AL-QUR'ANUL KARIM SURAT ALI 'IMRON (5) AYAT 64

"AGAMA SESEORANG ITU TERGANTUNG DARI AGAMA TEMANYA"---"JAGALAH DIRIMU DAN KELUARGAMU DARI API NERAKA"

AL-QUR'ANUL KARIM SURAT AL-BAQOROH (2) AYAT 79

"AGAMA SESEORANG ITU TERGANTUNG DARI AGAMA TEMANYA"---"JAGALAH DIRIMU DAN KELUARGAMU DARI API NERAKA"

AL-QUR'ANUL KARIM SURAT AL-MAIDAH (5) AYAT 15

"AGAMA SESEORANG ITU TERGANTUNG DARI AGAMA TEMANYA"---"JAGALAH DIRIMU DAN KELUARGAMU DARI API NERAKA"

AL-QUR'ANUL KARIM SURAT AL-MAIDAH (5) AYAT 17

"AGAMA SESEORANG ITU TERGANTUNG DARI AGAMA TEMANYA"---"JAGALAH DIRIMU DAN KELUARGAMU DARI API NERAKA"

AL-QUR'ANUL KARIM SURAT AL-MAIDAH (5) AYAT 72

"Orang Yang Tertawa Bersama Satu Meja Dengan Kita, Belum Tentu Teman Kita"---"Agama Seseorang Itu Tergantung Dari Agama Temanya"

#

"Orang Yang Tertawa Bersama Satu Meja Dengan Kita, Belum Tentu Teman Kita"---"Agama Seseorang Itu Tergantung Dari Agama Temanya"

#

"Orang Yang Tertawa Bersama Satu Meja Dengan Kita, Belum Tentu Teman Kita"---"Agama Seseorang Itu Tergantung Dari Agama Temanya"

MIFTAHUL INSANIYYAH

"Orang Yang Tertawa Bersama Satu Meja Dengan Kita, Belum Tentu Teman Kita"---"Agama Seseorang Itu Tergantung Dari Agama Temanya"

APOLOGET ISLAM INDONESIA

"Orang Yang Tertawa Bersama Satu Meja Dengan Kita, Belum Tentu Teman Kita"---"Agama Seseorang Itu Tergantung Dari Agama Temanya"

AL-INSANIYYAH

"Orang Yang Tertawa Bersama Satu Meja Dengan Kita, Belum Tentu Teman Kita"---"Agama Seseorang Itu Tergantung Dari Agama Temanya"

Minggu, 30 November 2025

UMMAT NABI MUHAMMAD JADI SAKSI DI AKHIRAT



UMMAT NABI MUHAMMAD JADI SAKSI DI AKHIRAT
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Ahzab (33) Ayat 45-46 (Madaniyyah=73A)
يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ اِنَّآ اَرْسَلْنٰكَ شَاهِدًا وَّمُبَشِّرًا وَّنَذِيْرًاۙ
Wahai Nabi! Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan,
وَّدَاعِيًا اِلَى اللّٰهِ بِاِذْنِهٖ وَسِرَاجًا مُّنِيْرًا
dan untuk menjadi penyeru kepada (agama) Allah dengan izin-Nya dan sebagai cahaya yang menerangi.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Baqoroh (2) Ayat 143 (Madaniyyah=286A)
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَآ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَّتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَّنْقَلِبُ عَلٰى عَقِبَيْهِۗ وَاِنْ كَانَتْ لَكَبِيْرَةً اِلَّا عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ ۗوَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُضِيْعَ اِيْمَانَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ”umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rosul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rosul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.
Menurut keterangan yang dipaparkan Zamakhsyari dalam kitabnya Al-Kassyaf [199/1], sebagaimana beliau mengutip keterangan dari Imam At-Thobari dari Zaid bin Aslam, bahwasanya di hari kiamat nanti, umat-umat terdahulu semuanya dikumpulkan untuk ditahkim oleh Allah SWT sebagai hakim yang adil. Akan tetapi, umat-umat terdahulu itu enggan untuk diadili dan berdalih bahwa tidak mendapatkan peringatan dan ajakan dari para Nabi yang di utus oleh Allah SWT. Kepadanya. Mereka semuanya ingkar. Sehingga para Nabi yang diutus oleh Allah kebingungan sebab disuruh mengajukan bukti yang menguatkan mereka bahwa sudah menyampaikan risalahnya.
Maka para Nabi itu datang kepada Umat Nabi Muhammad saw, umat islam agar menjadi saksi untuk para Nabi yang telah dituduh oleh kaumnya tidak menyampaikan risalah yang diemban. Umat Nabi Muhammad-pun berbondong-bondong menjadi saksi untuk para Nabi agar terbebas dari tuduhan yang tak berdasar. Hanya saja, umat-umat terdahulu itu, menyanggah kepada kaum muslimin dan berkata, “dari mana kalian tahu kalau nabi-nabi itu sudah menyampaikan risalahnya. Padahal, kalian tidak menututi hidup kami?”
Umat Islam-pun membantah dan mengatakan, “sungguh kami mengetahui melalui informasi Tuhan ang termaktub dalam Al-Qur’an Karim yang disampakan kepada Nabi kita yang jujur, Nabi Muhammad SAW.”. mendengar sanggahan yang diajukan oleh kaum muslimin Allah SWT langsung memerintahkan untuk mendatangkan Nabi Muhammad sebagai buktinya. Maka Nabi Muhammad datang dan membenarkan apa yang dikatakan para umatnya. Sedangkan, ayat yang dimaksud adalah:
Al-Qur'anul Karim Surat An-Nisa (4) Ayat 41 (Madaniyyah=176A)
فَكَيْـفَ  اِذَا  جِئْـنَا  مِنْ كُلِّ  اُمَّةٍ  بِۢشَهِيْدٍ  وَّجِئْـنَا  بِكَ  عَلٰى  هٰۤؤُلَآ ءِ  شَهِيْدًا
“Dan bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka.”
Riwayat Imam Bukhori
Riwayat ini bisa dikuatkan dengan riwayat yang termaktub dalam kitab Shohih Bukhori (21/6). Dari Ibnu Jarir dari Al-A’mas dari Abi Sholih dari Said Al-Khudri berkata;
قَالَ رَسُولُ اللّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” يُدْعَى نُوحٌ يَوْمَ القِيَامَةِ، فَيَقُولُ: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: هَلْ بَلَّغْتَ؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ، فَيُقَالُ لِأُمَّتِهِ: هَلْ بَلَّغَكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: مَا أَتَانَا مِنْ نَذِيرٍ، فَيَقُولُ: مَنْ يَشْهَدُ لَكَ؟ فَيَقُولُ: مُحَمَّدٌ وَأُمَّتُهُ، فَتَشْهَدُونَ أَنَّهُ قَدْ بَلَّغَ: {وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا}[البقرة: 143] فَذَلِكَ قَوْلُهُ جَلَّ ذِكْرُهُ: {وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا} [البقرة: 143] ” وَالوَسَطُ: العَدْلُ
“Rosulullah bersabda, “di hari kiamat, Nabi Nuh dipanggil oleh Allah SWT. Lalu Nabi Nuh mengucapkan, “aku memenuhi panggilan-Mu wahai Tuhanku. Kemudian Allah SWT bertanya kepada Nuh, “apakah kamu telah menyampaikan risalahnya?” Nuh menjawab, “iya Ya Allah”. Lalu ditanyakan kepada kaumnya Nuh, “apakah Nuh telah menyampaikan risah kepada kalian?” mereka menjawab, “kami tidak diberi peringatan! Maka Allah pun meminta bukti kepada Nabi Nuh untuk menjadi saksi. Nabi Nuh menjawab yang akan menjadi saksi adalah Muhammad dan Ummatnya’. Maka mereka semua bersaksi dan menyampaikan ayat Al-Baqarah: 143”
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Baqoroh (2) Ayat 143 (Madaniyyah=286A)
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَآ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَّتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَّنْقَلِبُ عَلٰى عَقِبَيْهِۗ وَاِنْ كَانَتْ لَكَبِيْرَةً اِلَّا عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ ۗوَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُضِيْعَ اِيْمَانَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ”umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rosul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rosul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.
Begitulah kisah yang termaktub dalam Al-Quran bahwa ayat ini menurut Syeh Aly Ash-Shobuni menjadi bukti yang paling agung bahwa umat Nabi Muhammad memiliki keistimewaan disbanding umat-umat yang lain. dimana kaum muslimin menjadi saksi di hadapan Tuhan untuk membebaskan para Nabi-Nabi yang dituduh oleh ummatnya sendiri dengan tuduhan yang tidak berdasar. Inilah keistimewaan kaum muslimin mereka diberi peluang oleh Allah agar berkontribusi di dalam pengadilan Tuhan padahal Allah tidak butuh persaksian mereka karena Tuhan yang Maha Mengetahui.
Al-Qur'anul Karim Surat Ali 'imron (3) Ayat 31 (Madaniyyah=200A)
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Al-Qur'anul Karim Surat An-Nahl (16) Ayat 89 (Makkiyyah=128A)
وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ شَهِيْدًا عَلَيْهِمْ مِّنْ اَنْفُسِهِمْ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيْدًا عَلٰى هٰٓؤُلَاۤءِۗ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً وَّبُشْرٰى لِلْمُسْلِمِيْنَ
Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami bangkitkan pada setiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan engkau (Muhammad) menjadi saksi atas mereka. Dan Kami turunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (Muslim).
Al-Qur'anul Karim Surat An-Najm (53) Ayat 3 (Makkiyyah=62A)
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى
dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut keinginannya.”
Hadits Riwayat Bukhori Rosulullah SAW bersabda:
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ اِلإِيْمَانِ : أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا
“Ada tiga perkara yang bila seseorang memilikinya, niscaya akan merasakan manisnya iman, ‘Yaitu, kecintaannya pada Allah dan RosulNya lebih dari cintanya kepada selain keduanya……”.
Rosulullah dan umatnya pun menjadi saksi atas risalah yang telah disampaikan Nabi Nuh pada kaumnya.
Hadits Riwayat Bukhori Rosulullah SAW bersabda:
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجِيءُ نُوحٌ وَأُمَّتُهُ فَيَقُولُ اللّهُ تَعَالَى هَلْ بَلَّغْتَ فَيَقُولُ نَعَمْ أَيْ رَبِّ فَيَقُولُ لِأُمَّتِهِ هَلْ بَلَّغَكُمْ فَيَقُولُونَ لَا مَا جَاءَنَا مِنْ نَبِيٍّ فَيَقُولُ لِنُوحٍ مَنْ يَشْهَدُ لَكَ فَيَقُولُ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأُمَّتُهُ فَنَشْهَدُ أَنَّهُ قَدْ بَلَّغَ وَهُوَ قَوْلُهُ جَلَّ ذِكْرُهُ { وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ } وَالْوَسَطُ الْعَدْلُ
Telah bercerita kepada kami Musa bin Isma'il, telah bercerita kepada kami 'Abdul Wahid bin Ziyad, telah bercerita kepada kami Al-A'masy dari Abu Sholih dari Abu Sa'id berkata, Rosulullah SAW bersabda, "(Pada hari kiamat) Nabi Nuh 'alaihissalam dan umatnya datang lalu Allah Ta'ala berfirman, "Apakah kamu telah menyampaikan (ajaran)? Nuh 'alaihissalam menjawab, "Sudah, wahai Robb-ku."
Kemudian Allah bertanya kepada umatnya, "Apakah benar dia telah menyampaikan kepada kalian?" Mereka menjawab, "Tidak. Tidak ada seorang Nabi pun yang datang kepada kami." Lalu Allah berfirman kepada Nuh 'alaihissalam, "Siapa yang menjadi saksi atasmu?" Nabi Nuh 'alaihissalam berkata, "Muhammad SAW dan umatnya."
Maka, kami pun bersaksi bahwa Nabi Nuh 'alaihissalam telah menyampaikan risalah yang diembannya kepada umatnya. Begitulah seperti yang difirmankan Allah Yang Mahatinggi (QS. Al-Baqarah ayat 143 yang artinya), ("Dan demikianlah kami telah menjadikan kalian sebagai umat pertengahan untuk menjadi saksi atas manusia.."). Al-washathu artinya al-'adl (adil).
https://an-nur.id/mahabbah-rasulullah-saw/#:~:text=Dari%20Anas%20bin%20Malik%20%2C%20ia,dirinya%20dari%20kejahatan%20dan%20dosa.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-An'am (6) Ayat 19 (Makkiyyah=165A)
قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً ۖ قُلِ اللّهُ ۖ شَهِيدٌ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ ۚ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ ۚ أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ اللّهِ آلِهَةً أُخْرَىٰ ۚ قُلْ لَا أَشْهَدُ ۚ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ
Katakanlah: "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Katakanlah: "Allah". Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al-Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?" Katakanlah: "Aku tidak mengakui". Katakanlah: "Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)".
Al-Qur'anul Karim Surat Hud (11) Ayat 2 (Makkiyyah=123A)
أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللّهَ ۚ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ
agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa khabar gembira kepadamu daripada-Nya,
Al-Qur'anul Karim Surat Ibrohim (14) Ayat 44 (Makkiyyah=52A)
وَأَنْذِرِ النَّاسَ يَوْمَ يَأْتِيهِمُ الْعَذَابُ فَيَقُولُ الَّذِينَ ظَلَمُوا رَبَّنَا أَخِّرْنَا إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ نُجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتَّبِعِ الرُّسُلَ ۗ أَوَلَمْ تَكُونُوا أَقْسَمْتُمْ مِنْ قَبْلُ مَا لَكُمْ مِنْ زَوَالٍ
Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim: "Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rosul-rosul". (Kepada mereka dikatakan): "Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?
Al-Qur'anul Karim Surat Ibrohim (14) Ayat 52 (Makkiyyah=52A)
هَٰذَا بَلَاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ وَلِيَعْلَمُوا أَنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
(Al-Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Hijr (15) Ayat 89 (Makkiyyah=99A)
وَقُلْ إِنِّي أَنَا النَّذِيرُ الْمُبِينُ
Dan katakanlah: "Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan".
Al-Qur'anul Karim Surat An-Nahl (16) Ayat 89 (Makkiyyah=128A)
وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ ۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Kahfi (18) Ayat 4 (Makkiyyah=110A)
وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّهُ وَلَدًا
Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata: "Allah mengambil seorang anak".
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Kahf (18) Ayat 56 (Makkiyyah=110A)
وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ ۚ وَيُجَادِلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ ۖ وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَمَا أُنْذِرُوا هُزُوًا
Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyap kan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat kami dan peringatan-peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Anbiya (21) Ayat 45 (Makkiyyah=112A)
قُلْ إِنَّمَا أُنْذِرُكُمْ بِالْوَحْيِ ۚ وَلَا يَسْمَعُ الصُّمُّ الدُّعَاءَ إِذَا مَا يُنْذَرُونَ
Katakanlah (hai Muhammad): "Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu dan tiadalah orang-orang yang tuli mendengar seruan, apabila mereka diberi peringatan"
Al-Qur'anul Karim Surat Ya Sin (36) Ayat 6
لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ
6. Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.
Surat Ya Sin (36) Ayat 11
إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَٰنَ بِالْغَيْبِ ۖ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ
11. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.
Al-Qur'anul Karim Surat Sad (38) Ayat 65
قُلْ إِنَّمَا أَنَا مُنْذِرٌ ۖ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
65. Katakanlah (ya Muhammad): "Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan, dan sekali-kali tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan.
Al-Qur'anul Karim Surat Sad (38) Ayat 70
إِنْ يُوحَىٰ إِلَيَّ إِلَّا أَنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُبِينٌ
70. Tidak diwahyukan kepadaku, melainkan bahwa sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata".
Al-Qur'anul Karim Surat Az-Zumar (39) Ayat 17
وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَىٰ ۚ فَبَشِّرْ عِبَادِ
17. Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku,
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Mu’min (Al-Ghaafir) (40) Ayat 18
وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ ۚ مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ
18. Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa'at yang diterima syafa'atnya.
Al-Qur'anul Karim Surat Fussilat (41) Ayat 13
فَإِنْ أَعْرَضُوا فَقُلْ أَنْذَرْتُكُمْ صَاعِقَةً مِثْلَ صَاعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودَ
13. Jika mereka berpaling maka katakanlah: "Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum 'Aad dan Tsamud".
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Ahqaf (46) Ayat 9
قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ وَمَا أَدْرِي مَا يُفْعَلُ بِي وَلَا بِكُمْ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ وَمَا أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ مُبِينٌ
9. Katakanlah: "Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan".
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Fath (48) Ayat 8
إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا
8. Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan,
Al-Qur'anul Karim Surat Az-Zariyat (51) Ayat 50
فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ ۖ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ
50. Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.
Al-Qur'anul Karim Surat Az-Zariyat (51) Ayat 51
وَلَا تَجْعَلُوا مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ ۖ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ
51. Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain disamping Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.
Al-Qur'anul Karim Surat An-Najm (53) Ayat 56
هَٰذَا نَذِيرٌ مِنَ النُّذُرِ الْأُولَىٰ
56. Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang terdahulu.
Al-Qur'anul Karim Surat As-Saff (61) Ayat 13
وَأُخْرَىٰ تُحِبُّونَهَا ۖ نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
13. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Mulk (67) Ayat 26
قُلْ إِنَّمَا الْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُبِينٌ
26. Katakanlah: "Sesungguhnya ilmu (tentang hari kiamat itu) hanya pada sisi Allah. Dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan".
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Muzzammil (73) Ayat 15
إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولًا شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ رَسُولًا
15. Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu (hai orang kafir Mekah) seorang Rasul, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus (dahulu) seorang Rasul kepada Fir'aun.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Muddassir (74) Ayat 2
قُمْ فَأَنْذِرْ
2. bangunlah, lalu berilah peringatan!
Al-Qur'anul Karim Surat An-Nazi’at (79) Ayat 45
إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَخْشَاهَا
45. Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit)
صحيح البخاري ٣٠٩١: حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجِيءُ نُوحٌ وَأُمَّتُهُ فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى هَلْ بَلَّغْتَ فَيَقُولُ نَعَمْ أَيْ رَبِّ فَيَقُولُ لِأُمَّتِهِ هَلْ بَلَّغَكُمْ فَيَقُولُونَ لَا مَا جَاءَنَا مِنْ نَبِيٍّ فَيَقُولُ لِنُوحٍ مَنْ يَشْهَدُ لَكَ فَيَقُولُ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأُمَّتُهُ فَنَشْهَدُ أَنَّهُ قَدْ بَلَّغَ
وَهُوَ قَوْلُهُ جَلَّ ذِكْرُهُ
{ وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ }
وَالْوَسَطُ الْعَدْلُ
Shahih Bukhari 3091: Telah bercerita kepada kami Musa bin Isma'il telah bercerita kepada kami 'Abdul Wahid bin Ziyad telah bercerita kepada kami Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Sa'id berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"(Pada hari qiyanat) Nabi Nuh dan ummatnya datang lalu Allah Ta'ala berfirman: "Apakah kamu telah menyampaikan (ajaran)?" Nuh menjawab: "Sudah, wahai Rabbku". Kemudian Allah bertanya kepada ummatnya: "Apakah benar dia telah menyampaikan kepada kalian?" Mereka menjawab: "Tidak. Tidak ada seorang Nabi pun yang datang kepada kami". Lalu Allah berfirman kepada Nuh: "Siapa yang menjadi saksi atasmu?" Nabi Nuh berkata: "Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan ummatnya." Maka kami pun bersaksi bahwa Nabi Nuh telah menyampaikan risalah yang diembannya kepada ummatnya. Begitulah seperti yang difirmankan Allah Yang Maha Tinggi (Dan demikianlah kami telah menjadikan kalian sebagai ummat pertengahan untuk menjadi saksi atas manusia) (QS. Al-Baqarah: 143). Al-Washathu maksudnya adalah Al-'Adl (adil).
صحيح البخاري ٣٠٩٢: حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ بْنُ نَصْرٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا أَبُو حَيَّانَ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي دَعْوَةٍ فَرُفِعَ إِلَيْهِ الذِّرَاعُ وَكَانَتْ تُعْجِبُهُ فَنَهَسَ مِنْهَا نَهْسَةً وَقَالَ أَنَا سَيِّدُ الْقَوْمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ هَلْ تَدْرُونَ بِمَ يَجْمَعُ اللَّهُ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَيُبْصِرُهُمْ النَّاظِرُ وَيُسْمِعُهُمْ الدَّاعِي وَتَدْنُو مِنْهُمْ الشَّمْسُ فَيَقُولُ بَعْضُ النَّاسِ أَلَا تَرَوْنَ إِلَى مَا أَنْتُمْ فِيهِ إِلَى مَا بَلَغَكُمْ أَلَا تَنْظُرُونَ إِلَى مَنْ يَشْفَعُ لَكُمْ إِلَى رَبِّكُمْ فَيَقُولُ بَعْضُ النَّاسِ أَبُوكُمْ آدَمُ فَيَأْتُونَهُ فَيَقُولُونَ يَا آدَمُ أَنْتَ أَبُو الْبَشَرِ خَلَقَكَ اللَّهُ بِيَدِهِ وَنَفَخَ فِيكَ مِنْ رُوحِهِ وَأَمَرَ الْمَلَائِكَةَ فَسَجَدُوا لَكَ وَأَسْكَنَكَ الْجَنَّةَ أَلَا تَشْفَعُ لَنَا إِلَى رَبِّكَ أَلَا تَرَى مَا نَحْنُ فِيهِ وَمَا بَلَغَنَا فَيَقُولُ رَبِّي غَضِبَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ وَلَا يَغْضَبُ بَعْدَهُ مِثْلَهُ وَنَهَانِي عَنْ الشَّجَرَةِ فَعَصَيْتُهُ نَفْسِي نَفْسِي اذْهَبُوا إِلَى غَيْرِي اذْهَبُوا إِلَى نُوحٍ فَيَأْتُونَ نُوحًا فَيَقُولُونَ يَا نُوحُ أَنْتَ أَوَّلُ الرُّسُلِ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ وَسَمَّاكَ اللَّهُ عَبْدًا شَكُورًا أَمَا تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ أَلَا تَرَى إِلَى مَا بَلَغَنَا أَلَا تَشْفَعُ لَنَا إِلَى رَبِّكَ فَيَقُولُ رَبِّي غَضِبَ الْيَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ وَلَا يَغْضَبُ بَعْدَهُ مِثْلَهُ نَفْسِي نَفْسِي ائْتُوا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَأْتُونِي فَأَسْجُدُ تَحْتَ الْعَرْشِ فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ وَسَلْ تُعْطَهْ
قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ لَا أَحْفَظُ سَائِرَهُ
Shahih Bukhari 3092: Telah bercerita kepadaku Ishaq bin Nashr telah bercerita kepada kami Muhammad bin 'Ubaid telah bercerita kepada kami Abu Hayyan dari Abu Zur'ah dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu berkata:

Kami bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa salam dalam jamuan makan walimah (resepsi pernikahan) kemudian dihidangkan kepada Beliau sepotong paha kambing yang mengundang selera Beliau maka Beliau memakannya dengan cara menggigitnya lalu bersabda: "Aku adalah penghulu kaum (manusia) pada hari iyamat. Mengertikah kalian tatkala Allah mengumpulkan manusia dari yang pertama (diciptakan) hingga yang terakhir pada satu bukit. Kemudian mereka dijadikan menatap oleh seorang juru pandang dan dijadikan mendengar oleh seorang juru seru dan matahari didekatkan. Kemudian sebagian orang berkata: "Mungkin kalian punya saran karena nasib kalian sekarang? Tidakkah kalian punya pandangan siapa yang dapat memintakan syafa'at kepada Rabb kalian?" Maka sebagian orang ada yang berkata: "Bapak kalian, Adam". Maka mereka menemui Adam dan berkata: "Wahai Adam, kamu adalah bapak seluruh manusia. Allah menciptakan kamu langsung dengan tangan-Nya dan meniupkan langsung ruh-Nya kepadamu dan memerintahkan para malaikat untuk sujud kepadamu dan menempatkan kamu tinggal di surga, tidakkah sebaiknya kamu memohon syafa'at kepada Rabbmu untuk kami? Tidakkah kamu melihat apa yang sedang kami hadapi?" Adam menjawab: "Rabbku pernah marah kepadaku dengan suatu kemarahan yang belum pernah Dia marah seperti itu sebelumnya dan tidak akan pula marah seperti itu sesudahnya. Dia melarang aku mendekati pohon namun aku mendurhakai-Nya. Oh diriku, oh diriku. Pergilah kalian kepada orang selain aku. Pergilah kepada Nuh!" Maka mereka menemui Nuh dan berkata: "Wahai Nuh, kamulah Rasul pertama kepada penduduk bumi ini dan Allah menamakan dirimu sebagai 'Abdan syakuura (hamba yang bersyukur). Tidakkah kamu melihat apa yang sedang kami hadapi?, Tidakkah sebaiknya kamu memohon syafa'at kepada Rabbmu untuk kami?" Maka Nuh berkata: "Pada suatu hari Rabbku pernah marah kepadaku dengan suatu kemarahan yang belum pernah Dia marah seperti itu sebelumnya dan tidak akan pula marah seperti itu sesudahnya. Oh diriku, oh diriku. Pergilah kalian kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam!" Maka mereka menemui aku. Kemudian aku sujud di bawah Al-'Arsy lalu dikatakan: "Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu dan mohonkanlah syafa'at serta mintalah karena permintaan kamu akan dikabulkan."

Muhammad bin 'Ubaid berkata: "Aku tidak hafal seluruh isi hadits ini."

DALIL KHOMER

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللهِ وَبَرَكَاتُهُ
DALIL KHOMER👌
1. Informatif:
Al-Qur'anul Karim Surat An-Nahl (16) Ayat 67 (Makkiyyah=128A)
وَمِنْ ثَمَرٰتِ النَّخِيْلِ وَالْاَعْنَابِ تَتَّخِذُوْنَ مِنْهُ سَكَرًا وَّرِزْقًا حَسَنًاۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ
Dan dari buah kurma dan anggur, kamu membuat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti.
2. Kalkulatif:
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Baqoroh (2) Ayat 219 (Madaniyyah=286A)
يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِۗ قُلْ فِيْهِمَآ اِثْمٌ كَبِيْرٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِۖ وَاِثْمُهُمَآ اَكْبَرُ مِنْ نَّفْعِهِمَاۗ وَيَسْـَٔلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَ ەۗ قُلِ الْعَفْوَۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَۙ
Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khomar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.” Dan mereka menanyakan kepadamu (tentang) apa yang (harus) mereka infakkan. Katakanlah, “Kelebihan (dari apa yang diperlukan).” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkan,
3. Sugestif:
Al-Qur'anul Karim Surat An-Nisa (4) Ayat 43 (Madaniyyah=176A)
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقْرَبُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْتُمْ سُكَارٰى حَتّٰى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ وَلَا جُنُبًا اِلَّا عَابِرِيْ سَبِيْلٍ حَتّٰى تَغْتَسِلُوْا ۗوَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُوْرًا
Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati salat ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan, dan jangan pula (kamu hampiri masjid ketika kamu) dalam keadaan junub kecuali sekedar melewati jalan saja, sebelum kamu mandi (mandi junub). Adapun jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau sehabis buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, sedangkan kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Sungguh, Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun.
4. Vonis
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Maidah (5) Ayat 90 (Madaniyyah=120A)
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.
KOMPARASI DALIL DARI BIBLE
maka haruslah ia menjauhkan dirinya dari anggur q  dan minuman yang memabukkan, jangan meminum cuka r  anggur atau cuka minuman yang memabukkan 1  dan jangan meminum sesuatu minuman yang dibuat dari buah anggur 2 , s  dan jangan memakan buah anggur, baik yang segar maupun yang kering.
Amsal 20:1 (Lama)
Anggur k  adalah pencemooh, l  minuman keras adalah peribut 1 , tidaklah bijak m  orang yang terhuyung-huyung n  karenanya.
Amsal 31:4-5 (Lama)
31:4 Tidaklah pantas bagi raja, hai Lemuel, tidaklah pantas bagi raja meminum anggur 1 , x  ataupun bagi para pembesar mengingini minuman keras, 31:5 jangan sampai karena minum y  ia melupakan apa yang telah ditetapkan, z  dan membengkokkan hak orang-orang yang tertindas.
Yesaya 5:11
(Lama)
Celakalah p  mereka yang bangun pagi-pagi dan terus mencari minuman keras, dan duduk-duduk sampai malam hari, sedang badannya dihangatkan anggur! q
1 Korintus 6:10 (Baru)
pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu s  tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.
Efesus 5:18 (Baru)
Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur 1 , n  karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh 2 , o
MAHA BENAR ALLAH DENGAN SEGALA FIRMANNYA
ِوَاللهُ اَعْلَمُ بِمُرَادِه
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

BAB SABAR

Dalam kitab as-Shabru wa Tsawâb ‘alaihi (hal. 30), Syekh Ibnu Abid Dunya mencantumkan sebuah hadits riwayat Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 
 الصَّبْرُ ثَلَاثٌ: فَصَبْرٌ عَلَى الْمُصِيبَةِ، وَصَبْرٌ عَلَى الطَّاعَةِ، وَصَبْرٌ عَنِ الْمَعْصِيَةِ، فَمَنْ صَبَرَ عَلَى الْمُصِيبَةِ حَتَّى يَرُدَّهَا بِحُسْنِ عَزَائِهَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ ثَلَاثَمِائَةِ دَرَجَةٍ بَيْنَ الدَّرَجَةِ إِلَى الدَّرَجَةِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ، وَمَنْ صَبَرَ عَلَى الطَّاعَةِ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ سِتَّمِائَةِ دَرَجَةٍ، مَا بَيْنَ الدَّرَجَةِ إِلَى الدَّرَجَةِ كَمَا بَيْنَ تُخُومِ الْأَرْضِ إِلَى مُنْتَهَى الْعَرْشِ، وَمِنْ صَبَرَ عَنِ الْمَعْصِيَةِ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ تِسْعَمِائَةِ دَرَجَةٍ، مَا بَيْنَ الدَّرَجَةِ إِلَى الدَّرَجَةِ كَمَا بَيْنَ تُخُومِ الْأَرْضِ إِلَى مُنْتَهَى الْعَرْشِ مَرَّتَيْنِ 
 Artinya, “Sabar ada tiga tingkatan; sabar atas musibah, sabar dalam menjalani ketaatan, dan sabar dari laku kemaksiatan. Siapa saja yang sabar menghadapi musibah, sampai ia mampu merestorasinya sebaik mungkin, Allah akan mengangkat 300 derajatnya. Di mana, satu dengan lainnya berjarak sejauh antara langit dan bumi. Dan, yang bersabar dalam menjalani ketaatan, Allah mengangkat 600 derajatnya. Di mana, satu dengan lainnya berjarak sejauh antara lapisan-lapisan bumi dan batas (ketinggian) ‘arsy. Sedangkan, bagi yang bersabar dari laku kemaksiatan, Allah mengangkat 900 derajatnya. Di mana, satu dengan lainnya berjarak sekitar dua kali lipat antara lapisan-lapisan bumi dan batas (ketinggian) ‘arsy”. Secara klasifikasi, Imam Ali karramallahu wajhah menggolongkannya menjadi empat. Berikut redaksinya dalam as-Shabru wa Tsawâb ’alaihi (hal. 25): 
 قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: الصَّبْرُ عَلَى أَرْبَعِ شِعْبٍ: عَلَى الشَّوْقِ، وَالشَّفَقِ، وَالزَّهَادَةِ، وَالتَّرَقُّبِ. فَمَنِ اشْتَاقَ إِلَى الْجَنَّةِ سَلَا عَنِ الشَّهَوَاتِ، وَمَنْ أَشْفَقَ مِنَ النَّارِ رَجَعَ عَنِ الْمُحَرَّمَاتِ. وَمَنْ زَهِدَ فِي الدُّنْيَا تَهَاوَنَ بِالْمُصِيبَاتِ. وَمَنِ ارْتَقَبَ الْمَوْتَ تَسَارَعَ إِلَى الْخَيْرَاتِ Artinya, “Imam Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Sabar ada empat golongan; sabar dalam merindu, sabar karena sayang, sabar dengan latar kezuhudan, dan sabar dalam penantian. Siapa yang merindukan surga, akan membersihkan dirinya dari hasrat-hasrat rendah. Siapa yang mengasihani dirinya dilahap neraka, akan keluar dari segala bentuk keharaman. Siapa yang tak menaruh cinta pada dunia, entenglah baginya segala musibah. Dan, siapa yang menanti kematian (selalu merasa kematian sudah di depan mata), pastilah ia bergegas meregup pelbagai kebaikan”. Hidup sebagai makhluk sosial membuat kita tidak pernah lekang dari salah dan khilaf. Kalau bukan disakiti—sadar atau tidak—kita pernah menyakiti orang lain. Dalam hal ini, agama mengajarkan agar yang menyakiti meminta maaf, dan yang disakiti supaya bersabar sekaligus memberi maaf. Ini adalah pedoman terbaik kita sebagai makhluk sosial. Imam al-Hasan pernah menasihati, “Wahai umat manusia, jangan sekali-kali menyakiti yang lain. Namun, bila kau disakiti maka bersabarlah” (as-Shabru wa Tsawâb ’alaihi hal. 26). Sebenarnya, kesabaran sangat erat kaitannya dengan kesadaran. Bila benar-benar menyadari tabiat kemanusiaan kita yang tak lepas dari salah dan lupa, juga hakikat penciptaan kita yang senantiasa bersujud kepada sang Maha Pengampun lagi Penyayang, maka tiada alasan untuk tidak bersabar. Di sini, Syekh Ibnu Abid Dunya sedang berusaha menguak kesadaran umat sehingga menjadi pribadi yang penyabar. Karena itu, kitab as-Shabru wa Tsawâb ’alaihi ini, penuh dengan nasihat-nasihat sabar. Baik dari Al-Qur’an, hadist, kalam para sahabat, dan para ulama salafuna as-shalih yang lain. Seperti nasihat Imam Ibrahim at-Taimiy yang mengatakan: 
 مَا مِنْ عَبْدٍ وَهَبَ اللَّهُ لَهُ صَبْرًا عَلَى الْأَذَى، وَصَبْرًا عَلَى الْبَلَاءِ، وَصَبْرًا عَلَى الْمَصَائِبِ، إِلَّا وَقَدْ أُوتِيَ أَفْضَلَ مَا أُوتِيهِ أَحَدٌ، بَعْدَ الْإِيمَانِ بِاللَّهِ 
 Artinya, “Setiap kali Allah menganugerahi kesabaran pada hamba-Nya, baik atas rasa sakit, malapetaka, dan musibah, pasti juga memberinya yang labih baik dari (ganjaran) keimanan itu sendiri”. (as-Shabru wa Tsawâb ’alaihi hal. 28) Kalam at-Taimiy di atas, mengajarkan kita bahwa mempertahankan keimanan jauh lebih penting dari pada keimanan itu sendiri. Segala bentuk kesusahan dan derita yang dirasakan umat adalah ujian keimanan dari Allah. Mengingat, iman yang hakiki yaitu iman yang tak lekang waktu, tempat dan kondisi; suka ataupun duka, lapang atau sempit. Sungguh, nasihat yang besar. Imam Ali bin Abi Thalib pernah memberi analogi keimanan. Ia berkata: 
 أَلَا إِنَّ الصَّبْرَ مِنَ الْإِيمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ، فَإِذَا قُطِعَ الرَّأْسُ بَادَ الْجَسَدُ، ثُمَّ رَفَعَ صَوْتَهُ فَقَالَ: أَلَا إِنَّهُ لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا صَبْرَ لَهُ Artinya, “Ingatlah! Sabar mempertahankan keimanan layaknya kepala dalam satu tubuh. Bila dipenggal, habislah tubuh itu... Kemudian Sayyidina Ali mengangkat suaranya, dan menyampaikan, Ingatlah! Sungguh, tiada iman bagi yang tak memiliki kesabaran”. (as-Shabru wa Tsawâb ’alaihi hal. 24) Jadi, kendatipun sabar memiliki tingkatan, dari yang paling rendah sampai yang tertinggi, namun sejatinya bukan tentang tingkatan. Tetapi soal misi mempertahankan keimanan. Terkait tingkatan sabar, itu hanya indikasi dari tingkat keimanan seseorang. Terakhir, saya akan menutup tulisan singkat ini dengan syair Imam al-Husain bin Abdurrahman tentang sabar yang berbunyi: 
 إِذَا لَمْ تُسَامِحْ فِي الْأُمُورِ تَعَقَّدَتْ ... عَلَيْكَ فَسَامِحْ وَاخْرِجِ الْعُسْرَ بِالْيُسْرِ فَلَمْ أَرَ أَوْفَى لِلْبَلَاءِ مِنَ التُّقٰى ... وَلَمْ أَرَ لِلْمَكْرُوهِ أَشْفَى مِنَ الصَّبْرِ Artinya, “Bila engkau tak berlapang dada hadapi segala urusan, tentu akan mempersulit dirimu, maka lapangkanlah dadamu dan permudahkanlah setiap kesulitan ... Belum pernah kutemukan hal yang paling komplet hadapi malapetaka selain takwa, belum juga kudapati sesuatu yang paling ampuh obati kebencian selain sabar” (as-Shabru wa Tsawâb ’alaihi hal. 45).

Jumat, 28 November 2025

KISAH SITI MARYAM

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللهِ وَبَرَكَاتُهُ
KISAH SITI MARYAM
Al-Qur'anul Karim Surat Yusuf (12) Ayat 3 (Makkiyyah=111A)
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ اَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَآ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ هٰذَا الْقُرْاٰنَۖ وَاِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهٖ لَمِنَ الْغٰفِلِيْنَ
Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui.
Al-Qur'anul Karim Surat Yusuf (12) Ayat 111 (Makkiyyah=111A)
لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur'an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Baqoroh (2) Ayat 66 (Madaniyyah=286A)
فَجَعَلْنٰهَا نَكَالًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا خَلْفَهَا وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِيْنَ
Maka Kami jadikan (yang demikian) itu peringatan bagi orang-orang pada masa itu dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
Al-Qur'anul Karim Surat Ali 'imron (3) Ayat 62 (Madaniyyah=200A)
اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّ ۚ وَمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّا اللّٰهُ ۗوَاِنَّ اللّٰهَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Sungguh, ini adalah kisah yang benar. Tidak ada tuhan selain Allah, dan sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-A'rof (7) Ayat 176 (Makkiyyah=206A)
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنٰهُ بِهَا وَلٰكِنَّهٗٓ اَخْلَدَ اِلَى الْاَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوٰىهُۚ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ الْكَلْبِۚ اِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ اَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْۗ ذٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَاۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ
Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.
Al-Qur'anul Karim Surat Hud (11) Ayat 49 (Makkiyyah=123A)
تِلْكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الْغَيْبِ نُوْحِيْهَآ اِلَيْكَ ۚمَا كُنْتَ تَعْلَمُهَآ اَنْتَ وَلَا قَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هٰذَاۚ فَاصْبِرْۚ اِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِيْنَ
Itulah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah engkau mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah, sungguh, kesudahan (yang baik) adalah bagi orang yang bertakwa.
Al-Qur'anul Karim Surat Hud (11) Ayat 120 (Makkiyyah=123A)
وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهٖ فُؤَادَكَ وَجَاۤءَكَ فِيْ هٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَّذِكْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ
Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu; dan di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat dan peringatan bagi orang yang beriman.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Qomar (54) Ayat 4-5 (Makkiyyah=55A)
وَلَقَدْ جَاۤءَهُمْ مِّنَ الْاَنْبَاۤءِ مَا فِيْهِ مُزْدَجَرٌۙ
Dan sungguh, telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat ancaman (terhadap kekafiran),
حِكْمَةٌ ۢ بَالِغَةٌ فَمَا تُغْنِ النُّذُرُۙ
(itulah) suatu hikmah yang sempurna, tetapi peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka),
KISAH SITI MARYAM👌
Lafal "Maryam" (مَرْيَمُ) disebutkan sebanyak 34 kali di dalam Al-Qur'anul Karim, tersebar dalam 32 ayat di 12 surat yang berbeda.
1. Al-Qur'anul Karim Surat Al-Baqoroh (2) Ayat 87,253
2. Al-Qur'anul Karim Surat Ali 'Imron (3) Ayat 36,37,42,43,44,45
3. Al-Qur'anul Karim Surat An-Nisa (4) Ayat 156,157,171
4. Al-Qur'anul Karim Surat Al-Ma'idah (5) Ayat 17,46,72,75,78,110,112,114,116
5. Al-Qur'anul Karim Surat At-Taubah (9) Ayat 31
6. Al-Qur'anul Karim Surat Maryam (19) Ayat 16,27,34
7. Al-Qur'anul Karim Surat Al-Mu'minun (23) Ayat 50
8. Al-Qur'anul Karim Surat Al-Ahzab (33) Ayat 7
9. Al-Qur'anul Karim Surat Az-Zukhruf (43) Ayat 57
10. Al-Qur'anul Karim Surat Al-Hadid (57) Ayat 27
11. Al-Qur'anul Karim Surat Ash-Shoff (61) Ayat 6,14
12. Al-Qur'anul Karim Surat At-Tahrim (66) Ayat 12
Maryam adalah satu-satunya nama perempuan yang disebutkan secara eksplisit di dalam Al-Qur'anul Karim. Bahkan, di abadikan menjadi salah satu surat dalam Al-Qur'anul Karim, yaitu Surah yang ke-19, dinamai menurut namanya, yaitu Surah Maryam.
Dalam Bahasa Ibrani, Maryam berarti “perempuan yang tekun beribadah”. Makanya dalam Al-Qur'anul Karim sendiri Allah SWT menyebut secara khusuh dan sepesial sebagai wanita istimewa di antara wanita-wanita yang ada di alam raya ini.
Al-Qur'anul Karim Surat Ali 'imron (3) Ayat 42-44 (Madaniyyah=200A)👈H276
وَاِذْ قَالَتِ الْمَلٰۤىِٕكَةُ يٰمَرْيَمُ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفٰىكِ عَلٰى نِسَاۤءِ الْعٰلَمِيْنَ
Dan (ingatlah) ketika para malaikat berkata, “Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas segala perempuan di seluruh alam (pada masa itu).
يٰمَرْيَمُ اقْنُتِيْ لِرَبِّكِ وَاسْجُدِيْ وَارْكَعِيْ مَعَ الرَّاكِعِيْنَ
Wahai Maryam! Taatilah Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.”
ذٰلِكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الْغَيْبِ نُوْحِيْهِ اِلَيْكَ ۗوَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ اِذْ يُلْقُوْنَ اَقْلَامَهُمْ اَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَۖ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ اِذْ يَخْتَصِمُوْنَ
Itulah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), padahal engkau tidak bersama mereka ketika mereka melemparkan pena mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan engkau pun tidak bersama mereka ketika mereka bertengkar.
Al-Qur'anul Karim Surat Maryam (19) Ayat 20 (Makkiyyah=98A)
قَالَتْ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا
Maryam berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!"
Al-Qur'anul Karim Surat Ali 'imron (3) Ayat 47 (Madaniyyah=200A)
قَالَتْ رَبِّ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ وَلَدٌ وَّلَمْ يَمْسَسْنِيْ بَشَرٌ ۗ قَالَ كَذٰلِكِ اللّٰهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ ۗاِذَا قَضٰٓى اَمْرًا فَاِنَّمَا يَقُوْلُ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
Dia (Maryam) berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku akan mempunyai anak, padahal tidak ada seorang laki-laki pun yang menyentuhku?” Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.
Al-Qur'anul Karim Surat At-Tahrim (66) Ayat 12 (Madaniyyah=12A)
وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ
dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Robbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.
PENYELEKSIAN DAN PEMULIAAN PARA NABI, KISAH ISTRI'IMRAN YANG MENADZARKAN JANIN DI PERUTNYA UNTUK BERIBADAH KEPADA ALLAH SWT
Ok, Siti Maryam adalah putri dari pasanga Imron dan Hanah. Maryam binti Imran lahir dari keluarga bertakwa, penuh berkah yang diliputi suasana keimanan, tekun beribadah, dan selalu mendekatkan diri kepada Allah swt. Dan keutamaan keluargannyapun di abadikan juga dalam Al-Qur'anul Karim yaitu menjadi salah satu nama surat yaitu surat Ali 'Imron surat ketiga kalau kita hitung dari urutan 30 juz Al-Qur'anul Karim. Yang dimana surat Ali 'Imron ini di sebut surat madaniyyah karena turun di kota mekkah.
Al-Qur'anul Karim Surat Ali 'imron (3) Ayat 33-37 (Madaniyyah=200A)👈H361
اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىٓ اٰدَمَ وَنُوْحًا وَّاٰلَ اِبْرٰهِيْمَ وَاٰلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعٰلَمِيْنَۙ
Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (pada masa masing-masing),
Al-Qur'anul Karim Surat Ali 'imron (3) Ayat 34 (Madaniyyah=200A)
ذُرِّيَّةً ۢ بَعْضُهَا مِنْۢ بَعْضٍۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌۚ
(sebagai) satu keturunan, sebagiannya adalah (keturunan) dari sebagian yang lain. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
Siti Maryam lahir dari pasangan Imron dan Hannah. Maryam binti Imron lahir di Nashiroh, Nazareth, Palestina. Sedangkan ibunya Hannah binti Fakhud adalah sosok perempuan dengan kesabaran yang sangat luar biasa manakala Allah menjadikan dia sebagai perempuan yang tak kunjung memiliki keturunan. Sekian lama Hannah menantikan anak. Ia tidak juga putus harapan meski usianya telah lanjut.
Latar Belakang Keluarga Maryam Binti Imran
Maryam merupakan putri Imron dan ibu Nabi Isa as. Kalau kita runtut silsilah dari pada Siti Maryam, para ulama memiliki pendapat yang berbeda namun dua pendapat yang berbeda itu tetap saja endingnya atau pada pangkal dan ujung menemui titik yang sama.
Pertama, Nasab Maryam menurut Muhammad bin Ishaq adalah Maryam binti Imron bin Basyim bin Amun bin Misya bin Hizqiya bin Ahriq bin Maustim bin Azaziya bin Amshiya bin Yawusy bin Ahrihu bin Yazim bin Yahfazyath bin Isya bin Aban bin Rohba’am bin Daud as.
Kedua, menurut Abul Qosim bin Asakir nasab Maryam adalah Maryam binti Imron bin Matsan bin Azir bin Yaud bin Akhnaz bin Shaduq bin Ayazur bin Al-yaqim bin Aibud bin Zaryabil bin Syalatal bin Yuhina bin Barsya bin Amun bin Misya bin Hazqo bin Ahaz bin Mautsam bin Azruya bin Yuram bin Busyafath bin Isya bin Iba bin Rohba’am bin Sulaiman bin Daud as.
Meskipun terdapat perbedaan dengan riwayat yang disebutkan oleh Muhammad bin Ishaq tidak diperselisihkan lagi bahwa Maryam merupakan keturunan Nabi Daud as. Tapi yang masyhur adalah pendapat yang kedua yaitu dari imam Abul Qosim bin Asakir.
Imron menikah dengan seorang wanita yang berasal dari daerah pedalaman Palestina yang bernama Hannah Binti Fakhud. Imron dan Istrinya hidup di tengah komunitas masyarakat yang cenderung membanggakan anak laki laki dari pada anak perempuan, karena kelak hanya anak laki-laki yang akan memegang urusan dan tanggung jawab kemasyarakatan dan dapat diabdikan di Baitul Maqdis. Selain itu, Imron juga merupakan seorang imam yang menjadi panutan bagi kaumnya di sekitar daerah Yarusalem.
Hannah 
Binti Fakhud istri dari Imron in merupakan adik dari istri Nabi Zakaria as. Maka, Maryam adalah keponakan dari Nabi Zakaria as dan pernah diasuh olehnya. Anak dari Nabi Zakaria as pun adalah seorang nabi, yakni Nabi Yahya as. Lalu, dari rahim Maryam, lahirlah seorang pemuda yang mulia dan saleh yang menjadi nabi, yakni Nabi Isa as. Itulah kenapa Maryam merupakan perempuan dari keturunan keluarga mulia. Dia juga termasuk dalam salah satu umat yang istimewa karena namanya mewakili segala sesuatu yang murni dan memegang posisi terhormat dalam Islam. Sehingga Allah SWT menjadikan Maryam sebagai nama salah satu surat yang ada dalam Al-Qur’anul Karim.
Latar Belakang Sosial dan Budaya Maryam binti Imron
Keluarga Imron adalah turunan (cabang) terakhir orang-orang beriman dari turunan Bani Isroil. Namun antara mereka dengan Nabi Ya’qub terpisah beberapa kurun lamanya. Layaknya pohon kurma yang tumbuh di tengah gurun pasir dengan cara menumbuhkan akar terlebih dahulu kedalam tanah sampai menemukan air. Tak peduli berapa dalam sumber air itu ada maka sedalam itulah akar kurma akan tumbuh, kemudian ia akan menumbuhkan tunas dan batangnya ke atas. Begitupun Maryam yang banyak menghadapi ujian berupa celaan dan fitnah namun dengan penuh kesabaran, keluhuran budi pekerti, kekuatan iman, dan keikhlasan dalam menghamba kepada Allah SWT, Maryam mampu meningkatkan ketakwaan nya kepada Allah sehingga menghasilkan kenikmatan yang dapat dirasakan seluruh kaum Bani Isroil yaitu Nabi Isa as menjadi pemimpin bagi umatnya.
Al-Qur'anul Karim Surat Az-Zukhruf (43) Ayat 59 (Makkiyyah=89A)
اِنْ هُوَ اِلَّا عَبْدٌ اَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنٰهُ مَثَلًا لِّبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ ۗ

Dia (Isa) tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan nikmat (kenabian) kepadanya dan Kami jadikan dia sebagai contoh pelajaran bagi Bani Israil.

Al-Qur'anul Karim Surat Ali 'Imron (3) Ayat 48-49 (Madaniyyah=200A)
وَيُعَلِّمُهُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرٰىةَ وَالْاِنْجِيْلَۚ

Dan Dia (Allah) mengajarkan kepadanya (Isa) Kitab, Hikmah, Taurat, dan Injil.

وَرَسُوْلًا اِلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ ەۙ اَنِّيْ قَدْ جِئْتُكُمْ بِاٰيَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ ۙاَنِّيْٓ اَخْلُقُ لَكُمْ مِّنَ الطِّيْنِ كَهَيْـَٔةِ الطَّيْرِ فَاَنْفُخُ فِيْهِ فَيَكُوْنُ طَيْرًاۢ بِاِذْنِ اللّٰهِ ۚوَاُبْرِئُ الْاَكْمَهَ وَالْاَبْرَصَ وَاُحْيِ الْمَوْتٰى بِاِذْنِ اللّٰهِ ۚوَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُوْنَ وَمَا تَدَّخِرُوْنَ ۙفِيْ بُيُوْتِكُمْ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَۚ

Dan sebagai Rasul kepada Bani Israil (dia berkata), “Aku telah datang kepada kamu dengan sebuah tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah berbentuk seperti burung, lalu aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah. Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahir dan orang yang berpenyakit kusta. Dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah, dan aku beritahukan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu orang beriman.
Seperti yang sudah kita bahas di awal bahwa, Maryam binti Imron, adalah seorang perempuan yang namanya diabadikan dalam 
Al-Qur’anul Karim sebanyak 34 kali dan menjadi perempuan satu-satunya yang namanya dijadikan nama salah satu surat Al-Qur’anul Karim. Satu satunya perempuan yang bisa memasuki Al-Qudsi, Palestina, yang saat itu hanya boleh dimasuki kaum laki-laki saja. Kelahirannya di tengah budaya Patriarki. Budaya Patriarki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai sosok otoritas utama yang sentral dalam organisasi sosial. Posisi laki-laki lebih tinggi dari pada perempuan dalam segala aspek kehidupan sosial, budaya dan ekonomi. Maryam dianggap sebagai aib bagi masyarakat sekitar. Pada zamannya, melahirkan seorang anak perempuan adalah hal yang memalukan.Kemanusiaan perempuan hanyalah sebatas objek kebutuhan dalam memuaskan nafsu biologis laki-laki. Ibunya, Hannah binti Fakhud adalah sosok perempuan dengan kesabaran yang sangat luar biasa manakala Allah menjadikan dia sebagai perempuan yang tak kunjung memiliki keturunan. Meski begitu, tak ada keputusasaan pada diri Hannah binti Fakhud akan harapan memiliki anak meskipun sampai usia tua, hingga akhirnya Allah hadirkan Maryam untuk mengisi kesepiannya.

Allah SWT berfirman:
Al-Qur'anul Karim Surat Ali 'imron (3) Ayat 35 (Madaniyyah=200A)
اِذْ قَالَتِ امْرَاَتُ عِمْرَانَ رَبِّ اِنِّيْ نَذَرْتُ لَكَ مَا فِيْ بَطْنِيْ مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّيْ ۚ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
(Ingatlah), ketika istri Imran berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu, apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
Jadi di suatu kesempatan, ibunda Maryam, Hannah binti Fakhud berteduh di bawah pohon. Terlihat olehnya di antara ranting pepohonan, seekor burung menyuapi anaknya, hingga Hannah binti Fakhud tertegun. Lamunannya melayang-layang, seakan-akan ia menjadi induk burung itu. Akan tetapi, jauh panggang dari api, kenyataannya sampai di usia kepala Sembilan seorang 1 anak pun belum dikasih oleh Sang Pencipta.
Hannah binti Fakhud merintih dan memanjatkan do’a kepada Sang Pencipta, hingga dia bernadzar jika dikaruniai anak, Hannah binti Fakhud akan menyerahkan anaknya untuk dijadikan sebagai pelayan Baitul Maqdis. Nadzarnya menjadikan anak sebagai pelayan Baitul Maqdis adalah harapan para rabbi. Mereka dilepaskan dari tugastugas rumah dan bergabung dalam kelompok yang hanya konsentrasi melayani keperluan Baitul Maqdis. Mereka harus tinggal di kuil untuk melayani kebutuhan Baitul Maqdis, dan tugas ini umumnya hanya cocok untuk anak laki-laki.
Allah mengabulkan do’a 
Hannah binti Fakhud. Tidak lama kemudian Hannah binti Fakhud pun mengandung. Tentu tidak terbayang kebahagiaan yang Hannah binti Fakhud rasakan. Di sisi lain, Imron sang suami sedih karena nadzar yang telah diucapkan istrinya. “Apa yang kau lakukan? Bagaimana jika ternyata anak yang kau kandung adalah perempuan, sedangkan perempuan adalah aurat yang tidak pantas menjalankan tugas Baitul Maqdis”, keluhnya. Hannah terdiam, dan merasakan kekhawatiran yang juga Imron pikirkan. Tidak lama kemudian Imron wafat. Waktu kelahiran pun tiba. Anak yang di idamkan Hannah ternyata perempuan. Hannah sedih dan hanya bisa pasrah. Kesedihan Hannah tertulis dalam Al-Qur'anul Karim Surat Ali 'imron (3) Ayat 36
Al-Qur'anul Karim Surat Ali 'imron (3) Ayat 36 (Madaniyyah=200A)
فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ اِنِّيْ وَضَعْتُهَآ اُنْثٰىۗ وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْۗ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْاُنْثٰى ۚ وَاِنِّيْ سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَاِنِّيْٓ اُعِيْذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ
Maka ketika melahirkannya, dia berkata, “Ya Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan.” Padahal Allah lebih tahu apa yang dia lahirkan, dan laki-laki tidak sama dengan perempuan. ”Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk.”
Hannah memberikan nama putrinya dengan nama Maryam. Dalam Bahasa Ibrani, Maryam berarti “perempuan yang tekun beribadah” Hannah menyelimuti Maryam lalu menggendongnya ke Baitul Maqdis. Ia letakkan di hadapan para rabbi.”Ambillah anak yang dinazarkan ini”, ucapnya.
Karena Maryam adalah putri pemimpin mereka, para rabbi berebut. Nabi Zakariya tidak mau mengalah:”Aku yang paling berhak sebab bibinya adalah istriku”. “Akan tetapi kami akan mengundinya terlebih dulu,” yang lain memberi usul.
Al-Qur'anul Karim Surat Ali 'imron (3) Ayat 37 (Madaniyyah=200A)
فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُوْلٍ حَسَنٍ وَّاَنْۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًاۖ وَّكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا ۗ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَۙ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا ۚ قَالَ يٰمَرْيَمُ اَنّٰى لَكِ هٰذَا ۗ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, “Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.
KISAH NABI ZAKARIYA A.S. DAN NABI YAHYA A.S. BESERTA KISAH MARYAM A.S.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Anbiya (21) Ayat 89-91 (Makkiyyah=112A)👈H144
وَزَكَرِيَّآ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗ رَبِّ لَا تَذَرْنِيْ فَرْدًا وَّاَنْتَ خَيْرُ الْوٰرِثِيْنَ ۚ
Dan (ingatlah kisah) Zakaria, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Anbiya (21) Ayat 90 (Makkiyyah=112A)
فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ ۖوَوَهَبْنَا لَهٗ يَحْيٰى وَاَصْلَحْنَا لَهٗ زَوْجَهٗۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا يُسٰرِعُوْنَ فِى الْخَيْرٰتِ وَيَدْعُوْنَنَا رَغَبًا وَّرَهَبًاۗ وَكَانُوْا لَنَا خٰشِعِيْنَ
Maka Kami kabulkan (doa)nya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya (dapat mengandung). Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Anbiya (21) Ayat 91 (Makkiyyah=112A)
وَالَّتِيْٓ اَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيْهَا مِنْ رُّوْحِنَا وَجَعَلْنٰهَا وَابْنَهَآ اٰيَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
Dan (ingatlah kisah Maryam) yang memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan (roh) dari Kami ke dalam (tubuh)nya; Kami jadikan dia dan anaknya sebagai tanda (kebesaran Allah) bagi seluruh alam.
KISAH MARYAM
Al-Qur'anul Karim Surat Ali 'imron (3) Ayat 42-44 (Madaniyyah=200A)👈H276
وَاِذْ قَالَتِ الْمَلٰۤىِٕكَةُ يٰمَرْيَمُ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفٰىكِ عَلٰى نِسَاۤءِ الْعٰلَمِيْنَ
Dan (ingatlah) ketika para malaikat berkata, “Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas segala perempuan di seluruh alam (pada masa itu).
Imam Muslim dan Al-Jamaa'ah kecuali Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Musa r.a., ia berkata, "Rosulullah SAW bersabda,
كَمُلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيْرٌوَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِغَيْرَمَرْيَمُ ابْنَةُعِمْرَانَ، وَاٰسِيَةُامْرَاءَةُفِرْعَوْنَ، وَاِنَّ فَضْلَ عَائِشَةَعَلَى النِّسَاءِكَفَضْلِ الثَّرِيْدِعَلَى سَائِرِالطَّعَامِ
"Orang yang mencapai derajat kesempurnaan dari kaum laki-laki jumlahnya banyak, sedangkan dari kaum wanita hanya sayyidah Maryam putri 'Imron dan Asiyah istri Fir'aun. Keutamaan sayyidah 'Aisyah atas wanita lainnya seperti keutamaan makanan tsariid (makanan yang terbuat dari daging dan roti yang dipotong kecil-kecil) atas jenis makanan yang lain."
Diriwayatkan melalui berbagai jalur yang shohih seperti yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan Ibnu Murdawaih dari Abu Huroiroh r.a. dan Anas bin Malik r.a. bahwa Rosulullah saw. bersabda,
خَيْرُنِسَاءِاْلعَالَمِيْنَ اَرْبَعٌ: مَرْيَمُ ابْنَةُعِمْرَانَ، وَاٰسِيَةُبِنْتُ مُزَاحِمَ امْرَاءَةِفِرْعَوْنَ، وَخَدِيْجَةُبِنْتُ خُوَيْلِدِ، وَفَاطِمَةُبِنْتُ مُحَمَّدٍ
"Sebaik-baik wanita seluruh alam ada empat, Maryam binti'Imron, Asiyah binti Muzahim istri Fir'Aun, Khodijah binti Khuwailid dan Fatimah binti Muhammad."
Ada riwayat lain berbunyi:
سَيِّدَةُنِسَاءِاَهْلِ اْلجَنَّةِبَعْدَمَرْيَمَ: فَاطِمَةُبِنْتُ مُحَمَّدٍ، وَخَدِيْجَةُبِنْتُ خُوَيْلِدِ
Al-Qur'anul Karim Surat At-Tahrim (66) Ayat 12 (Madaniyyah=12A)
وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ
dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Robbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Ma'idah (5) Ayat 75 (Madaniyyah=120A)
مَا الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ اِلَّا رَسُوْلٌۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُۗ وَاُمُّهٗ صِدِّيْقَةٌ ۗ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ ۗ اُنْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْاٰيٰتِ ثُمَّ انْظُرْ اَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ
Al-Masih putra Maryam hanyalah seorang Rasul. Sebelumnya pun sudah berlalu beberapa rasul. Dan ibunya seorang yang berpegang teguh pada kebenaran. Keduanya biasa memakan makanan. Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) kepada mereka (Ahli Kitab), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka dipalingkan (oleh keinginan mereka).
Al-Qur'anul Karim Surat Ali 'imron (3) Ayat 43 (Madaniyyah=200A)
يٰمَرْيَمُ اقْنُتِيْ لِرَبِّكِ وَاسْجُدِيْ وَارْكَعِيْ مَعَ الرَّاكِعِيْنَ
Wahai Maryam! Taatilah Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.”
Al-Qur'anul Karim Surat Ar-Rum (30) Ayat 26 (Makkiyyah=60A)
وَلَهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ كُلٌّ لَّهٗ قَانِتُوْنَ
Dan milik-Nya apa yang di langit dan di bumi. Semuanya hanya kepada-Nya tunduk.
Al-Qur'anul Karim Surat Ali 'imron (3) Ayat 44 (Madaniyyah=200A)
ذٰلِكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الْغَيْبِ نُوْحِيْهِ اِلَيْكَ ۗوَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ اِذْ يُلْقُوْنَ اَقْلَامَهُمْ اَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَۖ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ اِذْ يَخْتَصِمُوْنَ
Itulah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), padahal engkau tidak bersama mereka ketika mereka melemparkan pena mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan engkau pun tidak bersama mereka ketika mereka bertengkar.
Al-Qur'anul Karim Surat Hud (11) Ayat 49 (Makkiyyah=123A)
تِلْكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الْغَيْبِ نُوْحِيْهَآ اِلَيْكَ ۚمَا كُنْتَ تَعْلَمُهَآ اَنْتَ وَلَا قَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هٰذَاۚ فَاصْبِرْۚ اِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِيْنَ
Itulah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah engkau mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah, sungguh, kesudahan (yang baik) adalah bagi orang yang bertakwa.
Al-Qur'anul Karim Surat An-Nahl (16) Ayat 103 (Makkiyyah=128A)
وَلَقَدْ نَعْلَمُ اَنَّهُمْ يَقُوْلُوْنَ اِنَّمَا يُعَلِّمُهٗ بَشَرٌۗ لِسَانُ الَّذِيْ يُلْحِدُوْنَ اِلَيْهِ اَعْجَمِيٌّ وَّهٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِيْنٌ
Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, “Sesungguhnya Al-Qur'an itu hanya diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad).” Bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa Muhammad belajar) kepadanya adalah bahasa ‘Ajam, padahal ini (Al-Qur'an) adalah dalam bahasa Arab yang jelas.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Qoshosh (28) Ayat 44 (Makkiyyah=88A)
وَمَا كُنْتَ بِجَانِبِ الْغَرْبِيِّ اِذْ قَضَيْنَآ اِلٰى مُوْسَى الْاَمْرَ وَمَا كُنْتَ مِنَ الشّٰهِدِيْنَ ۙ
Dan engkau (Muhammad) tidak berada di sebelah barat (lembah suci Tuwa) ketika Kami menyampaikan perintah kepada Musa, dan engkau tidak (pula) termasuk orang-orang yang menyaksikan (kejadian itu).
BEBERAPA CONTOH PEREMPUAN MUKMINAH DAN PEREMPUAN KAFIR
Al-Qur'anul Karim Surat At-Tahrim (66) Ayat 10-12 (Madaniyyah=66A)👈H713
ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوا امْرَاَتَ نُوْحٍ وَّامْرَاَتَ لُوْطٍۗ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتٰهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا وَّقِيْلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِيْنَ
Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Lut. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, tetapi kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksaan) Allah; dan dikatakan (kepada kedua istri itu), “Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).”
Al-Qur'anul Karim Surat At-Tahrim (66) Ayat 11 (Madaniyyah=12A)
وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوا امْرَاَتَ فِرْعَوْنَۘ اِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِيْ عِنْدَكَ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ وَنَجِّنِيْ مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهٖ وَنَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَۙ
Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir‘aun, ketika dia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim,”
Al-Qur'anul Karim Surat At-Tahrim (66) Ayat 12 (Madaniyyah=12A)
وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ
dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Robbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.
KISAH SITI MARYAM MENGANDUNG ISA
Al-Qur'anul Karim Surat Muryam (19) Ayat 16-22 (Makkiyyah=98A)👈H363
وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مَرْيَمَ إِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِهَا مَكَانًا شَرْقِيًّا
Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur,
Al-Qur'anul Karim Surat Maryam (19) Ayat 17 (Makkiyyah=98A)
فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُونِهِمْ حِجَابًا فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا
maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.
Al-Qur'anul Karim Surat Maryam (19) Ayat 18 (Makkiyyah=98A)
قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَٰنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا
Maryam berkata: "Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa".
Al-Qur'anul Karim Surat Maryam (19) Ayat 19 (Makkiyyah=98A)
قَالَ إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَامًا زَكِيًّا
Ia (jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci".
Al-Qur'anul Karim Surat Maryam (19) Ayat 20 (Makkiyyah=98A)
قَالَتْ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا
Maryam berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!"
Al-Qur'anul Karim Surat Muryam (19) Ayat 21 (Makkiyyah=98A)
قَالَ كَذٰلِكِۚ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌۚ وَلِنَجْعَلَهٗٓ اٰيَةً لِّلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِّنَّاۚ وَكَانَ اَمْرًا مَّقْضِيًّا
Dia (Jibril) berkata, “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, “Hal itu mudah bagi-Ku, dan agar Kami menjadikannya suatu tanda (kebesaran Allah) bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu urusan yang (sudah) diputuskan.”
Al-Qur'anul Karim Surat Maryam (19) Ayat 22 (Makkiyyah=98A)
فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا
Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.
Al-Qur'anul Karim Surat Ali 'imron (3) Ayat 47 (Madaniyyah=200A)
قَالَتْ رَبِّ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ وَلَدٌ وَّلَمْ يَمْسَسْنِيْ بَشَرٌ ۗ قَالَ كَذٰلِكِ اللّٰهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ ۗاِذَا قَضٰٓى اَمْرًا فَاِنَّمَا يَقُوْلُ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
Dia (Maryam) berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku akan mempunyai anak, padahal tidak ada seorang laki-laki pun yang menyentuhku?” Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.
KELAHIRAN NABI ISA DAN PERISTIWA-PERISTIWA YANG MENYERTAINYA
Al-Qur'anul Karim Surat Muryam (19) Ayat 23-26 (Makkiyyah=98A)👈H370
فَاَجَاۤءَهَا الْمَخَاضُ اِلٰى جِذْعِ النَّخْلَةِۚ قَالَتْ يٰلَيْتَنِيْ مِتُّ قَبْلَ هٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَّنْسِيًّا
Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia (Maryam) berkata, “Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.”
Al-Qur'anul Karim Surat Maryam (19) Ayat 24 (Makkiyyah=98A)
فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا
Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.
Al-Qur'anul Karim Surat Maryam (19) Ayat 25 (Makkiyyah=98A)
وَهُزِّيْٓ اِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا ۖ
Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.
Al-Qur'anul Karim Surat Maryam (19) Ayat 26 (Makkiyyah=98A)
فَكُلِيْ وَاشْرَبِيْ وَقَرِّيْ عَيْنًا ۚفَاِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ اَحَدًاۙ فَقُوْلِيْٓ اِنِّيْ نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْمًا فَلَنْ اُكَلِّمَ الْيَوْمَ اِنْسِيًّا ۚ
Maka makan, minum dan bersenanghatilah engkau. Jika engkau melihat seseorang, maka katakanlah, “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.”
KENABIAN ISA A.S DAN KEMAMPUANNYA BERBICARA KETIKA MASIH BAYI DALAM BUAIAN
Al-Qur'anul Karim Surat Maryam (19) Ayat 27 (Makkiyyah=98A)👈H375
فَأَتَتْ بِهِ قَوْمَهَا تَحْمِلُهُ ۖ قَالُوا يَا مَرْيَمُ لَقَدْ جِئْتِ شَيْئًا فَرِيًّا
Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.
Al-Qur'anul Karim Surat Maryam (19) Ayat 28 (Makkiyyah=98A)
يَا أُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا
Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina",
Al-Qur'anul Karim Surat Maryam (19) Ayat 29 (Makkiyyah=98A)
فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ ۖ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا
maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?"
Al-Qur'anul Karim Surat Maryam (19) Ayat 30 (Makkiyyah=98A)
قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا
Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,
Al-Qur'anul Karim Surat Maryam (19) Ayat 31 (Makkiyyah=98A)
وَّجَعَلَنِيْ مُبٰرَكًا اَيْنَ مَا كُنْتُۖ وَاَوْصٰنِيْ بِالصَّلٰوةِ وَالزَّكٰوةِ مَا دُمْتُ حَيًّا ۖ
Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (melaksanakan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;
Al-Qur'anul Karim Surat Maryam (19) Ayat 32 (Makkiyyah=98A)
وَّبَرًّاۢ بِوَالِدَتِيْ وَلَمْ يَجْعَلْنِيْ جَبَّارًا شَقِيًّا
dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.
Al-Qur'anul Karim Surat Maryam (19) Ayat 33 (Makkiyyah=98A)
وَالسَّلٰمُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُّ وَيَوْمَ اَمُوْتُ وَيَوْمَ اُبْعَثُ حَيًّا
Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”
–·•Ο•·–

👈عوامل الجزم

Amil-amil Jazem

بِلَا وَلَامٍ طَالِباً ضَعْ جَزْمَا ¤ فِي الْفِعلِ هكَذَا بِلَمْ وَلَمَّا

Posisikan Jazem pada Fi’il Mudhari’ sebagai Tholab sebab dimasuki LAA (Nahi) atau Lam (Amar). Demikian juga jazem sebab LAM (Nafi) dan LAMMAA (Nafi) 

وَاجْزِمْ بِإنْ وَمَنْ وَمَا وَمَهْمَا ¤ أيٍّ مَتَى أيَّانَ أيْنَ إذْ مَا

Juga Jazemkan! (pada dua Fi’il) sebab IN, MAN, MAA, MAHMAA, AYYUN, MATAA, AYYAANA, AINA, IDZMAA,… 

وَحَيْثُمَا أنَّى وَحَرْفٌ إذْ مَا ¤ كَإِنْ وَبَاقِي الأَدَوَاتِ أَسْمَا

HAITSUMAA dan ANNAA. Adapun IDZMAA berupa Kalimah Huruf (Huruf Syarat) seperti halnya IN. Sedangkan Amil Jazem/Adawat Syarat sisanya (selain “Idzmaa” dan “In”) berupa Kalimah Isim (Isim Syarat). 

–·•Ο•·–

Pada Bab sebelumnya diterangkan bahwa Fi’il Mudhari mempunyai tiga I’rob ROFA, NASHAB dan JAZEM. Mengenai keterangan Rofa’ dan Nashabnya telah dibahas pada Bab I’rob Fi’il. Selanjutnya pada Bab Amil-amil jazem disini akan membahas mengenai Fi’il Mudhari’ Jazem/Majzum. Nazham Bab ini sebenarnya bagian atau Fasal dari Bab sebelumnya, karena masih tergolong dari pembahasan Bab I’rob Fi’il. Dibuatkan Bab khusus oleh Mushannif dikarenakan panjangnya pembahasannya.

Amil Jazm terbagi dua:

1. Menjazemkan satu fi’il

2. Menjazemkan dua fi’il

Amil Jazem pada satu Fi’il ada 5 :

1. Tholab

Sebagai jawab dari AMAR/NAHI sebagaimana telah dijelaskan pada Bab Irob Fi’il sebelumnya, tepatnya pada Bait ke 689-690.

2. لا LAA Tholabiyah.

Disebut LAA Nahiy, apabila diucapkan dari yg lebih tinggi kepada yg lebih rendah derajatnya, contoh dalam Al-Qur’an :

يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Yaa bunayya LAA TUSYRIK billaahi innasy-syirka lazhulmun ‘azhiim = “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman 13).

Disebut LAA Du’a, apabila diucapkan dari yg lebih rendah kepada yg lebih tinggi, contoh dalam Al-Qur’an :

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

Robbanaa LAA TU’AAKHIDZNAA in nasiinaa aw akhtho’naa = “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.

Disebut LAA Iltimas, jika diucapkan pada sesamanya, contoh ucapan seseorang pada teman sejawatnya :

لا تتأخر في الحضور

LAA TATA’AKHKHOR fil-hudhuuri = Jangan terlambat hadir!

3. لـ Lam Tholab

Ababila diucapkan dari yg lebih tinggi kepada yg lebih renda derajatnya maka disebut Amar, contoh dalam Ayat Al-Qur’an :

لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ

LI YUNFIQ dzuu sa’atin min sa’atihi = Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. (QS Ath-Thalaq 7)

Ababila diucapkan dari yg lebih rendah kepada yg lebih tinggi derajatnya maka disebut Du’a, contoh dalam Ayat Al-Qur’an :

وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ

Wa naadaw yaa maalik LI YAQDHI ‘alainaa robbuka = Mereka berseru: “Hai Malik biarlah Tuhanmu membunuh kami saja.”

Ababila diucapkan pada sesamanya maka dinamakan Iltimas, contoh ucapan seseorang pada teman sejawatnya :

لتأخذْ هذا الكتاب

LI TA’KHUDZ hadzal kitaaba = Ambillah kitab ini.

Perlu diketahui bahwa harkat Lam Tholab adalah kasroh (LI). Dan jika jatuh sesudah Fa’ atau Wawu maka yg banyak diharkati Sukun, contoh :

فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي

FALYASTAJIIBUU lii WALYU’MINUUNII bii = maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku (QS. Al-baqarah 186).

Dan terkadang diharkati Sukun jika jatuh sesudah TSUMMA, contoh :

ثُمَّ لْيَقْطَعْ فَلْيَنْظُرْ

TsummaLYAQTHO’ faLYANZHUR = kemudian hendaklah ia melaluinya, kemudian hendaklah ia pikirkan (QS. Al-Hajj 15)

4. لم LAM Nafi

Adalah huruf nafi yg khusus masuk pada Fi’il Mudhari’ serta menjazemkannya, merubah zamannya dari Hal atau Istiqbal kepada zaman Madhi, contoh Ayat Al-Qur’an :

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

LAM YALID wa LAM YUULAD = Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan (QS Al-Ikhlash 3)

Sebagai pengecualian apabila LAM Nafi dimasuki oleh adawat syarat, maka fungsi perubahan zaman dari Hal/Istiqbal ke zaman madhi menjadi batal, maka LAM nafi disini diberlakukan khusus untuk zaman Istiqbal. Contoh pada Ayat Al-Qur’an berikut:

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ

Fa in LAM TAF’ALUU fa’dzanuu bi harbin minallaahi wa rosuulihi = Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. (QS al-Baqarah 279)

I’rob :

Lafazh TAF’ALUU = dijazemkan dengan membuang Nun karena Af’alul Khomsah. Amil Jazemnya dalam hal ini boleh LAM Nafi karena khusus masuk pada Fi’il Mudhari. Dan boleh IN Syarthiyah karena lebih awal dan lebih kuat beramal baik pada zamnnya (Istiqbal) dan lafazhnya (Jazem).

Terkadang LAM Nafi dimasuki oleh Hamzah Istifham Taqririy (yg berfungsi sebagai penetapan kepada mukhotob), maka pengamalan LAM Nafi tetap berlaku dan banyak ditemukan di dalam Ayat-ayat Al-Quran, contoh :

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

ALAM NASYROH laka shodrok = Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? (QS. Alam Nasyrah 1).

5. لما LAMMAA (Amil Jazem)

Khusus masuk pada Fi’il Mudhari’ dan menjazemkannya. Bersekutu dengan LAM dalam hal sama-sama berupa Kalimah huruf, Amil Jazem, Merubah zaman ke Madhi, boleh dimasuki Hamzah Istifham, dan sama-sama Huruf Nafi namun untuk LAMMA lebih mencapai penafiannya dari Madhi hingga Hal/sekarang.

Contoh ayat dalam Al-Qur’an :

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ

Qoolatil-a’roobu aamannaa, qul LAM TU’MINUU walaakin quuluu aslamnaa wa LAMMAA YADKHULIL-iimaanu fii quluubikum = Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman.” Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu (QS Al Hujuraat 14)

I’rob :

LAM dan LAMMA = Huruf Nafi, Amil Jazem, dan merubah zaman.

TU’MINUU = Fi’il Mudhari’ Majzum sebab Amil Jazem LAM, tanda jazemnya membuang huruf Nun karena Af’alul-Khosah.

YADKHULil = Fi’il Mudhari’ Majzum sebab Amil Jazem LAMMAA, tanda jazemnya sukun, diharkati kasroh karena bertemu dua huruf mati yakni bertemu dengan AL.

Perbedaan penggunaan LAMMAA dan LAM

Ada beberapa hal yg menjadi ciri khas LAMMAA :

1. Kebolehannya membuang Majzumnya dan cukup berhenti di kata LAMMAA sekalipun pada situasi Ikhtiyar (longgar dalam sebuah perkataan) contoh :

قاربت مكة ولما

QOOROBTU MAKKATA WA LAMMAA = aku sudah mendekati Mekkah dan masih belum.

Yakni takdirannya :

قاربت مكة ولما أدخلْها

QOOROBTU MAKKATA WA LAMMAA ADKHUL HAA = aku sudah mendekati kota mekkah dan masih belum memasukinya.

2. Wajibnya penempatan waktu penafian dari zaman Madhi (sebelum masa pembicaraan) hingga zaman Haal (ketika pembicaraan). Contoh :

أعجبني تفسير ابن كثير وحسن طباعته ولما أشتره

A’JABANIY TAFSIIRU IBNI KATSIIRI WA HUSNU THIBAA’ATIHII WA LAMMAA ASYTARIHI = Tafsir Ibnu Katsir berikut pencetakanya yg bagus itu membuatku kagum, dan aku belum membelinya.

Yakni tidak membelinya pada masa lalu dan tidak pula hingga sekarang.

3. Bolehnya Fi’il yg dijazemkannya tersebut berupa kejadian yg dapat terjadi. Contoh :

وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ

wa LAMMAA YADKHULIL-iimaanu fii quluubikum = karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu (QS Al Hujuraat 14)

Yakni belum beriman hingga sekarang dan suatu saat nanti boleh jadi beriman.

بَلْ لَمَّا يَذُوقُوا عَذَابِ

BAL LAMMAA YADZUUQUU ‘ADZAABI = dan sebenarnya mereka belum merasakan azab-Ku. (QS. Shaad 8)

Yakni belum merasakan Azab sekarang dan boleh akan merasakannya nanti.

Oleh karena itu tidak boleh mempergunakan LAMMAA untuk peristiwa yg tidak akan mungkin terjadi, maka tidak boleh mengatakan :

لَمَّا يَجمع الليل والنهار

LAMMAA YAJMA’ ALLAILU WAN-NAHAARU = Malam dan siang belum berkumpul.

Sebab malam dan siang memang tidak mungkin bersatu.

Ada beberapa hal yg menjadi ciri khas LAM Nafi :

1. Dapat dimasuki sebagian Adawat Syarat, contoh dalam Al-Qur’an :

وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

WA MAN LAM YATUB FA ULAAIKA HUMUZH-ZHAALIMUUN = dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS Al-Hujuraat 11)

وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ

WA IN LAM TAF’AL FAMAA BALLAGHTA RISAALATAHU = Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. (QS. Al-Maaidah 67)

Berbeda dengan Amil Jazem LAMMA yg tidak boleh jatuh sesudah ataupun sebelum adawat Syarat.

2. Kebolehannya makna penafian Fi’il Mudhari’ terlepas sebelum masa pembicaraan, contoh dalam Al-Qur’an :

هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنسَانِ حِينٌ مِّنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُن شَيْئاً مَّذْكُوراً

HAL ATAA ‘ALAL-INSAANI HIINUN MINAD-DAHRI LAM YAKUN SYAI’AN MADZKUUROO = Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (QS. Al-Insaan 1)

Yakni dulu dan sekarang manusia sudah ada.

Dan terkadang ada yg tetap berlanjut tanpa terlepas hingga masa pembicara, contoh dalam Al-Qur’an :

وَلَمْ أَكُن بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيّاً

WA LAM AKUN BI DU’AA’IKA ROBBI SYAQIYYAA = dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. (QS Maryam 4).

Dengan mengetahui perbedaan masa antara LAM Nafi dan LAMMAA Nafi, maka benar mengatakan :

لم يحضر الضيف وقد حضر

LAM YAHDHUR ADH-DHAIFU WA QOD HADHARA = tamu itu tidak datang dan telah datang.

Tidak benar mengatakan :

لما يحضر الضيف وقد حضر

LAMMAA YAHDHUR ADH-DHAIFU WA QOD HADHARA = tamu itu belum datang dan telah datang.

Yang benar mengatakan :

لما يحضر الضيف وقد يحضر

LAMMAA YAHDHUR ADH-DHAIFU WA QOD YAHDHURU = tamu itu belum datang dan terkadang datang.

Atau benar mengatakan :

لما يحضر الضيف وسوف يحضر

LAMMAA YAHDHUR ADH-DHAIFU WA SAUFA YAHDHURU = tamu itu belum datang dan akan datang.

000

Amil Jazem pada dua Fi’il, sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Malik pada Bait diatas semua berjumlah 11.

Amil Jawazim tsb ada yg berupa Kalimah Isim yg menempati mahal/posisi I’rob. Dan ada yg berupa Kalimah Harf tanpa menempati mahal I’rob. Mengenai ini, InsyaAllah akan dijelaskan satu-persatu mengingat pentingnya mengetahui posisi didalam I’robnya. Semoga Allah memberi kemudahan khususnya bagi saya dan bagi antum semua pencinta Bahasa Arab. Aamiin.

1. إن IN

Kalimah Huruf, Huruf Syarat, Amil Jazm dan tidak menempati posisi I’rob. Berfungsi sebagai pencetus timbulnya Jawab atas adanya Syarat, tanpa memberlakukan penunjukan Zaman dan Makan (waktu dan tempat) ataupun Aqil dan Gharu Aqil (berakal dan tidak).

Contoh :

إن تصحب الأشرار تندمْ

IN TASHHABIL-ASYROORO TANDAM = jika kamu temani orang-orang jahat niscaya kamu menyesal.

Contoh dalam AL-Qur’an :

إِن يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ

IN YASYA’ YUDZHIBKUM = Jika Allah menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu.

2. من MAN

Isim Syarat, Amil Jazem, Mabni Sukun, digunakan untuk yg berakal.

MAN Syarat menempati posisi ROFA’ sebagai MUBTADA’ apabila :

> Fi’il Syaratnya berupa FI’IL LAZIM.

Contoh :

من يكثرْ كلامه يكثرْ ملامه

MAN YAKTSUR KALAAMUHU YAKTSUR MALAAMUHU = barang siapa yg banyak bicaranya maka banyak celaannya.

Contoh dalam Ayat Al-Qur’an :

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِنْهَا

MAN JAA’A BIL-HASANATI FALAHUU KHAIRUN MINHAA = Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik dari padanya (QS. Annaml 89)

I’rob :

MAN = Isim Syarat, Amil Jazem, Mabni Sukun dalam posisi Rofa’ menjadi Mubtada’.

JAA’A = Fi’il Madhi Mabni Fathah dalam posisi Jazem menjadi Fi’il Syarat.

FALAHUU KHAIRUN MINHUM = Jawab Syarat dalam posisi Jazem.

Jumlah Syarat disini sebagai Khobar dari Mubtada’ menurut qoul yg lebih rojih.

> Fi’il Syaratnya berupa FI’IL NAWASIKH

Contoh :

من يكنْ عجولاً يكثرْ خطؤه

MAN YAKUN ‘UJUULAN YAKTSUR KHOTHO’UHU = barang siapa terburu-buru niscaya akan banyak kekeliruannya.

Contoh dalam Ayat Al-Qur’an :

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ

MAN KAANA YURIIDU HARTSAL-AAKHIROTI NAZID LAHU FI HARTSIHI = Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya. (QS. Asy-Syuura 20)

I’rob :

MAN = Mubtada’

KAANA = Fi’il Madhi, Fi’il Syarat. Isimnya dhamir mustatir yg merujuk pada MAN.

YURIIDU = Khobar Jumlah.

NAZID LAHU = Jawab Syarat.

KAANA + YURIIDU = Jumlah dalam mahal Rofa’ menjadi Khobar dari Mubtada MAN.

> Fi’il Syaratnya berupa FI’IL MUTA’ADDI kepada selainnya :

Contoh:

من يحترم الناس يحترموه

MAN YAHTARIM AN-NAASA YAHTARIMUU HU = barang siapa menghormati orang lain maka orang lain menghormatinya.

Contoh dalam Al-Qur’an :

مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ

MAN YA’MAL SUU’AN YUJZA BIHI = Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu (QS. An-Nisaa’ 123)

I’rob :

MAN = Isim Syarat, Amil Jazm, mabni sukun, mahal rofa’ menjadi Mubtada.

YA’MAL = Fi’il Syarat, dijazemkan dengan sukun, Faa’ilnya berupa dhamir mustatir Jawazan takdirannya Huwa merujuk pada MAN. Jumlah Fiil Syarath ini sebagai khobar jumlah dari mubtada’ MAN.

SAWAA’AN = Maf’ul Bih, Manshub dengan Fathah.

YUJZA = Jawab Syarat, Majzum dg membuang huruf Illat Alif.

MAN Syarat menempati posisi NASHAB sebagai MAF’UL BIH apabila :

> Fi’il Syaratnya berupa FI’IL MUTA’ADDI kepada dirinya :

Contoh :

من تساعد أساعده

MAN TUSAA’ID USAA’ID HU = kepada siapa pun kamu membantu niscaya aku ikut membantunya.

I’rob :

MAN = Mahal Nashab menjadi Maf’ul Muqaddam.

MAN Syarat menempati posisi JARR apabila diawali dengan huruf Jar atau menjadi Mudhaf Ilaih. Contoh :

عمن تتعلم أتعلم

AN-MAN TATA’ALLAM ATA’ALLAM = dari siapa pun kamu belajar niscaya aku ikut belajar.

كتاب من تقرأ أقرأ

KITAABA MAN TAQRO’ AQRO’ = kitab siapa pun kamu baca niscaya aku ikut baca.

3. ما MAA

Isim Syarat, Amil Jazm, digunakan untuk yg tidak berakal, dii’rob seperti keterangan I’rob pada MAN.

Contoh :

ما تنفق من خير تجد ثوابه

MAA TUNFIQ MIN KHAIRIN TAJID TSAWAABAHU = apa saja yg kamu nafakahkan dari nafaqah baik, niscaya kamu akan mendapat pahalanya.

Contoh dalam Al-Qur’an :

مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

MAA NANSAKH MIN AAYATIN AW NUNSI HAA NA’TI BI KHAIRIN MINHAA AW MITSLIHAA, ALAM TA’LAM ANNALLAAHA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QODIIR = Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? (QS. Al-Baqarah 106).

I’ROB :

MAA = Isim Syarat, Amil jazem, Mabni Sukun, dalam mahal Nashab menjadi Maf’ul Bih Muqaddam.

NANSAKH = Fi’il Syarat.

NA’TI = Jawab Syarat, dijazemkan dengan membuang huruf illat Ya’.

4. MAHMAA مهما

Isim Syarat, Amil Jazem (menurut qoul rojih), untuk yg tidak berakal. Menempati posisi I’rob seperti Isim Syart “MAA”.

Contoh :

مهما تنفق في الخير يخلفْه الله

MAHMAA TUNFIQ FI’L-KHAIRI YUKHLIFHU ALLAAHU = apapun jua kamu bernafaqah di dalam kebaikan niscaya Allah akan menggantikannya.

Contoh dalam Al-Qur’an :

وَقَالُواْ مَهْمَا تَأْتِنَا بِهِ مِن آيَةٍ لِّتَسْحَرَنَا بِهَا فَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ

WA QAALUU MAHMAA TA’TINAA BIHII MIN AAYATIN LITAS-HARONAA BIHAA FAMAA NAHNU LAKA BI MU’MINIIN. = Mereka berkata: “Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu.” (QS, Al-A’raaf 132)

I’rob :

MAHMAA = Isim Syarat, Amil Jazm, Mabni Sukun dalam Mahal Rofa’ sebagai Mubtada’.

TA’TINAA = Fi’il Syarat berikut Fa’ilnya menjadi khobar dari Mubtada’ Mahmaa.

FAMAA NAHNU LAKA BI MU’MINIIN = Jawab Syarat dalam Mahal Jazem.

5. AYYUN اي

Isim Syarat, Amil Jazem, status I’robnya dipertimbangkan menurut mudhaf ilaihnya.

Contoh mudhaf pada yg berakal :

أيُّهم يقم أقم معه

AYYUHUM YAKUM AKUM MA’AHU = siapapun dari mereka berdiri niscaya aku ikut berdiri bersamanya.

AYYUHUM = sebagai Mubtada’

Contoh mudhaf pada yg tidak berakal :

أيّ الكتب تقرأ أقرأ

AYYAL-KUTUBI TAQRO’ AQRO’ = apapun kitab yg kamu baca niscaya aku mau membacanya.

AYYAL-KUTUBI = sebagai Maf’ul Muqaddam.

Contoh mudhaf pada Isim Zaman :

أيّ يوم تسافر أسافر

AYYA YAUMIN TUSAAFIR USAAFIR = Di hari apapun kamu pergi niscaya aku ikut pergi.

AYYA YAUMIN = sebagai Zharaf Zaman

Contoh mudhaf pada Isim Makan :

أيَّ بلد تسكن أسكن

AYYA BALADIN TASKUN ASKUN = Di negri manapun kamu berhenti niscaya aku ikut berhenti.

AYYA BALADIN = sebagai Zharaf Makan

Contoh mudhaf pada Mashdar :

أيّ نفع تنفع الناس يشكروك عليه

AYYA NAF’IN TANFA’IN-NAASA YASYKURUUKA ‘ALAIHI = apapun manfa’at yg kamu berikan kepada manusia, niscaya mereka akan bersyukur atasnya.

AYYA NAF’IN = sebagai Maf’ul Muthlaq

Contoh dalam Ayat Al-Qur’an :

أَيّاً مَّا تَدْعُواْ فَلَهُ الأَسْمَاء الْحُسْنَى

Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik)

I’rob :

AYYAN = Isim Syarat, Amil Jazem, dinashabkan menjadi Maf’ul Bih muqaddam.

MAA = Huruf Zaidah sebagai penaukidan makna.

TAD’UU = Fi’il Syarat, dijazemkan dengan membuang huruf Nun termasuk dari Af’alul-Khomsah, faa’ilnya berupa wawu dhamir jamak.

FALAHUL-ASMAA’UL-HUSNAA = Jawab Syarath, menempati mahal Jazem.

Tanwin pada lafazh AYYAN adalah tanwin iwadh pengganti dari mudhaf ilaihnya yg dibuang takdirannya AYYA ISMIN.

Huruf MAA Zaidah, demikian menurut salah satu qoul yakni sebagai Taukid bagi lafazh AYYUN yg samar. Sedangkan menurut qoul yg lain, MAA juga sebagai Isim Syarat dan berkumpulnya kedua Syarat tersebut sebagai Taukid.

6. MATAA متى

Isim Syarat, Amil Jazem. Penggunaannya untuk penunjukan zaman secara mutlak, kemudian dicakupi pada penggunaan makna Syarat, secara posisi I’robnya ia menempati mahal Nashab atas Zharaf Zaman.

Contoh :

متى يأت فصل الصيف ينضج العنب

MATAA YA’TI FASHLUSH-SHAIFU YANDHAJ AL-‘INABU = bilamana datang musim panas maka masaklah buah anggur.

7. AYYAANA أيان

Isim Syarat dan Amil Jazem serupa penggunaannya dengan MATAA.

Contoh :

أيان يكثر فراغ الشباب يكثر فسادهم

AYYAANA YAKTSUR FARAAGHUSY-SYABAABI YAKTSUR FASAADUHUM = bilamana muda-mudi banyak nganggurnya maka banyak pula rusaknya.

I’rob :

AYYAANA = Isim Syarath Amil Jazem, Mabni Fathah pada posisi Nashab menjadi Zharaf.

YAKTSUR = Fi’il Syarat.

YAKTSUR FASAADUHUM = Jawab Syarat, Fasaaduhum sebagai Faa’ilnya.

Contoh MATAA dan AYYAANA Syartiyah di dalam Al-Qur’an tidak ditemukan.

8. AINA أين

Isim Syarat dan Amil Jazem, diutamakan bersambung dengan MAA untuk memungkinkan makna Syarat. Penggunaannya untuk penunjukan makan/tempat, kemudian dicakupi pada penggunaan makna Syarat, secara posisi I’robnya ia menempati mahal Nashab atas Zharaf Makan.

Contoh :

أينما تذهب أصحبْك

AINAMAA TADZHAB ASHHABKA = ke mana pun kamu pergi, aku menemanimu.

Contoh dalam Al-Qur’an :

أَيْنَمَا يُوَجِّههُّ لاَ يَأْتِ بِخَيْرٍ

AINAMAA YUWAJJIHHU LAA YA’TI BI KHAIRIN = ke mana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikanpun. (QS. An-Nahl 76)

I’rob :

AINA = Isim Syarat dan Amil jazem, Mabni Fathah dalam posisi Nashab sebagai Zharaf Makan yang berta’alluq pada lafazh YUWAJJIHHU.

MAA = sebagai Taukid.

YUWAJJIHHU = Fi’il Syarat, HU dhamir menjadi Maf’ul Bih.

LAA YA’TI BI KHAIR = Jawab Syarat, YA’TI dijazemkan dengan membuang huruf Illat Ya’.

أَيْنَمَا تَكُونُواْ يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ

AINAMAA TAKUUNUU YUDRIKKUMUL-MAUTU = Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu (QS. Annisaa’ 78)

I’rob :

AINAMAA = idem, zharaf makan berta’alluq pada lafazh “YUDRIKKUM”

TAKUUNUU = Fi’il Syarat, Wawu dhamir manjadi Fa’ilnya, tashrif dari KAANA Tamm, bimakna TUUJIDUU (kamu berada).

YUDRIKKUM = Jawab Syarat.

9. IDZMAA إذما

Termasuk dari Huruf Syarat dan Amil Jazem (menurut qaul yg lebih rojih), tidak menempati mahal I’rob (laa mahalla minal I’rob) digunakan khusus hanya untuk menggantungkan Jawab pada Syarat seperti faidah IN syarthiyah. Bersambung dengan MAA Zaidah untuk menjadikannya sebagai Amil Jazem.

Contoh :

إذما تفعل شراً تندمْ

IDZMAA TAF’AL SYARRAN TANDAM = jikalau kamu kerjakan kejelekan, maka kamu menyesal.

I’rob :

IDZMAA = Huruf Syarat Amil Jazm, Mabni sukun tanpa menempati mahal I’rob.

TAF’AL = Fi’il Syarat.

TANDAM = Jawab Syarat.

Tidak ditemukan contohnya dalam Al-Qur’an.

10. HAITSUMAA حيثما

Isim Syarat dan Amil Jazem, bersambung dengan MAA zaidah merupakan syarat Amil Jazemnya, menempati Mahal I’rob Nashab sebagai Zharaf Makan.

Contoh:

حيثما تجد صديقاً وفياً تجد كنزاً ثميناً

HAITSUMAA TAJID SHIDDIIQAN WAFIYYAN TAJID KANZAN TSAMIINAN = Dimana saja kamu dapati jujur lagi menepati, maka kamu dapati simpanan yg berharga.

وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَه

WA HAITSUMAA KUNTUM FAWALLUU WUJUUHAKUM SYATHRAH = Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. (QS. Albaqarah 144)

I’rob :

HAITSUMAA = Isim Syarat Amil Jazem, Mabni Dhammah mahal Nashob (dinashobkan menjadi khobar muqaddam dari KUNTUM apabila diberlakukan sebagai Fi’il Naqish, atau dinashobkan sebagai Zharaf Makan berta’alluq pada KUNTUM yg diberlakukan Fi’il Tamm). MAA sebagai shilah.

KUNTUM = Fi’il Madhi Naqish, Mabni Sukun Mahal Jazem sebagai Fi’il Syarat. TUM sebagai isim Kaana dan MIM tanda jamak.

FAWALLUU = Jumlah Fi’il dan Faa’il dalam posisi Mahal Jazem menjadi Jawab Syarat.

Tidak ditemukan contoh lain dalam Ayat Al=Qur’an kecuali Ayat ini.

11. ANNAA أنى

Isim Syarat & Amil Jazem, digunakan untuk menunjukkan tempat kemudian dipergunakan juga untuk makna Syarat, menepati posisi I’rob Mahal Nashab atas Zharaf Makan seperti AINAMAA & HAITSUMAA.

Contoh :

أنى ينزل ذو العلم يُكرمْ

ANNAA YANZAL DZUL-‘ILMI YUKROM = dimana saja orang berilmu itu turun, ia dihormati.

وَاللهُ اَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللهِ وَبَرَكَاتُهُ