AL-QUR'ANUL KARIM SURAT ALI 'IMRON (5) AYAT 64

"AGAMA SESEORANG ITU TERGANTUNG DARI AGAMA TEMANYA"---"JAGALAH DIRIMU DAN KELUARGAMU DARI API NERAKA"

AL-QUR'ANUL KARIM SURAT AL-BAQOROH (2) AYAT 79

"AGAMA SESEORANG ITU TERGANTUNG DARI AGAMA TEMANYA"---"JAGALAH DIRIMU DAN KELUARGAMU DARI API NERAKA"

AL-QUR'ANUL KARIM SURAT AL-MAIDAH (5) AYAT 15

"AGAMA SESEORANG ITU TERGANTUNG DARI AGAMA TEMANYA"---"JAGALAH DIRIMU DAN KELUARGAMU DARI API NERAKA"

AL-QUR'ANUL KARIM SURAT AL-MAIDAH (5) AYAT 17

"AGAMA SESEORANG ITU TERGANTUNG DARI AGAMA TEMANYA"---"JAGALAH DIRIMU DAN KELUARGAMU DARI API NERAKA"

AL-QUR'ANUL KARIM SURAT AL-MAIDAH (5) AYAT 72

"Orang Yang Tertawa Bersama Satu Meja Dengan Kita, Belum Tentu Teman Kita"---"Agama Seseorang Itu Tergantung Dari Agama Temanya"

#

"Orang Yang Tertawa Bersama Satu Meja Dengan Kita, Belum Tentu Teman Kita"---"Agama Seseorang Itu Tergantung Dari Agama Temanya"

#

"Orang Yang Tertawa Bersama Satu Meja Dengan Kita, Belum Tentu Teman Kita"---"Agama Seseorang Itu Tergantung Dari Agama Temanya"

MIFTAHUL INSANIYYAH

"Orang Yang Tertawa Bersama Satu Meja Dengan Kita, Belum Tentu Teman Kita"---"Agama Seseorang Itu Tergantung Dari Agama Temanya"

APOLOGET ISLAM INDONESIA

"Orang Yang Tertawa Bersama Satu Meja Dengan Kita, Belum Tentu Teman Kita"---"Agama Seseorang Itu Tergantung Dari Agama Temanya"

AL-INSANIYYAH

"Orang Yang Tertawa Bersama Satu Meja Dengan Kita, Belum Tentu Teman Kita"---"Agama Seseorang Itu Tergantung Dari Agama Temanya"

Kamis, 31 Juli 2025

HARI KIAMAT

Al-Qur'anul Karim Surat Al-A'rof (7) Ayat 187
يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَاۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّيْۚ لَا يُجَلِّيْهَا لِوَقْتِهَآ اِلَّا هُوَۘ ثَقُلَتْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ لَا تَأْتِيْكُمْ اِلَّا بَغْتَةً ۗيَسْـَٔلُوْنَكَ كَاَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَاۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللّٰهِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ
Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat, “Kapan terjadi?” Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi, tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba.” Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya pengetahuan tentang (hari Kiamat) ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Ahzab (33) Ayat 63
يَسْـَٔلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللّٰهِ ۗوَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُوْنُ قَرِيْبًا
Manusia bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari Kiamat. Katakanlah, “Ilmu tentang hari Kiamat itu hanya di sisi Allah.” Dan tahukah engkau, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat waktunya.
Al-Qur'anul Karim Surat Thoha (20) Ayat 15-16
اِنَّ السَّاعَةَ اٰتِيَةٌ اَكَادُ اُخْفِيْهَا لِتُجْزٰى كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا تَسْعٰى
Sungguh, hari Kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan (waktunya) agar setiap orang dibalas sesuai dengan apa yang telah dia usahakan.15
فَلَا يَصُدَّنَّكَ عَنْهَا مَنْ لَّا يُؤْمِنُ بِهَا وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ فَتَرْدٰى
Maka janganlah engkau dipalingkan dari (Kiamat itu) oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti keinginannya, yang menyebabkan engkau binasa.”16
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Zalzalah (99) Ayat 1-6
اِذَا زُلْزِلَتِ الْاَرْضُ زِلْزَالَهَاۙ
Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat,1
وَاَخْرَجَتِ الْاَرْضُ اَثْقَالَهَاۙ
dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya,2
وَقَالَ الْاِنْسَانُ مَا لَهَاۚ
Dan manusia bertanya, “Apa yang terjadi pada bumi ini?”3
يَوْمَىِٕذٍ تُحَدِّثُ اَخْبَارَهَاۙ
Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya,4
بِاَنَّ رَبَّكَ اَوْحٰى لَهَاۗ
karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) padanya.5
يَوْمَىِٕذٍ يَّصْدُرُ النَّاسُ اَشْتَاتًا ەۙ لِّيُرَوْا اَعْمَالَهُمْۗ
Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok, untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya.6
PENETAPAN HARI KEBANGKITAN, HARI KEMBALI, DAN TANDA-TANDANYA
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Qiyamah(75) Ayat 1-15
لَآ اُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيٰمَةِۙ
Aku bersumpah dengan hari Kiamat,1
وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri).2
اَيَحْسَبُ الْاِنْسَانُ اَلَّنْ نَّجْمَعَ عِظَامَهٗ ۗ
Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya?3
بَلٰى قَادِرِيْنَ عَلٰٓى اَنْ نُّسَوِّيَ بَنَانَهٗ
(Bahkan) Kami mampu menyusun (kembali) jari-jemarinya dengan sempurna.4
بَلْ يُرِيْدُ الْاِنْسَانُ لِيَفْجُرَ اَمَامَهٗۚ
Tetapi manusia hendak membuat maksiat terus-menerus.5
يَسْـَٔلُ اَيَّانَ يَوْمُ الْقِيٰمَةِۗ
Dia bertanya, “Kapankah hari Kiamat itu?”6
فَاِذَا بَرِقَ الْبَصَرُۙ
Maka apabila mata terbelalak (ketakutan),7
وَخَسَفَ الْقَمَرُۙ
dan bulan pun telah hilang cahayanya,8
وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُۙ
lalu matahari dan bulan dikumpulkan,9
يَقُوْلُ الْاِنْسَانُ يَوْمَىِٕذٍ اَيْنَ الْمَفَرُّۚ
pada hari itu manusia berkata, “Ke mana tempat lari?”10
كَلَّا لَا وَزَرَۗ
Tidak! Tidak ada tempat berlindung!11
اِلٰى رَبِّكَ يَوْمَىِٕذِ ِۨالْمُسْتَقَرُّۗ
Hanya kepada Tuhanmu tempat kembali pada hari itu.12
يُنَبَّؤُا الْاِنْسَانُ يَوْمَىِٕذٍۢ بِمَا قَدَّمَ وَاَخَّرَۗ
Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.13
بَلِ الْاِنْسَانُ عَلٰى نَفْسِهٖ بَصِيْرَةٌۙ
Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri,14
وَّلَوْ اَلْقٰى مَعَاذِيْرَهٗۗ
dan meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.15
TERJADINYA KIAMAT DAN KLASIFIKASI MANUSIA
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Waqi'ah(56) Ayat 1-12
اِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُۙ
Apabila terjadi hari Kiamat,
لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ ۘ
terjadinya tidak dapat didustakan (disangkal).
خَافِضَةٌ رَّافِعَةٌ
(Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain).
اِذَا رُجَّتِ الْاَرْضُ رَجًّاۙ
Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya,
وَّبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّاۙ
dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya,
فَكَانَتْ هَبَاۤءً مُّنْۢبَثًّاۙ
maka jadilah ia debu yang beterbangan,
وَّكُنْتُمْ اَزْوَاجًا ثَلٰثَةً ۗ
dan kamu menjadi tiga golongan,
فَاَصْحٰبُ الْمَيْمَنَةِ ەۙ مَآ اَصْحٰبُ الْمَيْمَنَةِ ۗ
yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu,
وَاَصْحٰبُ الْمَشْـَٔمَةِ ەۙ مَآ اَصْحٰبُ الْمَشْـَٔمَةِ ۗ
dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu,
وَالسّٰبِقُوْنَ السّٰبِقُوْنَۙ
dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga).
اُولٰۤىِٕكَ الْمُقَرَّبُوْنَۚ
Mereka itulah orang yang dekat (kepada Allah),
فِيْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِ
Berada dalam surga kenikmatan,

HARI KEBANGKITAN

Al-Qur'anul Karim Surat Al-an'am (6) Ayat 36
اِنَّمَا يَسْتَجِيْبُ الَّذِيْنَ يَسْمَعُوْنَ ۗوَالْمَوْتٰى يَبْعَثُهُمُ اللّٰهُ ثُمَّ اِلَيْهِ يُرْجَعُوْنَ
Hanya orang-orang yang mendengar sajalah yang mematuhi (seruan Allah), dan orang-orang yang mati, kelak akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepada-Nya mereka dikembalikan.
Al-Qur'anul Karim Surat Ibrohim (14) Ayat 21
وَبَرَزُوْا لِلّٰهِ جَمِيْعًا فَقَالَ الضُّعَفٰۤؤُا لِلَّذِيْنَ اسْتَكْبَرُوْٓا اِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ اَنْتُمْ مُّغْنُوْنَ عَنَّا مِنْ عَذَابِ اللّٰهِ مِنْ شَيْءٍ ۗقَالُوْا لَوْ هَدٰىنَا اللّٰهُ لَهَدَيْنٰكُمْۗ سَوَاۤءٌ عَلَيْنَآ اَجَزِعْنَآ اَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِنْ مَّحِيْصٍ
Dan mereka semua (di padang Mahsyar) berkumpul untuk menghadap ke hadirat Allah, lalu orang yang lemah berkata kepada orang yang sombong, “Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan kami dari azab Allah (walaupun) sedikit saja?” Mereka menjawab, “Sekiranya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh atau bersabar. Kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.”
Al-Qur'anul Karim Surat An-Nahl (16) Ayat 84
وَيَوْمَ نَبْعَثُ مِنْ كُلِّ اُمَّةٍ شَهِيْدًا ثُمَّ لَا يُؤْذَنُ لِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَلَا هُمْ يُسْتَعْتَبُوْنَ
Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami bangkitkan seorang saksi (rasul) dari setiap umat, kemudian tidak diizinkan kepada orang yang kafir (untuk membela diri) dan tidak (pula) dibolehkan memohon ampunan.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Isro (17) Ayat 52
يَوْمَ يَدْعُوْكُمْ فَتَسْتَجِيْبُوْنَ بِحَمْدِهٖ وَتَظُنُّوْنَ اِنْ لَّبِثْتُمْ اِلَّا قَلِيْلًا
yaitu pada hari (ketika) Dia memanggil kamu, dan kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya dan kamu mengira, (rasanya) hanya sebentar saja kamu berdiam (di dalam kubur).
“Bagaimana keadaan manusia saat dibangkitkan dari kubur?” Pernahkah pertanyaan seperti itu terlintas dalam pikiran dan hati sahabat?
Setelah Malaikat Israfil meniup sangkakala yang kedua kalinya, bangkitlah seluruh umat manusia sejak dari Nabi Adam as sampai manusia yang paling akhir lahir ke dunia. Begitu semua manusia dan jin dibangkitkan dari kuburnya, mereka akan digiring menuju sebuah tanah lapang yang sangat luas, yang seakan tak ada sudut penghabisannya, yaitu Padang Mahsyar.
Bagaimana keadaan manusia saat dibangkitkan dari kubur?
Lalu, bagaimana keadaan manusia saat dibangkitkan dari kubur kelak? Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya pada hari kiamat, manusia akan dikumpulkan menjadi tiga golongan. Satu golongan berjalan kaki, satu golongan berkendaraan, dan yang satu golongan lagi berjalan dengan wajah mereka.” Kemudian para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana caranya mereka berjalan dengan wajahnya?”
Beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah-lah yang telah membuat mereka bisa berjalan dengan kedua kakinya, maka Dia juga bisa membuat saya berjalan dengan wajahnya. Pada saat itu, alangkah sukarnya mereka berjalan karena harus berjalan dengan menjaga muka mereka dari tanah-tanah yang terjal dan banyak tanaman berduri.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
‘Aisyah ra mendengar Rasulullah saw bersabda:
“Kalian dikumpulkan dengan keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan tidak beralas kaki.”
‘Aisyah ra bertanya, “Ya Rasulullah, laki-laki dan perempuan, satu sama lain bisa melihat auratnya?”
Nabi saw menjawab:
“Kejadian ketika itu lebih dahsyat sehingga memalingkan mereka dari keinginan seperti itu.” (HR. Bukhari)
Keadaan Manusia Saat Dibangkitkan dari Kubur
Allah akan membangkitkan kita pada hari kiamat dalam keadaan penuh dengan kesulitan dan kesukaran. Masing-masing di antara kita akan sibuk dengan dirinya sendiri tanpa sempat mengurus keadaan orang lain. Tak hanya itu, kelak semua manusia pada hari kiamat akan terbagi menjadi beberapa kelompok.
Artinya: “yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok,” (Q.S. An-Nabaa [78]: 18)
Mu’adz bin Jabal ra datang menemui Rasulullah saw dan menanyakan maksud firman Allah tersebut. Mendengar pertanyaan dari Mu’adz bin Jabal itu, Rasulullah saw menangis sehingga mengakibatkan baju beliau basah oleh air mata. Kemudian beliau bersabda:
“Wahai Mu’adz, sesungguhnya engkau telah menanyakan sesuatu yang amat sangat besar. Sesungguhnya maksud firman Allah tersebut adalah kelak pada hari kiamat, umatku akan dibangkitkan dan digiring dari kuburnya menuju Padang Mahsyar dengan keadaan terbagi menjadi dua belas kelompok, yaitu:
12 Macam Keadaan Manusia Saat Dibangkitkan dari Kubur
Kelompok pertama, mereka akan digiring dari kubur mereka dalam keadaan tidak memiliki tangan dan kaki. Terdengarlah perkataan sambutan untuk mereka, ‘Inilah orang-orang yang pada waktu hidup di dunia sering berbuat aniaya kepada tetangga-tetangganya.
Kelompok kedua, mereka akan digiring dari kuburnya menuju Padang Mahsyar dalam keadaan seperti rupa babi hutan. Terdengarlah perkataan untuk menyambut mereka, ‘Inilah kelompok orang-orang yang meremehkan shalat lima waktu ketika hidup di dunia.’
Kelompok ketiga, mereka akan digiring dari kuburnya dalam keadaan perut mereka membuncit laksana gunung yang dipenuhi dengan ular, kalajengking, dan binatang-binatang melata lainnya. Terdengarlah perkataan untuk menyambut mereka, ‘Inilah orang-orang yang sewaktu hidup di dunia enggan untuk mengeluarkan zakat.’
Kelompok keempat, mereka akan digiring dari kuburnya sedang dari mulut mereka mengeluarkan darah. Terdengarlah perkataan untuk menyambut mereka, ‘Inilah orang-orang yang suka berdusta ketika melakukan transaksi jual beli sewaktu kehidupannya di dunia.
Kelompok kelima, mereka akan digiring dari dalam kuburnya dalam keadaan berbau busuk. Mereka akan disambut dengan kata-kata, ‘Inilah orang-orang yang kelihatannya baik di depan umum, padahal sebenarnya mereka adalah pelopor kemungkaran sewaktu hidup di dunia.
Kelompok keenam, mereka akan digiring dari dalam kuburnya dalam keadaan tenggorokan dan tengkuknya terputus. Terdengarlah kata-kata, ‘Inilah orang-orang yang suka memberikan kesaksian palsu sewaktu hidup di dunia.
Kelompok ketujuh, mereka akan digiring dari dalam kuburnya dalam keadaan tidak memiliki lidah, dan dari mulut mereka mengeluarkan darah dan nanah. Mereka akan menerima dengan kata-kata, ‘Inilah orang-orang yang enggan memberi kesaksian kebenaran sewaktu hidup di dunia.
Kelompok kedelapan, mereka akan digiring dari dalam kuburnya menuju Padang Mahsyar dalam keadaan terbalik, ke-pala di bawah dan kaki di atas. Mereka akan disambut dengan kata-kata, ‘Inilah orang-orang yang suka berbuat zina sewaktu hidup di dunia dan mati dalam keadaan belum bertobat kepada Allah SWT.’
Kelompok kesembilan, mereka akan digiring dari dalam kuburnya dalam keadaan wajah-wajah mereka berwarna kehitam-hitaman dan mata mereka berwarna kebiru-biruan, sedang di dalam mulut mereka dipenuhi dengan api. Terdengarlah Katanya, ‘Inilah orang-orang yang suka memakan harta anak yatim dengan cara yang zalim sewaktu di dunia.
Kelompok kesepuluh, mereka akan digiring dari dalam ku burnya dalam keadaan dipenuhi dengan penyakit kulit. Akan dikatakan kepada mereka, ‘Inilah orang-orang yang sering berbuat durhaka kepada kedua orangtuanya ketika di dunia.
Kelompok kesebelas, mereka akan digiring dari dalam kuburnya dalam keadaan buta kedua matanya dan buta hatinya. Gigi mereka bagai tanduk sapi jantan, bibir mereka dalam keadaan melebar sampai ke dada, lidah mereka saya manjang sampai ke perut, sedangkan dari mulut mereka tak henti-hentinya mengeluarkan berbagai macam kotoran. Akan terdengar kata kunci, ‘Inilah orang-orang yang suka meminum minuman keras sewaktu hidup di dunia.
Kelompok kedua belas, mereka akan digiring dari dalam kuburnya dalam keadaan wajah mereka terkena sinar matahari. Mereka akan menjembatani jembatan shiratal mustaqiem bagai. kan kilat. Kepada mereka akan dikatakan, ‘Inilah orang-orang yang suka beramal saleh, selalu berusaha menjauhi perbuatan dosa, menjaga shalat lima waktu, dan mereka meninggalkan kehidupan dunia dalam keadaan sudah bertobat kepada Allah SWT. Tidak ada balasan yang tepat bagi mereka kecuali surga yang di dalamnya penuh dengan kenikmatan, ampunan dari sisi Allah, dan kasih sayang yang melimpah dari-Nya.” (HR. Ibnu Majah)
Hari kebangkitan terjadi setelah Allah memerintahkan Malaikat Israfil untuk meniup sangkakala.
Sahabat, itulah tadi keadaan manusia saat dibangkitkan dari kubur. Selagi kesempatan hidup masih ada, mari saling berlomba-lomba untuk beramal shaleh, saling menasihati dalam kebaikan dan kesebaran. Mudah-mudahan, Allah memberikan ampunan dan ridhaNya untuk kita semua.

HADITS SUNAN AT-TIRMIDZI 18

HADITS SUNAN AT-TIRMIDZI 18 = Hadits Shohih
سنن الترمذي ١٨: حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ عَنْ دَاوُدَ بْنِ أَبِي هِنْدٍ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَسْتَنْجُوا بِالرَّوْثِ وَلَا بِالْعِظَامِ فَإِنَّهُ زَادُ إِخْوَانِكُمْ مِنْ الْجِنِّ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَسَلْمَانَ وَجَابِرٍ وَابْنِ عُمَرَ قَالَ أَبُو عِيسَى وَقَدْ رَوَى هَذَا الْحَدِيثَ إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَغَيْرُهُ عَنْ دَاوُدَ بْنِ أَبِي هِنْدٍ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ كَانَ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةَ الْجِنِّ الْحَدِيثَ بِطُولِهِ فَقَالَ الشَّعْبِيُّ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَسْتَنْجُوا بِالرَّوْثِ وَلَا بِالْعِظَامِ فَإِنَّهُ زَادُ إِخْوَانِكُمْ مِنْ الْجِنِّ وَكَأَنَّ رِوَايَةَ إِسْمَعِيلَ أَصَحُّ مِنْ رِوَايَةِ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا الْحَدِيثِ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ وَفِي الْبَاب عَنْ جَابِرٍ وَابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
Sunan Tirmidzi 18: telah menceritakan kepada kami Hannad berkata: telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Ghiyats dari Dawud bin Abu Hind dari Asy Sya'bi dari Alqamah dari Abdullah bin Mas'ud ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Janganlah kalian beristinja dengan menggunakan kotoran hewan dan tulang, karena sesungguhnya ia adalah makanan saudara kalian dari bangsa jin."
Dalam bab ini ada juga hadits dari Abu Hurairah, Salman, Jabir dan Ibnu Umar.
Abu Isa berkata: "Isma'il bin Ibrahim dan selainnya meriwayatkan hadits ini dari Dawud bin Abu Hind, dari Asy Sya'bi, dari Alqamah, dari Abdullah, bahwasanya ia bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pada malam lailatul qadar…haditsnya panjang.
Asy Sya'bi berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Janganlah kalian beristinja dengan kotoran dan tulang karena sesungguhnya ia adalah makanan saudara kalian dari bangsa jin."
Seakan-akan hadits riwayat Isma'il lebih shahih dari riwayat Hafsh bin Ghiyats. Para ulama mengamalkan hadits ini. Dan dalam hadits ada hadits lain juga yang diriwayatkan oleh Jabir dan Ibnu Umar Radliaallahu 'anhuma."

RIBKA DI NIKAHI

Rabu, 30 Juli 2025

DALIL MENGHAFAL AL-QUR'AN

Al-Qur'anul Karim Surat Al-Qomar (54) Ayat 17
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْاٰنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ
Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Qomar (54) Ayat 22
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْاٰنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ
Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Qomar (54) Ayat 32
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْاٰنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ
Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Qomar (54) Ayat 40
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْاٰنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ
Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Qomar (15) Ayat 9
اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Quran, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.”
Al-Qur'anul Karim Surat Yunus (10) Ayat 57
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ
Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Isro (17) Ayat 9
اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا كَبِيْرًاۙ
Sungguh, Al-Qur'an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar,
Al-Qur'anul Karim Surat Qof (50) Ayat 37
اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَذِكْرٰى لِمَنْ كَانَ لَهٗ قَلْبٌ اَوْ اَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيْدٌ
Sungguh, pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.
Al-Qur'anul Karim Surat Yaasin (36) Ayat 69-70
وَمَا عَلَّمْنٰهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْۢبَغِيْ لَهٗ ۗاِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ وَّقُرْاٰنٌ مُّبِيْنٌ ۙ
Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah pantas baginya. Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang jelas,69
لِّيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَّيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ
agar dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan agar pasti ketetapan (azab) terhadap orang-orang kafir.70
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Ankabut (29) Ayat 49
بَلْ هُوَ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ فِيْ صُدُوْرِ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَۗ وَمَا يَجْحَدُ بِاٰيٰتِنَآ اِلَّا الظّٰلِمُوْنَ
Sebenarnya, (Al-Qur'an) itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada orang-orang yang berilmu. Hanya orang-orang yang zalim yang mengingkari ayat-ayat Kami.
Al-Qur'anul Karim Surat An-Nahl (16) Ayat 102-103
قُلْ نَزَّلَهٗ رُوْحُ الْقُدُسِ مِنْ رَّبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهُدًى وَّبُشْرٰى لِلْمُسْلِمِيْنَ
Katakanlah, “Ruhulkuddus (Jibril) menurunkan Al-Qur'an itu dari Tuhanmu dengan kebenaran, untuk meneguhkan (hati) orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang yang berserah diri (kepada Allah).”202
وَلَقَدْ نَعْلَمُ اَنَّهُمْ يَقُوْلُوْنَ اِنَّمَا يُعَلِّمُهٗ بَشَرٌۗ لِسَانُ الَّذِيْ يُلْحِدُوْنَ اِلَيْهِ اَعْجَمِيٌّ وَّهٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِيْنٌ
Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, “Sesungguhnya Al-Qur'an itu hanya diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad).” Bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa Muhammad belajar) kepadanya adalah bahasa ‘Ajam, padahal ini (Al-Qur'an) adalah dalam bahasa Arab yang jelas.203
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Anfal(8) Ayat 2
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal,
Al-Qur'anul Karim Surat Shod(38) Ayat 29
كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ
Kitab (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.
Al-Qur'anul Karim Surat Muhammad(47) Ayat 24
اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا
Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur'an ataukah hati mereka sudah terkunci?
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Baqoroh(2) Ayat 121
اَلَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَتْلُوْنَهٗ حَقَّ تِلَاوَتِهٖۗ اُولٰۤىِٕكَ يُؤْمِنُوْنَ بِهٖ ۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ
Orang-orang yang telah Kami beri Kitab, mereka membacanya sebagaimana mestinya, mereka itulah yang beriman kepadanya. Dan barangsiapa ingkar kepadanya, mereka itulah orang-orang yang rugi.
HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 2436
Ali bin Abi Tholib R.A berkata, Rosulullah S.A.W bersabda,
مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فَاسْتَظْهَرَهُ، ‌وَحَفِظَهُ ‌أَدْخَلَهُ ‌اللَّهُ ‌الْجَنَّةَ، وَشَفَّعَهُ فِيْ عَشْرَةٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ كُلُّهُمْ قَدْ وَجَبَتْ لَهُمْ النَّارَ
“Barang siapa membaca Al-Qur'an lalu mempelajarinya dan menghafalkannya, Allah akan memasukkannya ke dalam Surga dan memberikannya hak syafaat untuk sepuluh anggota keluarganya di mana mereka semuanya telah ditetapkan untuk masuk neraka.”
Dr. Abdul ‘Aly Abdul Hamid Hamid, muhaqqiq kitab Syu’abul Iman, menilai sanad hadits tersebut dhaif.
HR. Al-Bukhori no. 4653
Dari Aisyah rodhiyallahu ‘anha, dari Nabi S.A.W,beliau bersabda,

مَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهُوَ حَافِظٌ لَهُ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ
“Orang yang membaca Al-Qur'an sementara ia telah menghafalnya, maka ia bersama para Malaikat yang baik dan mulia.”
HR. At-Tirmidzi no. 2913, ia berkata: hadits ini hasan shahih
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas secara marfu’ disebutkan,

إِنَّ الَّذِي لَيْسَ فِي جَوْفِهِ شَيْءٌ مِنْ الْقُرْآنِ كَالْبَيْتِ الْخَرِبِ
“Orang yang jiwanya tidak terisi dengan Al-Qur'an sedikit pun, seperti rumah yang hampir runtuh.”
HR. At-Tirmidzi no. 2876, ia berkata: hadits ini hasan
تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَاقْرَءُوهُ فَإِنَّ مَثَلَ الْقُرْآنِ لِمَنْ تَعَلَّمَهُ فَقَرَأَهُ وَقَامَ بِهِ كَمَثَلِ جِرَابٍ مَحْشُوٍّ مِسْكًا يَفُوحُ رِيحُهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ وَمَثَلُ مَنْ تَعَلَّمَهُ فَيَرْقُدُ وَهُوَ فِي جَوْفِهِ كَمَثَلِ جِرَابٍ وُكِئَ عَلَى مِسْكٍ
“Pelajarilah Al-Qur'an dan bacalah, karena perumpamaan orang mempelajari Al-Qur'an dan membacanya, adalah seperti tempat bekal perjalanan yang diisi dengan minyak misik, wanginya menyebar ke mana-mana. Sementara orang yang mempelajarinya kemudian dia tidur, dan dalam dirinya terdapat hafalan Al-Qur'an adalah seperti tempat bekal perjalanan yang disambung dengan minyak misik.”
HR. At-Tirmidzi no. 2915, ia berkata: hadits ini hasan shohih
Dari Abu Huroirah R.A, Rosulullah S.A.W bersabda,

يَجِيءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ: يَا رَبِّ حَلِّهِ، فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ: يَا رَبِّ زِدْهُ، فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ: يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ، فَيَرْضَى عَنْهُ فَيُقَالُ لَهُ: اقْرَأْ وَارْقَ وَتُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً
“Penghafal Al-Qur'an akan datang pada hari Kiamat, kemudian Al-Qur'an berkata,‘Wahai Robbku, bebaskanlah dia.’ Kemudian orang itu dipakaikan mahkota kehormatan. Al-Qur'an kembali meminta,‘Wahai Robbku, tambahkanlah.’ Maka orang itu dipakaikan jubah kehormatan. Kemudian Al-Qur'an memohon lagi,‘Wahai Robbku, ridhailah dia.’ Maka Allah meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu,‘Bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat Surga),’ dan Allah menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan.”
HR. Ahmad no. 22441) Nuruddin al-Haitsami berkata: Rijal dalam hadits tersebut adalah rijal sahih. (Majma’ az-Zawa’id, al-Haitsami, 7/159
Dari Buroidah Al-Aslami R.A, ia berkata, ia mendengar Rasulullah S.A.W bersabda,

وَإِنَّ الْقُرْآنَ يَلْقَى صَاحِبَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِينَ يَنْشَقُّ عَنْهُ قَبْرُهُ كَالرَّجُلِ الشَّاحِبِ فَيَقُولُ لَهُ: هَلْ تَعْرِفُنِي؟ فَيَقُولُ: مَا أَعْرِفُكَ. فَيَقُولُ لَهُ: هَلْ تَعْرِفُنِي؟ فَيَقُولُ: مَا أَعْرِفُكَ؟ فَيَقُولُ: أَنَا صَاحِبُكَ الْقُرْآنُ الَّذِي أَظْمَأْتُكَ فِي الْهَوَاجِرِ وَأَسْهَرْتُ لَيْلَكَ وَإِنَّ كُلَّ تَاجِرٍ مِنْ وَرَاءِ تِجَارَتِهِ وَإِنَّكَ الْيَوْمَ مِنْ وَرَاءِ كُلِّ تِجَارَةٍ. فَيُعْطَى الْمُلْكَ بِيَمِينِهِ وَالْخُلْدَ بِشِمَالِهِ وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ وَيُكْسَى وَالِدَاهُ حُلَّتَيْنِ لَا يُقَوَّمُ لَهُمَا أَهْلُ الدُّنْيَا، فَيَقُولَانِ: بِمَ كُسِينَا هَذِهِ؟ فَيُقَالُ: بِأَخْذِ وَلَدِكُمَا الْقُرْآنَ. ثُمَّ يُقَالُ لَهُ: اقْرَأْ وَاصْعَدْ فِي دَرَجَةِ الْجَنَّةِ وَغُرَفِهَ
“Pada hari Kiamat nanti, Al-Qur'an akan menemui penghafalnya ketika penghafal itu keluar dari kuburnya. Al-Qur'an akan berwujud seseorang dan ia bertanya kepada penghafalnya,‘Apakah Anda mengenalku?’
Penghafal tadi menjawab,‘Saya tidak mengenalmu.’
Al-Qur'an berkata,‘Saya adalah kawanmu, Al-Qur'an yang membuatmu kehausan di tengah hari yang panas dan membuatmu tidak bisa tidur di malam hari. Setiap pedagang akan memperoleh keuntungan dari dagangannya dan kamu pada hari ini memperoleh keuntungan dari semua dagangan.’
Penghafal Al-Qur'an tadi diberi kekuasaan di tangan kanannya dan kekekalan di tangan kirinya, serta di atas kepalanya dipasang mahkota. Sedang kedua orang tuanya diberi dua pakaian yang harganya tidak dapat dibayar oleh penghuni dunia seluruhnya.
Kedua orang tua itu bertanya,‘Kenapa kami diberi pakaian seperti ini?’
Kemudian dijawab,‘Karena anakmu hafal Al-Qur'an.’
Kepada penghafal al-Quran tadi diperintahkan,‘Bacalah dan naiklah ke tingkat-tingkat Surga dan kamar-kamarnya’.”
HR. Al-Hakim no. 2132, ia berkata: hadits ini sahih berdasarkan syarat Imam Muslim
مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَتَعَلَّمَهُ وَعَمِلَ بِهِ أُلْبِسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَاجًا مِنْ نُورٍ ضَوْءُهُ مِثْلُ ضَوْءِ الشَّمْسِ، وَيُكْسَى وَالِدَاهُ حُلَّتَيْنِ لَا تُقَوَّمُ بِهِمَا الدُّنْيَا فَيَقُولَانِ: بِمَا كُسِيْنَا هَذَا؟ فَيُقَالُ: بِأَخْذِ وَلَدِكُمَا الْقُرْآنَ
“Siapa yang membaca al-Quran, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari Kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya,‘Mengapa kami dipakaikan jubah ini?’ Dijawab,‘Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari al-Quran’.”
HR. Al-Hakim no. 2132, ia berkata: hadits ini sahih berdasarkan syarat Imam Muslim
Dari Buraidah al-Aslami, ia berkata, Rasulullah bersabda,

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَتَعَلَّمَهُ وَعَمِلَ بِهِ أُلْبِسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَاجًا مِنْ نُورٍ ضَوْءُهُ مِثْلُ ضَوْءِ الشَّمْسِ، وَيُكْسَى وَالِدَاهُ حُلَّتَيْنِ لَا تُقَوَّمُ بِهِمَا الدُّنْيَا فَيَقُولَانِ: بِمَا كُسِيْنَا هَذَا؟ فَيُقَالُ: بِأَخْذِ وَلَدِكُمَا الْقُرْآنَ
“Siapa yang membaca al-Quran, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari Kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya,‘Mengapa kami dipakaikan jubah ini?’ Dijawab,‘Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari al-Quran’.”
HR. Ibnu Majah no. 215
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنْ النَّاسِ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ: هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ؛ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ
“Sungguh Allah memiliki keluarga yang terdiri dari manusia.”
“Ya Rasulullah, siapakah mereka?” Tanya seorang sahabat.
Rasul menjawab,
“Mereka ialah Ahlul Quran (orang yang membaca, menghafalkan, dan mengamalkan al-Quran). Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang istimewa bagi Allah.”
Abu al-Hasan al-Hanafi atau yang dikenal dengan as-Sindi berkata, dalam kitab az-Zawaid disebutkan bahwa sanad hadits ini sahih. (Hasyiyah as-Sindi ‘ala Ibni Majah, as-Sindi, 1/93)
HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir no. 2899
Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
حَمَلَةُ الْقُرْآنِ عُرَفَاءُ أَهْلِ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Para pembaca al-Quran adalah orang-orang arif di antara penduduk Surga.”
Al-Haitsami berkata: Dalam hadits tersebut terdapat Ishaq bin Ibramim bin Said al-Madini, ia dhaif. (Majma’ az-Zawaid, al-Haitsami, 7/161)
HR. Abu Dawud no. 4843. Dinilai sahih oleh Syekh al-Albani
إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللَّهِ: إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ، وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِي فِيهِ وَالْجَافِي عَنْهُ، وَإِكْرَامَ ذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ
“Termasuk perbuatan mengagungkan Allah adalah menghormati muslim yang sudah tua, hafiz al-Quran yang tidak berlebih-lebihan dalam mengamalkan isinya dan tidak membiarkan al-Quran tidak diamalkan, serta penguasa yang adil.”
At-Tibyan, Imam an-Nawawi, 20
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اِقْرَؤُوْا القُرْآنَ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى ‌لَا ‌يُعَذِّبَ ‌قَلْبًا ‌وَعَى ‌القُرْآنَ وَإِنَّ هَذَا القُرْآنَ مَأْدُبَةُ اللهِ فَمَنْ دَخَلَ فِيْهِ فَهُوَ آمِنٌ وَمَنْ أَحَبَّ الْقُرْآنَ فَلْيُبْشِرْ
“Bacalah al-Quran, karena Allah ta’ala tidak menyiksa orang yang hatinya menghayati al-Quran. Al-Quran adalah perjamuan Allah, siapa yang menghadirinya ia akan aman. Dan barang siapa yang mencintai al-Quran, hendaknya ia bergembira.”
Hadits di atas tidak berasal dari satu atsar, ia berasal dari tiga atsar yang berbeda. Kalimat pertama adalah hadits mauquf dari Abu Umamah, Ibnu Hajar rahimahullah menilai sahih sanad hadist tersebut (Fathul Bari, Ibnu Hajar, 8/698).
Kalimat kedua (HR. Ad-Darimi no. 3365) dan ketiga (HR. Ad-Darimi no. 3367) adalah hadits mauquf dari Ibnu Mas’ud. Muhaqqiq kitab Musnad ad-Darimi, cet. Darul Mughni, menilai sahih sanad kedua hadits tersebut (Musnad ad-Darimi, ad-Darimi, 4/2093).
Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لَوْ أَنَّ الْقُرْآنَ جُعِلَ فِي إِهَابٍ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ مَا احْتَرَقَ
“Andai al-Quran dihimpun dalam satu kulit kemudian dilemparkan ke neraka, niscaya ia tidak akan terbakar.” (HR. Ahmad no. 16914. Dinilai hasan oleh al-Albani dalam silsilah ash-shahihah no. 3562)
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ
“Orang yang mengimami shalat suatu kaum hendaknya yang paling pandai membaca (hafal) al-Quran.” (HR. Muslim no. 673)
Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata,
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْمَعُ بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ مِنْ قَتْلَى أُحُدٍ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ. ثُمَّ يَقُولُ: أَيُّهُمْ أَكْثَرُ أَخْذًا لِلْقُرْآنِ؟ فَإِذَا أُشِيرَ لَهُ إِلَى أَحَدِهِمَا قَدَّمَهُ فِي اللَّحْدِ
“Rasulullah pernah menyatukan dua orang dari orang-orang yang gugur dalam Perang Uhud dalam satu pakaian (kafan), kemudian Nabi bertanya, ‘Dari mereka berdua siapakah yang paling banyak hafal al-Quran?’ Apabila ada orang yang bisa menunjukkan kepada salah satunya, Nabi memasukkan mayat itu terlebih dahulu ke liang lahad.” (HR. Al-Bukhari no. 1278)
Uqbah bin Amir al-Juhani radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِنَّكُمْ لَنْ تَرْجِعُوا إِلَى اللَّهِ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ شَيْءٍ خَرَجَ مِنْهُ يَعْنِي الْقُرْآنَ
“Sungguh kamu tidak akan kembali menghadap Allah dengan membawa sesuatu yang paling Ia cintai dari sesuatu yang berasal dari-Nya yaitu al-Quran.”(HR. Al-Hakim no. 3703, ia berkata: sanad hadits ini sahih)
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
عَدَدُ دَرَجِ الْجَنَّةِ عَدَدُ آيِ الْقُرْآنِ فَمَنْ دَخَلَ الْجَنَّةَ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ فَلَيْسَ فَوْقَهُ دَرَجَةٌ
“Tingkatan-tingkatan surga sejumlah bilangan ayat-ayat al-Quran. Maka penghuni surga dari kalangan ahli Quran adalah penghuni tingkatan teratas, di mana tidak ada lagi tingkatan surga setelahnya.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abi Iman no.1998. Al-Hakim berkata: sanad hadits ini sahih, tetapi ia syadz)
Dalam hadits lain, Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan,
إِنَّ عَدَدَ دَرَجِ الْجَنَّةِ عَدَدُ آيِ الْقُرْآنِ ‌فَمَنْ ‌دَخَلَ ‌الْجَنّةَ ‌مِمَّنْ ‌قَرَأَ القُرْآن لمْ يَكُنْ فَوْقَهُ أحَدٌ
“Tingkatan-tingkatan surga sejumlah bilangan ayat-ayat al-Quran. Maka penghuni surga dari kalangan pembaca al-Quran adalah penghuni tingkatan surga tertinggi, tidak ada penghuni surga di atasnya.” (Al-Jami’ ash-Shaghir, as-Suyuthi, 4690—Maktabah asy-Syamilah)
Syaikh al-‘Azizi menilai hadist di atas derajatnya sahih. (As-Siraj al-Munir Syarah al-Jami ash-Shaghir, al-‘Azizi, 2/98)
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela dan melaknat orang-orang Khawarij, padahal banyak di antara mereka yang menghafal dan banyak membaca al-Qur’an, tapi mereka tidak memahaminya dan tidak mengambil manfaat dari petunjuknya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ
Mereka (orang-orang Khawarij) pandai membaca (menghafal) al-Qur’an tapi tidak melampaui tenggorokan mereka.
Inilah makna ucapan dari salah seorang ulama Salaf yang berkata, “Terkadang ada orang yang (pandai) membaca al-Qur’an, tapi al-Qur’an (justru) melaknat dirinya”.
sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
مَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَلَا طَعْمَ لَهَا
Perumpamaan orang munafik yang membaca al-Qur’an adalah seperti (tumbuhan) raihanah, baunya harum tetapi rasanya pahit.

https://islamqa.info/id/answers/14035/keutamaan-penghafal-al-quran-di-dunia-dan-akhirat

https://almanhaj.or.id/82410-keutamaan-membaca-dan-menghapal-al-quran-2.html

Sabtu, 26 Juli 2025

KATA ROBB

KEBOHONGAN YANG DIBUAT-BUAT AHLI KITAB TERHADAP PARA NABI
Al-Qur'anul Karim Surat Ali 'Imron (5) Ayat 79-80
مَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّؤْتِيَهُ اللّٰهُ الْكِتٰبَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُوْلَ لِلنَّاسِ كُوْنُوْا عِبَادًا لِّيْ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلٰكِنْ كُوْنُوْا رَبَّانِيّٖنَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُوْنَ الْكِتٰبَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُوْنَ ۙ
Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah,” tetapi (dia berkata), “Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya!”79
وَلَا يَأْمُرَكُمْ اَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلٰۤىِٕكَةَ وَالنَّبِيّٖنَ اَرْبَابًا ۗ اَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ اِذْ اَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
dan tidak (mungkin pula baginya) menyuruh kamu menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai Tuhan. Apakah (patut) dia menyuruh kamu menjadi kafir setelah kamu menjadi Muslim?80
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Kahfi (18) Ayat 110
قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا
Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Jinn (72) Ayat 20-21 (Makkiyyah=28A)
قُلْ اِنَّمَآ اَدْعُوْا رَبِّيْ وَلَآ اُشْرِكُ بِهٖٓ اَحَدًا
Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya.”
قُلْ اِنِّيْ لَآ اَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَّلَا رَشَدًا
Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan kebaikan kepadamu.”
Al-Qur'anul Karim Surat Az-Zumar (39) Ayat 14
قُلِ اللّٰهَ اَعْبُدُ مُخْلِصًا لَّهٗ دِيْنِيْۚ
Katakanlah, “Hanya Allah yang aku sembah dengan penuh ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku.”
Al-Qur'anul Karim Surat At-Taubah (9) Ayat 30-31
وَقَالَتِ الْيَهُوْدُ عُزَيْرُ ِۨابْنُ اللّٰهِ وَقَالَتِ النَّصٰرَى الْمَسِيْحُ ابْنُ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِاَفْوَاهِهِمْۚ يُضَاهِـُٔوْنَ قَوْلَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَبْلُ ۗقَاتَلَهُمُ اللّٰهُ ۚ اَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ
Dan orang-orang Yahudi berkata, “Uzair putra Allah,” dan orang-orang Nasrani berkata, “Al-Masih putra Allah.” Itulah ucapan yang keluar dari mulut mereka. Mereka meniru ucapan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?30
اِتَّخَذُوْٓا اَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَالْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَۚ وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوْٓا اِلٰهًا وَّاحِدًاۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ سُبْحٰنَهٗ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi), dan rahib-rahibnya (Nasrani) sebagai tuhan selain Allah, dan (juga) Al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada tuhan selain Dia. Mahasuci Dia dari apa yang mereka persekutukan.31

Al-Qur'anul Karim Surat Al-Anbiya (21) Ayat 25

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku.

Al-Qur'anul Karim Surat Al-Anbiya (21) Ayat 29

وَمَنْ يَّقُلْ مِنْهُمْ اِنِّيْٓ اِلٰهٌ مِّنْ دُوْنِهٖ فَذٰلِكَ نَجْزِيْهِ جَهَنَّمَۗ كَذٰلِكَ نَجْزِى الظّٰلِمِيْنَ
Dan barangsiapa di antara mereka berkata, “Sungguh, aku adalah tuhan selain Allah,” maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahanam. Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang zalim.

Al-Qur'anul Karim Surat An-Nahl (16) Ayat 36

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ هَدَى اللّٰهُ وَمِنْهُمْ مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلٰلَةُ ۗ فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ
Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah tagut”, kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).

Al-Qur'anul Karim Surat Az-Zukhruf (43) Ayat 45

وَسْٔـَلْ مَنْ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رُّسُلِنَآ ۖ اَجَعَلْنَا مِنْ دُوْنِ الرَّحْمٰنِ اٰلِهَةً يُّعْبَدُوْنَ
Dan tanyakanlah (Muhammad) kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum engkau, “Apakah Kami menentukan tuhan-tuhan selain (Allah) Yang Maha Pengasih untuk disembah?”

Al-Qur'anul Karim Surat Al-Anbiya (98) Ayat 5

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ
Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).
AQIDAH AHLI KITAB (YAHUDI DAN NASRONI)
Al-Qur'anul Karim Surat At-Taubah (9) Ayat 30-33
وَقَالَتِ الْيَهُوْدُ عُزَيْرُ ِۨابْنُ اللّٰهِ وَقَالَتِ النَّصٰرَى الْمَسِيْحُ ابْنُ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِاَفْوَاهِهِمْۚ يُضَاهِـُٔوْنَ قَوْلَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَبْلُ ۗقَاتَلَهُمُ اللّٰهُ ۚ اَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ
Dan orang-orang Yahudi berkata, “Uzair putra Allah,” dan orang-orang Nasrani berkata, “Al-Masih putra Allah.” Itulah ucapan yang keluar dari mulut mereka. Mereka meniru ucapan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?
اِتَّخَذُوْٓا اَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَالْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَۚ وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوْٓا اِلٰهًا وَّاحِدًاۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ سُبْحٰنَهٗ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi), dan rahib-rahibnya (Nasrani) sebagai tuhan selain Allah, dan (juga) Al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada tuhan selain Dia. Mahasuci Dia dari apa yang mereka persekutukan.
يُرِيْدُوْنَ اَنْ يُّطْفِـُٔوْا نُوْرَ اللّٰهِ بِاَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللّٰهُ اِلَّآ اَنْ يُّتِمَّ نُوْرَهٗ وَلَوْ كَرِهَ الْكٰفِرُوْنَ
Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai.
هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ
Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur'an) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.
SEBAB TURUNNYA AYAT
Ayat (30) Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari lbnu Abbas, dia mengatakan bahwa, Sallam bin Misykam, Nu'man bin Abi Aufa, Muhammad bin Dihyah, Syas bin Qais, dan Malik bin Ash-Shoif mendatangi Rosulullah saw., mereka mengatakan bahwa, "Bagaimana kami mengikutimu sementara kamu sudah meninggalkan kiblat kami?, dan kamu tidak menyangka bahwa Uzair adalah putra Allah. Maka Allah menurunkan ayat,
Al-Qur'anul Karim Surat At-Taubah (9) Ayat 30-33
وَقَالَتِ الْيَهُوْدُ عُزَيْرُ ِۨابْنُ اللّٰهِ وَقَالَتِ النَّصٰرَى الْمَسِيْحُ ابْنُ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِاَفْوَاهِهِمْۚ يُضَاهِـُٔوْنَ قَوْلَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَبْلُ ۗقَاتَلَهُمُ اللّٰهُ ۚ اَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ
Dan orang-orang Yahudi berkata, “Uzair putra Allah,” dan orang-orang Nasrani berkata, “Al-Masih putra Allah.” Itulah ucapan yang keluar dari mulut mereka. Mereka meniru ucapan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?
PENYESUAIAN AYAT
Setelah dalam ayat jizyah di atas menyebutkan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak beriman kepada Allah, Allah menjelaskan hal tersebut dalam ayat ini. Allah menukil dari mereka bahwa mereka menetapkan adanya putra bagi Allah. Ini adalah kemusyrikan. Barangsiapa yang membolehkan hal itu, pada hakikatnya, dia telah mengingkari Ilahi, Mereka menjadikan ulama mereka tuhan-tuhan selain Allah dalam penghalalan dan pengharaman. Mereka berusaha membatalkan Islam dan petunjuknya.
Ayat-ayat ini merupakan dalil yang jelas dalam menjelaskan sebab orang-orang Mukmin memerangi Ahli Kitab.
https://ia904603.us.archive.org/8/items/terjemah-tafsir-al-munir-mktbhazzaen/Terjemah%20Tafsir%20Al%20Munir%20-%205.pdf Halaman 456
KATA ROBB
Kata robb رَبُّ (maknanya berkaitan dengan kepengasuhan dan kemudian berkembang menjadi “memiliki”, “memperbaiki”, “mendidik”, juga “Tuhan”
Kata robb رَبُّ (yang terdapat di dalam Al-Quran kebanyakan menggambarkan sifat-sifat Tuhan yang dapat menyentuh makhluk-makhluk- Nya (sifat-sifat fi‘l-Nya). Dia rabbun رَبُّ ,(artinya Dia yang mendidik dan memelihara. Pendidikan dan pemeliharaan yang dimaksud antara lain menganugerahkan rezeki, mencurahkan rahmat, mengampuni dosa, namun juga sekaligus menyiksa dalam rangka memelihara dan mendidik. Misalnya, firman Allah pada Surat Al-Mu’minun (23): 76 tentang orang-orang durhaka yang disiksa karena tidak tunduk kepada Allah,
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Mu'minun (23) Ayat 76
وَلَقَدْ اَخَذْنٰهُمْ بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوْا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُوْنَ

Dan sungguh Kami telah menimpakan siksaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mau tunduk kepada Tuhannya, dan (juga) tidak merendahkan diri.
Juga pada Surat Al-Ghofir/Al-Mu'min (40): 6 tentang kaum Nuh yang mendustakan Rasul.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Ghofir/Al-Mu'min (40) Ayat 6
وَكَذٰلِكَ حَقَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ عَلَى الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنَّهُمْ اَصْحٰبُ النَّارِۘ
Dan demikianlah telah pasti berlaku ketetapan Tuhanmu terhadap orang-orang kafir, (yaitu) sesungguhnya mereka adalah penghuni neraka.
Sebaliknya, orang-orang yang beriman, beramal saleh, melakukan sholat, dan menunaikan pembayaran zakat, Allah menjanjikan pahala buat mereka
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Baqoroh (2) Ayat 277
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ لَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
Sungguh, orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, melaksanakan salat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.
Adapun kata robb رَبُّ (yang dikaitkan dengan Al-‘alamin (الْعٰلَمِيْنَۙ ) terdapat 42 kali pengulangan.9 Al-‘alamin (الْعٰلَمِيْنَۙ ) di dalam bentuk jamak berarti terdapat banyak alam. Kita tidak dapat memastikan berapa banyaknya alam itu. Hanya beberapa nama alam yang sudah diketahui seperti alam manusia, alam tumbuh-tumbuhan, alam binatang, alam dunia, dan alam akhirat. Sementara itu, masih ada alam-alam lain yang tidak atau belum terjangkau oleh manusia.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Nahl (16) Ayat 8
وَّالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيْرَ لِتَرْكَبُوْهَا وَزِيْنَةًۗ وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.
Kata رَبُّكَ dan رَبِّكَۖ di dalam Al-Quran disebut 242 kali. رَبُّكَ dan رَبِّكَۖ ternyata menyangkut bermacam-macam hal.
1) Masalah rezeki
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Isro (17) Ayat 30
اِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيَقْدِرُ ۗاِنَّهٗ كَانَ بِعِبَادِهٖ خَبِيْرًاۢ بَصِيْرًا
Sungguh, Tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki); sungguh, Dia Maha Mengetahui, Maha Melihat hamba-hamba-Nya.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Mu'minun (23) Ayat 72
اَمْ تَسْـَٔلُهُمْ خَرْجًا فَخَرَاجُ رَبِّكَ خَيْرٌ ۖوَّهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ
Atau engkau (Muhammad) meminta imbalan kepada mereka? Sedangkan imbalan dari Tuhanmu lebih baik, karena Dia pemberi rezeki yang terbaik.
2) Penciptaan manusia
Al-Qur'anul Karim Surat Maryam (19) Ayat 9
قَالَ كَذٰلِكَۗ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَّقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْـًٔا
(Allah) berfirman, “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, “Hal itu mudah bagi-Ku; sungguh, engkau telah Aku ciptakan sebelum itu, padahal (pada waktu itu) engkau belum berwujud sama sekali.”
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Hijr (15) Ayat 28
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ خَالِقٌۢ بَشَرًا مِّنْ صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَاٍ مَّسْنُوْنٍۚ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sungguh, Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.
3) Curahan rahmat
Al-Qur'anul Karim Surat Al-An'am (6) Ayat 133
وَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ ۗاِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَسْتَخْلِفْ مِنْۢ بَعْدِكُمْ مَّا يَشَاۤءُ كَمَآ اَنْشَاَكُمْ مِّنْ ذُرِّيَّةِ قَوْمٍ اٰخَرِيْنَ
Dan Tuhanmu Mahakaya, penuh rahmat. Jika Dia menghendaki, Dia akan memusnahkan kamu dan setelah kamu (musnah) akan Dia ganti dengan yang Dia kehendaki, sebagaimana Dia menjadikan kamu dari keturunan golongan lain.
4) keutamaan/kelebihan manusia
Al-Qur'anul Karim Surat An-Naml (27) Ayat 73
وَاِنَّ رَبَّكَ لَذُوْ فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ لَا يَشْكُرُوْنَ
Dan sungguh, Tuhanmu benar-benar memiliki karunia (yang diberikan-Nya) kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya).
Al-Qur'anul Karim Surat Ad-Dukhon (44) Ayat 57
فَضْلًا مِّنْ رَّبِّكَۚ ذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
itu merupakan karunia dari Tuhanmu. Demikian itulah kemenangan yang agung.
5) Ampunan
Al-Qur'anul Karim Surat Al-A'rof (7) Ayat 153
وَالَّذِيْنَ عَمِلُوا السَّيِّاٰتِ ثُمَّ تَابُوْا مِنْۢ بَعْدِهَا وَاٰمَنُوْٓا اِنَّ رَبَّكَ مِنْۢ بَعْدِهَا لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Dan orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan, kemudian bertobat dan beriman, niscaya setelah itu Tuhanmu Maha Pengampun, Maha Penyayang.
6) Allah pemberi hikmah
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Isro (17) Ayat 39
ذٰلِكَ مِمَّآ اَوْحٰٓى اِلَيْكَ رَبُّكَ مِنَ الْحِكْمَةِۗ وَلَا تَجْعَلْ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ فَتُلْقٰى فِيْ جَهَنَّمَ مَلُوْمًا مَّدْحُوْرًا
Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhan kepadamu (Muhammad). Dan janganlah engkau mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, nanti engkau dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela dan dijauhkan (dari rahmat Allah).
7) Pengutusan Rosul
Al-Qur'anul Karim Surat Thoha (20) Ayat 47
فَأْتِيٰهُ فَقُوْلَآ اِنَّا رَسُوْلَا رَبِّكَ فَاَرْسِلْ مَعَنَا بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ ەۙ وَلَا تُعَذِّبْهُمْۗ قَدْ جِئْنٰكَ بِاٰيَةٍ مِّنْ رَّبِّكَ ۗوَالسَّلٰمُ عَلٰى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدٰى
Maka pergilah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dan katakanlah, “Sungguh, kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah engkau menyiksa mereka. Sungguh, kami datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk.
Kata arbâb ( ٌاَرْبَابًا (adalah bentuk jamak dari rabb ( رَبُّ.(Kata arbâb (اَرْبَابًا ) di dalam Al-Qur'an disebut 4 kali dan kata robb ( ّرَبُّ (disebut 969 kali yang tersebar di dalam berbagai surat dan ayat, meskipun tidak seluruhnya disandarkan kepada Allah swt. seperti terdapat dalam surah Yusuf (12):42
Al-Qur'anul Karim Surat Yusuf (12) Ayat 42
وَقَالَ لِلَّذِيْ ظَنَّ اَنَّهٗ نَاجٍ مِّنْهُمَا اذْكُرْنِيْ عِنْدَ رَبِّكَۖ فَاَنْسٰىهُ الشَّيْطٰنُ ذِكْرَ رَبِّهٖ فَلَبِثَ فِى السِّجْنِ بِضْعَ سِنِيْنَ
Dan dia (Yusuf) berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara mereka berdua, “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.” Maka setan menjadikan dia lupa untuk menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu dia (Yusuf) tetap dalam penjara beberapa tahun lamanya.
Kata arbab ٌاَرْبَابًا yang disebut 4 kali di dalam Al-Qur'an menyangkut beberapa hal, yaitu:
1) Seruan kepada ahli kitab agar menyembah Allah dan tidak menyekutukan dengan tuhan-tuhan selain-Nya.
Al-Qur'anul Karim Surat Ali 'Imron (3) Ayat 64
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
2) Orang-orang musyrik yang mengangkat rahib-rahib sebagai Tuhan dan mempertuhankan Al-Masih, putra Maryam
Al-Qur'anul Karim Surat At-Taubah (9) Ayat 31
اِتَّخَذُوْٓا اَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَالْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَۚ وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوْٓا اِلٰهًا وَّاحِدًاۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ سُبْحٰنَهٗ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi), dan rahib-rahibnya (Nasrani) sebagai tuhan selain Allah, dan (juga) Al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada tuhan selain Dia. Mahasuci Dia dari apa yang mereka persekutukan.
3) Penegasan bahwa Nabi tidak akan menyuruh manusia mengangkat malaikat- malaikat dan nabi-nabi menjadi Tuhan.
Al-Qur'anul Karim Surat Ali 'Imron (3) Ayat 80
وَلَا يَأْمُرَكُمْ اَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلٰۤىِٕكَةَ وَالنَّبِيّٖنَ اَرْبَابًا ۗ اَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ اِذْ اَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
dan tidak (mungkin pula baginya) menyuruh kamu menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai Tuhan. Apakah (patut) dia menyuruh kamu menjadi kafir setelah kamu menjadi Muslim?
4) pernyataan Nabi Yusuf a.s. kepada temannya tentang mana yang lebih baik tuhan yang bermacam-macam atau Tuhan Yang Mahaesa lagi Perkasa?.
Al-Qur'anul Karim Surat Yusuf (12) Ayat 39
يٰصَاحِبَيِ السِّجْنِ ءَاَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُوْنَ خَيْرٌ اَمِ اللّٰهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُۗ
Wahai kedua penghuni penjara! Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa?
Dengan demikian, kata arbab ( اَرْبَابًا) digunakan untuk kepercayaan orang-orang musyrik yang mempercayai manusia, nabi, malaikat, dan rahib-rahib sebagai Tuhan.
AQIDAH AHLI KITAB (YAHUDI DAN NASRONI)
Al-Qur'anul Karim Surat At-Taubah (9) Ayat 30-33
وَقَالَتِ الْيَهُوْدُ عُزَيْرُ ِۨابْنُ اللّٰهِ وَقَالَتِ النَّصٰرَى الْمَسِيْحُ ابْنُ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِاَفْوَاهِهِمْۚ يُضَاهِـُٔوْنَ قَوْلَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَبْلُ ۗقَاتَلَهُمُ اللّٰهُ ۚ اَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ
Dan orang-orang Yahudi berkata, “Uzair putra Allah,” dan orang-orang Nasrani berkata, “Al-Masih putra Allah.” Itulah ucapan yang keluar dari mulut mereka. Mereka meniru ucapan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?30
اِتَّخَذُوْٓا اَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَالْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَۚ وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوْٓا اِلٰهًا وَّاحِدًاۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ سُبْحٰنَهٗ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi), dan rahib-rahibnya (Nasrani) sebagai tuhan selain Allah, dan (juga) Al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada tuhan selain Dia. Mahasuci Dia dari apa yang mereka persekutukan.31
يُرِيْدُوْنَ اَنْ يُّطْفِـُٔوْا نُوْرَ اللّٰهِ بِاَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللّٰهُ اِلَّآ اَنْ يُّتِمَّ نُوْرَهٗ وَلَوْ كَرِهَ الْكٰفِرُوْنَ
Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai.32
هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ
Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur'an) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.33
https://ia904603.us.archive.org/8/items/terjemah-tafsir-al-munir-mktbhazzaen/Terjemah%20Tafsir%20Al%20Munir%20-%205.pdf Halaman 456
HADITS LARANGAN MEMANNGGIL ROBB PADA NABI
Hadits Riwayat Imam Bukhori Dan Iam Muslim
َلاَيَقُلْ اَحَدُكُمْ اَطْعِمْ رَبَّكَ وَضِّئْ رَبَّكَ وَلاَيَقُلْ اَحَدُكُمْ رَبِّي وَلْيَقُلْ سَيِّدِي وَمَوْلَاي
“janganlah kamu mengatakan Athim Rabbaka dan jangan katakan Rabbi untuk konteks tuan , tetapi gantilah sayyidi atau maulaya”,(Imam Ali As-Shobuni, Rowail Al-Bayan,Tafsir Al-Ayat Al-Ahkam, Hlm17)
HAKEKAT TUAN SEGALA TUAN ADALAH ALLAH
Musnad Ahmad 15717: Shohih
مسند أحمد ١٥٧١٧: حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ حَدَّثَنِي شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ قَالَ سَمِعْتُ مُطَرِّفَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَنْتَ سَيِّدُ قُرَيْشٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السَّيِّدُ اللَّهُ قَالَ أَنْتَ أَفْضَلُهَا فِيهَا قَوْلًا وَأَعْظَمُهَا فِيهَا طَوْلًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيَقُلْ أَحَدُكُمْ بِقَوْلِهِ وَلَا يَسْتَجِرُّهُ الشَّيْطَانُ
Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah menceritakan kepadaku Syu'bah berkata: saya telah mendengar Qotadah berkata: saya telah mendengar Muthorrif bin Abdullah bin Asy-Syikhir menceritakan dari Bapaknya berkata: Datang seorang laki-laki kepada Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata 'Engkaulah tuan Quroisy, Lalu Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya hakekat Tuan adalah Allah" lalu laki-laki tersebut berkata: "engkau adalah oang yang paling utama perkataannya di antara mereka dan yang paling agung kemampuannya" Rosulullahi shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Hendaklah kalian hati-hati dalam perkataannya (berkata sewajarnya dengan tidak berlebihan), jangan sampai disesatkan oleh setan."
انواع ال فى النحو
١ - ال الجنسية
٢ - ال العهدية
٣ - ال الموصولة
٤ - ال الزائدة
Pembagian Alif-Lam ال dalam Ilmu Nahwu:
1. Alif-lam Jinsiyah الجِنْسِيَّة terbagi 3 yaitu:
• Alif-lam Istighroq Haqiqoh الإسْتِغْراق حَقِيْقةً yaitu alif lam yang mencakup seluruh jenis, yakni mencakup seluruh satuan dari sesuatu. Tandanya adalah: isim yang dimasukinya dapat digantikan dengan lafadz كُلّ tanpa merusak maknanya. Contohnya:
خُلِق الإنسانُ ضَعِيْفًا
“Semua manusia diciptakan bersifat lemah.”
Maka dapat dikatakan:
خُلِقَ كُلُّ إنسانٍ ضَعِيْفًا
Begitu juga firman Allah تعالى:
الحَمْدُ للّه رَبِّ العَالمِيْن
“Segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam.”
• Alif-lam Istighroq Majaz الإسْتِغْراق مَجازًا yaitu mencakup jenis sifat, dan digunakan dalam konteks berlebihan dalam memuji. Contohnya:
أنْتَ الرَّجُلُ عِلْمًا
Yaitu maknanya: “engkau benar-benar seorang lelaki yang berilmu”
• Alif-lam Libayanil Haqiqoh لِبَيانِ الحَقِيْقة yaitu untuk menjelaskan hakikat dari suatu jenis atau karakter tanpa melihat satuannya. Alif-lam ini disebut juga alif-lam Mahiyah المَاهِيَّة atau Thobi’iyah الطَبِيعِيَّة contohnya:
الرجلُ خيْرٌ مِن المَرْأة
“Jenis laki-laki lebih baik daripada perempuan” Yaitu jenisnya bukan satuannya, sebab terkadang terdapat wanita yang lebih baik dari lelaki.
Tanbih : Alif lam Jinsiyah secara makna adalah nakirah meskipun ber-al. Sebab ma’rifahnya dia secara lafadz bukan secara makna, maka secara hukum sama seperti nama jenis.
2. Alif-lam Al-Ahdiyah العَهْدِيَّة alif-lam ini terbagi 3:
• Alif-lam Dzikri الذِكْرِيّ yaitu alif-lam yang masuk pada isim yang telah disebutkan sebelumnya secara lafadz. Contohnya:
لَقِيْتُ رَجُلًا فأكْرَمْتُ الرجلَ
“Aku menemui seorang lelaki, kemudian aku memuliakan lelaki tersebut”
Lafadz “Lelaki” dalam kalimat kedua adalah lelaki yang sama dengan yang disebutkan sebelumnya.
Semisal ini, Firman Allah تعالى:
كما أرْسَلْنا إلى فرعونَ رسولًا، فعَصَى فرعونُ الرَّسُولَ
Yaitu pada lafadz الرسول
• Alif-lam Dihny الدِّهْنِيّ yaitu alif-lam yang masuk pada isim, yang mana “apa” dan “siapa’ yang dimaksud sudah diketahui di benak dari dua orang yang berbicara atau lebih. Contohnya:
إذْ هُمَا في الغَارِ
Lafadz الغار “gua” yang dimaksud di sini sudah diketahui, yaitu Gua Jabal atau disebut juga Gua Tsur.
Contoh lainnya, misalnya seorang Ustadz sedang membahas kitab Ushul min Ushul karya Syaikh Utsaimin, lalu ditengah² kajian Ustadz berkata:
قال الشَّيْخُ
Maka yang dimaksud lafadz الشيخ sudah dimaklumi di benak, bahwa yang dimaukan adalah Syaikh Utsaimin.
• Alif-lam Hudhury الحُضُوْرِيّ yaitu alif-lam yang menunjukkan bahwa isim yang masuk padanya alif-lam ini adalah sesuatu yang hadir atau sedang dihadapi oleh pembicara dan pendengar. Semisal ada seorang menelfon temannya yang saat itu sedang kedatangan tamu:
أكْرِم الضَيْفَ
“Muliakan tamu.”
Maka yang dimaukan adalah tamu yang sedang hadir saat itu.
جِئْتَ اليومَ
Yaitu “hari” di mana engkau datang di hari tersebut.
Kebanyakan alif-lam hudhuriy ini terletak setelah Isim Isyarah. contohnya:
لا أَقسِمُ بهذا البَلَدِ
جاءني هذا الرجلُ
Atau setelah أيّ pada Nida’. contohnya:
يأيّها الرَّجُلُ
3. Alif-lam Mausulah المَوْصُوْلة adalah alif-lam yang masuk pada isim fail, isim maf’ul, dan sifat musyabbahah. Alif-lam ini bermakna الّذِي الّتِي contohnya:
ﺃﻣْﺴَﻜَﺖْ ﺍﻟﺸُّﺮْﻃﺔُ ﺑﺎﻟﻘَﺎﺗِﻞ
Yaitu ﺑﺎﻟﺬﻱ ﻗَﺘَﻞ
ﻋَﺎﻟَﺞَ ﺍﻟﻄَّﺒﻴْﺐُ ﺍﻟﻤَﺠْﺮُﻭْﺡ
Yaitu ﺍﻟﺬﻱ ﺟُﺮِﺡ
ﺍﺳْﺘَﻀَﻔْﺖُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﺍﻟﺤُﺴْﻦَ ﺍﻟﺴِﻴْﺮﺓ
Yaitu ﺍﻟﺬﻱ ﺣﺴُﻨﺖْ ﺳِﻴْﺮَﺗُﻪ
4. Alif-lam Zaidah الزائدة yaitu alif-lam tambahan yang tidak memberi makna ta’rif. Alif-lam ini terbagi 3 yaitu:
• Alif-lam yang masuk pada isim alam (nama). Contohnya: اللَات dan العُزى
• Alif-lam yang masuk pada kata آن yaitu الآن
• Alif lam yang masuk pada isim-isim maushul الذِي التِي dan pecahannya. Dinamakan alif-lam zaidah karena isim-isim yang dimasukinya sudah ma’rifah, meskipun tanpa alif-lam. Alif-lam ini dinamakan alif-lam Zaidah Lazimah yaitu senantiasa menempel pada isim.
Al-Qur'anul Karim Surat Ali 'Imron (5) Ayat 79-80
مَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّؤْتِيَهُ اللّٰهُ الْكِتٰبَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُوْلَ لِلنَّاسِ كُوْنُوْا عِبَادًا لِّيْ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلٰكِنْ كُوْنُوْا رَبَّانِيّٖنَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُوْنَ الْكِتٰبَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُوْنَ ۙ
Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah,” tetapi (dia berkata), “Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya!”79
وَلَا يَأْمُرَكُمْ اَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلٰۤىِٕكَةَ وَالنَّبِيّٖنَ اَرْبَابًا ۗ اَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ اِذْ اَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
dan tidak (mungkin pula baginya) menyuruh kamu menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai Tuhan. Apakah (patut) dia menyuruh kamu menjadi kafir setelah kamu menjadi Muslim?80
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Kahfi (18) Ayat 110
قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا
Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”

Al-Qur'anul Karim Surat Al-Anbiya (21) Ayat 29

وَمَنْ يَّقُلْ مِنْهُمْ اِنِّيْٓ اِلٰهٌ مِّنْ دُوْنِهٖ فَذٰلِكَ نَجْزِيْهِ جَهَنَّمَۗ كَذٰلِكَ نَجْزِى الظّٰلِمِيْنَ
Dan barangsiapa di antara mereka berkata, “Sungguh, aku adalah tuhan selain Allah,” maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahanam. Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang zalim.

Al-Qur'anul Karim Surat Az-Zukhruf (43) Ayat 45

وَسْٔـَلْ مَنْ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رُّسُلِنَآ ۖ اَجَعَلْنَا مِنْ دُوْنِ الرَّحْمٰنِ اٰلِهَةً يُّعْبَدُوْنَ
Dan tanyakanlah (Muhammad) kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum engkau, “Apakah Kami menentukan tuhan-tuhan selain (Allah) Yang Maha Pengasih untuk disembah?”
Hadits Riwayat Imam Bukhori (no. 3445), At-Tirmidzi dalam Mukhtashorusy Syamaail Mu-hammadiyyah (no. 284)Imam Ahmad (I/23, 24, 47, 55)Imam Ad-Darimi (II/320) dan yang lainnya, dari Sahabat ‘Umar bin Khoththob Rodhiyallahu anhu.
Dan yang dimaksud dengan ithro’ dalam hak Nabi S.A.W adalah berlebih-lebihan dalam memujinya, padahal beliau telah melarang hal tersebut melalui sabda beliau:
لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ
“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagai-mana orang-orang Nasroni telah berlebih-lebihan memuji ‘Isa putera Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka kata-kanlah, ‘‘Abdullaah wa Rosuuluhu (hamba Allah dan Rasul-Nya).’”
Kitab Aqiidatut Tauhiid (hal 151)
Dengan kata lain, janganlah kalian memujiku secara bathil dan janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku. Hal itu sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang-orang Nasroni terhadap ‘Isa Alaihissallam, sehingga mereka menganggapnya memiliki sifat Ilahiyyah. Karenanya, sifatilah aku sebagaimana Rabb-ku memberi sifat kepadaku, maka katakanlah: “Hamba Allah dan Rasul (utusan)-Nya.”
Hadits Riwayat. Abu Dawud (no 4806), Imam Ahmad (IV/24, 25), Imam Bukhori dalam Al-Adabul Mufrad (no 211/ Shohiihul Adabil Mufrad no 155), Imam An-Nasai dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 247, 249). Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata: “Rowi-rowi-nya shohih. Dishohihkan oleh para ulama (ahli hadits).” (Fat-hul Baari V/179)
حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ حَدَّثَنِي شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ قَالَ سَمِعْتُ مُطَرِّفَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَنْتَ سَيِّدُ قُرَيْشٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
‘Abdullah bin asy-Syikhkhir Rodhiyallahu anhu berkata, “Ketika aku pergi bersama delegasi Bani ‘Amir untuk menemui Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam, kami berkata kepada beliau, “Engkau adalah sayyid (penguasa) kami!”
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Spontan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
اَلسَّيِّدُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى
“Sayyid (penguasa) kita adalah Allah Tabaaraka wa Ta’aala!”
قَالَ أَنْتَ أَفْضَلُهَا فِيهَا قَوْلًا وَأَعْظَمُهَا فِيهَا طَوْلًا
Lalu kami berkata, “Dan engkau adalah orang yang paling utama dan paling agung kebaikannya.”
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Serta merta beliau Shollallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:
قُوْلُوْا بِقَوْلِكُمْ أَو بَعْضِ قَوْلِكُمْ وَلاَ يَسْتَجْرِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ
“Katakanlah sesuai dengan apa yang biasa (wajar) kalian katakan, atau seperti sebagian ucapan kalian dan janganlah sampai kalian terseret oleh syaithan.”
Hadits Riwayat. Imam Ahmad (III/153, 241, 249), Imam An-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 249, 250) dan Al-Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad
Anas bin Malik Rodhiyallahu anhu berkata, “Sebagian orang berkata kepada beliau, ‘Wahai Rosulullah, wahai orang yang terbaik di antara kami dan putera orang yang terbaik di antara kami! Wahai sayyid kami dan putera sayyid kami!’ Maka seketika itu juga Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُوْلُوْا بِقَوْلِكُمْ وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ، أَنَا مُحَمَّدٌ، عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُوْنِيْ فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِيْ أَنْزَلَنِيَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ
“Wahai manusia, ucapkanlah dengan yang biasa (wajar) kalian ucapkan! Jangan kalian terbujuk oleh syaithan, aku (tidak lebih) adalah Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak suka kalian mengangkat (menyanjung)ku di atas (melebihi) kedudukan yang telah Allah berikan kepadaku.”
Aqiidatut Tauhiid (hal. 152) oleh Syaikh Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan
Al-‘Allamah Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rohimahullah dalam qosidah nuniyyah-nya berkata:
وَلِلّهِ حَقٌّ لاَ يَكُوْنُ لِغَيْرِهِ
وَلِعَبْدِهِ حَقٌّ هُمَا حَقَّانِ
لاَ تَجْعَلُوا الْحَقَّيْنِ حَقًّا وَاحِدًا
مِنْ غَيْرِ تَمْيِيْزٍ وَلاَ فُرْقَانِ
Allah memiliki hak yang tidak dimiliki selain-Nya,
bagi hamba pun ada hak, dan ia adalah dua hak yang berbeda.
Jangan kalian jadikan dua hak itu menjadi satu hak,
tanpa memisahkan dan tanpa membedakannya.”