهِ وَبَرَكَاتُهُ
https://repository.uin-suska.ac.id/3041/1/2013_201357TH.pdf#:~:text=Dalam%20Al%2DQuran%20kata%20tafakkur%20ini%2C%20dengan%20sejumlah,5%20kali%20dalam%20ayat%20Madaniah.%20Artinya:%20191.

0 komentar:

Posting Komentar