Selasa, 05 Agustus 2025

BOLEH DUSTA DALAM 3 HAL

Sunan Abu Daud 4275: Hadits Shohih
سنن أبي داوود ٤٢٧٥: حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْجِيزِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَسْوَدِ عَنْ نَافِعٍ يَعْنِي ابْنَ يَزِيدَ عَنْ ابْنِ الْهَادِي أَنَّ عَبْدَ الْوَهَّابِ بْنَ أَبِي بَكْرٍ حَدَّثَهُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أُمِّهِ أُمِّ كُلْثُومٍ بِنْتِ عُقْبَةَ قَالَتْ
مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَخِّصُ فِي شَيْءٍ مِنْ الْكَذِبِ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ كَانَ رَسُولُ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا أَعُدُّهُ كَاذِبًا الرَّجُلُ يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ يَقُولُ الْقَوْلَ وَلَا يُرِيدُ بِهِ إِلَّا الْإِصْلَاحَ وَالرَّجُلُ يَقُولُ فِي الْحَرْبِ وَالرَّجُلُ يُحَدِّثُ امْرَأَتَهُ وَالْمَرْأَةُ تُحَدِّثُ زَوْجَهَا
Telah menceritakan kepada kami Ar-Robi' bin Sulaiman Al-Jizi berkata: telah menceritakan kepada kami Abul Aswad dari nafi' -maksudnya Nafi' bin Yazid- dari Ibnul Hadi bahwa Abdul Wahhab bin Abu Bakr menceritakan kepadanya, dari Ibnu Syihab dari Humaid bin 'Abdurrohman dari ibunya Ummu Kultsum binti Uqbah ia berkata:
"Aku tidak pernah mendengar Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam memberi keringanan untuk berbohong kecuali pada tiga tempat. Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan: "Aku tidak menganggapnya sebagai seorang pembohong, seorang laki-laki yang memperbaiki hubungan antara manusia. Ia mengatakan suatu perkataan (bohong), namun ia tidak bermaksud dengan perkataan itu kecuali untuk mendamaikan. Seorang laki-laki yang berbohong dalam peperangan. Dan seorang laki-laki yang berbohong kepada isteri atau isteri yang berbohong kepada suami (untuk kebaikan)."
Hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (1939) dan Abu Dawud (4921):
عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيدَ رضي الله عنها قَالَتْ : قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( لَا يَحِلُّ الْكَذِبُ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ : يُحَدِّثُ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا ، وَالْكَذِبُ فِي الْحَرْبِ ، وَالْكَذِبُ لِيُصْلِحَ بَيْنَ النَّاسِ ) . والحديث صححه الألباني في صحيح الترمذي .
“Dari Asma’ binti Yazid radhiyallahu ‘anha, ia berkata,”Rosulullah S.A.W bersabda,’Berbohong itu tidak halal dilakukan kecuali dalam tiga keadaan: seorang suami berbicara kepada istrinya agar istrinya itu ridha, dan berbohong dalam perang dan berbohong dalam rangka memperbaiki hubungan di antara manusia.”
Al-Qur'anul Karim Surat An-Nahl (16) Ayat 105
اِنَّمَا يَفْتَرِى الْكَذِبَ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِۚ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكٰذِبُوْنَ
Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah pembohong.
Al-Qur'anul Karim Surat Al-Ahzab (33) Ayat 70
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar,
Al-Qur'anul Karim Surat At-Taubah (9) Ayat 119
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.
Dalil Diperbolehkannya Perkataan Bohong kepada Suami atau Istri
Hadits Riwayat. Imam Abu Dawud no. 4921, dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albani
Diriwayatkan dari Ummu Kultsum binti ‘Uqbah rodhiyallahu Ta’ala ‘anha, beliau berkata,

مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَخِّصُ فِي شَيْءٍ مِنَ الْكَذِبِ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ، كَانَ رَسُولُ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ
“Tidaklah aku mendengar Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringanan sedikit pun berkaitan dengan perkataan dusta kecuali dalam tiga perkara. Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
لَا أَعُدُّهُ كَاذِبًا، الرَّجُلُ يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ، يَقُولُ: الْقَوْلَ وَلَا يُرِيدُ بِهِ إِلَّا الْإِصْلَاحَ، وَالرَّجُلُ يَقُولُ: فِي الْحَرْبِ، وَالرَّجُلُ يُحَدِّثُ امْرَأَتَهُ، وَالْمَرْأَةُ تُحَدِّثُ زَوْجَهَا
“Tidaklah termasuk bohong: (1) Jika seseorang (berbohong) untuk mendamaikan di antara manusia, dia mengatakan suatu perkataan yang tidaklah dia maksudkan kecuali hanya untuk mengadakan perdamaian (perbaikan); (2) Seseorang yang berkata (bohong) ketika dalam peperangan; dan (3) Seorang suami yang berkata kepada istri dan istri yang berkata kepada suami.”
Hadits Riwayat. Al-Humaidi dalam Musnad-nya no. 329. Hadits ini dinilai shohih oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shohihah no. 498
Demikian juga dalam masalah ini terdapat hadis khusus yang diriwayatkan dari ‘Atho bin Yasar, beliau berkata,

َجَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ : هَلْ عَلَيَّ جُنَاحٌ أَنْ أَكْذِب عَلَى أَهْلِي ؟ قَالَ : لَا ، فَلَا يُحِبُّ اللهُ اْلكَذِبَ قَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ اَسْتَصْلِحُهَا وَ أَسْتَطِيْبُ َنَفْسَهَا ! قَالَ : لَا جُنَاحَ عَلَيْك “
“Ada seseorang yang datang menemui Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Wahai Rosulullah, apakah aku berdosa jika aku berdusta kepada istriku?’
Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Tidak boleh, karena Allah Ta’ala tidak menyukai dusta.’
Orang tersebut bertanya lagi, ‘Wahai Rosulullah, (dusta yang aku ucapkan itu karena) aku ingin berdamai dengan istriku dan aku ingin senangkan hatinya.’
Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Tidak ada dosa atasmu.’
Hal ini sebagaimana penjelasan An-Nawawi Asy-Syafi’i rohimahullahu Ta’ala ketika menjelaskan hadis ini, dalam Syarh Shohih Muslim, 16: 135
وَأَمَّا كِذْبُهُ لِزَوْجَتِهِ وَكِذْبُهَا لَهُ فَاْلمُرَادُ بِهِ فِيْ إِظْهَارِ اْلوَدِّ وَاْلوَعْدِ بِمَا لَا يَلْزِمُ وَنَحْوُ ذَلِكَ فَأَمَّا َاْلمَخَادَعَةُ فِيْ مَنْعِ مَا عَلَيْهِ أَوْ عَلَيْهَا أَوْ أَخْذِ مَالَيْسَ لَهُ أَوْ لَهَا فَهُوَ حَرَامٌ بِإِجْمَاعِ اْلمُسْلِمِيْن ُوَاللهُ اَعْلَم
“Adapun dusta dan bohong kepada sang istri, yang dimaksud adalah (dusta) untuk menampakkan besarnya rasa cinta atau janji yang tidak mengikat, atau semacam itu. Adapun berbohong (menipu) dalam rangka menahan (tidak menunaikan) apa yang menjadi kewajiban suami atau istri, atau mengambil sesuatu yang bukan menjadi hak suami atau istri, maka ini haram berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin.”
Contoh dusta yang haram adalah suami memotong jatah nafkah yang berhak diterima istri dan suami beralasan dengan kebohongan. Misalnya dia mengaku sedang kesulitan ekonomi atau sedang kesusahan. Maka dusta semacam ini haram, karena ini bohong untuk tidak menunaikan kewajiban suami (yang menjadi hak istri). Atau misalnya, suami mengatakan kepada istri bahwa dia pergi ke luar kota dalam rangka perjalanan dinas. Padahal, dia ke luar kota bukan karena tugas dinas, namun sekedar senang-senang atau wisata.
Adapun janji yang mengikat, wajib dipenuhi. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu Ta’ala berkata, dalam 
Silsilah Ash-Shahihah, 1: 818
وَ لَيْسَ مِنَ اْلكَذِب ِاْلمُبَاحِ أَنْ يَعِدَّهَا بِشَيْءٍ لَا يُرِيْدُ أَنْ يَفِيَ بِهِ لَهَا ، أَوْ يُخْبِرَهَا
بِأَنَّهُ اشْتَرَى لَهَا اْلحَاجَةَ اْلفَلَانِيَّةَ بِسِعْرٍ كَذَا ، يَعْنِيْ أَكْثَرُ مِنَ اْلوَاقِعِ تَرْضِيَّةً لَهَا ،
لَِأنَّ ذَلِكَ قَدْ يَنْكَشِفُ لَهَا فَيَكُوْنَ سَبَباً لِكَيْ تَسِيْءَ ظَنَّهَا بِزَوْجِهَا ، وَ ذَلِكَ مِنَ اْلفَسَادِ لَا اْلإِصْلاَحَ
“Tidaklah termasuk dusta yang mubah adalah seorang suami menjanjikan sesuatu dan dia tidak ingin (tidak berniat) untuk memenuhinya. Atau seorang suami mengabarkan kepada istri bahwa dia membelikan untuknya barang tertentu dengan harga sekian, yaitu lebih mahal dari harga sebenarnya, supaya istrinya rida. Karena hal semacam ini akan terbongkar di masa mendatang sehingga akan menjadi sebab buruk sangka istri kepada suami. Dan hal ini termasuk kerusakan, bukan perbaikan.”
BERBANDING TERBALIK DI AJARAN BIBLE PENUH DUSTA
ENAM PERKARA YANG DI BENCI TUHAN
Amsal 6:16-19 (Lama)
6:16 Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: 6:17 mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, 6:18 hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, 6:19 seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara.
Amsal 8:22-23 (Lama)
8:22 TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala. 8:23 Sudah pada zaman purbakala aku dibentuk, pada mula pertama, sebelum bumi ada.
https://alkitab.sabda.org/passage.php?passage=Ams%208:22,23
BAWA TONGKAT ATAU TIDAK
Markus 6:8 (Baru)
dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, rotipun jangan, bekalpun jangan, uang dalam ikat pinggangpun jangan,
Lukas 9:3 (Baru)
kata-Nya kepada mereka: "Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju. n 
PENYALIBAN
MANUSA ATAU TUHAN YANG DI SALIB
Wahyu 11:8
Dan mayat mereka akan terletak di atas jalan raya kota besar, k  yang secara rohani disebut Sodom l  dan Mesir, di mana juga Tuhan mereka disalibkan. m 

0 komentar:

Posting Komentar