HAKEKAT TUAN SEGALA TUAN ADALAH ALLAH
Musnad Ahmad 15717: Shohihمسند أحمد ١٥٧١٧: حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ حَدَّثَنِي شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ قَالَ سَمِعْتُ مُطَرِّفَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَنْتَ سَيِّدُ قُرَيْشٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السَّيِّدُ اللَّهُ قَالَ أَنْتَ أَفْضَلُهَا فِيهَا قَوْلًا وَأَعْظَمُهَا فِيهَا طَوْلًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيَقُلْ أَحَدُكُمْ بِقَوْلِهِ وَلَا يَسْتَجِرُّهُ الشَّيْطَانُ
Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah menceritakan kepadaku Syu'bah berkata: saya telah mendengar Qotadah berkata: saya telah mendengar Muthorrif bin Abdullah bin Asy-Syikhir menceritakan dari Bapaknya berkata: Datang seorang laki-laki kepada Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata 'Engkaulah tuan Quroisy, Lalu Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya hakekat Tuan adalah Allah" lalu laki-laki tersebut berkata: "engkau adalah oang yang paling utama perkataannya di antara mereka dan yang paling agung kemampuannya" Rosulullahi shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Hendaklah kalian hati-hati dalam perkataannya (berkata sewajarnya dengan tidak berlebihan), jangan sampai disesatkan oleh setan."Al-Qur'anul Karim Surat Ali 'Imron (5) Ayat 79-80
• Alif-lam Istighroq Haqiqoh الإسْتِغْراق حَقِيْقةً yaitu alif lam yang mencakup seluruh jenis, yakni mencakup seluruh satuan dari sesuatu. Tandanya adalah: isim yang dimasukinya dapat digantikan dengan lafadz كُلّ tanpa merusak maknanya. Contohnya:
Maka dapat dikatakan:
• Alif-lam Istighroq Majaz الإسْتِغْراق مَجازًا yaitu mencakup jenis sifat, dan digunakan dalam konteks berlebihan dalam memuji. Contohnya:
• Alif-lam Libayanil Haqiqoh لِبَيانِ الحَقِيْقة yaitu untuk menjelaskan hakikat dari suatu jenis atau karakter tanpa melihat satuannya. Alif-lam ini disebut juga alif-lam Mahiyah المَاهِيَّة atau Thobi’iyah الطَبِيعِيَّة contohnya:
Tanbih : Alif lam Jinsiyah secara makna adalah nakirah meskipun ber-al. Sebab ma’rifahnya dia secara lafadz bukan secara makna, maka secara hukum sama seperti nama jenis.
2. Alif-lam Al-Ahdiyah العَهْدِيَّة alif-lam ini terbagi 3:
• Alif-lam Dzikri الذِكْرِيّ yaitu alif-lam yang masuk pada isim yang telah disebutkan sebelumnya secara lafadz. Contohnya:
Lafadz “Lelaki” dalam kalimat kedua adalah lelaki yang sama dengan yang disebutkan sebelumnya.
Semisal ini, Firman Allah تعالى:
• Alif-lam Dihny الدِّهْنِيّ yaitu alif-lam yang masuk pada isim, yang mana “apa” dan “siapa’ yang dimaksud sudah diketahui di benak dari dua orang yang berbicara atau lebih. Contohnya:
Contoh lainnya, misalnya seorang Ustadz sedang membahas kitab Ushul min Ushul karya Syaikh Utsaimin, lalu ditengah² kajian Ustadz berkata:
• Alif-lam Hudhury الحُضُوْرِيّ yaitu alif-lam yang menunjukkan bahwa isim yang masuk padanya alif-lam ini adalah sesuatu yang hadir atau sedang dihadapi oleh pembicara dan pendengar. Semisal ada seorang menelfon temannya yang saat itu sedang kedatangan tamu:
Maka yang dimaukan adalah tamu yang sedang hadir saat itu.
Kebanyakan alif-lam hudhuriy ini terletak setelah Isim Isyarah. contohnya:
Hadits Riwayat Imam Bukhori (no. 3445), At-Tirmidzi dalam Mukhtashorusy Syamaail Mu-hammadiyyah (no. 284), Imam Ahmad (I/23, 24, 47, 55), Imam Ad-Darimi (II/320) dan yang lainnya, dari Sahabat ‘Umar bin Khoththob Rodhiyallahu anhu.
Dan yang dimaksud dengan ithro’ dalam hak Nabi S.A.W adalah berlebih-lebihan dalam memujinya, padahal beliau telah melarang hal tersebut melalui sabda beliau:
Kitab Aqiidatut Tauhiid (hal 151)
Dengan kata lain, janganlah kalian memujiku secara bathil dan janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku. Hal itu sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang-orang Nasroni terhadap ‘Isa Alaihissallam, sehingga mereka menganggapnya memiliki sifat Ilahiyyah. Karenanya, sifatilah aku sebagaimana Rabb-ku memberi sifat kepadaku, maka katakanlah: “Hamba Allah dan Rasul (utusan)-Nya.”
Hadits Riwayat. Abu Dawud (no 4806), Imam Ahmad (IV/24, 25), Imam Bukhori dalam Al-Adabul Mufrad (no 211/ Shohiihul Adabil Mufrad no 155), Imam An-Nasai dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 247, 249). Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata: “Rowi-rowi-nya shohih. Dishohihkan oleh para ulama (ahli hadits).” (Fat-hul Baari V/179)
Hadits Riwayat. Imam Ahmad (III/153, 241, 249), Imam An-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 249, 250) dan Al-Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad
Anas bin Malik Rodhiyallahu anhu berkata, “Sebagian orang berkata kepada beliau, ‘Wahai Rosulullah, wahai orang yang terbaik di antara kami dan putera orang yang terbaik di antara kami! Wahai sayyid kami dan putera sayyid kami!’ Maka seketika itu juga Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Aqiidatut Tauhiid (hal. 152) oleh Syaikh Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan
Al-‘Allamah Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rohimahullah dalam qosidah nuniyyah-nya berkata:
bagi hamba pun ada hak, dan ia adalah dua hak yang berbeda.
Jangan kalian jadikan dua hak itu menjadi satu hak,
tanpa memisahkan dan tanpa membedakannya.”
مَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّؤْتِيَهُ اللّٰهُ الْكِتٰبَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُوْلَ لِلنَّاسِ كُوْنُوْا عِبَادًا لِّيْ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلٰكِنْ كُوْنُوْا رَبَّانِيّٖنَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُوْنَ الْكِتٰبَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُوْنَ ۙ
Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah,” tetapi (dia berkata), “Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya!”79وَلَا يَأْمُرَكُمْ اَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلٰۤىِٕكَةَ وَالنَّبِيّٖنَ اَرْبَابًا ۗ اَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ اِذْ اَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
dan tidak (mungkin pula baginya) menyuruh kamu menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai Tuhan. Apakah (patut) dia menyuruh kamu menjadi kafir setelah kamu menjadi Muslim?80Al-Qur'anul Karim Surat Al-Kahfi (18) Ayat 110
قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا
Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”انواع ال فى النحو
١ - ال الجنسية
٢ - ال العهدية
٣ - ال الموصولة
٤ - ال الزائدة
Pembagian Alif-Lam ال dalam Ilmu Nahwu:
1. Alif-lam Jinsiyah الجِنْسِيَّة terbagi 3 yaitu:• Alif-lam Istighroq Haqiqoh الإسْتِغْراق حَقِيْقةً yaitu alif lam yang mencakup seluruh jenis, yakni mencakup seluruh satuan dari sesuatu. Tandanya adalah: isim yang dimasukinya dapat digantikan dengan lafadz كُلّ tanpa merusak maknanya. Contohnya:
خُلِق الإنسانُ ضَعِيْفًا
“Semua manusia diciptakan bersifat lemah.”Maka dapat dikatakan:
خُلِقَ كُلُّ إنسانٍ ضَعِيْفًا
Begitu juga firman Allah تعالى:الحَمْدُ للّه رَبِّ العَالمِيْن
“Segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam.”• Alif-lam Istighroq Majaz الإسْتِغْراق مَجازًا yaitu mencakup jenis sifat, dan digunakan dalam konteks berlebihan dalam memuji. Contohnya:
أنْتَ الرَّجُلُ عِلْمًا
Yaitu maknanya: “engkau benar-benar seorang lelaki yang berilmu”• Alif-lam Libayanil Haqiqoh لِبَيانِ الحَقِيْقة yaitu untuk menjelaskan hakikat dari suatu jenis atau karakter tanpa melihat satuannya. Alif-lam ini disebut juga alif-lam Mahiyah المَاهِيَّة atau Thobi’iyah الطَبِيعِيَّة contohnya:
الرجلُ خيْرٌ مِن المَرْأة
“Jenis laki-laki lebih baik daripada perempuan” Yaitu jenisnya bukan satuannya, sebab terkadang terdapat wanita yang lebih baik dari lelaki.Tanbih : Alif lam Jinsiyah secara makna adalah nakirah meskipun ber-al. Sebab ma’rifahnya dia secara lafadz bukan secara makna, maka secara hukum sama seperti nama jenis.
2. Alif-lam Al-Ahdiyah العَهْدِيَّة alif-lam ini terbagi 3:
• Alif-lam Dzikri الذِكْرِيّ yaitu alif-lam yang masuk pada isim yang telah disebutkan sebelumnya secara lafadz. Contohnya:
لَقِيْتُ رَجُلًا فأكْرَمْتُ الرجلَ
“Aku menemui seorang lelaki, kemudian aku memuliakan lelaki tersebut”Lafadz “Lelaki” dalam kalimat kedua adalah lelaki yang sama dengan yang disebutkan sebelumnya.
Semisal ini, Firman Allah تعالى:
كما أرْسَلْنا إلى فرعونَ رسولًا، فعَصَى فرعونُ الرَّسُولَ
Yaitu pada lafadz الرسول• Alif-lam Dihny الدِّهْنِيّ yaitu alif-lam yang masuk pada isim, yang mana “apa” dan “siapa’ yang dimaksud sudah diketahui di benak dari dua orang yang berbicara atau lebih. Contohnya:
إذْ هُمَا في الغَارِ
Lafadz الغار “gua” yang dimaksud di sini sudah diketahui, yaitu Gua Jabal atau disebut juga Gua Tsur.Contoh lainnya, misalnya seorang Ustadz sedang membahas kitab Ushul min Ushul karya Syaikh Utsaimin, lalu ditengah² kajian Ustadz berkata:
قال الشَّيْخُ
Maka yang dimaksud lafadz الشيخ sudah dimaklumi di benak, bahwa yang dimaukan adalah Syaikh Utsaimin.• Alif-lam Hudhury الحُضُوْرِيّ yaitu alif-lam yang menunjukkan bahwa isim yang masuk padanya alif-lam ini adalah sesuatu yang hadir atau sedang dihadapi oleh pembicara dan pendengar. Semisal ada seorang menelfon temannya yang saat itu sedang kedatangan tamu:
أكْرِم الضَيْفَ
“Muliakan tamu.”Maka yang dimaukan adalah tamu yang sedang hadir saat itu.
جِئْتَ اليومَ
Yaitu “hari” di mana engkau datang di hari tersebut.Kebanyakan alif-lam hudhuriy ini terletak setelah Isim Isyarah. contohnya:
لا أَقسِمُ بهذا البَلَدِ
جاءني هذا الرجلُ
Atau setelah أيّ pada Nida’. contohnya:يأيّها الرَّجُلُ
3. Alif-lam Mausulah المَوْصُوْلة adalah alif-lam yang masuk pada isim fail, isim maf’ul, dan sifat musyabbahah. Alif-lam ini bermakna الّذِي الّتِي contohnya:ﺃﻣْﺴَﻜَﺖْ ﺍﻟﺸُّﺮْﻃﺔُ ﺑﺎﻟﻘَﺎﺗِﻞ
Yaitu ﺑﺎﻟﺬﻱ ﻗَﺘَﻞﻋَﺎﻟَﺞَ ﺍﻟﻄَّﺒﻴْﺐُ ﺍﻟﻤَﺠْﺮُﻭْﺡ
Yaitu ﺍﻟﺬﻱ ﺟُﺮِﺡ
4. Alif-lam Zaidah الزائدة yaitu alif-lam tambahan yang tidak memberi makna ta’rif. Alif-lam ini terbagi 3 yaitu:
• Alif-lam yang masuk pada isim alam (nama). Contohnya: اللَات dan العُزى
• Alif-lam yang masuk pada kata آن yaitu الآن
• Alif lam yang masuk pada isim-isim maushul الذِي التِي dan pecahannya. Dinamakan alif-lam zaidah karena isim-isim yang dimasukinya sudah ma’rifah, meskipun tanpa alif-lam. Alif-lam ini dinamakan alif-lam Zaidah Lazimah yaitu senantiasa menempel pada isim.
ﺍﺳْﺘَﻀَﻔْﺖُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﺍﻟﺤُﺴْﻦَ ﺍﻟﺴِﻴْﺮﺓ
Yaitu ﺍﻟﺬﻱ ﺣﺴُﻨﺖْ ﺳِﻴْﺮَﺗُﻪ4. Alif-lam Zaidah الزائدة yaitu alif-lam tambahan yang tidak memberi makna ta’rif. Alif-lam ini terbagi 3 yaitu:
• Alif-lam yang masuk pada isim alam (nama). Contohnya: اللَات dan العُزى
• Alif-lam yang masuk pada kata آن yaitu الآن
• Alif lam yang masuk pada isim-isim maushul الذِي التِي dan pecahannya. Dinamakan alif-lam zaidah karena isim-isim yang dimasukinya sudah ma’rifah, meskipun tanpa alif-lam. Alif-lam ini dinamakan alif-lam Zaidah Lazimah yaitu senantiasa menempel pada isim.
Al-Qur'anul Karim Surat Ali 'Imron (5) Ayat 79-80
مَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّؤْتِيَهُ اللّٰهُ الْكِتٰبَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُوْلَ لِلنَّاسِ كُوْنُوْا عِبَادًا لِّيْ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلٰكِنْ كُوْنُوْا رَبَّانِيّٖنَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُوْنَ الْكِتٰبَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُوْنَ ۙ
Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah,” tetapi (dia berkata), “Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya!”79وَلَا يَأْمُرَكُمْ اَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلٰۤىِٕكَةَ وَالنَّبِيّٖنَ اَرْبَابًا ۗ اَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ اِذْ اَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
dan tidak (mungkin pula baginya) menyuruh kamu menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai Tuhan. Apakah (patut) dia menyuruh kamu menjadi kafir setelah kamu menjadi Muslim?80Al-Qur'anul Karim Surat Al-Kahfi (18) Ayat 110
قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا
Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”Al-Qur'anul Karim Surat Al-Anbiya (21) Ayat 29
وَمَنْ يَّقُلْ مِنْهُمْ اِنِّيْٓ اِلٰهٌ مِّنْ دُوْنِهٖ فَذٰلِكَ نَجْزِيْهِ جَهَنَّمَۗ كَذٰلِكَ نَجْزِى الظّٰلِمِيْنَ
Dan barangsiapa di antara mereka berkata, “Sungguh, aku adalah tuhan selain Allah,” maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahanam. Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang zalim.Al-Qur'anul Karim Surat Az-Zukhruf (43) Ayat 45
وَسْٔـَلْ مَنْ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رُّسُلِنَآ ۖ اَجَعَلْنَا مِنْ دُوْنِ الرَّحْمٰنِ اٰلِهَةً يُّعْبَدُوْنَ
Dan tanyakanlah (Muhammad) kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum engkau, “Apakah Kami menentukan tuhan-tuhan selain (Allah) Yang Maha Pengasih untuk disembah?”Dan yang dimaksud dengan ithro’ dalam hak Nabi S.A.W adalah berlebih-lebihan dalam memujinya, padahal beliau telah melarang hal tersebut melalui sabda beliau:
لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ
“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagai-mana orang-orang Nasroni telah berlebih-lebihan memuji ‘Isa putera Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka kata-kanlah, ‘‘Abdullaah wa Rosuuluhu (hamba Allah dan Rasul-Nya).’”Kitab Aqiidatut Tauhiid (hal 151)
Dengan kata lain, janganlah kalian memujiku secara bathil dan janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku. Hal itu sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang-orang Nasroni terhadap ‘Isa Alaihissallam, sehingga mereka menganggapnya memiliki sifat Ilahiyyah. Karenanya, sifatilah aku sebagaimana Rabb-ku memberi sifat kepadaku, maka katakanlah: “Hamba Allah dan Rasul (utusan)-Nya.”
Hadits Riwayat. Abu Dawud (no 4806), Imam Ahmad (IV/24, 25), Imam Bukhori dalam Al-Adabul Mufrad (no 211/ Shohiihul Adabil Mufrad no 155), Imam An-Nasai dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 247, 249). Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata: “Rowi-rowi-nya shohih. Dishohihkan oleh para ulama (ahli hadits).” (Fat-hul Baari V/179)
حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ حَدَّثَنِي شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ قَالَ سَمِعْتُ مُطَرِّفَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَنْتَ سَيِّدُ قُرَيْشٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
‘Abdullah bin asy-Syikhkhir Rodhiyallahu anhu berkata, “Ketika aku pergi bersama delegasi Bani ‘Amir untuk menemui Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam, kami berkata kepada beliau, “Engkau adalah sayyid (penguasa) kami!” فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Spontan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:اَلسَّيِّدُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى
“Sayyid (penguasa) kita adalah Allah Tabaaraka wa Ta’aala!”قَالَ أَنْتَ أَفْضَلُهَا فِيهَا قَوْلًا وَأَعْظَمُهَا فِيهَا طَوْلًا
Lalu kami berkata, “Dan engkau adalah orang yang paling utama dan paling agung kebaikannya.” فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Serta merta beliau Shollallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:قُوْلُوْا بِقَوْلِكُمْ أَو بَعْضِ قَوْلِكُمْ وَلاَ يَسْتَجْرِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ
“Katakanlah sesuai dengan apa yang biasa (wajar) kalian katakan, atau seperti sebagian ucapan kalian dan janganlah sampai kalian terseret oleh syaithan.”Hadits Riwayat. Imam Ahmad (III/153, 241, 249), Imam An-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 249, 250) dan Al-Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad
Anas bin Malik Rodhiyallahu anhu berkata, “Sebagian orang berkata kepada beliau, ‘Wahai Rosulullah, wahai orang yang terbaik di antara kami dan putera orang yang terbaik di antara kami! Wahai sayyid kami dan putera sayyid kami!’ Maka seketika itu juga Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُوْلُوْا بِقَوْلِكُمْ وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ، أَنَا مُحَمَّدٌ، عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُوْنِيْ فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِيْ أَنْزَلَنِيَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ
“Wahai manusia, ucapkanlah dengan yang biasa (wajar) kalian ucapkan! Jangan kalian terbujuk oleh syaithan, aku (tidak lebih) adalah Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak suka kalian mengangkat (menyanjung)ku di atas (melebihi) kedudukan yang telah Allah berikan kepadaku.”Aqiidatut Tauhiid (hal. 152) oleh Syaikh Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan
Al-‘Allamah Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rohimahullah dalam qosidah nuniyyah-nya berkata:
اللهِ حَقٌّ لاَ يَكُوْنُ لِغَيْرِهِ
وَلِعَبْدِهِ حَقٌّ هُمَا حَقَّانِ
لاَ تَجْعَلُوا الْحَقَّيْنِ حَقًّا وَاحِدًا
مِنْ غَيْرِ تَمْيِيْزٍ وَلاَ فُرْقَانِ
“Allah memiliki hak yang tidak dimiliki selain-Nya,bagi hamba pun ada hak, dan ia adalah dua hak yang berbeda.
Jangan kalian jadikan dua hak itu menjadi satu hak,
tanpa memisahkan dan tanpa membedakannya.”







0 komentar:
Posting Komentar